Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Yang Rindu
*****
Ariana mengerjapkan mata nya berulang kali. Lalu mengucek nya hingga terbuka sempurna. Dia melirik jam di samping ranjang. Masih pukul 3 pagi, dan nyata nya Ariana tertidur setelah berbalas pesan dengan Marvin.
Tapi Ariana kembali terbangun ketika dia teringat dengan Rocky yang tertidur di ruang tamu. Dia baru ingat kalau dia lupa memberi bantal dan selimut pada Rocky.
" Rocky..." Gumam Ariana panik.
Dia bergegas keluar dan melihat Rocky tengah meringkuk kedinginan seperti ulat di atas karpet. Sebelah tangan nya menjadi alas kepala dan sebelah nya lagi dan sebelahnya lagi dia selipkan di antara pahanya yang dia lipat mendekati perut.
" Rocky... Rocky bangun." Ariana menepuk pelan pipi Rocky agar bangun.
Perlahan tangan nya mengusap lembut pipi Rocky sambil tersenyum. Wajah yang dulu pernah membuat dia menjadi satu - satu nya wanita yang paling beruntung di dunia.
" Aku sebenar nya rindu sama kamu. Rindu menyentuh pipi ini seperti dulu lagi." Gumam Ariana pelan.
" Apa harus nunggu aku tidur dulu, baru mau jujur?" Tanya Rocky dengan mata terpejam.
Ternyata Rocky sudah bangun saat Ariana membangun kan nya tadi, hanya saja dia sengaja pura - pura tidur, dia ingin tahu apa yang akan di lakukan Ariana saat dia tidur.
" Kamu pura - pura tidur ya?" Ariana memukul lengan Rocky.
" Kalau aku nggak pura - pura tidur, aku nggak akan bisa dengar waktu kamu bilang rindu sama aku." Kini Rocky membuka mata nya dan menatap Ariana.
Ariana tersenyum malu saat menyadari kebodohan yang baru saja dia buat.
" Ada apa? Aku masih ngantuk."
" Pindah ke kamar aku saja. Di sini dingin." Ajak Ariana dengan lembut.
" Nggak usah. Ambilkan selimut saja." Tolak Rocky kembali memejamkan mata nya.
" Sudah lah, ayo ke kamar. Kamu bisa masuk angin kalau tidur di sini." Paksa Ariana.
" Nggak usah, Ari. Nggak enak nanti kalau tetangga kost kamu lihat kita tidur satu kamar."
" Sok malu kamu. Semalam - semalam nggak malu juga. Sudah ayo... buruan..." Ariana kembali memukul lengan Rocky dan menarik tangan nya dengan paksa.
Rocky pun bangkit dan mengekori Ariana sampai ke kamar nya.
" Kamu tidur di sana, aku tidur di sini." Tunjuk Ariana pada ujung - ujung ranjang nya.
" Jangan dekat - dekat. Jangan sampai lewat batas." Lanjut Ariana meletakkan guling di tengah mereka.
" Iya, iya. " Jawab Rocky yang lebih dulu berbaring di ranjang.
Kemudian di susul oleh Ariana yang ikut berbaring di sebelah nya.
*
*
*
Menjelang subuh, mata Rocky terbuka karena Memang cuaca nya yang sangat dingin. Rocky meraba - raba mencari selimut.
Melihat Ariana yang tengah memeluk guling sekarang, Rocky memiliki ide cemerlang nya seketika. Dia menjauhkan guling dan memindahkan tangan Ariana ke pinggang nya. Dia juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Ariana yang hanya menggunakan blouse tipis.
Tapi gunung kembar Ariana membuat Rocky salah fokus. Terlihat berisi, kenyal dengan puncak yang kemerahan, sangat menggoda.
Dengan berani Rocky membuka tali blouse Ariana dan mengeluarkan salah satu buah kenyal itu dan segera memakan pucuk nya sudah sangat menggoda nya sedari tadi.
Rocky menyusu dengan rakus seperti seorang bayi yang kehausan. Bahkan decapan nikmat nya terdengar ke seisi kamar itu. Sedangkan Ariana, dia hanya bergerak pelan karena merasa ini bagaikan mimpi.
