Alicia Delmora adalah wanita mandiri sejak kecil, dia menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal dunia dan hanya tinggal bersama ibu dan kakak tirinya yang hanya bisa mengandalkan Alicia untuk membayar hutang-hutang mereka.
Kehidupan Alicia berbanding terbalik dengan saudara kembarnya yang bernama Alice, kembarannya itu hidup bergelimang harta bersama kedua orangtuanya dan memiliki seorang kekasih yang sangat terkenal di kota tersebut bernama Nicholas.
Alicia yang tidak tahu bila dia memiliki saudara kembar begitu juga sebaliknya, kehidupannya berubah setelah orang asing masuk dalam kehidupannya dan menjadikan dia sebagai wanita tawanan dari Pria asing tersebut yang menganggap dirinya sebagai Alice.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anggi (@ngie_an), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
"Bagaimana? Apakah sudah dimatikan lampunya?" tanya Grey pada Jacob.
"Sudah, Tuan!" ucap Jacob. Dia membukakan pintu kamar untuk Grey masuk.
Grey masuk ke dalam dan melihat dalam kegelapan kamar yang hanya mendapatkan cahaya dari pantulan lampu kamar temaram, dia membuka jas saat sorot matanya melihat ke arah Alicia tengah duduk di pinggir tempat tidur.
"Tidurlah, tidak perlu takut aku akan menyentuhmu, aku hanya membersihkan tubuhku dan segera pergi!" ujar Grey yang masuk ke dalam kamar mandi.
Alicia tetap bergeming enggan menjawab apa yang dikatakan oleh suaminya, kakinya mulai masuk ke dalam selimut dan merebahkan tubuh yang lelah. Berharap malam ini sang suami benar-benar tidak menyentuhnya, tetapi kenapa perasaan yang dia rasakan berubah menjadi sedih?
Apakah sedih karena tahu kalau malam ini sang suami tidak akan menyentuh di malam pertama? Biar begitu Alicia tetap bersyukur dan selamat dari rasa bersalah kalau sang suami bukanlah yang pertama.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Grey tiba-tiba berdiri tepat di samping Alicia.
Alicia langsung mengusap air matanya secara perlahan dan tidak menjawab sama sekali pertanyaan dari lelaki itu, dia justru memilih untuk berpura-pura bahwa dirinya sudah tertidur pulas.
"Hei, aku tahu kamu belum tidur. Bangunlah!" Grey membuka selimut itu dan melihat tubuh Alicia hanya menggunakan lingerie tipis berwarna maroon, meskipun gelap tetapi masih bisa terlihat dengan pantulan cahaya.
"Apa maumu! Bukankah kamu hanya menumpang mandi, setelah itu pergi?" Alicia menarik selimutnya agar menutupi tubuhnya kembali yang terekspos.
Grey menelan salivanya, tentu saja kejadian beberapa detik lalu membuat sesuatu menjadi bangun dari sarangnya. Dia pun tersadar dari cara bicara wanita itu lantas tersenyum jahil.
"Apa kamu menginginkan untuk aku sentuh? Hhmm?" Perlahan Grey mendekat ke arah Alicia lalu menarik kembali selimut yang dikenakan oleh sang istri.
"Jangan macam-macam kamu, aku sama sekali tidak berharap kamu menyentuhku malam ini. Jadi, pergilah! Karena kamu juga bukan tipeku," ujar Alicia yang masih menahan selimut agar tidak terlepas sari cengkramannya.
"Oh, ya? Kalau begitu, kita buktikan apakah aku benar-benar bukan tipemu?" Grey naik ke atas tempat tidur dengan cara merangkak dan bersimpu untuk membuka handuk yang melilit pinggangnya.
"Keenan!" teriak Alicia yang menyebut nama suaminya sembari melempar bantal dengan mata yang tertutup.
Grey tertawa karena berhasil mengerjai sang istri, dia pun berniat berdiri dan turun dari tempat tidur. Namun, belum sempat dia berdiri untuk bangun, Grey justru terjatuh menimpah tubuh Alicia saat wanita itu menarik selimutnya.
"Aaakhh!" keluh Alicia ditelinga Grey saat benda empuk nan kenyalnya berada di genggaman sang suami.
Deg, suara Alicia langsung mengingatkan pada wanita yang pernah dia tiduri. Untuk sesaat, Grey terpaku akan suara merdu yang dia rindukan bahkan dia mimpikan sebelum menikah dengan wanita itu.
Grey pun merasakan tangannya mendapat pendaratan yang empuk, jemarinya mencoba untuk membuktikan apa yang ada dia genggam. Terasa empuk dan berjaring karena kain lingerie yang dikenakan oleh sang istri.
"Dasar, breng sekk!" Alicia mencoba mendorong tubuh suaminya dari atas tubuhnya tetapi pria itu justru menahan kedua tangan ke atas kepalanya.
Sementara wajah sang suami begitu dekat dengan dirinya, sampai telinganya mendengar ucapan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Keluarkan sekali lagi, aku ingin mendengarnya!" bisik Grey yang penasaran dengan suara rintihan Alicia karena begitu mirip dengan suara yang dia rindukan.
