allea aulia ghassani gadis dewasa berusia 22 tahun.. yg di jodohkan dengan pria..dingin..cuek agak kasar yang bernama abraham bayu aji wijaya keduanya di jodohkan karena janji kedua orang tua mereka apakah kehidupan rumah tangga mereka akan harmonis,kisah cinta yg berawal dari benci karena suaminya telah memiliki kekasih sebelumnya bagaimana kah kisah allea apakah akan berakhir bahagia ataukah menyakitkan dan berujung perceraian... simak kisah nya.. check this out..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon evoy yoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
??...??
Pukul 8 pagi Allea sudah di pindahkan ke ruang perawatan namun ia belum siuman sama sekali. Bram yang sedari malam menunggui Allea tetap berada di samping Allea tak peduli lelah dan ngantuknya ia. ia hanya ingin melihat Allea siuman, Bram terus memandangi Allea yang masih tertidur dengan selang yang menempel di hidungnya sebagai alat bantu pernafasan dan tangannya yang masih di infus. Tiba tiba suster masuk untuk memeriksa keadaan Allea.
"permisi pak...kami periksa dulu ya" suster tersebut meminta izin ke Bram.
"iyaa sus silahkan" Bram bangun dari duduknya dan agak memundurkan posisi berdirinya semula.
Suster dengan sigap memeriksa keadaan Allea.
"gimana sus keadaannya ?" tanya Bram.
"tekanan darah nya stabil pak" suster menjawab pertanyaan Bram.
"kira kira kapan yaa istri saya siumannya.." lanjut Bram.
"untuk siuman kita tidak bisa memprediksi pak, hanya tergantung dari si pasien saja." Suster tersebut tersenyum.
"ohh heum maaf sudah selesai pemeriksaannya belom?,"
"belum pak ...saya belum ambil sample darah dan detak jantung" suster sibuk memeriksa Allea.
"titip istri saya dulu yaa sus, saya keluar sebentar" Bram menitipkan alleya pada suster yang sedang memeriksa.
"ohh iyaa pak silahkan,"
Dan Bram pun pamit keluar untuk membeli secangkir kopi, ia sangat mengantuk namun ia tahan karena Allea belum juga siuman.
Tak lama Bram pergi menutup pintu tiba-tiba Allea membuka matanya lebar-lebar.
"loooh.. " suster terlihat kaget, ia menoleh ke arah pintu.
"paak.." suster mencoba memanggil Bram karena Allea sudah siuman, namun ia di larang oleh Allea.
"jangan sus....!!" pinta Allea.
"loh ibu nya sudah siuman ya" tanya suster.
"iyaa sudah 1 jam yang lalu tapi saya diam saja pura-pura tidur" Allea tersenyum ketir.
"saya panggilkan suaminya yaa bu" suster hendak pergi
"jangan sus jangan biarin ajah.." wajah Allea terlihat murung.
"kenapa bu, maaf yaa, suami ibu baik sekali dari awal ibu masuk IGD, lalu ke ICU hingga ke ruangan ini ia selalu di samping ibu bahkan suami ibu sepertinya belum istirahat" suster menceritakan keadaan Bram ke Allea sambil tersenyum.
"iyaa sus makasih" Allea hanya terdiam
Setelah pemeriksaannya selesai Allea sendirian di ruang perawatan yang cukup mewah, karena Bram memilih ruang perawatan vvip untuk Allea. Allea memandang kosong ke luar jendela, tiba-tiba seseorang membuka pintu.
"Allea...!!" Bram terkejut sekaligus senang melihat Allea sudah siuman ia berjalan dengan cepat menghampiri Allea dan langsng memeluk Allea.
"kapan kamu sadar.." Bram memeluk Allea dan menciumi wajah Allea, Allea mencoba menghindari ciuman itu namun ia tak kuasa tubuhnya masih lemas.
"udahlah mas, ga usah seperti ini sama aku, jangan merasa bersalah, aku ga apa-apa kok" Allea berkata dengan nada dingin, membuat Bram terdiam dan memandang wajah Allea.
"aku minta maaf..." Bram tertunduk
"ga apa-apa mas, aku tau aku bukan perempuan yang baik, bukan juga wanita idaman mas, aku hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupan mas dan merampas hak Celine yang seharusnya jadi istri mas." Allea memandang wajah Bram lekat-lekat.