Rocky menyesap buah itu hingga meninggalkan bekas kemerahan memenuhi buah kenyal itu. Setelah merasa puas, dia kembali memasukkan buah kenyal itu kembali ke tempat nya. Dan kembali memeluk Ariana sambil mengelus kepala Ariana.
Tak lama Ariana pun terbangun karena terganggu oleh usapan tangan Rocky. Dia pun membuka mata nya dan langsung melotot karena dia berada dalam pelukan hangat Rocky. Sontak Ariana langsung bangkit dari tidur nya.
" Rocky, kenapa meluk? Guling nya mana?" Tanya Ariana mencari keberadaan guling yang sebelum nya dia letakkan di tengah.
" Memang nya kenapa? Lagian kita sudah melakukan yang lebih dari ini. Kenapa kaget?" Rocky balik bertanya dengan nada tidak bersalah.
" Kalau ada yang lihat bagaimana?"
" Ini kan rumah kamu. Tidak ada orang lain di sini. Cuma ada kamu dan aku."
" Lagian ngapain mikirin orang lain sih. Emang orang lain pernah mikirin kita apa? Kalau pun ada yang lihat, ya sudah... aku akan nikahi kamu sekarang juga. Gampang kan?"
" Terserah kamu saja, aku mau mandi." Ariana bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Rocky hanya mengangguk tapi dalam hitungan detik saja, dia pun mengikuti Ariana masuk ke dalam kamar mandi.
" Rocky, kamu ngapain di sini? Keluar... tunggu setelah aku selesai mandi." Pekik Ariana saat dia menyadari Rocky sudah memeluk nya dari belakang.
" Aku belum puas memeluk mu. "
" Rocky, aku mau mandi, setelah itu kamu mandi. Aku harus ke kantor pusat. Banyak yang masih harus di selesaikan." Ucap Ariana dengan lembut berharap Rocky mendengar kan nya kali ini.
" Baiklah."
Rocky melepaskan pelukan nya dan membalikkan tubuh Ariana. Dengan cepat dia menyambar bibir ranum itu yang sejak tadi sudah sangat menggoda nya.
Setelah itu dia membuka tali blouse Ariana hinga menyisakan pakaian dalam nya saja.
" Jangan, Rocky." Cegah Ariana dengan wajah datar nya.
" Diam lah Ariana, nikmati saja." Bujuk Rocky memelas sang kekasih hati.
Rocky kemudian menurunkan segitiga Ariana dan memasukkan junior nya hingga membuat Ariana tak bisa bergerak lagi.
" Aarrggghhh..." Rocky mengerang nikmat saat senjata nya tenggelam sempurna dalam lobang sempit yang hangat itu.
" Maaf, Ariana. Kalau saja tadi kamu tidak banyak bicara, mungkin aku tidak akan berbuat kasar pada mu." Jawab Rocky.
Rocky mencabut junior nya lalu menaikkan salah satu kaki Ariana dan menahan nya dengan lengan nya, lalu kembali menusukkan senjata nya.
Tangan Rocky yang sebelah lagi mengeluarkan kedua buah kenyal Ariana dari tempat nya, lalu dengan cepat melahap nya dengan nikmat tanpa menghentikan gerakan maju mundur nya.
*
*
*
Satu jam sudah mereka menghabiskan waktu di kamar mandi. Setelah itu mereka pun keluar dengan tubuh yang lebih segar.
Setelah berpakaian rapi, Ariana menyiapkan sarapan untuk dia dan Marvin. Nasi goreng spesial kini sudah terhidang di meja dengan segelas kopi susu untuk Rocky dan teh hangat untuk Ariana.
" Halo, Mel. Sudah sampai kampus?" Tanya Ariana saat panggilannya di jawab Amelia.
" Sudah, kak. Baru aja sampek. Tadi Amel mampir ke bengkel sebentar. Ada yang harus di service, banyak sparepart nya yang sudah rusak, jadi Amel ganti deh semua nya." Jawab Amelia.
Rocky yang baru memasuki dapur, langsung memeluk Ariana dari belakang dan mencium harum leher Ariana dalam - dalam. Ariana mencoba lepas dari pelukan Rocky, tapi kekuatan Rocky bukanlah tandingan nya.
