Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2.
Tiga jam kemudian.
Lara menatap puas dirinya di dalam cermin.
Pakaian yang sudah lama tidak ia pakai, ternyata masih dapat ia pakai.
Dan warna pakaian merah yang ia kenakan, membuat kulit putihnya terlihat semakin terang.
Serta pipinya jadi tampak merona segar.
Dengan sedikit dandanan, penampilannya yang biasa saja terlihat menjadi cantik.
Lara meraih tas tangannya, dan dengan langkah anggun, ia keluar dari dalam kamarnya.
"Laraaa.... !!!"
Sahabatnya Olivia melambaikan tangannya ke arahnya, saat ia sampai pada alamat yang Olivia berikan padanya.
Sewaktu ia melihat di mana ia akan bertemu dengan Olivia, kakinya sempat ragu untuk masuk ke dalam.
Sebuah bar, yang selama hidupnya belum pernah ia masuki.
Tempat yang penuh dengan aroma alkohol, dan tempat yang tidak pantas untuk didatangi wanita baik-baik sepertinya.
Saat mereka masih duduk dibangku kuliah, ia tahu Olivia bukan gadis yang suka minum-minum.
Sejak kapan ia suka datang ke tempat seperti ini? pikirnya, saat kakinya dengan berat akhirnya melangkah masuk ke dalam bar tersebut.
"Mari sini duduk!!"
Olivia bangkit berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Lara, dan meraih Lara untuk duduk bergabung dengannya.
"Lara, aku rindu sekali padamu!!" Olivia kemudian memeluk Lara dengan erat.
Olivia kemudian memperhatikan penampilan Lara, "Kamu masih terlihat cantik, sama seperti waktu kuliah dulu!!"
"Eng, Olivia! kenapa kamu memesan tempat seperti ini untuk bertemu dengan ku?" tanya Lara memajukan wajahnya berbisik pada Olivia.
"Oh, maaf Lara! kamu belum pernah ke tempat seperti ini, aku lupa!" Olivia menepuk keningnya, "Tenang saja, aku sudah memesan jus untukmu!"
Olivia menaruh gelas jus ke depan Lara, lalu kemudian sepiring kecil dessert.
"Aku sedang membantu temanku untuk bertemu dengan seseorang di sini, jadi aku pikir sekalian saja bertemu denganmu di sini!"
Olivia menunjuk ke suatu arah, dan mata Lara mengikuti arah jari telunjuk Olivia.
"Lihat, mereka akhirnya bertemu!" kata Olivia.
Lara melihat seorang wanita, dan seorang pria duduk berdekatan pada sebuah sofa ganda, tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Emma sudah lama menyukai Edgar, sejak lima tahun lalu ia putus dengan tunangannya yang berselingkuh, ia tidak sengaja bertemu dengan Edgar!" Olivia menjelaskan tentang siapa Emma.
"Edgar menyelamatkan Emma, saat ia hampir ditabrak sebuah truck, Edgar mengalami luka dan harus di rawat dirumah sakit, sejak hari itu Emma merasa berutang nyawa pada Edgar, dan kemudian secara perlahan ia mulai menyukai Edgar!"
"Oh!"
"Eh, bagaimana denganmu? kenapa kamu akhirnya bisa keluar rumah? selama ini kamu tidak pernah menghubungi ku, dan tidak pernah membalas pesanku! ku pikir kamu tidak akan pernah lagi ingin bertemu denganku!!"
Olivia menghamburkan tubuhnya memeluk Lara, dan mendekap Lara dengan erat.
Lara membalas pelukan Olivia, dan menepuk lembut punggung sahabatnya itu.
"Maaf, Olivia!" ucapnya dengan nada menyesal, "Sampai saat ini, aku belum dapat meluluhkan hati David untuk dapat mencintaiku!"
"Apa?!!"
Olivia sontak melepaskan pelukannya mendengar apa yang dikatakan Lara.
Lara menganggukkan kepalanya menjawab tatapan tajam Olivia, yang tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Apakah kamu akhirnya menyadari, kalau David selama ini selalu bersama dengan wanita itu?" tanya Olivia.
Kembali Lara menganggukkan kepalanya.
Lara tahu gosip tentang David dengan kekasih cinta pertamanya sudah lama diketahui Olivia.
"Apakah waktu itu kamu sebenarnya sudah tahu, kalau David memiliki kekasih yang tidak pernah bisa ia lupakan?" tanya Olivia.
