Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mediasi Gagal
Petugas memanggil nama mereka dengan suara datar. Zizi dan Arman duduk berhadapan di ruangan yang lebih kecil. Tidak ada palu hakim, tidak ada penonton—hanya dinding krem yang dingin dan meja kayu yang terasa terlalu luas di antara mereka.
Mediator berbicara pelan, “Tujuan mediasi adalah mencari jalan terbaik. Jika masih bisa dipertahankan, kami anjurkan dipertahankan.”
Kata “dipertahankan” menggantung seperti beban.
Zizi menunduk. Tangannya saling menggenggam hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak berani menatap Arman terlalu lama; setiap tatapan selalu menjadi luka baru. Suaranya lirih ketika akhirnya keluar.
“Saya sudah mencoba,” katanya pelan. “Saya capek sendirian.”
Arman menghela napas, menatap ke arah jendela seolah jawaban ada di balik kaca. “Aku juga berusaha. Tapi kamu selalu merasa aku kurang.”
Zizi tersenyum tipis, senyum yang tidak benar-benar senyum.
“Bukan kurang,” ia membalas pelan, “kamu… tidak ada.”
Hening merambat pelan. Detak jam dinding terdengar menyebalkan.
Mediator bertanya lagi, prosedural, kaku, “Apakah masih ada kemungkinan untuk rukun kembali?”
Zizi menggeleng. Gerakan kecil yang terasa seperti gempa di dadanya sendiri. Air mata tidak jatuh, tapi matanya berkaca, sesuatu di dalamnya runtuh, namun terpaksa tetap tegak.
Arman tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ada marah, ada sesal, ada gengsi yang terlalu tebal untuk runtuh di ruangan sempit itu.
“Baik,” ucap mediator akhirnya. “Mediasi dinyatakan tidak berhasil.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Zizi rasanya seperti suara pintu besar yang menutup selamanya. Bukan hanya tentang pernikahan, tetapi tentang semua harapan yang pernah mereka bicarakan: rumah kecil, suara anak, sarapan terburu-buru.
Keluar dari ruangan, langkah Zizi terasa ringan, bukan karena lega, tetapi karena sebagian dirinya tertinggal di sana, tidak ikut pulang.
Di koridor pengadilan, aroma kertas, kopi basi, dan debu bercampur dengan langkah-langkah terburu orang lain.
Zizi berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu, seakan tubuhnya menunggu jiwa yang masih tertinggal di ruangan mediasi tadi.
Arman berjalan mendahuluinya tanpa menoleh. Bahunya kaku. Nada sepatu kulitnya memantul di lantai keramik, keras, tergesa, seperti kemarahan yang tidak diucapkan. Anggun dan Anggi menunggu lebih jauh di ujung koridor.
Wajah mereka menegang ketika melihat kepala Arman yang sedikit menunduk.
Anggun merapatkan tasnya ke dada. “Gagal?” hanya satu kata, tapi beratnya seperti batu.
Arman tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Anggi memalingkan wajah, kecewa bukan pada siapa pun secara spesifik, melainkan pada fakta bahwa keluarga mereka kini retak dan tidak ada yang sanggup menahannya.
Zizi melangkah pelan melewati mereka. Tidak ada kata salam, tidak ada pamit. Yang ada hanya udara dingin yang menempel di kulit dan rasa rindu yang aneh pada dirinya sendiri yang dulu—yang masih tertawa tanpa takut salah.
Di anak tangga terakhir, ia berhenti. Dunia di luar gedung pengadilan tampak biasa-biasa saja: pedagang asongan memanggil pembeli, motor berderum, langit berwarna abu-abu keunguan. Tidak ada tanda bahwa hidup seseorang baru saja berubah arah.
Ia menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, kata “sendiri” tidak hanya berarti kesepian, tetapi juga ruang: ruang untuk merasa, untuk marah, untuk patah, untuk membangun ulang sesuatu yang belum ia kenal—dirinya sendiri.
Di belakangnya, suara Anggun terdengar rendah, menahan geram, “Seharusnya tadi kamu mengalah, Man. Rumah tangga itu bukan mainan.”
Arman mengepalkan tangan. “Dia yang tidak mau,” ucapnya cepat, namun kalimat itu menggantung, seolah ia sendiri tahu betapa sederhananya cara ia mereduksi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar mau atau tidak.
Zizi tidak menoleh. Ia memilih menuruni anak tangga dan melangkah menuju senja yang mulai jatuh, membiarkan suara-suara di belakangnya menjauh perlahan.
Di dada, rasa sakit dan tenang hidup berdampingan—seperti dua musim yang belum sepakat siapa yang lebih dulu datang.
Keluar dari gedung pengadilan, udara terasa berbeda. Langit sudah condong ke sore, warna oranye tipis menggantung di balik gedung-gedung.
Zizi menepikan langkahnya sebentar, menarik napas panjang seperti seseorang yang baru saja belajar bernapas lagi.
Di depan gerbang, Danu sudah menunggu. Tidak banyak kata, hanya anggukan singkat dan senyum yang tidak berlebihan.
“Kita pulang?” tanyanya tenang.
Zizi mengangguk. Ia tidak ingin menjelaskan terlalu banyak kepada siapa pun hari itu—bahkan pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin duduk, diam, dan tidak ditanya apa pun.