" Mel, kayak nya hari ini kakak bakal pulang malam deh. Soalnya mau rampungi yang buat acara besok. Kamu nggak papa kan sendiri?" Ucap Ariana menjauhkan kepala Rocky dari leher nya.
" Nggak papa, kak. Kakak kerja aja. Lagian nanti Amel juga ada kunjungan ke rumah sakit, kayak nya pulang sore juga kak."
" Ya sudah. Kamu hati - hati ya."
Cup
Sebuah kecupan singkat di bibir Ariana berhasil membuat Ariana tersenyum manis pada nya.
" Gitu dong. Senyum... Ayo kita sarapan." Kata Rocky kemudian melepaskan pelukan nya dan duduk di meja makan.
*
*
*
Sesampai nya di kantor Rocky, dia lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Ariana. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat kejadian itu dengan tatapan serius. Lalu Ariana dan Rocky berjalan masuk ke dalam kantor.
" Aku masuk ruangan ku dulu ya." Ucap Rocky saat mereka berada di depan lift.
" Iya." Jawab Ariana singkat.
" Jangan pulang sendiri. Nanti kita bareng." Ajak Rocky.
" Iya, bawel." Jawab Ariana tersenyum.
Setelah nya Ariana pun melangkah meninggalkan Rocky menuju lorong yang menghubungkan ke ruangan untuk acara HUT perusahaan besok.
" Ari..." Panggil Rocky.
" Hhmmm..." Ariana menoleh.
Rocky perlahan mendekati Ariana, mata nya menatap lekat dalam - dalam. Tanpa di duga, dia dengan lembut mencium kening Ariana, meninggalkan sentuhan hangat yang membuatnya tercengang dalam kebingungan.
Sesaat kemudian Rocky berbalik dan berjalan masuk ke dalam lift, meninggalkan Ariana yang terpaku di tempat. Jantung nya berdebar keras dan pikiran nya berkecamuk. Dia sempat melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada orang yang melihat perbuatan Rocky barusan.
" Ariana..." Panggil Marvin.
Ariana berdiri gugup di depan Marvin, tubuhnya bergetar dan hatinya berdebar kencang. Pikiran nya di penuhi ketakutan akan kemungkinan bahwa Marvin telah menyaksikan saat Rocky mencium nya tadi.
" Pak Marvin?"
" Kamu baru sampai?"
" Iya, pak. Saya baru saja sampai."
" Kesini dengan siapa tadi?" Tanya Marvin memastikan yang dia lihat tadi.
" Saya pak? Saya kesini nya... naik... taksi online, pak." Jawab Ariana terbata.
" Oh... Ayo." Ajak Marvin yang berjalan lebih dulu.
*
*
*
" Kamu dari mana? Jam segini baru datang?"
Suara Rizal mengagetkan Rocky yang baru saja menginjakkan kaki nya di dalam ruangan nya.
" Papa... bikin kaget saja." Ucap Rocky memegang dada nya, mencoba menetralkan rasa kaget nya.
" Semalaman kamu nggak bisa di telpon. Hari ini datang terlambat. Nginap dimana semalam?"
" Nginap di rumah Ariana."
" Mama sama Nelly di rumah, berani ya kamu nginap di rumah lain. Kalau mereka tahu bagaimana?" Tanya Rizal tak habis pikir dengan jalan pikiran anak nya itu.
" Mama dan Nelly nggak akan tahu kecuali papa yang kasi tahu. Bukan kah kita sudah sepakat, papa akan membantuku kembali lagi sama Ariana. Papa lupa?"
" Papa tidak pernah lupa sama janji papa. Hanya saja, nggak begini cara nya. Kamu pergi begitu saja dari rumah, lalu nginap di rumah Ariana. Memang nya kamu tidak punya alasan yang baik selain kabur dari rumah?"
" Andai papa tahu kejadiannya semalam pa, papa juga bakal nyuruh Rocky pergi." Ucap Rocky menatap papa nya yang juga tengah menatap nya.
Rocky membuang nafas nya lalu duduk di sofa, di depan Rizal.
