Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##09
Cahaya matahari pagi yang tipis berhasil menembus celah-celah tirai beludru tebal di kamar pengantin sayap barat Istana Buckingham. Hujan deras yang mengguyur Kota London sepanjang malam kini telah mereda, menyisakan hawa dingin yang mengental di dalam ruangan beratap tinggi tersebut.
Baxeena terbangun dari tidurnya secara perlahan. Kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya membuat matanya enggan terbuka sepenuhnya. Ia merasa sangat nyaman—suatu kenyamanan yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan saat terbangun di pagi hari.
Kepalanya bersandar di atas sesuatu yang kokoh namun empuk, sementara lengannya melingkar erat mengunci objek hangat di depannya, seolah ia sedang memeluk guling raksasa yang bergerak seirama dengan deru napas yang teratur.
Baxeena menyunggingkan senyum tipis dalam kantuknya, menyusupkan wajahnya lebih dalam ke ceruk hangat itu, menghirup aroma wangi yang sangat familier.
Aroma kayu cendana dan leather.
Tunggu.
Sensasi dingin mendadak menyengat seluruh saraf di tubuh Baxeena. Matanya terbuka lebar secara instan.
Pemandangan pertama yang menyapa matanya di jam enam pagi itu adalah dada tegap Alistair yang terbungkus kemeja putih kasual yang sudah agak kusut. Dan yang lebih mengerikan lagi, Baxeena mendapati dirinya sendiri sedang berbaring miring, menempel ketat pada tubuh Alistair.
Lengannya melingkar sempurna di pinggang pria itu, sementara salah satu paha mulusnya menumpang dengan sangat santai di atas paha berotot sang suami!
Baxeena tidak sekadar menyeberangi "garis batas" yang ia tetapkan semalam. Ia telah invasi penuh, menjadikan Pangeran Kerajaan Inggris dan Komandan Tinggi Bersenjata ini sebagai guling hidup pribadi!
Darah panas seketika menyembur ke seluruh paras cantik Baxeena. Pipinya terbakar merah padam dalam hitungan milidetik.
Pikirannya menjerit histeris. Demi Tuhan, apa yang sudah kulakukan?!
Baxeena mencoba menarik kakinya kembali secara perlahan dan melepaskan pelukannya tanpa suara. Ia bergerak sesenyap mungkin, bagai seorang agen rahasia yang mencoba melarikan diri dari perangkap berbahaya. Namun, tepat saat ia menggeser tubuhnya sejauh tiga sentimeter, sebuah suara bariton yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar tepat di atas kepalanya.
"Jika kau ingin pergi, sebaiknya lakukan dengan cepat sebelum aku berpikir bahwa kau sengaja ingin bertahan di sana, Amore."
Baxeena membeku seketika.
Ia mendongak perlahan. Alistair ternyata sudah terbangun! Mata hazel pria itu terbuka, menatapnya dari dekat dengan binar jenaka yang teramat terang. Sudut bibir Alistair terangkat tipis, membentuk senyuman menggoda yang amat langka. Pria itu sama sekali tidak bergerak atau berusaha menepis Baxeena; ia justru membiarkan Baxeena menikmati posisinya yang sangat tidak menguntungkan secara strategis ini.
"Kau..." suara Baxeena tercekat di tenggorokan. Rasa malu yang luar biasa berbenturan dengan naluri pertahanan dirinya.
Dengan gerakan cepat dan tanpa kompromi, Baxeena mendorong dada tegap Alistair menggunakan kedua tangannya, lalu menarik kakinya kembali hingga ia terguling ke tepi tempat tidurnya sendiri. Ia dengan cepat menarik selimut hingga ke leher, menatap Alistair dengan mata membelalak penuh kekesalan.
"Kenapa kau tidak menjauhkan tubuhmu dariku?!" semprot Baxeena galak, menunjuk Alistair dengan jari telunjuknya dari balik selimut. "Kau sengaja memanfaatkan situasi ini, kan?!"
Alistair memposisikan tubuhnya menyandar di kepala tempat tidur dengan gerakan yang teramat santai dan anggun. Ia menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan ke belakang menggunakan jemarinya, memperlihatkan ketampanan yang teramat alami tanpa beban protokol istana.
"Memanfaatkan situasi?" tanya Alistair, alis tebalnya terangkat sebelah. Suaranya yang serak-serak basah terdengar begitu renyah. "Baxeena, kau yang menyeberangi garis batas. Kau yang memelukku bagai guling, dan kau bahkan menjadikan pahaku sebagai tumpuan kakimu sepanjang malam. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bergerak dari posisiku sejak semalam karena takut membuatmu terbangun."
"Bohong!" seru Baxeena, matanya menyipit tajam. "Kau bisa saja menggeser tubuhku atau membangunkan ku!"
