Please, tap icon favorit, like dan kasih komentar. Kalau bisa kasih vote sama hadiah ya, hehehe.
Note : Plagiat/ATM/Remake apalagi nggak izin sama author, auto kutilan seluruh badan sampai organ dalamnya.
Blurb:
Bakat Dita yang dapat melihat makhluk astral, kerap membawanya membantu mereka yang tak kasat mata untuk kembali tenang ke alamnya.
Namun, kejadian-kejadian aneh sering terjadi di sekolah barunya. Beberapa murid hilang secara misterius. Suara-suara misterius juga sering muncul di lantai empat yang ruangannya masih kosong. Rasa penasaran membuat Dita mencoba memecahkan misteri ruang kosong di sekolahnya bersama Anan.
Namun, semakin dalam terlibat, kejadian misterius di sekolahnya malah dapat membahayakan nyawa Dita.
Mampukah Dita dan Anan memecahkan misteri ruang kosong di sekolah?
Ikuti kelanjutan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Junaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Hilangnya Dian
Siang itu, anak-anak yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler masih berada di SMA Abadi Jaya. Seorang murid kelas 11 A bernama Dian sedang mengamati jadwal kegiatan yang ada di paling ujung mading sekolah. Sekitar jam setengah dua pelajaran selesai, setelahnya mereka langsung berhamburan pulang.
Dian memilih bergabung dalam ekstrakurikuler cheerleaders atau pemandu sorak sejak kelas sepuluh. Dia menjelaskan pada para adik kelasnya kalau ekskul ini dibuat dengan tujuan menyediakan media penyegaran bagi siswa-siswi. Jadi bagi mereka yang lelah setelah belajar di kelas bisa mengikuti kegiatan ini, bahkan tidak menutup kemungkinan mengukir prestasi di dalamnya.
"Jadi, tidak hanya berprestasi di akademik, tapi juga di bidang ekstrakulikuler dengan mengikuti kegiatan pemandu sorak ini. Kalian harus semangat, apalagi sebentar lagi ada tanding grup cheerleader antar sekolah di wilayah kita," ucap Pak Bayu sang pembina ekskul tersebut.
"Baik, Pak." Semua menyahut bersamaan.
Disediakannya beragam jenis ekskul dimaksudkan demi memfasilitasi minat siswa yang beragam, termasuk cheers. Bentuk dukungan penuh diberikan dari sekolah. Pembelian seragam tim, konsumsi sewaktu latihan, biaya pendaftaran kompetisi, iuran pelatih, semua hal ini ditanggung pihak sekolah. Siswa sama sekali tidak dikutip bayaran. Dengan ini diharapkan siswa dapat bersungguh-sungguh mengikuti sesi latihan. Begitu yang dijelaskan oleh Pak Bayu.
Setelah kegiatan perkenalan dan pemanasan berbagai gaya pemandu sorak, pukul setengah lima sore, kegiatan ekstrakurikuler tersebut berakhir. Semua berhamburan untuk pulang. Begitu juga dengan sudah selesai latihan, dia segera pamit dari teman-temannya.
Akan tetapi, saat Dian berada di pinggir jalan dan sedang menunggu bus, Dian baru tersadar kalau dompetnya ketinggalan di kelas. Dian memutuskan untuk kembali. Dia harus mengambil dompet itu sebelum pulang.
Dengan langkah terpaksa dan terlanjur letih, Dian terpaksa harus masuk lagi ke gedung sekolah. Menuju ke kelasnya yang ada di lantai dua paling ujung.
Menyusuri lorong panjang, melewati ruangan kelas satu persatu, beberapa siswa masih terlihat berada di lingkungan sekolah. Tepatnya di lapangan sekolah. Meskipun tak banyak, karena sebagian besar sudah pulang. Sore itu, matahari masih cukup panas menerpa bumi. Hingga akhirnya Dian sampai juga di kelasnya.
Sama seperti acara-acara pengenalan ekskul dan pentas seni sebelumnya, mereka mempersiapkan segalanya sejak jauh hari. Ketua penyelenggara memastikan seluruh kegiatan akan berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Dan mungkin saja satu hari sebelum acara dilaksanakan, mereka para pengurus atau panitia memutuskan untuk menginap di sekolah di malam sebelum acara.
Panggung sudah terlihat berdiri di tengah lapangan. Berbagai pernak - pernik bazar sudah terpasang rapi. Ada juga yang melakukan sound check. Intinya, seluruh alat panggung dan perangkat acara harus sudah siap.
Saat itu ada belasan orang yang masih kelihatan lalu-lalang di lingkungan sekolah. Canda tawa juga terdengar bercampur dengan percakapan khas anak SMA yang terdengar lantang di dalam lingkungan sekolah. Sementara itu aku terus berjalan menyusuri lorong.
Sampai akhirnya, aku menemukan salah satu murid perempuan yang tiba-tiba menghilang. Ketika aku mendekati ruang kelas, aku kembali melihat sosok murid yang bernama Syala. Murid perempuan itu berdiri di anak tangga. Dia memanggil nama Dian.
"Hai, Dian!"
"Hai," sapa Dian kembali.
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Dian sempat melihat semua anak berkumpul duduk di lapangan, persis di depan panggung. Dia melihat temannya yang bernama Syala sedang duduk menghadap bagian belakang gedung.
"Kalau si Syala ada di sana, kenapa tadi mirip banget sama dia, ya" gumam Dian.
Gadis itu bergerak menuju ke bagian anak tangga sekolah. Rasa penasaran membuatnya ingin mengikuti sosok itu. Dian merasakan kandung kemihnya penuh. Lalu, saat dia berada di lantai empat. Dian malah menemukan toilet yang masih rapi dan bersih. Padahal hanya ada ruang kosong di sana.
"Katanya belum ada apa-apa di sini, tapi kok udah ada toilet, ya?" gumam Dian berbicara pada diri sendiri.
Gadis itu memastikan kalau toilet tersebut pasti amat sangat jarang digunakan, sehingga keadaannya jadi sedikit menyeramkan, kotor lembab, dan berdebu. Padahal Dian lebih sering menggunakan toilet guru secara diam-diam bersama temannya, tetapi toilet yang ini boleh juga.
Di sebelah toilet ada ruangan yang entah digunakan untuk apa. Mungkin saja akan digunakan sebagai gudang atau ruangan tempat wudu dan musala yang nantinya akan berdampingan. Sangat disayangkan kalau lantai empat itu tidak digunakan, menurut Dian.
"Duh, tau ah. Aku kebelet banget, nih," ucap Dian yang segera bergegas menunaikan hajatnya.
Dian tiba-tiba teringat dengan beberapa peristiwa hilangnya anak murid di sekolah. Dan sampai saat ini, mereka belum ditemukan. Dian jadi bergidik ngeri dan hal itu membuat bulu kuduknya meremang.
"Duh, nanti kalau ada hantu bagaimana, ya?" gumam Dian mulai takut. Gadis itu segera membersihkan bekas buang air kecilnya.
Mendadak kemudian, ada ketukan di pintu toilet tersebut.
Tok!
Tok!
Tok!
"Tunggu bentar!" seru Dian.
Ketukan itu makin lama makin jelas terdengar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bisa sabar nggak, sih! Tunggu dulu, dong!" bentak Dian.
Terlanjur kesal, Gadis itu membentak seraya membuka pintu toilet. Tak ada siapa pun di sana. Termasuk juga sosok Syala yang dia ikuti tadi.
"Sya, apa itu kamu?" lirih Dian mulai ketakutan.
Rasanya dia merasa salah. Harusnya dia menahan rasa penasarannya menuju ke lantai empat tersebut. Bahkan, ada berita burung yang beredar kalau para murid yang hilang sebenarnya berada di lantai empat dan tak kembali. Namun, kepala sekolah selalu menyanggah.
Kepala sekolah juga menunjukkan bukti rekaman cctv kalau tak ada siswa yang boleh naik ke lantai empat. Pihak sekolah juga memasang pagar pembatas di anak tangga menuju ke lantai empat dan menguncinya. Akan tetapi, hari itu Dian tak melihat pagar tersebut. Penglihatannya ditutupi oleh penampakan ruangan yang lain.
Sekelebat bayangan melintas. Memakai seragam sekolah yang sama dengan Dian.
"Sya, apa itu kamu?" tanya Dian.
Tiba-tiba, Dian melihat sosok perempuan yang menyeramkan berdiri di depan pintu ruangan kosong. Murid perempuan itu mengejarnya. Dian berusaha lari menghindari murid menyeramkan itu. Melihat itu semua, dia lalu kembali masuk ke bilik toilet dan menutup pintunya. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Suara azan magrib terdengar, Dian tahu kalau hari sudah malam. Akhirnya, gadis itu memberanikan diri keluar dari bilik toilet. Namun, ketika dia sedikit membuka pintu untuk mengintip keluar, sosok perempuan berwajah penuh darah itu ternyata muncul di depan pintu mengejutkannya.
"Booooooo!"
"Wuaaaaaa! Pergi! Pergi!"
Dian berteriak dan menangis ketakutan. Tak ada yang mendengarnya bahkan tak ada yang bisa menemukannya semenjak itu.
...*****...
...Bersambung....
... tapi masih ada crita selanjutnya .. /Good//Good/
lah situ mau make. kalah saing ma hantu aq🤣
apakah kunti panggilannya ti???