Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Malam itu, hembusan angin dingin kota Jakarta tak mampu meredam kehangatan dari secangkir teh di meja makan. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak menyentuh hati Kirana Aruni. Sejak ayahnya menyunting Nova beberapa tahun lalu, rumah ini terasa kian asing. Pria yang dulu menjadi pelindungnya seolah menjelma menjadi sosok 'ayah tiri' yang dingin lebih sigap merangkul Dona, anak tirinya, ketimbang melihat perjuangan darah dagingnya sendiri.
Hari ini, pengumuman seleksi universitas keluar. Dona dengan bangga memamerkan kelulusannya di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta, sebuah pencapaian yang dirayakan sang ayah dengan jamuan dan hadiah mahal. Padahal, secara finansial, sang ayah sangat mampu membiayai Aruni untuk berkuliah di Universitas Airlangga (UNAIR), kampus impian yang berhasil ia tembus lewat jalur prestasi. Namun, tanggung jawab itu dilupakannya begitu saja. Sang ayah secara halus melepas tangan, membiarkan Aruni membanting tulang sendirian lewat berbagai pekerjaan paruh waktu.
Aruni tak menangis. Ia sudah terbiasa. Baginya, jalan berliku bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Nova berjalan mendekati Aruni dengan wajah yang dipaksakan ramah. Ia meletakkan selembar kertas berisi alamat sebuah hotel megah di kawasan pusat Jakarta.
"Nah Runi, aku mendapatkan informasi pekerjaan ini dari kerabatku loh, jadi jangan pernah kau menyia-nyiakan kesempatan ini!" ujar Nova, menyunggingkan senyum hangat yang menyembunyikan niat terselubung untuk mengusir Aruni dari kehidupan mereka selamanya.
Aruni menerima kertas itu dengan mata berbinar, murni tanpa prasangka.
"Terimakasih Tante, aku pasti akan mengambil pekerjaan ini. Kebetulan aku masih membutuhkan biaya untuk masuk ke Universitas Airlangga," ujar Aruni tulus sambil melemparkan senyum cantiknya. Di dalam hatinya, harapan kembali membumbung tinggi, uang pendaftaran kampus impiannya akan segera terkumpul.
Melihat Aruni berjalan menjauh menuju kamarnya untuk bersiap-siap, Dona segera mendekati ibunya. Ia menyenggol lengan Nova sambil berbisik halus, intonasinya sangat pelan agar tak terdengar oleh ayah mereka yang sedang membaca koran di ruang tamu.
"Mom, si wanita bodoh itu mudah sekali masuk perangkap kita. Mommy sudah atur semua rencana awal kita?" tanya Dona memastikan, matanya berkilat penuh kedengkian.
Nova menatap punggung Aruni yang menghilang di balik pintu, lalu mengukir seringai licik di wajahnya.
"Kau tenang saja sayang, semuanya sudah diatur. Si wanita menyebalkan itu akan secepatnya angkat kaki dari sini," bisik Nova berapi-api. "Mommy sudah atur semuanya dan di sana ada pelayan Desi yang akan memandu si Aruni sialan itu untuk masuk dalam jebakan kita!"
Gadis polos itu sama sekali tidak tahu, bahwa pekerjaan pelayan di hotel megah malam ini bukan sekadar jalan menuju mimpi kuliahnya, melainkan pintu masuk menuju masalah besar yang akan mengubah seluruh garis hidupnya.
Malam puncak itu pun akhirnya tiba.
Di dalam ruang ganti karyawan, Aruni merapikan penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan seragam pelayan berupa atasan merah maroon dengan logo hotel terpatri rapi di saku depan, dipadu rok hitam selutut. Rambut panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan paras cantiknya yang alami. Meski tanpa riasan tebal, pesona Aruni memancar begitu kuat, paras yang justru menjadi sumber kedengkian utama bagi Dona.
Bagi Dona, tidak cukup rasanya merebut kasih sayang penuh dari Pak Marwan, ayah kandung Aruni. Rasa dendam Dona makin membara saat tahu kekasihnya sendiri ternyata menyukai Aruni secara diam-diam. Hal itulah yang membuat Dona mantap ingin menyingkirkan Aruni selamanya.
