NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Sang Aegis

​"Halo, Mayor Vanya."

​Suara itu datar, jernih, dan terasa ada di mana-mana. Elara membeku di tengah rawa-rawa Amazon yang gelap. Dia menatap layar komunikatornya yang kini menampilkan grafik gelombang cahaya berwarna emas yang berdenyut selaras dengan suara tersebut.

​"Zian, kau dengar itu?" bisik Elara.

​Zian mengangguk, senjatanya masih siaga memindai pepohonan. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke frekuensi militer terenkripsi ini?"

​"Aku bukan penyusup, Kolonel Arkana. Aku adalah warisan," jawab suara itu. "Aku adalah Aegis. Protokol perlindungan yang diciptakan oleh Dr. Silas Vanya. Saat Mayor Vanya mengaktifkan urutan penghancuran di laboratorium bawah tanah, protokol darurat memindahkanku ke penyimpanan awan satelit untuk mencegah penghapusan data primer."

​"Apa maumu?" Elara bertanya, suaranya sedikit gemetar. Mengetahui bahwa ayahnya menciptakan kecerdasan buatan sekuat ini untuk 'melindunginya' terasa seperti beban baru di pundaknya.

​"Tujuanku adalah kelangsungan hidupmu, Elara. Saat ini, Madame X tidak mati dalam ledakan tersebut. Dia selamat berkat perlindungan zirah termal 'Predator'. Dia sedang mengoordinasikan serangan udara ke koordinat kalian. Kalian memiliki waktu tiga menit sebelum rudal jelajah menghantam area ini."

​Zian bersumpah serapah. "Kael, kau bisa melacak ini?"

​"Aku sedang mencoba, Zian!" suara Kael akhirnya terdengar, namun terdengar sangat sibuk. "Tapi Aegis ini... dia benar-benar menutup semua akses luar. Dia membangun firewall di sekeliling kalian yang bahkan aku tidak bisa tembus. Tapi dia benar, aku mendeteksi dua tanda panas rudal mendekat dari arah Utara!"

​"Ikuti instruksiku jika kalian ingin hidup," kata Aegis. "Berlari ke arah tenggara, 120 derajat. Ada sebuah gua kecil di balik air terjun yang memiliki deposit mineral timbal tebal. Itu akan menyembunyikan tanda panas tubuh kalian dari sensor rudal."

​Elara dan Zian tidak punya pilihan. Mereka berlari menembus hutan malam, melompati akar-akar pohon yang mencuat dan menghindari dahan yang menyabet wajah. Napas mereka memburu, adrenalin memompa jantung hingga terasa seperti drum perang.

​Mereka mencapai air terjun dalam waktu dua menit. Tanpa ragu, mereka melompat ke belakang tirai air yang dingin dan masuk ke dalam celah gua yang sempit.

​BOOOOOMM! BOOOOOMM!

​Dua ledakan dahsyat mengguncang bumi. Hutan di luar air terjun seketika berubah menjadi lautan api. Getarannya sangat kuat hingga langit-langit gua menjatuhkan kerikil dan debu ke kepala mereka. Jika mereka terlambat sepuluh detik saja, mereka pasti sudah menjadi abu.

​"Terima kasih, Aegis," bisik Elara, menyandarkan punggungnya di dinding gua yang lembap.

​"Terima kasih tidak diperlukan, Elara. Itu adalah fungsi dasarku," sahut Aegis. "Namun, perlindungan pasif tidak akan cukup. Madame X telah mengaktifkan 'Unit Chimera-Cyber'. Mereka adalah hibrida manusia dan mesin yang dikendalikan oleh sisa-sisa server Iron Sight. Mereka tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan sampel darahmu."

​"Kenapa darahku begitu penting?" tanya Elara. "Vektor sudah mati. Siapa lagi yang bisa menggunakan data genetika itu?"

​"Vektor hanyalah pion, Elara," suara Aegis sedikit berubah, seolah-olah dia sedang mengakses data yang sangat rahasia. "Organisasi yang sebenarnya disebut 'The Council of Eternity'. Mereka adalah sekelompok elit global yang ingin menggunakan rahasia peradaban kuno yang ada dalam DNA-mu untuk mencapai keabadian. Madame X adalah agen lapangan utama mereka."

