NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: GRAND STAR TOWER (2)

Di depan Grand Star Tower, Dion turun dari mobil taksi dan menutup pintu dengan tenang. Ia mengucapkan diam-diam di dalam hati, sistem otomatis mentransfer ke rekening taxi itu.

Pandangan Dion terangkat.

Gedung itu menjulang tinggi, lima puluh lantai kaca dan baja yang memantulkan cahaya sore. Logo berbentuk bintang di puncaknya berkilau samar, seolah menandai wilayah yang berbeda dari hiruk-pikuk jalanan biasa.

“Ini sangat tinggi…” gumam Dion pelan, "inilah salah satu kebanggaan Lampung Selatan.”

Ia melangkah maju. Pintu otomatis terbuka dengan desis halus, menyambutnya masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Begitu berada di dalam, Dion seakan memasuki ruang lain. Lobi Grand Star Tower terbentang luas, langit-langit tinggi, marmer mengilap, dan lampu kristal besar menggantung anggun di tengah ruangan, memantulkan cahaya ke segala arah. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan mahal, jas disetrika sempurna, sepatu mengilap, parfum mahal tercium samar di udara.

Beberapa pasang mata sempat melirik Dion.

Pemuda tampan itu memakai seragam SMA biru, tas sekolah tersampir di punggung, kontras dengan lingkungan elite yang mengelilinginya. Namun tak ada yang berkata apa-apa. Setelah satu dua detik, mereka kembali tenggelam dalam urusan masing-masing.

Dion melangkah mantap menuju Front Office.

Di balik meja resepsionis berdiri seorang wanita cantik berambut hitam panjang yang diikat rapi. Wajahnya halus, profesional, dengan seragam hitam khusus Grand Star Tower yang pas di tubuhnya. Sebuah name tag kecil terpasang di dadanya.

Maya.

Maya mengangkat pandangan dan terdiam sejenak saat melihat Dion. Seorang pemuda tampan, namun berseragam SMA, berdiri di hadapannya. Ada kilat keheranan yang cepat disembunyikan di balik senyum formalnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.

Matanya menyipit tipis, menilai. Dalam benaknya, satu pertanyaan mengambang. Apa yang dilakukan anak SMA di tempat elite seperti ini?

Namun profesionalisme tetap nomor satu.

“Aku ingin bertemu dengan manajermu,” jawab Dion datar.

Tatapan Maya sedikit berubah. Ada keraguan, nyaris seperti meremehkan, meski bibirnya tetap tersenyum.

“Bertemu dengan manajer…” ulangnya perlahan, “apakah Anda sudah membuat janji?” Nada suaranya halus, tapi jelas mengandung uji.

“Tentu,” jawab Dion singkat.

“Tunggu sebentar.” Maya mengangguk, tetap profesional. Meski di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario terburuk.

'Kalau anak ini cuma main-main,' pikir Maya, 'aku akan langsung panggil security.'

Ia meraih telepon khusus Grand Star Tower dan menekan nomor internal manajemen. Percakapan singkat berlangsung, pelan, formal, dan tertutup. Setelah itu, Maya meletakkan gagang telepon.

Ia menatap Dion lagi, kali ini dengan ekspresi netral. Namun sorot matanya masih menyiratkan keraguan.

Beberapa menit berlalu.

Ding.

Lift khusus terbuka, seorang wanita dewasa melangkah keluar.

Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Cantik dengan cara yang tenang dan berkelas. Kulitnya putih bening, wajah kecil dengan hidung mancung, mata tajam namun lembut. Rambut hitamnya terurai rapi di bahu. Busana kerja yang dikenakannya sederhana namun elegan, menegaskan tubuh proporsionalnya tanpa berlebihan.

Aura profesional berpadu dengan pesona alami, jika kecantikan bisa dinilai, wanita itu dengan mudah mencapai sembilan puluh poin.

Ia berjalan mendekat ke arah Front Office. “Apakah Anda Tuan Dion?” tanyanya, suaranya jernih dan tenang.

Dion menoleh dan mengangguk, “Benar. Aku Dion.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Aku Aiko Putri Greta.” ucap nya, suara nya lembut, "Aiko, manajer Grand Star Tower."

Ia memang sudah diberi tahu lewat telepon bahwa Dion masih berstatus siswa SMA. Namun melihatnya secara langsung, tetap membuatnya sedikit terkejut. Terlalu muda, namun sikapnya tenang, tatapannya lurus.

“Kalau begitu,” lanjut Aiko sambil berbalik ke arah lift, “ikuti aku, Tuan Dion.”

