Sejak Ayahnya meninggal 2 tahun lalu, ia hidup berdua dengan ibunya. Dengan uang peninggalan Ayahnya, ia masih bisa bertahan hidup. Sampai pada suatu hari Ia menemukan tawaran di internet untuk menjadi "Rahim Pengganti", dengan bayaran 1Miliar.
Diusia yang masih sangat muda, 19 tahun Lea Shen memutuskan untuk ikut dalam pemilihan rahim pengganti.
Pada saat waktunya melahirkan, tanpa sepengetahuan pihak pertama Lea ternyata mengandung Anak kembar dan dokter kandungan yang menangani persalinan Lea, membantunya untuk menyembunyikan salah satu bayinya.
Setelah beberapa bulan melahirkan, Lea Shen menjalin hubungan dengan Presdir Muda yang tampan. Tidak disangka, pria itu adalah Ayah bologis anaknya.
Akankah Ibu dan Anak itu bisa berkumpul kembali?
(Ini adalah perjalanan cinta Lea dan Willy)
Follow IG author: @rymatusya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemabuk yang Merepotkan
Lea terus mengoceh tak karuan, sesekali menangis, kadang tertawa terbahak-bahak.
Emily bingung, ia mencoba menyeretnya pulang, tapi Lea tidak mau, ia terus mengamuk.
Mencoba meminta bantuan Nathan, tapi Nathan tidak bisa meninggalkan Leayumi Food.
Emily benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Hari sudah malam, tapi pemabuk ini tidak mau pergi.
Emily menggandeng tangan Lea dan berkata
"Lea..., Lea..., hey sadarlah. Ayo berdiri. Aduhh kamu berat sekaliiiii."
Menggandeng orang mabuk dengan jalan sempoyongan, membuat pinggang Emily sakit.
Bagaimana tidak, Emily yang tidak lebih tinggi dari Lea, harus menggandeng Lea yang tinggi.
"Aduhh..., Leaaa bentar-benar! Sepertinya pinggang aku patah." Emily terus memijit-mijit pinggangnya yang sakit.
Emily melotot pada Lea sambil berkacak pinggang
"Kamu pemabuk yang merepotkan."
"Brengsekkkkk.... Kamu brengsekk!" ucap Lea marah dengan nada mabuknya.
Emily semakin melotot pada Lea
"Apa kamu bilang? Aku brengsek?"
"Kamu pria brengsek yang baru aku temui, aku benci kamu." ucapnya terus menunjuk-nunjuk Emily.
Emily diam sejenak dan berpikir. Lea mabuk parah seperti ini tapi yang dia ingat hanya Willy.
Ya... Willy, sepertinya Lea harus dibujuk oleh Willy.
Emily mendapat ide. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan memanggil Willy.
Willy: "Hallo."
"Hallo... Willy? Bisakah kamu datang ke sini, Lea mabuk dia tidak mau pulang. Pinggangku sepertinya cedera tidak bisa lagi menyeretnya pulang." ucap Emily memelas.
Tanpa basa basi Willy menanyakan alamatnya. Ia segera meluncur ke FanaKlub.
10 menit kemudian dengan langkah besar, Willy memasuki FanaKlub. Seolah tidak sabar, ia buru-buru ke meja Lea dan menanyakan keadaannya kepada
Emily.
Lea yang melihat keberadaan Willy, langsung menangis hebat
"Willy... Kamu kejammm... Kamu kejam... Aku benci kamu. Uuuaaaaaaa."
Willy yang khawatir, langsung memeluknya dan mengelus-elus punggungnya. Lea terus menangis di pelukanya. Air mata bercampur ingus bersarang di baju Willy.
Willy menunduk dan mengernyitkan alis, terlintas rasa jijik di matanya.
"Leaaa... sudah hentikan." ucap Willy. Ia tidak tahan dengan gadis yang terus menangis dalam pelukannya.
Emily yang merasa jadi nyamuk di sana merasa canggung dan berkata pada Willy
"Willy, kamu antar dia pulang, aku akan pulang membawa mobil Lea."
