Terpisah cukup lama karena kesalahpahaman, tapi rencana licik seseorang membuat keduanya di pertemukan kembali.
Bagaimana cara mengatasi kecanggungan yang sudah tertanam dalam itu, apa yang akan Sang Bunga Albarack lakukan pada mantan ajudannya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran?
"Ha- hallo Dad," Liara menerima panggilan itu dengan terbata.
Dia berangsur menjauh dari Lionel yang masih setia menemaninya di tepian ranjang. Dengan fisik yang masih belum pulih Liara mencoba turun dari atas tempat tidur, gerakannya tertahan kala Lionel memegang lengannya agar dia tetap ditempat.
Tapi bukan Liara namanya kalau menurut, gadis itu menepis ringan tangan mantan ajudannya dan berhasil menapaki tanah dengan sempurna.
'Ini Mommy! kamu kenapa? suara kamu serak kayak gitu, panas dalam ya?'
Tubuh Liara menegang, napasnya memberat dan suaranya tercekat tidak dapat keluar. Ekor matanya melirik pada Lionel dan Delila yang masih menatap ke arahnya dengan diam.
"No, aku cuma sedikit flu. Gimana kabar Mommy? mana Daddy?"
Sembari menahan ngilu diarea kakinya Liara mencoba berjalan menjauh dari mereka. Bahkan Liara sama sekali tidak melirik dari Hyena dan gengnya saat dia melewati rombongan manusia itu.
'Kabar Mommy sama Daddy baik. Kamu gak nyembunyiin sesuatu dari Mommy kan? suara kamu kayak ragu gitu, gimana kuliah kamu? udah bosen belum nyamar jadi gadis gak jelas. Itu cewek yang namanya kayak hewan pemakan bangkai di film Lion King masih idup?'
Liara melipat bibirnya dalam, dia melirik kecil pada Hyena- hanya sekilas. Liara berdehem pelan sebelum dia menjawab pertanyaan Yasmine sang Mommy.
Bagaimana Yasmine bisa tahu soal Hyena?
Jawabannya hanya satu, kalau masih dilingkungan kampus Yasmine dan Elvier pasti akan tahu apa yang terjadi dengannya. Entah bagaimana bisa kedua orang tua itu tahu, yang jelas Dahliara yakin kalau ada mata mata yang tersembunyi di sana.
"Mommy pasti tau biar pun aku gak cerita juga. Udah ya, aku masih ada kegiatan di sini. Maaf ponsel aku lowbat jadi Mommy harus nelpon ke Delila,"
Liara memainkan ujung kaos yang dia pakai, gadis itu terus menunduk dalam seakan tengah memikirkan sesuatu. Kalau Daddy dan Mommynya tahu soal Hyena, besar kemungkinan mereka juga pasti tahu soal Simba bukan?
Tapi kenapa Mommynya tidak bertanya atau membahas pria itu? apa sengaja tidak ingin membahasnya karena tahu kalau Simba sudah bekerja pada si gadis bangkai?
'Kamu pulang ya! Daddy akan menjemput mu ke Indonesia.'
Liara tersentak, kedua matanya membulat mendengar suara berat seorang pria yang sangat dia rindukan. Pria yang tidak akan pernah menyakitinya walaupun dirinya sering mengeluh dan membangkang.
"Daddy?" panggilnya lirih.
'Yes Baby, kamu enggak kangen sama Daddy? Anye sering bertanya kapan Aunty Ara pulang?'
Liara menelan salivanya susah payah kala mendengar kekehan Elvier- Daddynya. Bahkan gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis sekarang, jujur dari hatinya yang terdalam dia sangat rindu pada keluarganya disana.
"Tunggu Ara lulus, nanti pasti Ara pulang. Aunty juga kangen sama Anye, kenapa enggak Anye aja yang main ke sini?"
Terdengar pekikan suara anak kecil dari seberang telepon membuat Liara menjauhkan benda itu dari telinganya. Tidak lama suara anak kecil itu semakin mendekat, terdengar gerasak gerusuk yang membuat Liara mengernyit.
