Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
elara membully?
Nayomi dan Elara turun ke lantai bawah dengan ekspresi yang bertolak belakang. Elara memasang wajah masam sejak bangun tidur, sementara Nayomi terlihat santai—bahkan sedikit puas. Penyebabnya jelas: boneka kecil yang kini tergantung manis di tas masing-masing.
Boneka Elara berwarna biru.
Sedangkan Nayomi… membawa yang secret.
Boneka impian Elara.
“Pagi, Mah. Pah,” ucap Elara ketus sambil melirik Nayomi sekilas, tatapannya tajam penuh tuntutan yang tak terucap.
“Pagi,” sahut Mama Sekar heran. “Kalian kenapa sih mukanya pada aneh begitu? Kok kayak habis ribut?”
“Enggak ribut, Tante,” jawab Nayomi cepat, berusaha menahan senyum. “Cuma El kesel aja karena aku dapet boneka secret. Itu boneka impian dia.”
“Iyaaa,” Elara mendengus kesal. “Aku malah dapet hijau, biru, sama kuning. Nggak adil banget.”
Mama Sekar terkekeh kecil. “Ya ampun, cuma boneka aja diributin. Nanti beli lagi aja.”
“Iya, nanti Papa beliin,” timpal Papa Samudra santai sambil membuka koran.
“Beneran, Pah?” Elara langsung berubah antusias, matanya berbinar.
Papa Samudra meliriknya sebentar. “Sekarang sarapan dulu. Jangan lompat-lompat.”
Elara manyun, tapi tetap duduk dan menyantap sarapan meski hatinya masih dongkol tiap kali melihat boneka Nayomi bergoyang pelan di tas temannya itu.
Setelah sarapan selesai, Elara dan Nayomi berjalan menuju garasi. Udara pagi masih sejuk, sinar matahari menyusup lembut di sela pepohonan halaman rumah Elara.
“Lo mau pake mobil?” tanya Nayomi sambil membuka pintu penumpang.
“Iya,” jawab Elara. “Hari ini Nio nggak bisa sekolah.”
“Kenapa?”
“Katanya lagi ngurus bisnis sama ayahnya.”
“Oalah… yaudah yuk.”
Mereka masuk ke mobil. Elara duduk di kursi pengemudi, Nayomi di sampingnya. Mesin mobil dinyalakan, dan perlahan kendaraan itu melaju keluar dari halaman rumah.
“Nay,” ucap Elara tiba-tiba, matanya tetap fokus ke jalan. “Gue butuh penjelasan Lo.”
“Hah?” Nayomi menoleh. “Penjelasan apaan?”
“Hubungan Lo sama si Kai.”
Mobil melambat sedikit. Nayomi terdiam, bibirnya terkatup rapat. Otaknya bekerja cepat—haruskah dia jujur sekarang?
“Lo jangan main rahasia-rahasiaan sama gue,” lanjut Elara. “Gue temen Lo.”
Nayomi menghela napas panjang. “Iya deh… gue jujur.”
Elara menoleh singkat, menunggu.
“Gue sama Kaizen dijodohin.”
Refleks, Elara mengerem cukup keras hingga Nayomi tersentak ke depan.
“Ish, El! Jangan rem sembarangan dong!” protes Nayomi.
“Hehe, maaf,” Elara nyengir tipis. “Gue kaget. Lanjutin.”
“Awalnya gue juga nggak tau,” ujar Nayomi pelan. “Bokap gue bilangnya cuma pertemuan biasa. Makan bareng doang. Tapi ternyata… papanya Kaizen juga dateng.”
Elara menyimak dengan serius.
“Abis makan, Papa Kaizen ngomong soal perjodohan. Katanya kalau gue nolak, perusahaan bokap gue bisa kehilangan beberapa suntikan dana.”
“Jadi Lo terpaksa?” tanya Elara.
“Iya… awalnya,” jawab Nayomi jujur. “Apalagi waktu di sekolah dia sempet bentak gue. Gue marah dong."
“Terus?” Elara tahu pasti ada lanjutan.
“Tapi waktu di restoran itu, dia jelasin semuanya. Katanya dia juga kepikiran soal perjodohan ini. Bahkan… awalnya dia mau nolak.”
