Elizabeth Stuart memiliki lukanya sendiri hingga enggan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama lelaki lain. Kegagalan dalam rumah tangganya dengan sang mantan suami membuat Elizabeth memilih hidup sebagai orang tua tunggal.
Hingga suatu hari, apa yang telah ia rencanakan dan susun dengan baik hancur begitu saja dalam sekejap karena takdir berkata lain.
Hadirnya sosok lelaki yang hangat dan penuh cinta membuat Elizabeth perlahan mulai melupakan rasa sakitnya, dan belajar membuka hati.
Namun, lagi-lagi seolah takdir mempermainkan hidupnya. Sang mantan suami datang, dan memohon dengan penuh rasa cinta agar Elizabeth kembali bersamanya.
Elizabeth kini kini menjadi dilema, akankah ia lebih memilih sang mantan suami demi kebahagiaan kedua anaknya, atau justru ia lebih memilih lelaki baru yang membuatnya bangkit dan menjadi utuh kembali sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terlupakan
Seorang wanita terlihat berbaring di ranjang rumah sakit, di sebuah bangsal yang terdiri dari beberapa ranjang. Ia mengerjapkan matanya sesekali mencoba menyesuaikan cahaya ruangan. Bahu kirinya terasa perih, dan tenggorokannya terasa kering.
"Haus, tolong ambilkan aku minum."
Namun tak seorang pun yang mengambilkan air untuknya. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, dan menatap sekitarnya.
Dimana aku? Ia mencoba untuk mengingat apa yang sebelumnya terjadi, dan ketika semuanya sudah kembali ia ingat, ia merutuki kebodohannya yang bergerak berdasarkan insting bukan berdasarkan rencana yang ia susun dengan susah payah. Semua itu gara-gara wanita yang bernama Lizzy.
Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia seperti sudah biasa menghadapi bahaya dan terbiasa dengan senjata api? Wanita itu sungguh berbahaya.
Ia kemudian mencoba untuk memencet tombol bantuan yang terletak di pinggir ranjang rumah sakitnya. Lima belas menit kemudian datanglah seorang perawat menghampirinya.
"Selamat sore Nyonya ada yang bisa saya bantu?"
"Aku bukan nyonya, panggil aku nona! Tolong aku haus, berikan aku minum!"
Si perawat pun beranjak memberikan minum pada wanita itu, dan meletakkan kembali di atas nakas setelah selesai.
Wanita itu menatap sekelilingnya, dan ia baru sadar ia berada di sebuah kamar dengan banyak ranjang.
Kenapa aku berada di ruang rawat murahan seperti ini? Siapa yang mengirimku ke ruangan murahan seperti ini? Kurang ajar sekali! Tunggu pembalasanku!.
"Suster, kenapa aku berada di ruangan ini? Siapa yang membawaku ke sini? Aku ingin pindah ruangan, beri aku ruangan president suite. Kau tenang saja, aku punya banyak uang untuk membayar."
Perawat itu terlihat tersenyum mengejek kepada si pasien. "Maaf nyonya atau nona, atau siapapun namamu, kau diantar oleh dua orang pria yang bahkan tidak memiliki uang sepeser pun untuk membiayai pengobatanmu. Identitasmu bahkan tidak jelas. Jangan bermimpi untuk bisa mendaratkan bokongmu di ranjang ruangan itu. Kuharap kau bisa sadar tepat sebelum waktunya kau dibawa ke rumah sakit jiwa."
"Kurang ajar sekali kau wanita sialan! Kau tidak tahu siapa aku, aku adalah Angeline Parker! Bahkan gajimu setahun tidak akan cukup hanya untuk sekedar membeli sepatuku,"
"Maaf nyonya yang ter-hor-mat, jika sudah tidak ada yang anda butuhkan saya pamit undur diri," perawat itu berlalu dari sana meninggalkan Angeline yang masih merasa sangat kesal.
Sialan, sepertinya wanita itu benar-benar berbahaya. Dia bahkan bisa melakukan sejauh ini. Aku harus berhati-hati mulai sekarang. Aaargghhh...aku harus menghubungi seseorang untuk membantuku keluar dari ruangan terkutuk ini.
***
Dengan perlahan, Lizzy mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan pandangan mata dengan suasana sekitar. Sayup-sayup ia mendengar suara beberapa orang yang sedang berbincang.
"Lizzy, kau sudah bangun?" Itu suara Daniel.
Lizzy menoleh kearah sumber suara, ia tersenyum melihat Daniel. Ia adalah lelaki yang selalu ada di sampingnya, setia menemaninya. Ia tahu itu, karena ketika ia tertidur ia bisa merasakan keberadaan pria itu, entahlah ia pun tak tahu kenapa bisa seperti itu.
Daniel membelai rambutnya dengan sayang, "Apa kau haus?"
Lizzy mengangguk mengiyakan, Daniel pun dengan segera mengambil air minum yang ada di atas nakas kecil di samping ranjang.