Bram hanya terdiam, ia pun memandang wajah Allea dengan sangat dalam, Bram pun memeluk Allea.
"aku minta maaf sudah berbuat bodoh kemarin" Bram membelai rambut Allea tiba-tiba Allea mengucapkan sesuatu yang tak pernah ingin Bram dengar.
"mas ... kita cerai saja..!" suara Allea datar, Bram langsng melepaskan pelukannya dan memandang Allea seolah tak percaya.
"apa..?? tadi kamu bilang apa??" Bram mencoba meyakinkan bahwa apa yang dia dengar itu salah.
"kita cerai saja mas!" Allea tak kuasa melihat wajah Bram ia memalingkan wajahnya.
"aku tau mungkin ini keputusan yang tergesa-gesa, tapi mungkin ini keputusan yang terbaik, mas bisa bahagia dengan pilihan mas sendiri, dan aku bisa kembali ke kehidupan ku yang dulu dari pada seperti ini saling menyakiti tak ada kehangatan dalam rumah tangga kita, walaupun rumah tangga kita baru seumur jagung tapi aku sepenuhnya menyadari mas, mas ga bisa merima pernikahan ini" Allea berbicara panjang lebar, bram terlihat lemas
"aku tau mas hanya bisa bahagia dengan Celine sedangkan aku mungkin hanya parasit di kehidupan mas," Allea kembali terdiam, bulir air matanya mulai jatuh membasahi pipi Allea.
"untuk orang tua kita mas ga usah khawatir aku yang akan menjelaskan kannya" suara Allea tercekat oleh tangisannya.
"maaf mas ... maaf ... aku lelah..." Allea menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu sedu.
"aku lelah ... mas ... aku capek dengan semua sandiwara ini" Allea kembali menangis, Bram hanya diam tak berdaya dan tak bisa mengeluarkan suara nya ia terkejut melihat Allea dengn emosionalnya menangis karena menahan sesak akibat perbuatannya.
"ya tuhan, Bram lo kejam banget ternyata, lo udah bener-bener nyakitin istri lo ini sekarang dia minta cerai dari lu, sedangkan lu sudah mulai mencintai nya" bisik hati Bram.
Allea masih terus menangis dan Bram masih terdiam membisu ia bingung apa yg harus ia lakukan .
Keesokan nya Bram kembali ke rumah sakit untuk menjaga Allea. sebelum Bram masuk Bram mengintip dari blik pintu ia sedang menelepon seseorang dan di sampingnya ada suster yang sedang memeriksa.
"sus makasih yaa hp nya" allea tersenyum ke suster yang telah meminjamkan ponselnya.
"hah iya bu sama-sama, kalau begitu saya permisi ya bu" susterpun pamit meninggalkan Allea.
tak lama kemudian Bram masuk menghampiri Allea
Bram menata buah di meja dan menuangkan air di gelas Allea yang sudah kosong.
"mas.. aku sudah telepon Grace" Allea membuka percakapan.
"Grace?? siapa dia?" tanya Bram dengan dingin ke Allea.
"ia temanku dari fakultas hukum ia sekarang kerja sambil kuliah di kantor advokat aku meminta dia untuk mengurus perceraian kita" ucap Allea,
Bram terhenyak mendengar kata-kata dari Allea, namun ia harus tenang dan diam.
"lalu.." Bram menjawab seperlunya sembari memebereskan pakain untuk ganti Allea.
"nanti sore ia akan kerumah ambil berkas nya, surat nikah dan kartu KK semua aku taruh dalam lemari." Allea berbicara tanpa memandang Bram pandangannya ia lempar ke luar jendela. Dengan raut wajah dingin Allea mengucapkan kan itu.
Bram menarik nafas panjang menenangkan hati dan fikirannya.
"yasudah nanti sore aku pulang" Bram menjawab dengan dingin.
"kenapa di saat mas baik seperti ini ke padaku aku memutuskan untuk meminta cerai, aku harus kuat aku yakin mas pun setuju dengan pilihan ini, maafin aku mas." bisik lirih hati Allea, ia tak menyangka rumah tangganya akan berakhir, seperti ini setelah hampir 4 bulan akhirnya harus berakhir dengan kata CERAI.
.