"Iya.... " Willy menjawab dengan singkat.
Emily merasa lega, segera membawa kunci mobil Lea dari dalam tasnya dan pergi.
"Lea..., aku di sini.... Sudah jangan menangis lagi. Kita pulang ya?" bujuk Willy dengan suara memanjakan.
Ia tau situasi saat ini tidak akan berpengaruh pada Lea walau ia mengeluarkan aura marah atau dingin sekali pun.
Lea berhenti menangis, ia terdiam.
Willy menyeka air matanya, menggendong Lea di punggungnya.
Willy berjalan keluar dan menuju tempat parkir. Lea seolah merasakan kehangatan dari punggung itu, ia merasa nyaman.
Sampai di dalam mobil, Lea begitu patuh diam tak bersuara. Hanya terus menatap wajah tampan Willy tanpa berkedip. Seolah ingin mengingat setiap inci wajah tampan itu.
Willy yang duduk di kursi pengemudi menatap wanita bodoh di samping nya. Ia hanya tersenyum tak berdaya.
Ia menatap lekat wajah cantik Lea yang agak bodoh karena mabuk, wajah yang ada rona merah, mata bengkak karena terus menangis dan bibir merah yang bercampur dengan warna anggur.
Jakun Willy naik turun menatap wajah itu, ia mendekati wajahnya, terus mendekat sampai nafas mereka berhembus saling bertabrakan. Samar tercium bau anggur dari nafas Lea, Willy memejamkan mata mendaratkan bibirnya di atas bibir Lea.
Lea terdiam tanpa melawan, ia merasakan bibirnya menyentus sesuatu yang lunak dan dingin.
Ciuman ini Lea rindukan, ia ingin menikmatinya, ingin mengenangnya, menjadikan ini sebagai ciuman yang terakhir kalinya dengan Willy. Menjadikan ini tanda perpisahan.
Setelah hari ini ia akan melupakan Willy, melupakan kenangan indah dengannya dan akan mengubur dalam-dalam perasaannya. Mulai saat ini ia akan menjadikan Willy orang asing.
Willy memeluknya dengan erat, bibir yang saling menempel, lidah yang hangat menyelinap masuk kedalamnya. Mencari dan menemukannya. mengejarnya sampai ia lelah.
Dengan rasa lelah ini berakhir pula ciuman yang dalam dan panjang ini.
Kesadaran Lea perlahan-lahan pulih, ia meminta Willy untuk mengantarnya pulang.
Setelah malam ini ia ingin melupakan Willy dan semua kenangan dengannya.
Mobil melaju menuju rumah Lea. Willy mengantarnya sampai lantai atas tepat di depan pintu rumahnya.
Lea berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Seolah menjadi dua orang yang asing.
Setelah badan Lea menghilang dari balik pintu, barulah Willy berjalan menuju pintu Lift dan pulang.
*
Beberapa minggu berlalu.
Hari-hari Lea begitu sibuk, dari pagi sampai sore bekerja di ruang pribadinya di Leayumi Food. pada sore hari, ia pergi untuk mengikuti kelas kuliahnya. Malam hari di rumah menemani ibu dan putranya.
Mungkin sekarang Lea mulai terbiasa tanpa Willy.
Di Leayumi Food, Emily melihat Lea yang sudah kembali ke Lea yang dulu, Lea yang tegas, Lea yang angkuh dan Lea yang keras.
"Untuk merayakan kembalinya Lea ke jati dirinya yang dulu, bagaimana kalau hari ini kita makan di Restoran Barat kota A?"
Nathan menjawab
"Ide bagus, merayakan dia yang baru Moveon, hahahhaha!" ada nada mengejek di sana.
Lea melirik dua orang ini dengan malas dan menjawab
"Hey.... Memangnya aku dulu Lea yang apa? Sekarang harus di rayakan kembalinya aku? Memangnya kemarin-kemarin aku kesambet setan?"
Emily langsung tertawa
"Nah tu kamu tau!" sambil nunjuk ke arah Lea.
"Kalian teman macam apa? Bisanya hanya membully." Lea tak mau kalah.
"Sudah-sudah! Ayo kita jalan..., makin berdebat makin lama, mumpung di Leayumi Food ada yang menangani." ucap Nathan sambil menarik tangan kedua gadis itu, yang satu di kiri dan satu di kanan.
Mereka berjalan dengan gembira. Malam yang sepi jalanan tidak terlalu ramai, Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Lea tidak tahan untuk memaki
"Woyy.... Nathan.... Mobilku!!! Awas nabrakkkkkk!"
Di balas dengan suara lengkingan Emily dari kursi belakang
"Aaaaaa... Nathan aku belum menikahhhhhh, masih mau hidup"
Nathan yang bagai pembalap mobil itu hanya tersenyum meremehkan, terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan mereka-mereka yang berisik.
"Pokoknya kalian anggap saja sedang menaiki mobil yang di kemudikan oleh valentino rossi." ucap Nathan dengan bangga.
Lea melotot langsung memukul kepala Nathan.
Taakkk....
"Itu pembalap motor!" ucapnya.
Lea menambahkan dengan geram
"Yang ada juga Sebastian Vettel pembalap mobil yang pernah menjadi juara dunia dua kali berturut-turut."
Dengan tampang bodohnya Nathan menjawab sambil menggaruk kepala
"Oh.... Hehe.... Maaf maaf.... Aku tidak tahu."
"Makannya, kalau tidak tau lebih baik diammmm." ucap Emily kesal.
Keadaan di mobil seketika menjadi hening.
Sampai tidak terasa, mobil berhenti di tempat yang di tuju.
Nathan, Lea dan Emily berjalan memasuki restoran, ia memilih tempat yang terbuka di lantai satu supaya bisa menikmati indahnya malam di kota A.
Ketika mereka sedang asyik memilih menu dan sesekali bercanda berdebat memperdebatkan menu apa yang akan mereka pesan, tiba-tiba dari arah pintu masuk terasa aura dingin yang menusuk.
Emily tertegun sejenak, menatapi orang yang sedang berjalan masuk. Tiba-tiba Emily menyenggol lengan Lea dengan sikutnya, sambil berbisik
"Lea, itu Willy."
Lea merasakan getaran dalam hatinya. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu dengannya. Ada kegugupan dalam dirinya.
Tapi perlahan ia bisa mengontrolnya, dirinya kembali tenang. Hanya melirik sekilas tanpa memperdulikan dan lanjut membaca daftar Menu.
Willy yang berjalan masuk, ketika melewati meja Lea menatap tajam pada wanita itu, merasa diabaikan ia bergumam dalam hati
"Lea.... Berani-beraninya kamu menghiraukanku, pura-pura tidak melihat" berjalan terus sambil mengepalkan tangannya.
Dibelakang Willy diikuti oleh dua orang wanita, yang satu Ayuna dan yang satunya lagi ibu Willy berjalan berdampingan, diikuti dari belakang ada Pria gagah dan tampan wajahnya mirip dengan Willy tapi lebih dewasa.
Emily membelalakan matanya menatap pria dewasa dibelakang Willy, ia bertanya
"Lea.... Itu siapa yang bersama Willy? Ganteng nyaaaaaa." dengan suara kecil menggemaskan.
Lea menatap tak percaya pada wanita di sampingnya, setiap melihat pria bening langsung tertarik.
Buru-buru Lea menjawab tak acuh
"Mana aku tahu." sambil mengangkat kedua bahunya.
Nathan yang duduk berhadapan dengan Lea bergumam
"Emily, mata kamu kenapa? Setiap melihat pria ganteng seolah ada magnetnya, terus tertarik sampai tidak berkedip."
Emily tanpa menoleh ke Nathan dan terus menatap pria itu, berkata pada Nathan
"Diammmm." seolah tidak ingin di ganggu.