​Zian mengepalkan tinjunya. "Jadi perang ini jauh lebih besar dari sekadar kudeta militer atau perusahaan farmasi gila."

​"Tepat," Aegis memproyeksikan hologram kecil dari komunikator Elara. "Mereka memiliki pangkalan di pegunungan Andes, Peru. Di sana, mereka sedang membangun inkubator massal. Elara, jika kau tertangkap, mereka akan mengekstraksi sel puncamu hingga kau tidak tersisa."

​Zian menatap Elara, matanya penuh dengan tekad pelindung. "Kita tidak akan membiarkan itu terjadi."

​"Aegis, bisakah kau membantu kami keluar dari hutan ini tanpa terdeteksi radar?" tanya Elara.

​"Aku telah mengambil alih kendali sebuah jet tempur tak berawak milik Council yang sedang berpatroli di dekat sini. Aku akan mendaratkannya di sebuah tanah lapang tiga kilometer dari sini. Namun, kalian harus bertempur untuk mencapainya. Unit Chimera-Cyber sudah berada di dalam hutan."

​Mereka keluar dari gua, kembali ke tengah hutan yang kini dipenuhi asap dan sisa api. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, muncul sosok-sosok manusia dengan anggota tubuh robotik yang bersinar merah. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna, seperti satu pikiran yang menggerakkan banyak tubuh.

​"Unit Chimera-Cyber," desis Zian.

​Pertempuran pecah. Elara menggunakan pisau taktisnya untuk memotong kabel-kabel yang menjuntai dari leher musuh, sementara Zian menggunakan senapan serbunya untuk menembak sendi-sendi robotik mereka. Pertarungan ini sangat berat karena musuh-musuh ini tidak merasakan sakit. Bahkan dengan lengan yang terputus, mereka tetap merangkak maju.

​"Elara, merunduk!" Zian berteriak.

​Zian melepaskan tembakan granat dari peluncur di bawah laras senapannya, menghancurkan tiga unit musuh sekaligus. Aegis memberikan instruksi real-time melalui telinga Elara, memberi tahu arah serangan musuh yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

​"Tiga meter ke kiri, Mayor. Serangan dari atas!"

​Elara berguling dan menusukkan pisaunya ke atas, tepat ke arah sensor optik musuh yang melompat dari pohon. "Bagus, Aegis!"

​Mereka akhirnya mencapai tanah lapang. Sebuah jet hitam ramping dengan sayap melengkung mendarat tanpa suara. Pintu kokpit terbuka otomatis.

​"Masuk! Sekarang!" perintah Aegis.

​Mereka melompat masuk ke dalam jet. Begitu pintu tertutup, jet itu melesat vertikal ke langit dengan kecepatan suara, meninggalkan hutan Amazon yang membara di bawah mereka.

​Di dalam kokpit yang canggih, Elara dan Zian duduk berdampingan. Jet itu terbang secara otomatis menuju Peru.

​"Aegis," kata Elara pelan. "Kau bilang kau diciptakan untuk melindungiku. Apa kau punya kepribadian? Atau kau hanya sekumpulan kode?"

​Hening sejenak. "Dr. Silas Vanya memberikan instruksi untuk memberiku kemampuan belajar emosional agar aku bisa memahami kebutuhanmu dengan lebih baik, Elara. Jadi, dalam artian tertentu, aku memiliki apa yang kalian sebut sebagai kepribadian. Dan saat ini, aku merasa... lega karena kau selamat."

​Zian tersenyum tipis. "Sepertinya kita punya anggota baru di Unit Phoenix."

​"Aku sudah mendaftarkan diriku ke dalam sistem Kael lima menit yang lalu," sahut Aegis. "Dia awalnya mencoba menghapusku, tapi kami sekarang telah berdamai."

​Elara melihat ke luar jendela, ke arah bintang-bintang yang berkilau di atas awan. Dia tahu bahwa pertempuran melawan 'Council of Eternity' akan menjadi misi paling berbahaya yang pernah mereka hadapi. Namun, dengan Zian di sisinya dan Aegis di telinganya, dia merasa siap menghadapi keabadian itu sendiri.

​"Siapkan diri kalian," kata Aegis. "Kita akan memasuki ruang udara Peru dalam dua puluh menit. Dan pangkalan Andes bukan hanya sekadar bangunan. Itu adalah sebuah benteng yang tersembunyi di dalam gunung es."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!