“Kenapa?”
“Karena dia udah suka sama seseorang.”
Elara melirik Nayomi. “Siapa?”
Nayomi tersenyum kecil, pipinya sedikit memerah. “Gue.”
“Ohhh…” Elara tersenyum lebar. “Berarti si Kai duluan suka sama Lo."
“jadi lo suka nggak sama dia?” tanya Elara penasaran.
“Sukalah,” jawab Nayomi cepat. “Dia ganteng, mapan, tinggi… pokoknya tipe gue banget.”
Elara terkekeh. “Lengkap ya kriterianya.”
“Tapi plis, El,” ucap Nayomi serius. “Jangan bilang siapa-siapa dulu.”
“Kenapa?”
“Untuk sekarang gue mau rahasiain dulu."
Elara mengangguk pelan. “Tenang aja. Mulut gue aman.”
Mobil terus melaju, membawa dua sahabat itu menuju sekolah—tanpa mereka sadari, hari itu akan menjadi awal dari banyak perubahan.
★★★
Nayomi terlihat begitu asyik berdiri di depan wastafel toilet perempuan. Ponselnya diarahkan ke cermin besar, ekspresinya penuh percaya diri saat membuat video ala tiktokers. Tangannya bergerak lincah, sesekali memiringkan kepala, memainkan ekspresi imut yang memang sudah jadi ciri khasnya.
Di sampingnya, Elara berdiri sambil bercermin. Ia merapikan rambutnya dengan santai, memastikan tidak ada helai yang berantakan. Wajahnya terlihat tenang, sama sekali tak curiga bahwa dalam hitungan menit, suasana akan berubah drastis.
“El,” ucap Nayomi tiba-tiba tanpa menghentikan rekaman, “menurut lo gue cantik nggak sih?”
Elara melirik sekilas, lalu tersenyum lebar. “Cantik sih… tapi tetep cantikan gue.”
Nayomi mendengus. “Iya deh, sipaling cantik seantero sekolah.”
Namun tawa itu terhenti seketika. Wajah Nayomi berubah pucat. Tangannya refleks menekan perut.
“El…” suaranya mengecil, “aduh… perut gue sakit banget”
Elara langsung menoleh. “Kenapa lo?”
“Gue… shhh—kayaknya mau BAB deh,” bisik Nayomi panik.
“Iyuuu,” Elara spontan menutup hidung. “Pasti gara-gara tadi makan seblak level lima.”
“Iya, kayaknya,” Nayomi meringis. Ia buru buru menyimpan ponsel itu. “El, jagain HP gue ya. Ini masih nyala, gue simpen di sini aja. Jangan ditinggalin.”
Nayomi meletakkan ponselnya di pinggir wastafel, menyenderkannya ke dinding. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung berlari masuk ke salah satu bilik toilet.
“Iya, gue tungguin,” sahut Elara santai.
Keheningan menyelimuti toilet itu. Hanya suara air kran yang menetes pelan. Elara berdiri sendirian, matanya sesekali melirik layar ponsel Nayomi yang masih menyala—tanpa ia sadari, kamera depan merekam segala sesuatu di sekitarnya.
Tiba-tiba, pintu toilet terbuka.
Elara menoleh.
Vira masuk dengan langkah pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi entah kenapa, senyum itu terasa aneh. Tidak tulus. Justru mencurigakan.
“Hai, El,” sapa Vira manis.
“Hm,” jawab Elara singkat tanpa menoleh, masih fokus pada ponsel.
Vira berdecak kesal. Ia melangkah lebih dekat.
“Aku mau kamu jauhin Arsen,” ucapnya tiba-tiba.
Elara akhirnya menoleh. Alisnya terangkat. “Gue jauhin pacar gue sendiri? Yang bener aja. Lagian, urusannya sama lo apa?”
Vira mengepalkan tangan. “Aku suka Arsen. Dan kamu harus jauhin dia.”
Elara terkekeh kecil. “Wow… mulai keluar ya sifat aslinya.”
Ia melipat tangan di dada. “Gue udah duga lo nggak sepolos itu. Tapi gue heran, kenapa sahabat-sahabat gue bisa ketipu sama cewek bermuka dua kayak lo.”