" Semalam itu Ariana keluar dengan Marvin. Dan kalau aku sampai telat sedikit saja semalam, Ariana pasti sudah di antar pulang sama bos nya itu. Aku nggak rela lah pa, kalau Ariana pulang dengan orang lain. Tidak ada yang boleh dekat dengan Ariana selain Rocky."
" Jangan egois. Ariana juga kehidupan pribadi nya sendiri. Dia juga punya hubungan sosial dengan lingkungan luar nya. Kamu nggak berhak menghalangi nya mau dekat dengan siapa saja."
" Memang mama ada bilang apa sama papa tadi malam?"
" Mama cuma marah sama papa. Karena papa membiarkan kamu menyelesaikan masalah kantor sendiri. Papa bilang kalau tadi malam itu kamu harus ke kantor karena ada urusan genting."
" Thank you, dad. Papa memang yang paling pengertian. Apa besok, aku boleh tidak mengumumkan soal pertunangan ku dengan Nelly?"
Rizal menatap heran pada Rocky. Dia tahu betul kalau Rocky tidak menginginkan hal itu terjadi. Sebenar nya dia juga sangat kasihan pada anak nya. Tapi selain Rocky, masih ada hati yang harus dia jaga. Hati Yusnita dan Nelly tentu nya.
" Kalau soal ini, itu sudah di luar kebijakan papa. Kamu bicarakan ini dengan mama. Cari alasan yang tepat, agar mama tidak sampai curiga sama kamu. Jangan sampai Mama tahu kalau kamu tidak mencintai Nelly."
Rocky hanya mengangguk pelan. Tapi di kepalanya, dia sedang mencari alasan yang tepat untuk menggagalkan pengumuman pertunangan dia dan Nelly.
" Ayo, papa mau lihat persiapan Ariana sudah sampai mana?" Ajak Rizal yang lebih dulu bangkit.
Namun Rocky masih saja duduk dengan wajah yang di tekuk.
" Mau biarin papa sendiri yang bertemu dengan Ariana?" Tanya Rizal saat menyadari Rocky hanya diam.
" Ya nggak lah, pa. Takut nya malah kayak kemaren. Papa ngomong yang tidak - tidak sama Ariana. Dia marah la sama Rocky. Dia pikir aku sudah cerita banyak soal dia sama papa."
" Atas dasar apa dia marah?"
" Siapa yang marah?" Sahut Nelly yang menyambung obrolan Rocky dan Rizal.
Rocky dan Rizal menoleh ke samping secara bersamaan. Sejak tadi mereka tidak menyadari kehadiran Nelly di sana. Mereka saling pandang dan menjadi kikuk. Takut obrolan mereka sudah di dengar oleh Nelly.
" Nelly... sudah lama?" Tanya Rocky dengan gemetar.
" Baru aja. Tadi lihat kamu sama Om, makanya langsung aku samperin." Jawab Nelly.
" Kamu ngapain di sini?"
" Memang nggak boleh aku nyamperin calon tunangan aku?"
" Bukan begitu. Harus nya tadi kamu bilang kalau mau ke kantor. Kan bisa aku jemput." Elak Rocky menyamarkan senyuman nya.
" Oh... nggak papa lah, Beb. Aku mau ngasi surprise buat kamu. Ini mau kemana? Aku nggak ganggu kan?"
" Tidak, tidak sama sekali. Om mau ke ruang audit. Ada meeting sama klien. Kamu ikut Rocky saja. Dia mau cek persiapan buat acara besok, sudah sampai mana. Takut nya malah ada kendala lagi." Sahut Rizal dengan ragu.
" Ya sudah, Nelly. Kalau gitu Om duluan ya. Sudah di tungguin." Ucap Rizal pamit pergi.
" Iya, Om. Bye Om." Sahut Nelly.
" Ayo..." Nelly menggandeng sebelah tangan Rocky.
Rocky menghembuskan nafas frustasi. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Papa nya sudah pergi, tidak mungkin dia mengusir Nelly dari kantor. Dia tidak punya alasan yang masuk akal untuk saat ini. Mana dia mau ketemu Ariana lagi. Bisa gawat nih, kalau Ariana lihat Nelly menggandeng tangan Rocky.