NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Yun Qi baru menyadari ada yang berubah ketika ia berhenti merasa tenang setiap kali menggenggam tangan Chen Rui.

Awalnya ia pikir itu hanya kelelahan. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, ditambah atmosfer apartemen yang masih terasa asing meski sudah beberapa minggu ia tinggal kembali bersama Hao Yu. Tapi perasaan itu terus muncul—seperti pasir halus di sepatu. Tidak menyakitkan, hanya mengganggu. Dan semakin lama, semakin sulit diabaikan.

Hari itu, Chen Rui menjemputnya di depan fakultas ekonomi. Mobilnya berhenti sembarangan, musik terdengar keras bahkan sebelum pintu dibuka. Chen Rui turun sambil tersenyum lebar, mengenakan jaket kulit yang terlalu mencolok untuk siang hari.

“Maaf telat,” katanya ringan, seolah lima belas menit bukan apa-apa. “Tadi ketemu senior, ngobrol bentar.”

Yun Qi mengangguk. “Nggak apa-apa.”

Ia masuk ke mobil, mencium aroma parfum yang asing—bukan yang biasa dipakai Chen Rui. Ia tidak langsung berkomentar, hanya duduk dan memasang sabuk pengaman. Dari sudut matanya, ia melihat layar ponsel Chen Rui menyala sebentar. Nama kontak perempuan muncul, disusul emoji hati. Chen Rui cepat-cepat menguncinya.

“Kita makan di luar kampus aja, ya?” Chen Rui menoleh sambil menyetir. “Ada tempat baru.”

“Boleh.”

Jawabannya otomatis. Terlalu otomatis, bahkan untuk dirinya sendiri.

Di restoran, Chen Rui tampak menikmati perhatian. Ia mengenal pelayan perempuan itu—atau setidaknya bersikap seolah mengenal. Candaan mereka terlalu cair, terlalu akrab untuk sekadar pelanggan dan staf. Yun Qi duduk diam, memandangi gelas minumnya, jarinya melingkar di sekeliling sedotan.

“Kamu pendiam,” ujar Chen Rui akhirnya, sambil tersenyum. “Capek?”

“Sedikit,” jawab Yun Qi jujur.

Chen Rui mengangguk, tapi tidak bertanya lebih jauh. Perhatiannya kembali ke ponsel, ke layar, ke dunia yang tampaknya selalu ramai tanpa Yun Qi di dalamnya.

Di tempat lain, di lantai atas gedung perkantoran yang tenang dan steril, Wang Hao Yu berdiri di depan jendela besar, memandangi lalu lintas kota yang tak pernah berhenti. Jasnya masih rapi, tapi dasinya sudah dilepas. Tangannya memegang ponsel—layar menampilkan laporan singkat.

Lokasi: Restoran dekat kampus.

Subjek: Yun Qi & Chen Rui.

Catatan: Interaksi tidak fokus. Subjek pria terlihat berkomunikasi dengan pihak lain selama pertemuan.

Hao Yu tidak langsung merespons. Ia sudah melihat Chen Rui sebelumnya. Sudah menilai postur, tatapan mata, cara berbicara. Sejak pertemuan pertama itu, nalurinya tidak pernah benar-benar tenang. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

Ia menekan layar, membuka kamera jarak jauh. Gambar buram, tapi cukup jelas untuk membaca bahasa tubuh. Yun Qi duduk tegak, bahunya sedikit kaku. Chen Rui condong ke belakang, santai, terlalu santai.

Hao Yu menghembuskan napas pelan. Bukan marah. Belum. Lebih seperti… memastikan.

Malamnya, Yun Qi pulang lebih cepat dari biasanya. Ia masuk ke apartemen dengan langkah ringan, melepas sepatu, dan mendapati lampu ruang tengah masih menyala. Hao Yu duduk di sofa, laptop terbuka, kacamata masih terpasang.

“Kamu pulang cepat,” kata Hao Yu tanpa menoleh.