*
*
Setibanya di hotel bintang lima yang megah itu, Aruni disambut hangat oleh Desi, sesama pelayan freelance. Tanpa Aruni sadari, ramahnya senyuman Desi hanyalah topeng dari sosok kaki tangan yang dibayar oleh ibu tirinya.
Dua jam sebelum acara dimulai, Aruni menyerap setiap instruksi dari karyawan senior dengan cepat. Pengalamannya membanting tulang di berbagai pekerjaan paruh waktu membuatnya begitu sigap. Para senior mengangguk puas melihat kinerjanya yang cekatan.
Namun, dari sudut ruangan, Desi menatapnya dengan pandangan dingin.
‘Cih, tersenyumlah mumpung bisa. Sebentar lagi hidupmu akan hancur, Aruni!’ batin Desi berseringai sinis.
Dua jam berlalu begitu cepatnya. Aula utama hotel kini dipenuhi para tamu elit yang menghadiri pesta ulang tahun Tuan Fernando Ganendra, Pendiri sekaligus Direktur Utama Ganendra Group. Akibat kecelakaan tragis tiga tahun lalu, Tuan Fernando harus menghabiskan harinya di atas kursi roda. Di sampingnya, tampak Nyonya Amanda, yakni adik kandungnya yang setia mendampingi, meski di balik kebaikannya tersimpan niat terselubung untuk menguasai aset keluarga.
Tiba-tiba, suasana ruangan menjadi riuh rendah saat sang pewaris utama melangkah masuk. Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group yang baru, hadir didampingi asisten pribadinya, Harry. Wajah Edgar tampak tegas, tampan, namun amat dingin dan tak tersentuh.
Melihat putra tunggalnya yang sudah memasuki usia kepala tiga tapi tak kunjung membawa pasangan, kekesalan Tuan Fernando pun menyulut seketika.
"Hey putraku, kau sampai kapan menyiksaku seperti ini? Kau ingin aku mati tanpa menimang cucu darimu, hah? Dasar bocah sialan... Kau sangat keras kepala, persis seperti mendiang ibumu!" omel Tuan Fernando dengan nada tertahan namun penuh ketegasan.
Edgar hanya menghela nafas tipis. Telinganya sudah kebal mendengarkan omelan sang ayah yang diulang hampir di setiap kesempatan.
Melihat situasi tersebut, Desi bergerak cepat. Di area bar counter, ia menuangkan minuman alkohol berkelas ke dalam gelas-gelas kaca, lalu menata tray yang siap diantar. Ia memanggil Aruni dengan nada manis.
"Nah Runi, nanti kau berikan minuman ini kepada Tuan yang memakai tuxedo hitam itu, tepatnya di samping pria tua yang memakai kursi roda ya!" instruksi Desi.
"Baik, Mbak Desi. Terima kasih," jawab Aruni mengangguk patuh. Ia tak ingin mengecewakan siapa pun di hari pertamanya bekerja.
Dengan nampan di tangan dan langkah yang sedikit dipercepat namun tetap anggun, Aruni mendekati area VIP tempat Edgar dan ayahnya berdiri. Sosok Desi ini memang benar-benar licik,ia pun mengerjakan dua pekerjaan busuk sekaligus atas instruksi dari seseorang yang ingin menjatuhkan Edgar.
"Permisi Tuan, ini minuman untuk Anda," ujar Aruni lembut sembari menyodorkan nampan berisi gelas kaca tersebut.
Sebelum Edgar sempat menyentuh gelasnya, David, paman Edgar sekaligus suami dari Amanda dengan sigap merogoh nampan dan mengambil salah satu gelas. Selama ini David dikenal sebagai sosok paman yang hangat dan penyayang, membuat Edgar tak pernah menyimpan kecurigaan padanya.
"Ayo kita bersulang Edgar, kita rayakan ulang tahun Ayahmu!" ujar David ceria, mengangkat gelasnya mengajak sang keponakan merayakan momen bahagia itu.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun atas minuman yang diulurkan dari nampan Aruni, Edgar meraih gelas tersebut tanpa tahu bahwa tegukan itu akan menyeretnya dan gadis pelayan di hadapannya ke dalam jurang takdir yang tak terbayangkan.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..