"Membangunkan mu?" Alistair terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang memantul hangat di dinding kamar. "Membangunkan wanita galak asal Los Angeles yang sedang memelukku dengan erat di jam dua pagi? Aku ini seorang prajurit militer, Xeena, tapi aku bukan orang yang suka mencari penyakit."
"Alistair Blackwood!" geram Baxeena, wajahnya makin memerah padam. Ia meraih balkan bantal di sampingnya dan melemparnya tepat ke arah wajah Alistair tanpa ragu-ragu.
Bruk.
Alistair menangkap bantal itu dengan satu tangan secara refleks dan presisi, menghentikan laju bantal itu tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Kekehannya kian meluas, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi—pemandangan yang begitu kontras dengan julukannya sebagai "Duke yang Dingin dan Kaku" di media publik.
"Agresif sekali di pagi hari, Your Grace," goda Alistair, meletakkan bantal itu di pangkuannya. "Apakah ini tradisi menyapa suami yang baru di Los Angeles?"
"Tutup mulutmu sebelum aku menyiramkan teh panas ke wajah kakumu itu," ancam Baxeena, cepat-cepat berdiri dari tempat tidur. Ia merapikan gaun tidurnya dengan gerakan tergesa-gesa, berusaha sekuat tenaga mengembalikan martabatnya yang sempat hancur berkeping-keping.
"Awas saja kalau kau membocorkan hal konyol ini pada siapa pun di istana ini," tambah Baxeena, menatap Alistair dengan tatapan mematikan sebelum melangkah lebar-lebar menuju kamar mandi dan membanting pintunya keras-keras.
BRAK!
Suara pintu yang dibanting menggema di seluruh ruangan. Di atas tempat tidur, Alistair bersandar pada kepala tempat tidur, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan senyuman yang tak bisa hilang dari bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam Tiga belas tahun terakhir, dada Sang Duke terasa begitu penuh, ringan, dan dihidupkan kembali oleh amarah lucu wanita yang amat dicintainya.
°°
Satu jam kemudian, atmosfer di ruang makan utama sayap barat Istana Buckingham kembali berubah kaku.
Meja kayu mahoni panjang yang dipenuhi hidangan sarapan ala Inggris—pancake, sosis panggang, telur orak-arik, dan teko porselen berisi teh Earl Grey—menjadi saksi bisu keheningan yang dingin.
Baxeena duduk di salah satu ujung meja, mengenakan setelan jas wanita berpotongan modern berwarna biru navy yang sangat elegan. Wajahnya kembali membeku, memasang topeng dingin yang tak tersentuh.
Di sebelahnya, Violet duduk dengan tenang. Gadis tiga belas tahun itu mengenakan seragam sekolahnya yang sudah rapi kembali. Namun, sikap defensif dan ledakan amarahnya yang biasanya membara kini tampak surut secara signifikan. Violet sesekali melirik Baxeena dari sudut matanya dengan rasa canggung, menyendok telurnya tanpa suara.
Kata-kata Baxeena di ruang piano kemarin sore—tentang manipulasi ibunya dan fakta bahwa Baxeena tidak berniat merebut apa pun—rupanya membakar pikiran gadis remaja itu sepanjang malam.
Alistair duduk di kepala meja. Sang Duke sudah kembali mengenakan kemeja formal dan vest kelabu yang rapi, memegang surat kabar pagi.
Namun, setiap kali mata hazel-nya melirik Baxeena yang sedang menyesap tehnya dengan sangat tenang, sudut bibir Alistair tampak terangkat tipis secara tidak sadar—sebuah gestur kecil yang membuat Violet berkerut heran.
Kenapa Ayah kelihatan seperti orang yang baru menang undian? batin Violet bingung, menatap ayahnya ganti menatap Baxeena.
"Violet," suara Alistair memecah keheningan meja makan, mengalun tenang dan berwibawa.
Violet mendongak. "Ya, Ayah?"
"Sore ini setelah jam sekolah selesai, aku telah meminta pengawal untuk membawamu langsung ke kediaman musim panas di Kent," kata Alistair, meletakkan surat kabarnya di meja. "Kau akan menghabiskan akhir pekan di sana bersama nenekmu."
Mata Violet seketika membelalak. "Ke Kent? Tapi Ayah... bagaimana dengan Ibu? Ibu Katherine bilang dia ingin bertemu denganku akhir pekan ini!"
Alistair menatap putrinya dengan pandangan yang dalam dan tegas, namun mengandung kelembutan seorang ayah. "Ibumu sedang mengurus beberapa hal dengan tim hukum kerajaan, Violet. Untuk sementara waktu, kau tidak diizinkan berkomunikasi atau menemuinya tanpa pengawasan langsung dariku."