'Halo Onty Ala. Onty kapan pulang? Popa bilang Onty bakalan pulang kalo pangelan udah pulang. Moma juga bilang kalo Onty mau disuluh pulang bial kenal sama pangelan-,"
Ucapan gadis kecil itu terhenti begitu saja, bahkan belum sempat Liara bertanya tentang kabar keponakannya dan hal aneh yang Anyelir bicarakan, suara gerasak gerusuk kembali terdengar.
Tidak lama setelah itu tangisan anak kecil menggema di telinga Liara. Dia tahu tangisan itu berasal dari keponakan cantiknya.
"Anye, Anye kenapa- kok nangis?"
Liara terlihat khawatir dan penasaran, tapi dia tidak bisa berbuat apa pun. Dia bukan gadis bodoh yang tidak langsung mengerti ucapan tidak jelas Anyelir.
'Sayang, kamu masih disitu?'
Suara Elvier kembali terdengar, pria itu terdengar menghela napas kasar dan Liara dapat mendengarnya.
"Daddy mau jodohin aku? Daddy mau maen jodoh jodohan. Dad, Daddy tau kan aku gak suka-,"
'No Princess, Daddy cuma mau-,'
"Kalo Daddy sama Mommy ngelakuin hal itu sama aku, berarti kalian berlaku gak adil. Abang aja gak kalian ganggu, kenapa sekarang Daddy mau ganggu aku? kalo kayak gitu ceritanya mending aku gak balik lagi ke Dubai. Aku bakalan sama Grandpa sama Grandma di sini selamanya!"
Tut!
Liara mematikan ponselnya tanpa basa basi dan menunggu jawaban dari Elvier. Gadis itu meremas benda pipih di tangannya dengan penuh rasa kesal, helaan napas kasar keluar dari bibirnya.
Liara memejamkan kedua matanya, lalu berbalik. Gadis itu tidak bergerak dari tempatnya kerena masih menetralkan napas dan emosinya, dengan hembusan kasar Liara membuka kedua matanya- namun bukannya semakin tenang Liara justru semakin di buat tercengang kala melihat pemandangan di hadapannya.
Tidak jauh darinya Hyena sudah tidak sadarkan diri, bahkan kedua gadis yang tadi mencibirnya juga mengalami hal yang sama. Mereka bertiga sedang ditangani oleh para perawat, sedangkan didekat tempat tidurnya tadi- Liara melihat Lionel tengah menatap ke arahnya dengan ekspresi tak terbaca.
Tidak jauh dari Lionel ada Delila tengah meringis sendiri, gadis remaja itu perlahan mendekat pada Liara dengan cepat.
"Om Sultan mau jodohin kak Ara sama Pangeran Dubai? atau Pangeran dari Qatar sama Arab?" Delila terus saja mencecar kakak sepupunya yang masih mematung.
Kedua mata Liara masih menatap lekat pada Lionel yang tengah mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar ucapan Delila.
"Kak Ara! ih kok diem aja sih."
Liara tidak tahu harus menjawab apa, dia kembali melangkah mendekat ke arah tempat tidurnya. Lalu naik dan kemudian berbaring di sana dan memiringkan tubuhnya.
"Daddy nyuruh aku pulang. Lagian disini juga gak ada yang jagain aku, jadi Daddy khawatir dan nyuruh aku pulang ke Dubai," gumam Liara.
Gumaman yang masih bisa didengar oleh Lionel, dan berhasil membuat pria itu menoleh lalu menatap lekat ke arahnya.
Pria itu masih terdiam, tapi dibalik keterdiaman Lionel seakan tersirat sesuatu hal yang hanya di ketahui olehnya dan Tuhan. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini, yang jelas kedua tangannya terlihat terkepal erat seakan tengah meremas sesuatu.
AKU NDAK TAU AKU 😩😩😩
SIMBA DALAM MODE BERTEMPUR
SEE YOU TOMORROW MUUUAACCHH😘😘😘
aku lupa cerita para sesepuh karna udah lama baca ceritanya.