" Ini minumlah dulu," Ia menaikan kepala ranjang rumah sakit Lizzy, dan memberinya minum dengan sedotan. Setelah Lizzy minum, ia menyeka bibir Lizzy yang sedikit basah dengan tisu. "Apa lukamu terasa sakit?"
"Hanya sedikit ngilu."
Mendengar Lizzy yang berbicara, seketika semua orang yang ada di sana menghampirinya, sedari tadi mereka sibuk membicarakan langkah apa selanjutnya yang akan mereka ambil untuk membuat Angeline jera.
"Sayang, kau sudah bangun? Apa lukamu masih sakit?"
Ibunya bertanya dengan cemas.
"Hanya sedikit nyeri bu, selebihnya aku baik-baik saja," Lizzy tersenyum lemah.
"Jika ada yang kau rasa, katakan saja jangan diam nak," kali ini ibunya Daniel yang bicara.
"Iya bibi aku pasti akan mengatakannya."
Setelah satu minggu menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Lizzy diizinkan untuk pulang. Ia akhirnya memilih kembali ke rumah ibunya, dengan berat hati. Padahal ia berniat ingin menginap beberapa hari lagi di tempat itu, namun sayang semua orang tidak mengizinkannya.
Lizzy sedang menyesap tehnya di taman belakang saat ia mendengar langkah kaki berjalan kearahnya. Ia menoleh kearah sumber suara, ternyata itu adalah kedua anaknya dan juga mantan suaminya Jacob.
"Ibu...kami merindukanmu, kau terlalu lama pergi berlibur bu, tapi tak apa, kami senang bisa menghabiskan banyak waktu bersama ayah," Clara memeluknya dengan penuh kerinduan. Lizzy memeluk gadis kecilnya, ia menghirup aroma buah strawberry dari rambut anaknya.
"Maaf sayang, karena ibu berada di sana lebih lama dari yang diperkirakan."
"Tidak apa, sungguh, aku tahu kau pasti menikmati liburanmu dengan suka cita," Clara membelai pipinya dengan lembut.
"Ibu, apa kau tidak rindu padaku? Apa hanya kakak yang akan kau peluk?" David sudah mulai merajuk.
"Kemarilah, tentu saja aku merindukan jagoan kecilku ini," Lizzy menarik paksa lengan David dan memeluknya dengan erat. Aroma David persis seperti aroma Jacob. Menenangkan.
Mereka saling melepas rindu dengan mengobrol dan tertawa begitu juga dengan Jacob yang keadaannya sudah jauh lebih baik sekarang.
"Anak-anak, bisakah kalian tinggalkan ayah dan ibu berdua saja? Karena ada yang ingin kami bicarakan," Jacob meminta dengan lembut, dan tanpa protes mereka pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
"Lizzy, apa kau yakin kau baik-baik saja?" Jacob memandang wajah Lizzy dengan cemas.
"Aku sudah baik-baik saja Jacob, percayalah. Luka ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan beberapa luka yang dulu aku dapatkan saat masih bertugas."
"Kau tahu Lizzy, ingin rasanya aku langsung terbang untuk menemuimu, begitu Alex memberikan kabar tentang apa yang terjadi padamu di sana. Tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan anak-anak, sedangkan aku juga tidak mungkin membawa mereka. Mereka pasti akan mengalami guncangan."
"Iya aku tahu Jacob, justru aku senang, anak-anak selalu menjadi prioritasmu. Tetaplah seperti itu. Kau memang ayah yang luar biasa."
"Tapi aku bukan suami yang luar biasa untukmu Lizzy," Suara Jacob terdengar sendu.
Lizzy menggenggam tangan Jacob yang ada di atas meja, ia membelainya dengan lembut. "Dengarkan aku Jacob, apapun yang terjadi di masa lalu tidak perlu lagi kau ungkit, itu hanya akan menambah beban luka kita berdua. Terlepas dari segala hal yang terjadi diantara kita, aku tidak pernah menyesal aku pernah menikah denganmu. Sungguh Jacob."
"Terima kasih Lizzy, kau memang wanita yang luar biasa."
"Waktu akan menyembuhkan kita berdua Jacob, percayalah. Untuk saat ini kita hanya perlu untuk saling memaafkan dan menjalani apa yang harus kita jalani. Kau tidak perlu lagi meminta maaf untuk kejadian dimasa lalu Jacob, jadi kau tenang saja."
"Andaikan aku bisa memutar balikkan waktu, akan kuulang semuanya, dan akan aku perbaiki semua kesalahanku Lizzy."
"Sudahlah Jacob, sungguh aku tak apa. Melihatmu dan kedua anak kita bahagia itu sudah lebih dari cukup untukku."
"Aku...ingin kita kembali berteman Lizzy, jangan jauhi aku lagi. Aku sungguh tak sanggup," Jacob memasang wajab memelas.
"Baiklah Jacob, ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita berteman baik sekarang."
Maafkan aku Lizzy aku tak dapat melupakanmu begitu saja, aku masih sangat mencintaimu. Dan aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu lagi, seperti dulu.
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