Tanpa ragu, Dion melangkah mengikuti dari belakang, masuk ke dalam lift khusus yang pintunya menutup perlahan.

Di balik meja Front Office, Maya terpaku. Matanya membelalak sesaat.

'Jadi… dia benar-benar punya janji dengan manajer…'

Maya menghembuskan napas panjang, rasa lega bercampur malu menyelinap di dadanya.

'Untung saja aku tidak mengucapkan apa yang ada di kepalaku.'

Lift melesat naik, meninggalkan lobi megah di bawah. Dan Dion, dengan seragam SMA dan tas sekolah di punggungnya, baru saja melangkah lebih jauh ke dunia yang sama sekali berbeda dari hidup lamanya.

.....

Di dalam Lift Khusus, hanya ada dua orang.

Dion berdiri tenang di sisi kanan, sementara Aiko Putri Greta melangkah ke panel kontrol dan menekan tombol lantai 40. Gerakan jarinya ringan dan pasti, gerakan seseorang yang terbiasa menguasai ruang-ruang tinggi.

Ding.

Pintu lift menutup, dan kabin bergerak naik dengan halus, hampir tanpa suara. Dinding lift dilapisi panel metal gelap yang mengilap, memantulkan siluet mereka berdua, pemuda berseragam SMA dan wanita karier dengan aura elite.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang nyaman.

Ding.

Lift berhenti.

Pintu terbuka, memperlihatkan koridor luas dengan karpet tebal berwarna abu gelap. Cahaya lampu tersembunyi di langit-langit memantul lembut, memberi kesan privat dan eksklusif. Aiko melangkah keluar terlebih dahulu, langkahnya anggun dan terukur. Dion mengikutinya tanpa banyak bicara.

Di depan sebuah pintu besar berlapis kayu hitam, Aiko mengeluarkan kartu akses dari saku jasnya. Ia menempelkannya ke panel kecil di samping pintu.

Klik.

Pintu terbuka, Aiko masuk lebih dulu, disusul Dion. Begitu melangkah masuk, Dion refleks berhenti sejenak.

Ruang kantor pribadi itu, sangat besar. Langit-langit tinggi, lampu kristal menggantung anggun di tengah ruangan, memantulkan cahaya ke dinding kaca dan lantai marmer. Sofa-sofa mahal tersusun rapi, meja kerja besar berdiri menghadap jendela kaca penuh yang menampilkan panorama kota dari ketinggian lantai empat puluh.

Dion bergumam dalam hati, 'Ini baru kantor pribadinya…?' Ia menelan ludah pelan, 'apakah lantai empat puluh ini fasilitas khusus miliknya?'

Pikiran itu tak berlebihan. Ruangan ini bahkan terasa lebih luas daripada seluruh kontrakan yang pernah ia tinggali. Kontrakan lamanya, sempit, lebar sekitar sepuluh meter persegi, bahkan jika sepuluh unit digabung sekaligus, tetap terasa kecil.

Kantor pribadi Aiko, tiga kali lipat lebih besar.

“Silakan duduk, Tuan Dion,” ucap Aiko sopan sambil berjalan menuju sudut ruangan, “buat diri Anda senyaman mungkin.”

Ia menuju mesin kopi elegan dan mulai menyiapkan minuman dengan tangannya sendiri.

“Terima kasih,” jawab Dion singkat.

Ia duduk di sofa mahal itu. Empuk. Terlalu empuk dibanding kursi kayu kontrakannya dulu. Punggungnya sedikit tenggelam, namun ia tetap duduk tegak.

Beberapa menit kemudian, Aiko kembali dengan dua cangkir kopi. Ia meletakkannya di meja rendah di depan Dion.

“Silakan,” katanya sambil tersenyum.

“Kopi buatan saya sendiri. Biji kopi pilihan, dibuat khusus untuk tamu-tamu elite.”

Dion mengangguk dan mengangkat cangkir itu. Aroma pahit-manis langsung menyentuh hidungnya. Ia menyeruput pelan.

“Hm…”

“Enak… tapi rasanya agak… aneh.”

Bukan buruk, justru terlalu halus. Terlalu berbeda dari kopi yang biasa ia minum. Kopi sachet murahan di warkop pinggir jalan, kopi pahit yang dicampur gula seadanya.

Kopi ini… tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Aiko tertawa kecil. “Haha, Anda bercanda, kan?” katanya ringan, “orang seperti Anda, tidak mungkin belum pernah merasakan kopi seperti ini.”

Dion terdiam.