“Jangan main-main, Elara,” suara Vira merendah, tajam. “Atau sesuatu bakal terjadi sama lo.”
Elara menatapnya datar. “Lo ngancem gue? Nggak mempan, Vir. Gue nggak takut.”
Vira tersenyum sinis.
Dalam hitungan detik, sikapnya berubah total.
Ia tiba-tiba mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Tangannya bergerak cepat menampar pipinya berkali-kali hingga memerah. Napasnya dibikin terengah. Tangannya menarik seragamnya sendiri hingga beberapa kancing terlepas.
Elara membeku.
“Apa yang lo lakuin?” tanyanya heran.
Namun Vira tidak menjawab. Ia langsung menjatuhkan diri ke lantai, tubuhnya bergetar seolah ketakutan.
Di saat bersamaan, di luar toilet, Ezra, Leo, dan Kairo sedang duduk santai sambil memakan snack. Tiba-tiba seorang siswa menghampiri mereka dengan wajah panik.
“Kak, cepet ke toilet perempuan. Vira dibully”
Ketiganya langsung berdiri dan berlari ke arah toilet.
Begitu pintu terbuka, pemandangan itu membuat mereka terkejut.
Vira terduduk di lantai, rambutnya kusut, pipinya merah, seragamnya berantakan. Sementara Elara berdiri tak jauh darinya, wajahnya kaku.
“VIRA!” teriak Leo dan Kairo bersamaan.
Elara menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang. Semua ini… seperti sudah direncanakan.
“El!” Ezra maju dengan wajah marah. “Lo ngapain?”
“Kamu bully Vira?” tanya Ezra tajam.
“Apa?” Elara terkejut. “Gue nggak bully dia. Dia sendiri yang—”
“Hi-hiks…” suara tangis Vira memotong ucapan Elara.
“T-tadi aku disuruh temennya Kak Elara ke toilet,” ucap Vira terbata-bata sambil menangis. “Terus… waktu sampai sini, tiba-tiba aku dibully. Hikks… katanya gara-gara aku deketin Arsen…”
Elara terpaku. Dadanya terasa sesak.
Ini… jebakan.
“Gue kecewa sama lo, El,” ucap Ezra datar, tapi nadanya dingin. Jauh lebih dingin dari biasanya.
Elara menggeleng cepat. Dadanya terasa sesak.
“Ez, ini nggak kayak yang kalian pikirin—”
“Nggak dengan cara ngebully orang di toilet,” potong Leo keras. Matanya tajam menatap Elara. “Lo tau kan Vira punya penyakit?”
Elara terdiam.
“Gue nggak pernah nyentuh dia,” ucapnya lirih, berusaha menahan getar di suaranya. “Dia sendiri yang—”
“Cukup,” sela Kairo. Rahangnya mengeras. “Gara-gara lo cemburu sama Vira yang deket sama Arsen, lo berani-beraninya lakuin ini?”
Ucapan itu seperti tamparan lain bagi Elara.
Cemburu?
Bully?
Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. Ezra, Leo, Kairo. Orang-orang yang selama ini ia anggap sahabat.
Tak satu pun dari mereka berusaha benar-benar mendengarnya.
“Udah,” ucap Ezra singkat. Ia menoleh ke Vira yang masih terduduk dengan tubuh gemetar. “Kita bawa ke UKS.”
Ezra meraih tangan Vira dengan hati-hati, seolah gadis itu benar-benar rapuh.
Vira menunduk, bahunya bergetar pelan. Dari sela rambutnya, sudut bibirnya terangkat tipis—nyaris tak terlihat.
Elara melihatnya.
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Kukunya menekan telapak hingga perih, tapi rasa sakit itu kalah oleh perasaan di dadanya.
Mereka pergi begitu saja.
Tanpa menoleh lagi.
Tanpa memberi Elara kesempatan menjelaskan apa pun.
Langkah kaki mereka menjauh dari toilet perempuan itu, meninggalkan Elara berdiri sendirian.
Sunyi.
Elara menunduk, menatap lantai.
Matanya panas, tapi tak satu pun air mata jatuh.