“Iya,” jawab Yun Qi, sedikit terkejut tapi tidak kaget. “Chen Rui ada urusan.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Hao Yu menutup laptop dan akhirnya menatapnya. Tatapannya tenang, tapi tajam—seperti selalu. “Makan?”

“Sudah.”

Yun Qi berjalan ke dapur, mengambil air minum. Hao Yu memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Cara Yun Qi bergerak, caranya menuang air terlalu penuh sampai hampir tumpah, caranya menarik napas sejenak sebelum meneguk—semua kecil, tapi berbicara banyak.

“Kamu nggak suka restoran itu?” tanya Hao Yu akhirnya.

Yun Qi terdiam sejenak. “Nggak juga.”

Jawaban yang menghindar. Hao Yu tahu itu.

“Kamu jarang bohong,” katanya pelan.

Yun Qi menurunkan gelas. “Aku cuma… capek.”

Hao Yu tidak memaksa. Ia berdiri, mengambil jasnya. “Aku ada rapat besok pagi. Tidur jangan terlalu malam.”

Nada suaranya datar, tapi Yun Qi menangkap sesuatu di baliknya. Perhatian yang tidak meminta izin.

Malam itu, Yun Qi berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka. Ponselnya bergetar beberapa kali—pesan dari Chen Rui yang pendek-pendek, diselingi stiker dan candaan yang terasa… jauh. Ia membalas seperlunya, lalu meletakkan ponsel di samping bantal.

Ia memejamkan mata, tapi yang terlintas justru tatapan Hao Yu di ruang tamu tadi. Tidak menghakimi. Tidak cemburu. Tapi seolah melihat sesuatu yang belum berani ia akui sendiri.

Keesokan harinya, Yun Qi pergi ke kampus lebih pagi. Ia ingin menghindari rasa sesak yang tiba-tiba muncul setiap kali berada di apartemen terlalu lama. Di kampus, ia bertemu Chen Rui lagi—kali ini bersama beberapa teman perempuannya. Mereka tertawa, bercanda, dan Chen Rui tampak berada di tengah perhatian.

“Yun Qi,” panggil Chen Rui sambil melambaikan tangan. “Sini.”

Ia mendekat, tersenyum tipis. Salah satu perempuan itu menatapnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum sopan tapi dingin.

“Pacarmu?” tanya perempuan itu.

“Iya,” jawab Chen Rui cepat.

Yun Qi tersenyum, tapi tidak merasa disebut.

Percakapan berlanjut, dan lagi-lagi Yun Qi merasa seperti penonton. Chen Rui terlalu mudah tertawa, terlalu mudah memuji, terlalu mudah menyentuh bahu orang lain tanpa sadar. Atau mungkin sadar, tapi tidak peduli.

Dari kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti sebentar sebelum melanjutkan jalan. Hao Yu duduk di kursi belakang, wajahnya setengah tertutup bayangan. Ia tidak datang untuk bertemu siapa pun. Hanya lewat. Tapi apa yang ia lihat cukup.

“Berhenti di sini,” katanya pada sopir.

Ia turun, berdiri sejenak, lalu masuk ke gedung kampus. Tidak mencari Yun Qi. Tidak mendekat. Hanya memastikan satu hal: nalurinya benar.

Dan itu cukup.

Malamnya, Hao Yu menelepon seseorang. Suaranya rendah, tenang.

“Mulai periksa lingkar pergaulan Chen Rui,” katanya. “Detail. Aku mau tahu semuanya.”

“Baik, Tuan Wang.”

Hao Yu menutup telepon dan berdiri lama di ruang kerja. Pikirannya tidak kacau. Justru terlalu jernih. Yun Qi belum menyadari sepenuhnya. Tapi ia sudah merasakannya.

Dan Hao Yu tidak berniat menunggu sampai Yun Qi terluka lebih dalam.

1
cah gantenggg
semoga ceritanya bagus ,baru mampir author,sepertinya masih butuh up ,jangan panjang episodenya Thor ,biar gak bosan yg baca .
semoga novelnya seruuu
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
cah gantenggg: ceritanya terlalu kaku dan membosankan .maaf aku hapus dari daftar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!