Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 19
PLAK! PLAK!
Dua gulungan laporan dilemparkan Yuhan tepat ke depan wajah Menteri Pertanian dan Han Tan.
"Menteri Pertanian! Kau bicara tentang kutukan langit? Selama tiga tahun kau menjabat, kinerjamu nihil! Stok biji-bijian dan gabah di gudang pusat membusuk dan berjamur karena kau terlalu malas memeriksa ventilasi! Kau tidak mampu menyediakan pasokan untuk prajurit Shue Wang di perbatasan, padahal dana yang kucairkan setiap tahun sangat besar. Ke mana perginya uang itu, Hah!"
Menteri Pertanian mulai berkeringat dingin, tubuhnya gemetar.
Yuhan kemudian berbalik ke arah Han Tan. "Dan kau, Perdana Menteri Han Tan... Kau menyebutku sembrono? Banyak laporan dari pejabat daerah di Muangting dan Gutiang bahwa kau memungut pajak dua kali lipat dari ketentuan! Kau meminta upeti yang tidak masuk akal dari para gubernur untuk mempertahankan jabatan mereka. Dan yang paling menjijikkan... sejak kapan ujian negara dipungut biaya? Beraninya kau menjual kursi sarjana kepada anak-anak bangsawan bodoh sementara rakyat miskin yang cerdas kau tendang keluar?"
Han Tan terbelalak. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. "I-itu fitnah! Yang Mulia, itu hanya bualan dari orang-orang yang iri pada kedudukan hamba!"
BRAKKK!
Yuhan menggebrak meja giok. "ANDA PIKIR AKU MENGADA-ADA? Aku ini Maharani! Tanpa harus turun ke lapangan, setiap helai rumput yang bergoyang di negeri ini pun aku tahu informasinya, Tuan Han Tan! Jangan mencoba membela diri, apalagi berkilah di hadapanku!"
Yuhan melemparkan setumpuk laporan pengaduan asli yang ia kumpulkan (dengan bantuan intelijen rahasia yang ia bentuk secara diam-diam melalui jalur Li Ming). "Ini bukti pengaduan dari para bangsawan yang kau peras. Baca! Atau kau mau aku membacakannya dengan suara keras di depan rakyat di gerbang kota?"
Seluruh tubuh Han Tan bergetar. Ia menyadari bahwa Maharani di depannya ini bukan lagi wanita bodoh yang bisa ia kendalikan dengan kata-kata manis. Aura yang terpancar dari tubuh Yuhan sangat menekan, membuat napas Han Tan terasa sesak.
Namun, Yuhan tahu posisi Han Tan masih kuat. Han Tan memiliki dukungan dari faksi-faksi bangsawan besar dan memegang hampir dua puluh ribu pasukan pribadi (tentara swasta) yang siap mengangkat senjata jika pemimpin mereka disentuh. Memecatnya sekarang hanya akan memicu perang saudara atau pemberontakan yang tidak diinginkan di tengah kelaparan.
"Karena pengabdian panjangmu pada mendiang Kaisar," suara Yuhan melunak, namun tetap dingin. "Aku akan memberimu kesempatan untuk menebus dosa. Aku menghukummu dengan pemotongan seluruh gaji dan tunjangan selama satu tahun penuh! Selain itu, kau diwajibkan melakukan bakti rakyat, sediakan bantuan makanan dan pembagian bubur di tiga desa termiskin setiap hari selama enam bulan ke depan dari kantong pribadimu!"
Han Tan menunduk dalam, mengepalkan tangannya di balik jubah. "H-hamba... hamba berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Maharani."
Yuhan kembali menatap Menteri Pertanian. "Adapun kau, Menteri Pertanian... Jika dalam satu bulan kau tidak bisa memperbaiki manajemen gudang dan memberikan laporan akurat tentang bibit baru yang akan kutanam, maka kau tidak hanya akan kehilangan jabatan, tapi juga kepalamu."
Menteri Pertanian bersujud hingga dahinya berdarah. "Hamba mengerti, Yang Mulia! Hamba akan bekerja sepuluh kali lipat lebih keras!"
Yuhan duduk kembali di samping Mu Lian. Ia melirik suaminya dan melihat Mu Lian menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman yang sulit disembunyikan. Kekakuan di antara mereka mulai mencair, berganti dengan rasa hormat sebagai rekan seperjuangan.
Suasana di Aula Keharmonisan tidak lagi sekadar tegang, udara di sana terasa seperti medan perang yang dipenuhi mesiu, menunggu satu percikan untuk meledak. Para menteri yang biasanya lantang bersuara, kini sibuk menyeka keringat dingin di dahi mereka. Mereka merasa seperti narapidana yang sedang menunggu vonis mati setelah borok Perdana Menteri Han Tan dan Menteri Pertanian dikuliti habis oleh Shen Yuhan.
Namun, di sudut lain, Shen Bo sang Pangeran Kedua merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia menatap nyalang ke arah singgasana tinggi, di mana Mu Lian duduk bersisian dengan Yuhan. Baginya, itu adalah penghinaan visual terhadap garis keturunan bangsawan yang "sempurna".
"Mohon ampun, Yang Mulia Maharani!" Shen Bo berdiri dengan angkuh, suaranya menggelegar di aula. "Hamba harus bersuara demi kehormatan leluhur. Tidak sepantasnya Pangeran Kelima duduk di singgasana agung itu. Tahta Kerajaan Shen hanya pantas diduduki oleh orang-orang yang sempurna secara fisik dan spiritual! Membiarkan seorang yang lumpuh dan cacat duduk di sana adalah penghinaan bagi kami semua!"
Yuhan menoleh perlahan, matanya yang berkilat dingin menatap Shen Bo seolah sedang menatap serangga kecil. "Lalu siapa yang menurutmu lebih pantas, Pangeran Kedua? Anda? Atau mungkin mertua Anda, Tuan Han Tan?"
Shen Bo tersentak, lidahnya kelu sesaat. "M-mohon ampun Yang Mulia, hamba tidak bermaksud demikian..."
"Jika kau merasa salah, maka tutup mulutmu dan dengarkan!" gertak Yuhan. Ia kemudian berdiri, suaranya menguasai seluruh penjuru aula. "Kasim Agung, siapkan Dekrit Maharani!"
Seluruh aula mendadak sunyi senyap saat Kasim Agung membuka gulungan kain sutra kuning emas. Yuhan membacakan isinya dengan suara yang tidak menerima bantahan:
"Mulai hari ini, Aku, Maharani Shen Yuhan, mengangkat Pangeran Kelima Mu Lian sebagai Wali Raja. Ia bertugas mengawasi, memelihara, dan meningkatkan kestabilan pemerintahan dengan otoritas satu tingkat di bawah Maharani. Penunjukan ini bersifat mutlak, abadi, dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun!"
Mu Lian terpaku. Ia menatap Yuhan dengan emosi yang berkecamuk. Ia segera turun dari singgasana, berlutut dengan bantuan kekuatannya sendiri di depan Yuhan untuk menerima dekrit itu. Han Tan dan Shen Bo nyaris pingsan karena geram. Ini berarti Mu Lian memiliki kekuasaan hukum untuk mengeksekusi perintah tanpa harus menunggu persetujuan menteri.
Belum sempat mereka memprotes, Yuhan melanjutkan dekrit kedua.
"Tuan Li Ming, maju!"
Li Ming melangkah maju, aura pengawal elitnya menyelimuti seragam pejabat tingkat limanya.
"Mengangkat Tuan Li Ming sebagai Pejabat Pengawas Agraria Kerajaan, dengan gelar bangsawan tingkat lima setara Bupati Daerah. Ia bertanggung jawab penuh atas pengendalian mutu pangan dan lahan baru kerajaan!"
"Hidup Yang Mulia Maharani seribu tahun! Hidup seribu tahun! Hidup seribu tahun!" seru Li Ming dengan suara bariton yang mantap.
BRUG!
Han Tan berlutut dengan keras hingga lututnya menghantam lantai marmer. "Yang Mulia! Ini sudah keterlaluan! Anda semakin sembrono! Mu Lian mungkin seorang jenderal, tapi Li Ming? Dia hanyalah seorang gundik istana belakang! Memberikan gelar bangsawan dan jabatan tinggi pada seorang pelayan ranjang adalah penghinaan bagi sistem pemerintahan kita!"
Shen Bo menimpali, "Benar, Yang Mulia! Bagaimana mungkin rakyat akan menghormati pejabat yang berasal dari... pelayan pria? Ini memalukan!"
PRAAANNGG!