Kembali Lara menganggukkan kepalanya menjawab Olivia, "Aku baru menyadari kesalahanku, kalau aku ini orang ketiga yang menghancurkan hubungan mereka!"
Perlahan jemari Olivia menyentuh pipi Lara.
Ia dapat melihat dimata Lara, ada luka yang dalam di sana.
"Lara, kamu pasti sangat menderita selama ini, menghabiskan masa mudamu mengejar cinta yang tidak pernah kamu dapatkan!"
Lara menganggukkan kepalanya, "Aku sangat naif, terlalu percaya diri dapat meluluhkan perasaan David, dengan menjadi istri yang patuh dan berusaha untuk selalu menyenangkannya!"
Olivia dapat merasakan, luka yang dialami Lara sudah pada titik menyerah menghadapi, apa yang ia alami selama ini.
Jemari Olivia dengan lembut mengelus pipi Lara, "Dia tidak pernah, walau sekali pun melirik mu?"
Lara menggelengkan kepalanya, "Bagaimana pun aku mencoba merayunya, dia tidak pernah tergoda padaku! dia akan pergi dengan mendorongku untuk menjauh darinya!"
Olivia merasa hatinya sakit mendengar apa yang dikatakan Lara.
Ia tahu bagaimana Lara bisa sampai jatuh cinta pada David, dan ingin menjadi istri terbaik untuk David.
Kejadian tidak terduga yang membuat Lara diam-diam jatuh cinta pada David.
Saat itu mereka duduk di bangku semester ke dua, Lara dijambret tiga preman, dan David kebetulan lewat di mana kejadian itu terjadi.
Ia menolong Lara, dan Lara pun terpesona dengan cara David menghajar para penjambret tersebut.
Siapa sangka, kejadian yang tidak terduga membuat mereka akhirnya menikah.
"Setiap hari ia selalu menyalahkan ku, karena sudah memisahkannya dari wanita yang sangat dia cintai!"
Olivia meraih gelas jus Lara, dan memberikannya pada Lara.
"Minum dulu!"
Lara menerima gelas jus, lalu menyesapnya perlahan.
"Aku dapat merasakan, bagaimana tertekannya kamu setiap melihat kemesraan mereka!"
"Aku sudah terbiasa, tidak merasakan lagi rasa sakit hati melihat mereka, walau sekali pun mereka berciuman di depan mataku!"
Dada Olivia terasa begitu sakit mendengar apa yang baru saja Lara katakan, membuat ia rasanya ingin menangis.
Olivia kembali memeluk Lara, dan air matanya pun menetes begitu ia memeluk dengan erat tubuh Lara.
"Lara, apakah kamu masih mempertahankan pernikahan mu yang tidak bahagia ini?"
"Aku akan menyetujui perjanjian perceraian, yang sudah lama David berikan untuk ku tandatangani, sudah seharusnya aku keluar dari kehidupan mereka!"
"Akhirnya kamu akan terbebas dari kehidupan semu, yang membelenggu mu selama ini!"
"Maafkan aku sudah mengabaikan mu selama bertahun-tahun, untuk mendapatkan cinta David, aku memisahkan diri dari kalian yang dulunya dekat padaku!"
Olivia semakin erat memeluk tubuh Lara, ia tidak marah sedikit pun selama ini Lara tidak ingin bicara lagi dengannya.
"Aku selalu memaafkan mu, Lara! aku tidak pernah berpikiran negatif padamu, karena selama sepuluh tahun ini dingin padaku!"
"Terimakasih, Olivia!"
Ke dua sahabat itu semakin mengeratkan pelukan mereka, lalu mereka saling bercerita tentang kebersamaan mereka, saat dulu masih duduk di bangku kuliah.
"Olivia, aku ingin ke toilet sebentar!" kata Lara bangkit berdiri dari duduknya.
"Pergilah!"
Lara yang tidak tahu akan ruang, dan koridor menuju toilet dalam bar itu, mencoba mencari petunjuk yang diarahkan menuju toilet.
"Eh, bukan arah sini!" gumamnya karena salah jalan, "Mungkin ke arah sana!"
Brak!!
"Akh!!"
Sebuah pintu tiba-tiba terbuka, dan mengenai Lara, hingga membuatnya nyaris terjatuh.
Bersambung.........