Ia tidak membantah. Tidak menjelaskan, ia hanya tersenyum tipis dan kembali meletakkan cangkir itu.

Dalam hati, ia menyimpan rapat masa lalunya. Ia tahu, jika ia berkata jujur, Aiko hanya akan menganggapnya gurauan, atau kebohongan.

Percakapan kecil pun mengalir.

Tentang gedung. Tentang kota. Tentang hal-hal ringan yang tak menyentuh ranah pribadi. Suasana kantor itu terasa elegan dan menyenangkan, hampir seperti suasana kencan kalangan konglomerat, tenang, hangat, dan penuh jarak yang sopan.

Setelah hampir setengah jam, Aiko akhirnya meluruskan punggungnya sedikit.

“Tuan Dion,” ucapnya lembut, namun kini lebih serius, “Penthouse yang Anda tanyakan… saat ini kosong.”

Dion menoleh.

“Penghuni sebelumnya telah menyelesaikan masa tinggalnya tiga hari lalu,” lanjut Aiko sambil tersenyum kecil, “dan sampai sekarang belum ada yang menempatinya.”

“Bagus,” jawab Dion tanpa ragu, “aku yang akan menempatinya.”

Nada suaranya datar, seolah ia sedang membicarakan hal sepele.

“Kalau boleh tahu,” lanjutnya santai, “berapa harga sewanya? Atau… apakah bisa langsung aku beli?”

Aiko terdiam sesaat, Terkejut. Pemuda berseragam SMA itu, bertanya tentang membeli penthouse?

“Tuan Dion,” katanya akhirnya, tetap profesional meski nada suaranya jelas lebih hati-hati, “maafkan saya. Penthouse itu tidak untuk dijual.”

Ia menjelaskan dengan tenang.

“Itu membutuhkan persetujuan langsung dari pemilik gedung. Dan bahkan untuk bertemu pemilik saja, dibutuhkan dana dan prosedur yang sangat besar.”

Aiko menghela napas kecil. “Saya hanya berwenang menyewakannya.”

“Kalau begitu,” kata Dion tanpa berubah ekspresi, “aku sewa satu tahun.”

Kali ini, Aiko benar-benar terkejut.

Satu tahun?

Bahkan klien-klien kaya biasanya hanya menyewa satu hari atau satu minggu. Paling lama, satu bulan. Harga sewa penthouse ini mencapai 10.000 rupiah per hari.

(10 ribu rupiah, untuk Kurs saat ini 100 Juta Rupiah.)

Namun wajah Dion tetap tenang.

“Baik, Tuan Dion,” jawab Aiko akhirnya, profesionalitasnya kembali mengambil alih.

Ia mengambil berkas-berkas kontrak dan menyerahkannya pada Dion. Dokumen demi dokumen ditandatangani dengan cepat dan rapi. Tak ada keraguan, tak ada tawar-menawar.

Beberapa saat kemudian, semua persyaratan selesai.

“Terima kasih telah menyewa penthouse di Grand Star Tower,” ucap Aiko sambil menyerahkan kartu namanya, “jika Anda membutuhkan apa pun, silakan hubungi saya langsung.”

Dion menerima kartu itu dan menjabat tangan Aiko. Jabatannya singkat, sopan. Setelah itu, Aiko mengantarnya kembali ke Lift Khusus untuk melihat unit penthouse.

Penthouse itu bukan satu lantai, melainkan lima lantai penuh, dari lantai empat puluh lima hingga lantai lima puluh.

Lima lantai, semuanya milik Dion, selama satu tahun penuh. Saat lift kembali melaju naik.

Ding.

Sebuah suara dingin bergema di benak Dion.

[Anda telah menghabiskan lebih dari 10.000 rupiah.]

[Fungsi Saldo telah naik ke Level 2.]

[Fungsi Saldo Level 2: Anda otomatis mendapatkan 10 rupiah per detik.]

[Saldo tersimpan otomatis di bank sistem.]

Dion terkejut, lalu tersenyum lebar dalam hati.

'Fungsi saldo… naik level?' Ia nyaris tertawa, 'jadi memang bisa berkembang… ya.'

Sebelumnya sistem tak pernah memberitahunya. Ia mengira fungsinya statis. Namun kini ia tahu, semakin besar langkah yang ia ambil, semakin besar pula hasilnya.

Di dalam lift yang melaju ke atas, Dion merasakan kebahagiaan yang tulus. Bukan karena kemewahan, bukan karena kekuasaan. Melainkan karena, hidupnya benar-benar telah berpindah ke jalur yang sama sekali baru.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!