Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Birth of Allesia
Malam itu, musim dingin baru saja menyentuh New York dengan salju pertamanya yang turun perlahan, menutupi atap-atap gedung pencakar langit dengan selimut putih yang tipis.
Di dalam mansion Xander, suasana yang biasanya tenang berubah menjadi tegang namun penuh antisipasi. Persalinan Freya tidak terjadi di tengah pesta besar atau gala yang glamor; ia datang di keheningan pukul tiga pagi, saat dunia sedang terlelap.
Freya terbangun dengan rasa sakit yang tajam dan ritmis yang merambat dari pinggang hingga ke perut bawahnya. Ia meremas seprai sutra di tempat tidurnya, berusaha mengatur napas seperti yang telah ia pelajari di kelas persalinan.
"Pablo..." bisiknya parau.
Pablo, yang selama seminggu terakhir tidur dengan tingkat kewaspadaan seorang prajurit, langsung terjaga. Ia melihat wajah Freya yang berkeringat di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.
"Waktunya?" tanya Pablo singkat, suaranya berat namun stabil.
Freya hanya mengangguk saat kontraksi berikutnya datang lebih kuat. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Pablo melakukan gerakan yang telah ia latih di kepalanya ratusan kali. Ia membantu Freya mengenakan jubah hangat, mengambil tas persalinan yang sudah siap di dekat pintu, dan menghubungi tim medis pribadinya serta Rumah Sakit Mount Sinai untuk memastikan sayap VVIP telah siap sepenuhnya.
Perjalanan di Tengah Sunyinya New York.
Mobil SUV hitam milik Pablo membelah jalanan Manhattan yang sepi. Di kursi belakang, Pablo membiarkan Freya meremas tangannya sekuat tenaga. Ia tidak meringis sedikit pun; baginya, rasa sakit di tangan itu tidak sebanding dengan perjuangan yang sedang dilalui istrinya.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Freya. Tarik napas... buang pelan-pelan," bisik Pablo, suaranya menjadi satu-satunya jangkar bagi Freya di tengah badai rasa sakit.
Sesampainya di rumah sakit, tim medis terbaik yang telah dipesan oleh Joice Rodriguez sudah menunggu di lobi. Mereka segera membawa Freya ke ruang persalinan eksklusif. Kabar ini pun segera sampai ke telinga keluarga besar. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, lobi pribadi rumah sakit itu sudah dipenuhi oleh Joice, Anne, dan tentu saja Kakek Alan yang bersikeras datang meski hari masih sangat pagi.
...----------------...
Joice Rodriguez berjalan mondar-mandir di koridor dengan ponsel di tangan, sementara Anne duduk di kursi tunggu dengan jemari yang bertautan dalam doa. Kakek Alan duduk diam di kursi rodanya, namun matanya yang tajam tidak lepas dari pintu kayu ganda ruang persalinan.
"Dia akan baik-baik saja, Joice. Freya adalah seorang pejuang," ucap Anne mencoba menenangkan suaminya, meski hatinya sendiri berdegup kencang.
Di dalam ruangan, Pablo menolak untuk keluar. Ia mengenakan baju sterilisasi dan berdiri tepat di samping kepala Freya. Ini adalah pemandangan yang kontras; pria paling ditakuti di dunia bisnis New York itu kini tampak rapuh, matanya merah melihat penderitaan wanita yang paling ia cintai.
"Aku tidak bisa, Pablo... ini terlalu sakit," isak Freya di sela-sela dorongan.
Pablo menyeka keringat di dahi Freya dengan handuk kecil, lalu mengecup keningnya lama. "Kau bisa, sayang. Lihat aku. Ingat Nael, ingat rumah kita. Sebentar lagi dia akan ada di sini. Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Tidak akan pernah."
...----------------...
Jam dinding di ruang persalinan seolah bergerak sangat lambat. Empat jam telah berlalu. Freya sudah mencapai batas energinya. Dokter memberikan instruksi terakhir bagi Freya untuk melakukan dorongan terakhir yang paling kuat.
"Satu kali lagi, Freya! Hanya satu kali lagi!" seru dokter.
Freya mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, mencengkeram tangan Pablo hingga buku-buku jarinya memutih. Dan tiba-tiba, keheningan ruangan itu pecah oleh suara yang paling indah yang pernah mereka dengar: suara tangisan bayi yang melengking, kuat, dan penuh kehidupan.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Pablo. Ia melihat perawat mengangkat seorang bayi kecil yang kemerahan, terbungkus handuk putih bersih. Air mata yang selama ini ditahan Pablo akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Seorang putri yang cantik," ucap dokter sambil meletakkan bayi itu di atas dada Freya untuk melakukan skin-to-skin contact.
