Amanda Jhonson dijual oleh tunangan dan kakak tirinya pada seorang pria tua untuk membayar hutang,hal itu membuat hidupnya hancur dalam satu malam.
Di malam yang mengerikan,Amanda ditangkap dan dipaksa untuk melayani seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Tapi pada malam itu,untuk menjaga kesuciannya Amanda membunuh pria tua itu.
Karena itu,Amanda divonis penjara selama lima tahun karena terbukti telah menjadi pembunuh dengan bukti-bukti yang ada.
Tapi baru saja Amanda menjalani masa tahanannya seorang pria yang tertarik padanya menemui wanita itu dan menawarkan bantuan padanya.
Pria itu juga berjanji akan membantu Amanda bebas dari jeruji besi dan membantu Amanda membalas dendam tapi dengan sebuah syarat.
Apakah Amanda akan menerimanya?
Sekuel dari Hot Mother And The Bos Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Pagi itu Edward terbangun dari tidurnya lebih cepat, pria itu tersenyum dan mengusap wajah Amanda yang masih tidur dengan nyenyak disampingnya dengan lembut.
Dia tidak ingin membangunkan wanita itu karena dia yakin Amanda pasti sangat lelah karena permainan mereka.
Edward turun dari atas ranjang dan menuju kamar mandi, setelah mandi dia keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar itu dengan pelan.
Edward berjalan kearah dapurnya dan disana tampak Natalie sedang menyiapkan sarapan, wanita itu segera membalikkan badannya saat tahu majikannya menarik sebuah kursi dan duduk disana.
Dengan cepat Natalie menghampiri Edward dan tersenyum dengan manis pada pria itu.
"Selamat pagi tuan Jackson."
Edward hanya diam saja dan meraih sebuah majalah yang berada diatas meja, hal itu membuat Natalie sedikit kesal, dia sudah lama bekerja dengan pria itu apa Edward tidak pernah tertarik padanya?
Apa dia harus menggoda pria itu dan naik keatas ranjangnya tanpa busana seperti yang dilakukan oleh mantan napi itu?
Sepertinya dia harus melakukan hal itu tapi sebelum itu dia harus menyingkirkan Amanda terlebih dahulu dan inilah harinya, dia sudah menyiapkan rencana untuk menyingkirkan wanita itu.
Semalaman dia sudah memikirkan hal ini dan telah menyusun recana dengan matang, dia yakin tidak akan gagal.
Natalie segera berlalu untuk membuat kopi,btidak lama kemudian wanita itu kembali lagi dengan segelas kopi ditangannya.
"Tuan, kopimu." Natalie meletakkan gelas kopi itu dihadapan Edward.
"Natalie."
"Ya tuan."
"Saat Amanda bangun nanti siapkan makanan untuknya." perintahnya.
"Pasti tuan Jackson." Natalie tersenyum dengan licik saat mengatakan itu.
Setelah selesai meminum kopinya, Edward segera pergi untuk bekerja, dia harus segera pergi karena ada urusan penting dikantornya.
Sedangkan Natalie, mulai melakukan rencananya. Edward sudah pergi dan pria itu akan kembali sore nanti jadi siapa yang akan menolong wanita itu nanti?
Saat itu didalam kamar,Amanda terbangun karena suara ponselnya yang berbunyi. Amanda duduk diatas ranjang dan mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Edward sudah tidak ada, apa pria itu sudah pergi? Kenapa tidak membangunkannya?
Amanda segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, matanya tertuju pada dadanya yang dipenuhi tanda merah yang sudah tampak seperti lebam karena perbuatan Edward.
Wajahnya memerah saat mengingat kejadian semalam,bkenapa dia begitu berani berinisitif melakukan hal itu? Amanda mengeleng pelan, sebaiknya dia segera mandi dan pergi kekantor.
Saat telat selesai Amanda segera keluar dari kamar itu sambil membawa tasnya, semalam dia lupa meminum pil kontrasepsinya dan pagi ini harus dia minum.
Jangan sampai dia hamil karena Edward tidak menginginkannya, pria itu hanya menginginkan tubuhnya dan pada waktunya nanti, dia akan dibuang oleh Edward saat pria itu sudah bosan.
Amanda menganggap dia hanya menjadi pemuas nafsu pria itu saja dan setelah itu akan langsung ditinggalkan, jangan sampai dia hamil karena dia tidak mau anaknya terlantar dan tidak mempunyai ayah nantinya.
Begitulah kenyataannya, dia sudah banyak melihat hal seperti itu dan dia sendiri tidak menyangka akan mengalaminya.
Amanda berjalan kearah dapur dan meletakkan tasnya diatas meja, disana tampak sepi sedangkan makanan sudah terhidang diatas meja. Mungkin Natalie sedang melakukan pekerjaannya yang lain tapi untuk apa dia perduli?
