Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atas Nama Rehan (2)
Tidak ada yang mau mengambil alih posisi ketua kali ini, semuannya menolak dan hanya tersisa satu orang saja yang kini tengah menyantap makanannya tepat di hadapanku, "Bagaimana kalau kau saja?" tanyaku pada sosok gadis kecil yang menyebut dirinya sebagai Nana.
"Eh? apa?" mungkin ini terdengar tidak logis bagi ku dan juga yang lainnya tapi entah kenapa aku punya firasat kalau anak ini bisa membawa perubahan.
"Aku menolaknya" saat dia menolak penawaran ini entah kenapa dadaku terasa sesak, "Tidak bisa karena ini sudah perintah" banyak rekan-rekan ku yang menolak dan tidak setuju bahkan ada yang hendak menghajar ku karena memutuskan hal ini secara sepihak tapi ini demi kebaikan kelompok ini juga, "Apa kalian mau menjadi ketuanya?" saat aku melempar tanggung jawab ini pada mereka yang menolak keputusan ku mereka langsung menolaknya mentah-mentah, dan tentunya itu juga membuatku kesal.
"Kalau begitu tutup mulut kalian" gumamku mengingatkan mereka.
Setelah melalui rundingan yang lama akhirnya Nana menerima penawaran tersebut dengan catatan ia di bantu oleh kami, dan aku menyetujuinya saja, " Dia ini adikku namanya Aldo mohon kerjasama nya ya" ujarku melibatkan Aldo untuk membantu Nana awalnya Aldo juga menolak namun aku mengancamnya jadi kini semuannya aman terkendali.
"Kak aku punya sesuatu" hari itu aku tidak menyangka kalau Aldo akan mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, "Sejak kapan kau mengetahuinya?" tanyaku saat itu juga namun Aldo hanya diam saja dia juga hanya tersenyum.
"Kak aku ingin kau menyelidiki tempat ini" dua hari setelah pelantikan ketua yang baru Aldo memberikan perintah padaku untuk menyelidiki suatu tempat yang ia curigai, "Kenapa? apa ada sesuatu di sana?" tanyaku namun lagi-lagi ia hanya diam sembari tersenyum, "Kau akan tahu nanti" semenjak saat itu aku jadi sedikit was-was akan sosok lemah yang selama ini aku lindungi itu, "Kau sudah dewasa yah" gumamku sebelum meninggalkannya, "Tentu saja hehe" terkekeh.
Satu minggu lamanya aku berbaur dengan orang-orang yang Aldo yakini sebagai antek-antek para penguasa penyebab krisis ekonomi sekarang, "Kak kumpulkan semua informasi yang kira-kira berguna saat aku memintamu kembali maka kembalilah" kata-kata Aldo yang begitu paten itu benar-benar membuatku tak bisa berkutik, padahal aku yang membuatnya jadi seperti ini tapi dia malah memperlakukan ku seperti pelayannya "Hah, dasar adik kurang ajar" gumamku mencibir Aldo.
Satu hari di sana hanya ada sekumpulan orang-orang yang bercengkerama seperti biasanya, "Hey mau makan?" kata seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang, "Eh tentu saja" gumamku berterimakasih, di sini aku berbaur dengan para pekerja.
Di hari kedua sedikit berbeda, "Katanya besok ada kiriman baru, kita semua harus lembur sampai pagi" gumam beberapa pekerja yang tengah makan, mengenai apa yang akan mereka kerjakan masih rahasia.
Di hari ketiga pembicaraan mereka menjadi lebih sedikit di banding sebelumnya, mereka lebih banyak diam di bandingkan hari-hari sebelumnya.
Di hari keempat suasananya menjadi sedikit sibuk, "Hey kau, jangan hanya diam saja bantu aku pindahkan ini" kata orang-orang yang mulai sibuk memindahkan sesuatu ke sebuah ruangan.
"Okeh" namun saat aku melihatnya barulah aku tahu apa yang tengah mereka bawa ini, "Ada banyak senjata juga amunisinya tertata rapih di setiap kotak yang ada, perlengkapan militer juga nampak tersusun rapih di sini, sebenarnya apa yang mereka rencanakan?" pikirku saat melihat semua hal ini.
Di hari kelima barulah aku sadar akan sesuatu, saat tengah istirahat salah satu dari mereka tanpa sengaja mulai menyinggung sebuah masalah yang mana sudah mereka simpan rapat-rapat selama ini, "Katanya ada organisasi kecil yang menantang Laura perang!" bisiknya.
"Apa maksudmu? Laura? apa kau bercanda? kau tahu sendiri kan kalau Laura itu bukan hanya perempuan semata dia itu iblis, dia bahkan membunuh siapa saja yang menentangnya dan siapa orang yang dengan berani-beraninya menantang Laura itu, cari mati dia" sahut rekannya yang ikut membicarakannya.
Saat itu juga aku mendapatkan perintah dari Aldo untuk segera kembali melalui sebuah surat yang di tulis sedemikian rupa, "Sebenarnya ada apa?" tanyaku.
Di hari keenam situasinya menjadi lebih genting, "Hahaha rupanya hanya anak kecil" mendengar kata-kata ank kecil langsung bisa konek ke otakku, "Jangan bilang kalau ini ulah Nana sama Aldo " gumamku tidak habis pikir.
Besok mau tidak mau aku harus kembali ke sana untuk memastikannya sendiri, namun sebelumnya akan lebih baik kalau mengumpulkan informasi sebisaku dari pada tidak sama sekali, "Apa kau tahu sesuatu tentang Laura?" tanyaku asal pada orang yang ada di dekatku, awalnya ia tidak mau mengatakannya namun, "Laura itu pemimpin Organisasi Dahlia" katanya singkat.
"Apa dia berbahaya?" tanyaku lagi sebut saja nama laki-laki di samping ku ini Jojo, "Apa kau bercanda? Laura itu sangat terkenal di sini, apa kau benar-benar tidak tahu?" katanya tidak percaya, "Hehehe ingatanku agak kabur jadi gitulah" balasku asal.
"Hadeh, Laura itu orangnya cantik katanya sih dia itu adiknya pemimpin pertama organisasi Dahlia yang sudah meninggal beberapa hari yang lalu, " kata Jojo menyayangkan situasi saat ini, "Pemimpin? jangan bilang kalau dia itu-"
"Padahal dulu Laura itu sangat ramah dan ceria namun setelah krisis ekonomi menimpa dan kakaknya itu menghilang tanpa jejak, mau tidak mau ia harus mengisi posisi kakaknya itu, kami mengira kalau Laura akan sama seperti kakaknya namun kali salah" mengehentikan ceritanya.
"Dia menjadi seorang pembunuh" lirihnya menggertakkan gigi, "Lah? kok jadi pembunuh?" cetusku tiba-tiba, "Yah memang itu kenyataannya" gumam Jojo masih tidak percaya akan apa yang ia katakan barusan.
"Hari ini aku dengar kalau mereka kembali mengadakan pertemuan, mungkin untuk memutuskan kapan perang itu akan terjadi hehehe" gumam Jojo asal.
"Kalau di pikir-pikir semua informasi yang aku dapatkan sama sekali tidak berguna, hadeh bagaimana ini bisa-bisa besok Aldo mencibirku lagi hadehh" .