"Kenapa?!" seru Violet, nadanya mulai naik, defensifnya kembali terpicu. "Kenapa Ayah selalu membatasi aku bertemu Ibu?! Ini pasti karena dia, kan?!" Violet menunjuk Baxeena dengan sendoknya secara impulsif. "Dia yang mempengaruhi Ayah untuk menjauhkan aku dari Ibu!"
Baxeena yang baru saja meletakkan cangkir tehnya sama sekali tidak terkejut. Ia tidak marah, hanya menatap Violet dengan pandangan datar.
"Turunkan sendokmu, Violet," kata Baxeena dengan nada santai namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. "Etiket meja makan kerajaan tidak mengajarkanmu menunjuk orang dewasa dengan peralatan makan."
Violet mengepalkan tangannya, membuang sendoknya ke atas piring hingga menimbulkan bunyi trang yang nyaring. "Aku tidak peduli pada etiket konyolmu! Kau datang ke sini dan merusak segalanya!"
"Cukup, Violet," potong Alistair, suaranya merendah, sarat akan ketegangan militer yang membuat Violet seketika terdiam kaku.
Alistair memandang putrinya dengan raut wajah serius. "Baxeena tidak ada hubungannya dengan keputusan ini. Keputusan ini diambil karena ibumu telah melanggar batas hukum dan memanfaatkanmu untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Kau akan pergi ke Kent sore ini, dan itu adalah perintah, bukan penawaran."
Violet menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Air mata frustrasi kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menatap Alistair, lalu beralih menatap Baxeena yang masih duduk tenang tanpa ekspresi.
Bukannya melanjutkan ledakan amarahnya seperti biasa, Violet justru membanting serbet kainnya ke meja, berdiri dari kursi, dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan cepat.
Suara derap langkah kakinya perlahan menghilang di koridor.
Ruang makan kembali diselimuti keheningan. Alistair menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Membesarkan anak remaja di tengah badai manipulasi mantan istri memang bukanlah tugas yang mudah bagi seorang pria militer seperti dirinya.
"Kau tidak perlu bersikap sekeras itu padanya," kata Baxeena tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya mengalir lebih lembut dari biasanya.
Alistair menurunkan tangannya, menatap Baxeena. "Dia harus belajar memahami batas, Xeena. Aku tidak bisa membiarkannya terus-menerus diperalat oleh Katherine."
"Dia hanya anak kecil yang ketakutan, Alistair," sahut Baxeena, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Semakin kau menekannya dengan perintah militer kaku milikmu itu, semakin besar dorongannya untuk memberontak dan berlari kembali ke pelukan ibunya. Beri dia waktu untuk memproses fakta bahwa ibunya bukan sosok malaikat yang selama ini ia bayangkan."
Alistair menatap Baxeena dalam-dalam. Kebijaksanaan dan ketenangan wanita di hadapannya ini selalu berhasil menundukkan kekakuannya.
"Kau selalu tahu cara membaca situasi dengan lebih baik dariku," bisik Alistair jujur.
Baxeena menyilangkan tangannya di dada, memasang kembali senyum sarkastiknya untuk menutupi rasa canggung. "Tentu saja. Aku dibesarkan di dunia bisnis Los Angeles, Alistair. Mengatasi anak remaja yang sedang krisis identitas jauh lebih mudah daripada bernegosiasi dengan para investor licik di Wall Street."
Alistair terkekeh pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Baxeena dengan binar hangat yang membuat Baxeena refleks mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Omong-omong," ujar Alistair pelan, ada nada gembira yang tersembunyi di balik suaranya. "Mengenai kejadian pagi ini di tempat tidur..."
Deg.
Baxeena seketika menoleh kembali, menatap Alistair dengan pandangan mematikan yang sanggup membekukan lautan. "Alistair Blackwood, jika kau berani membahas hal itu lagi saat ini, aku bersumpah akan menyuruh pengawal menguncimu di luar kamar nanti malam."
Alistair mengangkat kedua tangannya ke udara dalam gestur menyerah yang teramat jenaka. "Baik, baik. Pangeran ini tunduk pada perintah sang Duchess."
Baxeena mendengus pelan, berusaha keras menahan sudut bibirnya agar tidak ikut tersenyum. Namun jauh di dalam dadanya, rasa benci dan dingin yang selama ini membentengi hatinya perlahan-lahan mulai terkikis, tergerus oleh kehangatan konyol yang dihadirkan oleh pria yang pernah menghancurkan hidupnya ini.
Perang dingin di Istana Buckingham mungkin belum sepenuhnya usai, namun pagi ini, garis batas di antara mereka berdua telah bergeser secara permanen.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