Freya, meski kelelahan luar biasa, membuka matanya dan tersenyum lemah. Ia melihat makhluk kecil yang selama sembilan bulan ini ia jaga di dalam rahimnya. Bayi itu memiliki rambut gelap seperti Pablo dan garis bibir yang lembut seperti Freya.
"Halo, sayang..." bisik Freya dengan suara yang hampir hilang. "Selamat datang di dunia, Alessia Rodriguez-Xander."
Pagi hari sekitar pukul sepuluh, salju di luar mulai berhenti dan sinar matahari musim dingin yang cerah menyinari kamar perawatan Freya yang dipenuhi bunga lili putih kiriman keluarga.
Pintu kamar terbuka perlahan. Joice membawa Nael masuk. Bocah itu tampak ragu-ragu, matanya tertuju pada ranjang kecil transparan di samping tempat tidur Freya.
"Mommy?" tanya Nael pelan.
Freya merentangkan tangannya, memanggil putra sulungnya itu. "Kemarilah, Nael. Lihat siapa yang sudah datang untuk menemuimu."
Nael mendekat ke ranjang bayi. Ia berdiri berjinjit untuk melihat sosok mungil yang sedang tertidur lelap dengan bedong berwarna merah muda. Tangannya yang kecil perlahan menyentuh jari-jari Alessia yang sangat mungil. Secara ajaib, bayi itu sedikit menggeliat dan menggenggam jari telunjuk Nael.
Nael tertegun. Ia menatap Pablo dengan mata bulatnya yang penuh kekaguman. "Daddy, dia memegang tanganku! Dia tahu aku kakaknya!"
Pablo merangkul Nael dan Freya secara bersamaan. "Tentu saja dia tahu. Kau adalah pelindung pertamanya, Nael."
...----------------...
Kakek Alan masuk tak lama kemudian. Ia meminta semua orang memberinya ruang sejenak. Sang patriark tua itu mendekati ranjang Alessia, menatap bayi itu dalam diam yang cukup lama. Ada rasa haru yang mendalam di wajahnya; ia melihat kelanjutan dari dinasti yang ia bangun dengan peluh dan darah.
"Dia memiliki aura seorang ratu," gumam Kakek Alan. Ia mengeluarkan sebuah kalung emas kecil dengan liontin inisial 'A' yang bertahtakan berlian langka—hadiah pertama bagi sang cucu buyut. "Selamat datang di keluarga ini, Alessia. Kau lahir di tengah cinta yang besar, dan kau akan tumbuh menjadi wanita yang luar biasa."
Joice dan Anne pun masuk kembali, memberikan pelukan hangat kepada Freya. Anne tidak bisa berhenti menciumi pipi Alessia, sementara Joice menepuk bahu Pablo dengan bangga.
"Kau telah memberikan kami segalanya, Pablo," ucap Joice dengan tulus. "Keluarga ini sekarang lengkap."
...----------------...
Malam itu, setelah keluarga besar pulang, kamar menjadi sunyi kembali. Pablo duduk di tepi tempat tidur Freya, menggendong Alessia yang sedang terbangun dengan mata bulat yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Dia mirip sekali denganmu saat kau sedang berpikir serius," goda Freya sambil meminum air putihnya.
Pablo terkekeh pelan, jarinya mengusap pipi lembut Alessia. "Aku harap dia hanya mewarisi kecerdasanmu dan keberanianmu, bukan sifat keras kepalaku."
"Dia akan menjadi kombinasi terbaik dari kita berdua," balas Freya.
Pablo menatap Alessia, lalu menatap Freya. Ia menyadari betapa jauh perjalanan yang telah mereka lalui. Dari sebuah perjodohan bisnis yang dingin, melalui pengkhianatan Dante, hingga pengakuan Nael, dan sekarang... kehadiran Alessia. Persalinan ini bukan hanya tentang melahirkan seorang bayi, tapi tentang melahirkan harapan baru bagi nama Xander dan Rodriguez.
"Terima kasih, Freya," bisik Pablo. "Terima kasih telah memberikan kehidupan ini padaku."
Freya memegang tangan Pablo, menyatukan tangan mereka di atas selimut. "Kita melakukannya bersama, Pablo. Kita, Nael, dan sekarang Alessia."
Di luar jendela, New York kembali berdenyut dengan lampunya yang tak pernah padam. Namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti dalam kedamaian. Seorang ahli waris baru telah lahir, seorang putri yang akan tumbuh dengan mengetahui bahwa ia tidak perlu takut pada dunia, karena ia memiliki kakak laki-laki yang hebat, ibu yang tangguh, dan ayah yang akan memindahkan gunung demi dirinya.
Kelahiran Alessia menjadi penutup yang manis bagi babak perjuangan mereka dan pembuka bagi babak baru yang penuh dengan tawa dan kehangatan keluarga yang hakiki.