"Apa?" Alicia mengerutkan keningnya mendengar perintah dari sang suami.
Grey langsung mempraktekkan dengan menggerayangi tubuh Alicia dengan jemarinya, hingga sampai di titik istrinya tidak bisa menahan suara yang ingin Grey dengar.
"Aaah!" rintih Alicia ketika Grey berhasil membuatnya menjerit.
Grey langsung terpaku untuk beberapa saat, debaran jantung mulai bergenderang ketika dia mengenali suara itu. Tangannya pun perlahan ingin membuka topeng yang menempel di wajah sang istri, tetapi suara ketukan pintu menghentikan niatnya.
Kesadaran terisi penuh ketika hasrat hampir keluar untuk disalurkan, kini harus terhenti. Grey bangun dari atas tubuh sang istri lalu kemudian mengencangkan handuk yang melilit ke tubuhnya.
"Pakailah selimut untuk menutupi tubuhmu dengan benar, aku ingin bicara tentang pernikahan kita!" Grey bergegas membuka pintu dan menyuruh Peter masuk ke dalam.
Kini keduanya saling tatap menatap saat satu map berada di depan mereka. Grey menyuruh Alicia membaca perjanjian yang sudah dia buat sedetail mungkin hingga membuat sang istri terpaku melihat isi perjanjian tersebut.
"Tanda tanganlah, jika kamu sudah membacanya!" Grey menadahkan tangan ke arah samping agar Peter menyerahkan pulpen untuk Alicia tanda tangan.
Awalnya Grey mengira bahwa Alicia akan menolak persyaratan yang dia ajukan, tetapi nyatanya justru wanita itu langsung menandatangani tanpa mengeluh sedikitpun. membuat Grey menilainya dengan nilai yang plus.
"Apa kamu menyetujuinya semudah itu?" tanya Grey dengan penasaran tingkat dewa.
"Iya, bagi aku persyaratan kamu tidak terlalu penting dengan kebahagiaan Mama dan Papa!" tutur Alicia dengan mudah. "Kamu bebas melakukan semaumu, termasuk berkencan, meniduri, bahkan membawa pulang pellacurmu ke dalam rumah untuk bersenang-senang, asal ... jangan pernah bawa masuk ke dalam kamarku dan bercinta di atas tempat tidurku!"
"Ck, kamu serius? Sebegitu pentingkah kedua orang tuamu sampai kau rela menikah dengan pria yang tidak kau cinta?" Grey menyerahkan pulpen kepada Peter usai Alicia menandatangani perjanjian itu.
"Ya, mereka sangat penting bagiku meskipun hanya mertuaku!" ucap Alicia yang menjelaskan dan mampu membuat Grey terpaku dengan ucapannya. "Jika kamu ingin menikah lagi silakan! Semua yang ada di perjanjian tersebut akan aku turuti asal kau juga jangan pernah ikut campur dengan urusanku!"
Grey tertawa menghina Alicia dengan senang sembari berkata, "Urusanmu? Cih, tidak penting bagiku!"
"Baguslah, kalau kamu menganggap seperti itu, semua sudah beres, jadi silakan keluar dari kamar pengantinku!" usir Alicia pada Grey.
"Kamu mengusirku?" Grey melempar tatapan sinis di balik topeng yang dia kenakan.
"Iya, bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa kamu akan pergi setelah mandi? Jadi silakan pergi! Karena aku akan menikmati malam pengantinku tanpa pengganggu sepertimu!" tutur Alicia yang tidak kalah sinis dalam berucap.
"Apa maksudmu? Kau ingin menghabiskan malam pengantin dengan laki-laki lain karena sakit hati aku tinggal pergi di malam pertama kita?" tanya Grey mulai panas dengan ucapan Alicia.
"Hah ... ide kamu bagus juga! Terima kasih atas sarannya, akan aku coba!" Alicia menunjukkan ekspresi senang ketika mendapat saran dari sang suami yang akan meninggalkan dia di malam pertamanya.
Grey yang tidak bisa menerima penghinaan seperti ini langsung menggebrak meja yang ada di depannya, lantas mendekat ke arah Alicia sembari mencengkram kedua rahang wanita itu.
"Hei, sadar ... ini kamar pengantinku, aku yang berhak atas kamar ini, bukan kamu! Silahkan kalau kamu ingin keluar dan menghabiskan malam pertama dengan laki-laki lain, akan aku pastikan kamu tidak akan pernah menemui kedua mertua kamu!" ancam Grey yang merasa sakit hati.
Grey menyuruh Peter untuk segera keluar dari kamar lalu segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang penuh dengan bunga mawar, tidak peduli dengan protes yang dilayangkan oleh suara Alicia. Dia tetap menghak milik tempat tidur tersebut untuk dia miliki seorang.