Amanda mengambil pil kontrasepsi dari dalam tasnya, dia harus segera minum obat itu sebelum Natalie kembali.
Setelah meminum obatnya tampak Natalie masuk kedalam dapur dan menatapnya penuh dengan kebencian seperti tatapan yang biasa dia berikan pada Amanda.
"Sudah bangun pemalas." sindirnya.
"Ya, aku terlalu lelah semalam, kau tahu bukan?" Amanda menatap Natalie dengan tajam pula.
Dia memang sengaja memanasi wanita itu karena ingin melihat reaksinya, dia ingin tahu kenapa Natalie begitu membencinya.
"Kau wanita ja*ang!" Natalie mengepalkan tangannya degan erat. Dia tahu dan dia mendengar perbutaan mereka semalam. Sekarang dia tambah yakin jika Amanda memang sengaja melakukan itu untuk memanasinya.
Tapi tidak akan dia biarkan karena hari ini adalah hari terakhir untuk mantan napi itu, Natalie tersenyum dengan jahat dan berkata dalam hati:
"Nikmati sisa waktumu wanita ja*ang!!"
Amanda menarik sebuah kursi dan duduk disana, perutnya sudah lapar dan sebaiknya dia segera makan. Dari pada berdebat dengan Natalie sebaiknya dia makan dan berangkat kekantor.
"Apa kau yang memasak semua ini Natalie?" Amanda bertanya demikian sambil menyendok makanan diatas piringnya.
"Menurutmu!!" Natalie berjalan kearah lemari dan mengambil serbuk kopi dari sana. Hari ini dia akan memberikan pelayanan terbaik untuk terakhir kalinya pada wanita ja*lang itu.
"Kau pandai memasak, sepertinya kau calon istri yang ideal." puji Amanda.
"Untuk itulah aku berada disini." jawab Natalie dengan percaya diri.
Amanda tersenyum mendengarnya, sekarang bisa dia simpulkan kenapa Natalie membencinya, sepertinya wanita itu masuk kedalam rumah itu karena menyukai Edward Jackson.
"Kau tidak perlu kawatir Natalie, aku tidak akan merebut posisimu." jawab Amanda sambil memakan makannya.
"Memang tidak!" Natalie meletakkan segelas kopi didepan Amanda.
"Terima kasih." Amanda tersenyum padanya.
Natalie tersenyum dengan jahat saat melihat Amanda memakan makanannya sampai habis, dia sangat ingin melihat wajah wanita itu menjelang ajalnya.
Amanda meletakkan gelas kopinya dan hendak bangkit berdiri tapi pada saat itu kepalanya sangat sakit luar biasa begitu juga dengan perutnya.
Amanda kembali terduduk sedangkan keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya, sepertinya ada yang salah, apa dia salah makan?
"Natalie." Amanda berusaha meminta tolong pada Natalie tapi wanita itu hanya berdiri ditempatnya dengan senyum jahat mengembang diwajahnya.
"Apa yang kau berikan?" Amanda mulai memegangi dadanya yang mulai sesak, sedangkan matanya mulai naik keatas.
Amanda jatuh dari duduknya dan tersungkur diatas lantai, nafasnya semakin sesak sedangkan kepalanya sakit luar biasa.
"Nikmati sisa waktumu ja*lang, memang kau tidak bisa merebut posisiku menjadi nyonya rumah ini." kata Natalie dengan sombongnya.
Air mata Amanda jatuh dari kedua matanya, sepertinya Natalie menaruh racun dimakanannya. Amanda berusaha mengerjapkan matanya, mungkin inilah akhir dari segalanya.
"Mom, dad, aku akan segera menemui kalian dan Edward Jackson terima kasih untuk hari yang indah yang telah kau berikan." katanya ditengah kesadarannya yang masih ada.
Mungkin inilah waktunya, ini lebih baik dari pada dia mati didalam penjara sana.
Amanda tidak bergerak lagi sedangkan matanya mulai terpejam, Natalie melihat kearah Amanda dan tampak puas.
Inilah yang dia rencanakan dari semalam, memberikan racun untuk menyingkirkan wanita itu dan dia harap racun itu cepat bekerja supaya dia bisa menyingkirkan mayat mantan napi itu dengan cepat.
Dan pada saat Edward Jackson kembali, pria itu tidak akan bertemu lagi dengan wanita itu dan jika pria itu bertanya maka akan dia katakan bahwa dia tidak tahu.
Setelah wanita itu tidak ada, dia akan naik keatas ranjang Edward untuk menggodanya.
waktu amanda dibawa ke penjara dan disidang, bantu pun tidak
Kau sudah menghancurkan hidupnyaa
dasar bodoh..