"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Karin hanya menggelengkan kepala, tak percaya suaminya bisa bersikap seperti itu, sampai-sampai memohon agar Laura tak diusir dari rumahnya.
Hatinya bergolak ketika ia menyadari bahwa permintaan suaminya bukanlah sekadar kata-kata, tapi sebuah permohonan sungguh-sungguh: agar Laura, wanita yang sedang hamil, tidak diusir dari rumah mereka. Dengan suara yang pelan namun penuh emosi, Karin akhirnya menelan segala kekesalan yang mendidih di dadanya, menahan air mata yang hampir menetes, dan hanya bisa menggelengkan kepala sungguh tak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya.
“Nggak, Mas. Keputusanku sudah bulat! Aku benar-benar tidak mau melihat Laura lagi, dan aku ingin dia segera pergi dari rumah ini!” teriak Karin, menatap Dirga yang terus memohon dengan wajah putus asa.
“Tapi Rin… bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungan Laura kalau kamu usir dia sekarang?” ucap Dirga sambil memelas, suaranya penuh kekhawatiran.
“Oke, baik. Aku beri satu kesempatan malam ini Laura boleh tinggal di sini, tapi besok pagi aku tidak mau tahu. Laura harus angkat kaki secepatnya dari rumahku, Mas,” ujar Karin tegas, menatap tajam Laura sekaligus Dirga.
Karin sebenarnya sudah muak melihat Laura dan Dirga, si penghianat, namun dia bukanlah orang sejahat itu. Hatinya menolak membiarkan Laura pergi dari rumah pada malam hari, dalam keadaan sedang hamil. Karin tahu, dia tidak mungkin mengorbankan nyawa yang tak berdosa hanya demi emosi dan rasa kecewanya sendiri.
Karin menatap mereka dengan tatapan tajam , suaranya serak saat berkata,
“Aku harap kalian berdua cepat menikah… Aku tidak mau anak itu lahir tanpa seorang ayah.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang menusuk di antara mereka.
Laura meremas ujung bajunya, matanya menatap lantai. “Mas… kalau aku pergi dari rumah ini, mau tinggal di mana? Aku kan nggak kerja,dan nggak punya uang.” Suaranya serak, tapi penuh kesal.
Dirga mengusap dagunya, menatapnya lama, kemudian menarik napas berat. “Tenang… besok aku carikan kontrakan buatmu.”
Laura menepuk meja, wajahnya memerah. “Ih! Aku gak mau tinggal di kontrakan? Apalagi kalau kumuh dan sempit! Aku mau apartemen, pokoknya!”
Dirga mengepalkan tangan, rahangnya menegang. “Aku… aku nggak punya banyak uang kalau harus beli apartemen, Laura!” Kata-katanya menghantam udara, membuat ruangan terasa panas dan sesak.
Dirga mengusap wajahnya, matanya menatap kosong ke lantai. Napasnya berat, pikirannya penuh dengan masalah yang menumpuk. Ia tidak pernah menyangka hidupnya bisa menjadi begitu kacau.
Laura menepuk meja pelan.
“Pokoknya aku nggak mau tinggal di kontrakan,” gumamnya, “Aku harus bilang ke Mama Mona… biar dia bisa membujuk Karin supaya nggak mengusir aku dari rumah ini.”
Tanpa berpikir panjang, Laura segera meraih ponselnya dan mulai menghubungi Mona.
Sambungan telepon pun tersambung…
“Halo, Laura… ada apa? Tengah malam gini kamu nelpon Mama,” ucap Mona setelah sambungan telepon tersambung.
Laura menggigit bibir, tangan menekuk erat ponselnya. Suaranya hampir pecah saat berkata, “Mama… tolong bantu aku… bujuk Karin, supaya dia nggak mengusir aku dari rumahnya.” Matanya menatap kosong ke layar, penuh cemas.
“Maksudmu apa, Laura? Kenapa Karin mau mengusir kamu?”Mona mengerutkan dahi, jari-jarinya mengepal di telepon. Suaranya naik-turun, penuh kekhawatiran.
“A… aku hamil… anak Mas Dirga, Mah, dan Karin marah besar. Dia mau mengusir aku,” ucap Laura sambil menangis terisak.
Mona tersenyum tipis, matanya berbinar saat menatap telepon. Suaranya lembut tapi bersemangat. “Apa… kamu hamil? Wah, itu bagus dong. Jadi sekarang kamu bisa geser posisi Karin di rumah itu. Kenapa harus takut, sayang?”
“Tapi masalahnya… ini rumah Karin, Mah! Mas Dirga tidak punya hak seujung kuku pun di sini!” Suara Laura meninggi, pecah oleh kepanikan yang mulai menguasai dirinya.
Mona terdiam, namun bukan karena terkejut. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan dadanya membusung dengan kepercayaan diri yang dingin.
Tatapannya tertuju pada layar ponsel, seolah ia bisa melihat ketakutan putrinya di sana. Saat ia bicara, suaranya berubah menjadi seringan beludru, namun tiap katanya punya bobot yang tidak bisa dibantah.