Danu membukakan pintu mobil, dan Zizi masuk tanpa banyak bicara.
Dari kejauhan, Arman melihatnya.
Ia baru keluar bersama Anggun dan Anggi ketika mobil itu melintas pelan. Arman tidak melihat wajah Zizi jelas, tapi cukup untuk memastikan: Zizi tidak sendirian. Ada seorang pria di kursi pengemudi—asing, rapi, dan tampak terlalu tenang untuk orang luar.
“Apa itu… Zizi?” suara Anggi tercekat, setengah tak percaya.
Anggun memicingkan mata, rahangnya menegang. “Dia… sudah punya pengganti?” Nada suaranya dingin, lebih banyak luka daripada marah, tapi tak mau mengakuinya.
Arman terdiam paling lama. Ada sesuatu yang panas naik ke kepalanya saat melihat mobil itu menjauh. Bukan sekadar cemburu—lebih buruk—tertampar. Selama ini ia terbiasa melihat Zizi menunggunya, menjemputnya, menanyakan kabarnya, menggantungkan hidupnya pada rumah itu.
Kini ada orang lain di sisi Zizi. Dan yang lebih menyakitkan, Zizi tampak… tidak menoleh ke belakang.
“Makanya dari dulu Ibu bilang,” Anggun mulai dengan suara bergetar, “perempuan kalau sudah keluar rumah itu...”
Arman mengepalkan tangan. “Bukan masalah keluar rumah,” potongnya pelan tapi tegas. “Masalahnya… kenapa dia terlihat lebih tenang sekarang?”
Kata-kata itu seperti pengakuan yang tidak ingin didengar siapa pun.
Anggi melirik kakaknya, lalu berbisik pelan, ada getir yang ia sembunyikan: "Mas… mungkin selama ini dia capek.”
Arman tidak menjawab. Yang berputar di kepalanya hanya satu adegan: Zizi turun tangan ketika ia sakit, Zizi memasak, Zizi mencuci, Zizi menunggu, Zizi meminta duduk sebentar bersamanya… dan ia sering pergi tanpa menoleh.
Kini giliran Zizi yang pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kecemburuan tidak hanya membuatnya marah tetapi takut.
.
Zizi berhenti sejenak di depan pintu apartemen itu. Nomor kecil berwarna perak memantul lemah oleh lampu lorong. Ia menarik napas, bukan karena takut pada Danu, melainkan pada segala yang sedang berubah di hidupnya—pelan, tetapi pasti.
Danu membuka pintu sebelum ia sempat mengetuk dua kali.
“Kamu mau makan sekarang ?” itu kalimat pertama yang keluar, sederhana, tanpa interogasi, tanpa nada menghakimi.
Zizi menggeleng. Sepatu dilepas perlahan; ia melangkah masuk. Apartemen itu tidak besar, tetapi rapi, bau kayu bercampur lembut di udara, berbeda sekali dengan rumah yang selama ini ia tinggali: penuh suara, tapi sunyi untuknya.
“Duduk saja,” ucap Danu, ikut menjaga jarak. Ia tidak ingin menjadi jurang baru.
Zizi duduk di sofa abu-abu.
Jendela besar memperlihatkan langit malam yang pecah oleh lampu kota. Di sana, hiruk pikuk terasa jauh, seperti hidup orang lain.
“Terima kasih,” kata Zizi akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak bertanya macam-macam.”
Danu tersenyum samar. “Karena kamu sudah terlalu sering ditanya hal-hal yang bahkan kamu sendiri tidak punya jawabannya.”
Zizi menatap ke arah jendela. Ada bayangan dirinya di sana: perempuan dengan mata lelah, tetapi masih berusaha tegak. Ia tidak merasa kuat, ia hanya sudah tidak punya pilihan selain berjalan.
Ia bersandar pelan pada sandaran sofa. Kepalanya berat. Yang terlintas adalah wajah Anggun dan Anggi saat melihatnya pergi bersama Danu, tatapan tajam, bukan hanya cemburu, tapi semacam rasa terancam. Seolah dunia yang selama ini mereka kendalikan tiba-tiba bergerak tanpa izin.
“Mereka marah?” tanya Danu pelan.
“Mereka cemburu,” jawab Zizi. “Bukan karena aku bahagia. Tapi karena aku berani keluar.”
Keheningan yang hadir setelahnya bukan hening yang menyakitkan. Ini hening yang memberi ruang bernapas.
Danu masuk ke dapur kecil, suara gelas bersentuhan terdengar. “Minum yang manis sedikit. Badanmu butuh istirahat.”
Ketika ia kembali, Zizi menerima gelas hangat itu dengan dua tangan. Kehangatan merambat sampai dada. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memerintah, hanya ditanya apa yang ia butuhkan. Matanya akhirnya benar-benar basah.
“Di sini kamu aman,” kata Danu pelan, tidak mendekat, tidak menyentuh. “Bukan karena aku siapa-siapa. Tapi karena kamu berhak punya tempat yang tidak menyakitimu.”
Zizi mengangguk, air matanya jatuh diam-diam. Ia sadar, ini bukan cinta. Ini belum apa-apa.
Ini hanya ruang bernapas… yang belum pernah ia miliki sebelumnya.