Begitu juga dengan Alicia, tidak peduli dengan larangan sang suami, dia tetap merebahkan tubuhnya sendiri di atas tempat tidur. Sehingga, mereka pun saling menyerang dengan menendang satu sama lain, memberi pukulan bantal dan melempar selimut sampai keduanya terlilit dalam satu selimut yang sama.
"Kau ... aaargggh!" kesal Grey ketika dia harus terlilit satu selimut yang sama dengan Alicia.
"Semua gara-gara, kamu!" ucap Alicia dengan kesal.
Sampai pada akhirnya, Grey pun berusaha meloloskan dirinya dari lilitan selimut itu. Dia bergegas keluar dari pintu kamar usai mengatakan sesuatu yang membuat Alicia menangis.
Dalam kamar pengantin itu pun Alicia menangis, menumpahkan air matanya di samping Jacob. Ya, Alicia menyuruh bodyguard-nya untuk membelikan sebuah cemilan dan minuman sebagai pelampiasan rasa sedihnya.
"J, apa aku tidak cantik?" tanya Alicia ketika dia mengigit sebatang coklat saat berada di sofa dengan tubuh yang dililit oleh selimut dari hotel untuk menutupi tubuhnya.
Jacob hanya terdiam, tidak menjawab apapun itu karena sudah atas perintah dari Dominic agar tidak banyak bicara ketika Alicia selalu mengajaknya berbicara.
"Bahkan kamu juga mengiyakan kalau aku jelek! Ya, aku sadar, aku jelek, J! Karena itulah Marvel selingkuh dan memilih sahabatku! Tapi, haruskan dia mengatakan dengan jujur soal fisikku?" Alicia terus mengeluarkan segala unek-uneknya pada bodyguard-nya itu.
Semenjak Jacob menyetujui ajakannya untuk menjadi teman, Alicia sudah menganggap Jacob lebih dari seorang teman yaitu seorang kakak yang terus membantunya, selalu ada untuknya.
Jacob adalah orang pertama yang Alicia kenal dengan dekat semenjak masuk dalam keluarga Dominic, karena semua keluarga Dominic selalu memusuhinya sementara Dominic dan Agatha sibuk dengan dunia bisnis mereka masing-masing.
Namun sayangnya, Jacob sangat irit dalam berbicara. tetapi perhatian dan juga tanggung jawab sebagai bodyguard Jacob lebih mengenal dirinya daripada diri Alicia sendiri.
"J, katakanlah satu kata agar meyakinkan aku kalau aku tidak berbicara dengan patung!" minta Alicia yang menghabiskan satu liter susu.
Jacob tersenyum lalu memberikan tisu pada Alicia, mengelap sisa air susu yang berada di sudut bibir Bosnya. "Jangan dengarkan apa kata orang yang membuat hatimu sedih!"
Hanya itu yang dikeluarkan oleh Jacob setelah Alicia berbicara dengan panjang lebar, tetapi setidaknya Jacob menyakinkan dirinya bila dia masih dianggap sebagai temannya.
"Aku kangen Ayah, J!" ucap Alicia yang sendu. dia melihat ke arah bodyguard-nya yang tidak menanggapi ucapannya. "Haruskah aku menyusul Ayah, J? Karena dunia ini begitu kejam untuk aku tinggali!"
"Bodoh!" Jacob menyentilkan kening Alicia.
"Aakkkh! Sakit, J!" keluh Alicia yang hanya mendapat kekehan dari bodyguard-nya itu.
Beberapa menit kemudian, usai Alicia mengeluarkan segala tangisannya di malam pertama, wanita itu pun langsung tertidur di atas sofa.
Jacob yang melihatnya, langsung merapikan sisa makanan yang dimakan oleh Alicia kemudian mengangkat tubuh mungil itu untuk dia pindahkan ke atas tempat tidur.
Setelah merebahkan Aisyah di atas tempat tidur yang penuh dengan bunga mawar Jacob berkata, "Dasar bodoh! Kau cantik Alicia, cantik seperti hatimu!"
Jacob langsung keluar dari dalam kamar pengantin kemudian pergi ke kamarnya yang berada di samping kamar Alicia dan juga Grey. Tanpa dia sadari, seseorang tengah melihatnya dari jarak yang tidak begitu jauh.
Ya, Grey menatap ke arah Jacob yang baru saja keluar dari kamarnya, sesaat dia mematung untuk berusaha mencerna Apa yang dia lihat. Tanpa dia sadari perasaannya panas melihat kejadian tersebut, hingga minuman kaleng yang dia genggam langsung remuk sekali genggam.
Grey pun menyuruh Peter untuk mengawasi hubungan Jacob dengan wanita itu yang berstatus sebagai istrinya, hatinya memanas ketika miliknya diusik oleh orang lain.
"Peter! Selidiki latar belakang Bodyguard itu tanpa diketahui oleh Dominic! kasih laporannya secepat mungkin!" Grey langsung masuk ke dalam kamar Peter dan menyuruh asistennya menggunakan kamar lain.
"Baik, Bos!" ucap Peter.
to be continued...
bolak balik ke sini belum up juga
semangat thord