“Hmm… begitu rupanya.” Mona terdiam sebentar, memberikan ruang bagi Laura untuk meresapi ketenangannya. “Tenang saja, Sayang. Mama akan ke sana besok. Mama yang akan bicara pada Karin. Mama pastikan dia tidak akan mengusir mu... dan pelan-pelan, Mama akan buat dia mengangguk setuju untuk berbagi tempat denganmu.”
“Iya, Mah… terima kasih. Aku pegang janji Mama,” bisik Laura, suaranya kini terdengar lebih tenang, meski masih bergetar.
Mona tidak menjawab lagi. Ia menggerakkan ibu jarinya, menyentuh ikon merah di layar hingga cahaya terang itu padam seketika. Ia menurunkan ponselnya, membiarkan ruangan itu kembali disergap sunyi, sementara senyum tipis yang penuh siasat mulai terukir di sudut bibirnya.
“Membujuk Karin itu gampang, apa yang harus ditakuti? Hahaha!” Seruan Mona meledak, memenuhi sudut-sudut kamar yang sunyi. Ia tertawa hingga matanya sedikit menyipit, membayangkan betapa mudahnya ia akan menekuk harga diri Karin besok.
*********
LAngit masih abu-abu, matahari bahkan belum sempat mengintip dari cakrawala. Namun, keheningan pagi di kediaman Karin pecah oleh deru mesin mobil yang berhenti mendadak di halaman. Tanpa mengetuk, pintu depan terayun terbuka dengan kasar.
"Karin! Karin! Di mana kamu? Mama datang!"
Suara lengkingan itu menembus dinding kamar, menyeret Karin paksa dari alam mimpinya. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Karin melangkah turun. Matanya yang sembab menangkap sosok Mona yang sudah berdiri tegak di tengah ruang tamu, berkacak pinggang seolah dia pemilik sah bangunan itu.
"Mona? Kenapa kamu pagi-pagi sudah bertamu di rumahku?" suara Karin parau, namun dingin.
Mona tersentak, wajahnya memerah padam. "Kurang ajar ya kamu, Karin! Berani kamu panggil namaku begitu? Aku ini mamamu!".
Karin menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menatap wanita di depannya dengan tatapan kosong.
"Kamu tidak pantas jadi mamaku."
"Apa maksud kamu?!" pekik Mona, matanya nyaris melompat keluar.
"Sudah, jangan banyak bicara. Apa tujuanmu datang ke sini, Mona?"
Telunjuk Mona melayang di udara, gemetar karena amarah yang tertahan. "Kamu..."
"Cepat katakan. Aku tidak punya waktu buatmu," potong Karin tajam, membuat suasana semakin mencekam.
Mona terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu secara tiba-tiba, otot-otot wajahnya yang tegang mengendur. Amarahnya menguap, digantikan oleh raut wajah yang dibuat-buat sedih. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih lengan Karin.
"Em, Karin... Mama datang cuma mau bilang. Kamu jangan usir Laura, ya? Kamu kan tahu dia sedang hamil anak Dirga. Itu darah daging suamimu, Karin. Secara tidak langsung, itu anakmu juga. Jangan egois, Sayang...".
Karin tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan. "Aku egois? Yang egois itu mereka! Dan kenapa tiba-tiba kamu memohon untuknya? Apa dia mengadu padamu, Mona?"
"Mama cuma kasihan, Karin," sela Mona cepat dengan nada memelas yang dipaksakan.
"Laura itu sendiri di sini, tidak punya siapa-siapa. Mama mohon, izinkan mereka menikah. Kasihan bayi itu kalau lahir tanpa ayah."
"Hah! Silakan saja kalau mereka mau menikah. Aku tidak akan menghalangi Mas Dirga. Justru, aku akan menggugat cerai dia secepatnya!"
Wajah Mona mendadak pucat. "Cerai? Haduh, Karin, jangan gegabah! Seharusnya kamu lebih dewasa, mau berbagi dengan Laura. Kalian bisa hidup bahagia bertiga. Apalagi kalau bayi itu lahir nanti... bukankah itu yang selama ini kamu impikan?"
"Aku memang ingin punya anak," Karin mematung, suaranya mendadak berat dan penuh penekanan. "Tapi bukan dari rahim Laura. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggap anak itu sebagai anakku."
"Karin!" bentak Mona, topeng lembutnya retak seketika.
Karin tidak mundur selangkah pun. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak hingga ia bisa membisikkan kata-kata yang dingin tepat di telinga Mona.
"Sudahlah, Mona. Kalau kedatanganmu hanya untuk menikahkan mereka, silakan. Siapkan semuanya besok. Tapi jangan harap..." Karin menjeda, napasnya terasa dingin di kulit Mona, "...setelah itu mereka bisa menginjakkan kaki di rumahku."
Karin berbalik, meninggalkan Mona yang mematung di tengah ruangan.
"Awas kamu, Karin... aku akan balas kamu," gerutu Mona dengan suara rendah yang penuh kebencian. Tangannya terkepal kuat hingga kukunya memutih, menatap punggung Karin yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.
****Bersambung****
Mohon bantu like dan subscribe ya kak, supaya aku bisa lebih semangat lagi🙏 Terimakasih.
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak