"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Aaaaaa!"
Pekikan nyaring Laura menggema, memantul di dinding-dinding sempit kamar yang baru beberapa jam mereka tempati. Di ruang tamu, Dirga tersentak. Ia meletakkan gelas airnya dengan kasar lalu bergegas menghampiri istrinya.
"Laura! Kamu apa-apaan, sih? Teriak-teriak tidak jelas seperti itu!" tegur Dirga dengan napas memburu.
Laura menunjuk ke sudut gelap di bawah dipan dengan jari yang gemetar. "Mas, ada tikus di dalam! Aku takut! Lagipula, lihat kamar ini, sempit sekali. Kita cuma punya kasur lantai tipis begini? Aku tidak mau tinggal di sini, Mas!"
Dirga menghela napas panjang, matanya menyapu ruangan sekilas tanpa minat untuk memeriksa sudut yang ditunjuk Laura. Wajahnya tampak sayu, memperlihatkan gurat kelelahan yang mendalam.
"Mana ada tikus? Itu cuma perasaanmu saja," sahut Dirga dingin. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba menahan emosi. "Sudahlah, Ra. Berhenti menuntut macam-macam. Aku capek."
Tanpa menoleh lagi, Dirga berbalik dan melangkah pergi, membiarkan Laura terpaku sendirian dalam ketakutan di ambang pintu kamar yang pengap itu.
"Mas! Mas! Jangan pergi!" Laura mengejar hingga ambang pintu, jemarinya mencengkeram kusen kayu yang lapuk. "Usir dulu tikus itu! Kamu tega membiarkanku di sini sendirian?"
Napas Laura memburu, wajahnya memerah padam. Kalimat yang sejak tadi tertahan di ujung lidah akhirnya tumpah begitu saja.
"Aku menyesal, Mas! Kalau tahu ujung-ujungnya aku harus menderita setelah hidup sama kamu. Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!"
Langkah Dirga terhenti sejenak. Punggungnya menegang, namun ia sama sekali tidak menoleh. Tanpa sepatah kata pun, ia pergi melangkah keluar, membanting pintu kayu hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan.
Dirga berjalan cepat . Ia berhenti di bawah pohon lalu mengacak acak rambutnya dengan kasar hingga berantakan. Ia menendang kerikil di jalanan, matanya menatap nanar pada bayangannya sendiri yang tampak rapuh di atas aspal.
"Sial!" desisnya, suaranya tercekat di tenggorokan. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?".
Dirga merasa dunianya benar-benar runtuh setelah menikahi Laura. Bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya, terutama sosok Karin yang kini tampak begitu dingin dan tak lagi peduli.
Hatinya terasa sakit setiap kali teringat bagaimana Karin dengan teganya mengusir dirinya dari rumah—tempat yang dulu pernah menjadi pelabuhan ternyaman nya.
"Karin... aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu," batin Dirga. Isak tangis yang tak bersuara itu terasa menyesakkan dada, memenuhi relung hatinya dengan penyesalan yang terlambat.
Namun, secercah harapan muncul di tengah keputusasaannya. Dirga menyeka wajahnya dengan kasar.
"Aku harus menemui Karin besok di kantor," ucap Dirga pada dirinya sendiri, mencoba membangun keyakinan. "Aku yakin Karin masih mencintaiku. Dia pasti akan memaafkan ku dan mau kembali seperti dulu lagi."
Setelah hatinya sedikit tenang, Dirga memutuskan kembali ke kontrakan. Rasa lapar mulai melilit perutnya, mengingatkannya bahwa sejak semalam belum ada satu suap nasi pun yang masuk ke lambungnya. Namun, alih-alih sambutan hangat, kemarahan Laura sudah menantinya di balik pintu.
"Ra! Laura! Aku lapar, kamu masak apa?" teriak Dirga sambil melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.
Laura yang sedang duduk di sudut ruangan langsung berdiri, wajahnya memerah. "Masak? Masak apa, Mas? Di rumah ini tidak ada apa-apa! Kamu bahkan tidak meninggalkan uang sepeser pun sebelum pergi begitu saja. Sekarang pulang-pulang malah teriak minta makan!"
"Ya, maaf, aku lupa!" sahut Dirga ketus. Ia merogoh saku dan menyerahkan selembar uang yang sudah kumal kepada Laura. "Ini uangnya. Cepat ke warung, beli mie instan sama telur. Aku sudah lapar sekali."
Laura menatap nanar uang di tangannya. "Mas, kamu gila? Ini cuma sepuluh ribu! Mana cukup untuk beli telur dan mie yang layak? Kamu tidak mikirin aku? Aku juga lapar!"
"Ya ampun, sepuluh ribu itu cukup untuk telur satu dan mie dua, Ra! Sudahlah, jangan banyak protes, cepat berangkat!" bentak Dirga, tidak mau tahu
Dengan hati mendongkol, Laura akhirnya melangkah ke warung untuk membeli sebutir telur dan dua bungkus mie instan menggunakan uang sepuluh ribu pemberian Dirga. Setibanya di kontrakan, ia segera menuju dapur, berniat meredam rasa lapar yang mulai menyiksa. Namun, kemalangan seolah tak mau beranjak darinya.
Ceklek..Ceklek
Laura memutar pemantik kompor berkali-kali, namun tak ada api yang muncul. Ia mencoba mengendus, tak ada aroma gas sama sekali.
"Sial! Kenapa tidak mau hidup, sih? Apa gasnya habis?" gumamnya frustrasi. "Mas! Mas Dirga!" teriak Laura dari dapur.
"Apalagi, sih, Ra?" sahut Dirga dengan nada malas dari ruang tengah.
"Ini gasnya habis, Mas! Aku tidak bisa masak!"
Dirga muncul di ambang pintu dapur sambil mengacak rambutnya. "Ya ampun, kenapa masalah datang bertubi-tubi seperti ini?" gerutunya.
"Sudah, jangan mengeluh terus! Cepat beli gas sana, aku sudah lapar sekali!" tuntut Laura.
Dirga mematung, wajahnya mendadak pias. "Aku sudah tidak punya uang tunai lagi, Ra."
"Apa?!" Mata Laura membelalak. "Bukannya kemarin uangmu masih ada dua juta? Kenapa sekarang sudah habis?"
"Uangnya masih ada di tabungan, Ra! Tapi di sekitar sini tidak ada ATM, jauh sekali. Bagaimana aku bisa mengambilnya?" bela Dirga dengan suara yang mulai meninggi.
"Terus malam ini kita mau makan apa, Mas? Dari kemarin aku belum makan! Ingat, aku ini sedang hamil! Kamu mau aku pingsan?" bentak Laura dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis dan lapar.
Dirga terduduk lemas di lantai semen. "Ya, terus aku harus bagaimana, Ra? Aku juga bingung!"
Tiba-tiba, Dirga menyambar sebungkus mie instan dari meja. Tanpa ragu, ia meremas bungkusan itu hingga hancur, merobek plastiknya, lalu menaburkan bumbu gurih ke dalamnya. Ia mengocok plastik itu sebentar sebelum mulai mengunyah mie mentah tersebut dengan rakus.
"Sudah, begini saja. Demi mengganjal perut kita, makan mie mentah ini pakai bumbunya. Ini juga enak, kok," ucap Dirga sambil menyodorkan bungkusan plastik itu ke arah Laura.
Laura menepis tangan Dirga dengan perasaan muak. "Mas, aku ini sedang hamil! Makan mie mentah seperti itu jelas tidak baik untuk kandunganku. Kamu jangan egois, dong!" amuk Laura. Matanya berkaca-kaca menatap suaminya yang kini terlihat begitu menyedihkan.
"Sudahlah, Ra. Kamu bilang kamu lapar, kan? Ya sudah, makan yang ada dulu. Lagipula ini tidak setiap hari, kita lakukan karena kepepet saja," ujar Dirga mencoba membela diri sambil terus mengunyah.
Laura menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Kamu benar-benar tidak memikirkan anak kita ya, Mas?" ucapnya dengan suara bergetar karena kecewa.
"Aku memikirkannya, Ra! Tapi ini sudah malam, gas habis, dan ATM jauh sekali dari sini. Tolonglah, kamu mengerti keadaan kita sekarang!" suara Dirga mulai meninggi, ia merasa terpojok oleh kenyataan.
"Terserah kamu lah, Mas. Aku benar-benar kecewa," sahut Laura singkat.
Ia membuang muka, menolak bungkusan mie mentah yang disodorkan Dirga. Laura beralih ke teko plastik di sudut meja, menuangkan air putih ke gelas lalu meminumnya dengan rakus, berharap rasa laparnya bisa sedikit hilang di lambungnya.
Malam itu, di atas kasur lantai yang tipis, Laura meringkuk membelakangi Dirga. Air matanya jatuh membasahi bantal yang sudah apek.
"Dosa apa yang telah aku perbuat, ya Tuhan? Kenapa hidupku jadi hancur seperti ini?" isaknya dalam kegelapan.
****Bersambung*****
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak