Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.
Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.
Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Tragedi
Setelah memakan beberapa suap makanan itu, tiba tiba kepala Kumala terasa sangat berat.
"Eeh..ada apa ini..?."
Tiba tiba pandangan nya terasa kabur, semua nampak berputar, samar samar di lihatnya sang Ratu Dewi Mata Iblis nampak tersenyum miring, menakutkan.
Sekuat tenaga kumala berusaha menahan mata dan kesadarannya, namun seluruh badan rasanya lemas sekali.
Ingin berteriak namun tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
"Aaaa....aaa.." hanya suara terputus putus.
Terdengar samar suara tertawa yang mengerikan dari sang Ratu dengan memberi perintah.
"Buang ****** kecil ini ke hutan larangan, agar di mangsa binatang yang ada disana..!," sayup sayup terdengar suara Ratu Dewi Mata Iblis terdengar samar di telinga kumala sebelum akhirnya semua tampak gelap.
**
Pelangi kini makin sering bertemu dengan sang prabu Danar Kencono, ayahanda nya.
Bahkan kini mereka memiliki tempat khusus untuk bertemu, sebuah hunian sedikit jauh dari istana yang memang di beli oleh sang Prabu Danar Kencono, agar lebih bebas bertemu dengan keluarga nya ( anaknya).
Hari ini rencananya sang Prabu akan mengajak ibu permaisuri untuk bertemu dengan putri kesayangannya, itu membuat sang ibu permaisuri sangat senang dan tak sabar.
Semua persiapan sudah di lakukan, termasuk pasukan Gardaraja yang akan mengamankan lokasi pertemuan.
Pasukan khusus yang sudah beberapa hari ini selalu hilir mudik mengamankan sebuah lokasi, ternyata menarik perhatian dari para pengintai.
Tanpa di ketahui oleh para pasukan kerajaan itu, pasukan pengintai dari berbagai kelompok itu bahkan sudah bersiap di tempat masing masing, begitu mengetahui mengapa sang Raja sering ke tempat tersebut.
Berita hadir nya sosok anak yang terkena Ndaru Kolocokro muncul kembali bahkan sudah tersebar luas di kalangan bawah.
Hal itulah yang kini tengah di awasi oleh beberapa kelompok, termasuk kelompok Api Suci, kelompok Es Abadi, juga beberapa kelompok yang lain termasuk dari kerajaan kecil, maupun kerajaan Agung, bahkan mungkin juga dari pasukan pengintai Mata Iblis.
**
Kumala mulai tersadar dengan badan terasa lemas, kepalanya terasa pusing dan mata terasa berat.
Meski begitu dia tak mampu berkata apa apa, apalagi berteriak.
Setengah sadar dirinya merasa badannya bergoyang goyang seperti naik kereta tanpa penutup hanya ada dedaunan yang menutupi tubuhnya.
Setelah sang Ratu Dewi Mata Iblis memerintahkan kepada pengawal khusus nya untuk membuang tubuh Kumala, maka beberapa orang bergerak dengan cepat, agar tak di ketahui oleh yang lainnya.
Mereka membawa tubuh Kumala dengan kereta kuda tanpa atap, kereta yang di khususkan untuk mencari rumput itu hanya di tutupi dedaunan, untuk mengaburkan para penjaga.
"Ayo cepat..hari makin pagi...!!, kita sudah melewati ketatnya penjagaan jangan sampai mereka curiga..!," kata salah satu orang yang membawa Kumala ke arah hutan Larangan.
Kereta kuda itu berlari kesetanan agar segera sampai di hutan Larangan, orang orang Dewi Mata Iblis bergerak cepat ke arah dimana dia di perintah kan membuang tubuh Kumala ke sana oleh sang Ratu itu.
Hutan Larangan adalah salah satu hutan yang di takuti oleh para pendekar, apalagi orang biasa sangat ketakutan hanya dengan mendengar namanya saja.
Sebuah hutan yang terkenal wingit dan angker, selain banyaknya binatang buas yang sangat liar, hutan tersebut juga sangat berbahaya oleh sebab adanya sesosok makhluk yang tak kasat mata, yang menurut beberapa kalangan sangat berbahaya.
Namun semua tak tau apa wujud dari sosok tersebut, karena tak ada yang pernah menjumpainya, hanya sisa sisa para korban saja yang tertinggal dari keganasan sosok tersebut.
Sosok tak kasat mata itu lah yang selama ini di percaya menjadi penyebab banyaknya korban berjatuhan yang nekat memasuki kawasan itu, apalagi bertindak tak sesuai dengan kesopanan.
"Berhenti...!!," teriak salah satu orang yang menjadi kusir kereta yang membawa tubuh Kumala.
"Cukup di sini saja, kita buang gadis ini di jurang depan, kita jangan masuk terlalu dalam karena berbahaya," kata orang itu lagi.
Yang lainnya juga mengangguk, karena sama sama tau se "wingit" apakah hutan Larangan itu.
Mereka lalu mengangkat tubuh Kumala dan dengan segera melempar ke dasar jurang yang menganga.
Kumala hanya merasa badannya terbang, terlempar kemudian rasanya terbentur sesuatu yang membuat semua gelap gulita.
**
"Kakang aku merasa akan ada sesuatu, apakah kau juga merasa demikian..?," kata Nyai Nilam Sari yang melihat orang orang rimba persilatan makin berlalu lalang.
Mereka masih duduk di tempat makan di sebuah warung yang ada di Kotaraja kerajaan Ngarsopuro.
"Hmm.., Nampaknya begitu Dinda."
"Lebih baik kita abaikan saja mereka, karena kita sudah tak lagi mengurusi dunia persilatan," sahut Randu Sembrani sambil tersenyum ke arah istrinya, sembari memakan nasi jagung yang di pesannya.
Nyai Nilam Sari mengangguk, "Tapi kita tak bisa diam saja kakang, jika memang ada kejahatan di sini," rengek sang istri.
Randu Sembrani mengangguk kembali dan tersenyum.
Meskipun usia keduanya tak lagi muda namun sikap mesra suami istri tersebut tak kalah sama pasangan muda.
Randu Sembrani sangat memanjakan istrinya, meski mereka tak memiliki keturunan namun tak mengurangi sikap nya memanjakan sang istri.
"Kita ikuti saja mereka mau kemana dan mau apa setelah kau menghabiskan nasi jagung mu Dinda."
Randu Sembrani berkata kembali, membuat sang istri tertawa senang karena rasa penasaran nya akan tingkah orang orang itu, di turuti sang suami.
"Iya Kakang."
**
Rombongan Prabu Danar Kencono dan Permaisuri sudah tiba di hunian yang di tuju.
Pasukan Gardaraja sudah menyebar untuk menjaga tempat tersebut.
Prabu Danar Kencono dan Permaisuri lalu memasuki tempat tersebut, namun masih belum nampak kehadiran Pelangi maupaun Jaya Sanjaya serta Jayeng Rono.
"Mana anakku kakangmas Prabu..?," tanya Permaisuri dengan tak sabar.
Prabu Danar Kencono tertawa melihat sang istri, "Sabar..mungkin masih perjalanan permaisuri ku." katanya menenangkan.
Tak berapa lama memang datang tiga kuda mendekat kearah hunian tersebut.
Tampak Jayeng Rono, Jaya Sanjaya dan Pelangi yang sudah lumayan mahir mengendarai kuda, perlahan mendekat.
Setelah mengucapkan salam, ketiganya masuk ke hunian itu.
Permaisuri yang melihat anak gadisnya langsung meloncat lalu memeluk Pelangi, sambil menangis haru.
"Ini Ibunda anakku..!," kata Permaisuri dengan menangis.
Pelangi pun menangis, membalas pelukan sang ibunda, sambil mengangguk.
"Maafkan kami anakku, kami tak bisa melindungi mu saat itu..hu..hu..hu.." tangis sang permaisuri masih memeluk kencang.
"Sudah..sudah...kita duduk dulu, anakmu biar tenang istri ku," kata sang Prabu menenangkan istri nya.
Mereka berkumpul di sana, terutama permaisuri dan Pelangi yang lebih banyak berbincang, hingga tiba tiba terdengar keributan di luar.
"Gawat Yang Mulia..," teriak Kidang Semeleh memasuki ruangan dimana sang prabu Danar Kencono dan semuanya berkumpul.
"Ada apa Senopati..?."
"Di luar banyak orang orang yang ingin memburu sang Putri..," kata Kidang Semeleh dengan wajah pucat.
"APA...!!."
Sang Prabu dan permaisuri langsung pucat, ingatan kejadian belasan tahun silam langsung terbayang di kepala mereka.
Traaang...! traaaaaanng...!!
Di luar sudah terdengar beradunya senjata antara orang orang yang merangsek ke hunian tersebut dengan para penjaga.
"Segera kirim berita ke istana meminta bantuan pasukan..!," teriak Kidang Semeleh sambil melesat ke luar hunian membantu anak buahnya menahan ratusan orang yang dengan cepat berdatangan ke tempat tersebut.
Jayeng Rono dan Jaya Sanjaya langsung bergerak melindungi Pelangi, Raja serta sang permaisuri.
Puluhan pasukan Gardaraja sudah terdesak hebat oleh gempuran dari gabungan berbagai kelompok itu.
"Hiaaa...!!."
Seorang dengan jurus element Api menebaskan pedangnya yang berhawa panas ke arah Bekel Soponyono yang juga mengawal sang Prabu.
Traaang ..!!
Tebasan pedang tersebut dengan mudah di hadang oleh pedang Bekel Soponyono alias guru Benowo, hawa panas dari pedang lawan yang menjalar di badannya segera di netral kan dengan tenaga dalam yang di alirkan ke tangan nya.
Ratusan orang tersebut langsung memasuki halaman hunian begitu para Gardaraja yang hanya berjumlah puluhan itu sudah berhasil di rontok kan.
Kini hanya sebagian para petinggi Gardaraja yang masih tersisa, termasuk Bekel Soponyono, Senopati Kidang Semeleh dan beberapa orang Gardaraja.
BRAAAAAKK...!!
Pintu utama berhasil di jebol, daun pintu itu melayang hingga hampir mengenai Permaisuri dan Pelangi jika tak di hantam hingga hancur oleh Jaya Sanjaya.
DAAARR..!!
Pintu itu pecah, hancur berkeping keping.
"Lindungi Yang Mulia dan Permaisuri..!!," teriak Jaya Sanjaya yang juga langsung menghadang seorang tokoh dari Partai Es Abadi yang sudah berniat menangkap tangan Pelangi.
Jayeng Rono bersama Kidang Semeleh langsung menjadi tameng dan mengamankan Raja dan Ratu Kerajaan Ngarsopuro itu, dari perusuh yang kian brutal.
"Serahkan gadis itu..!!," teriak tokoh dari Partai Es Abadi yang bernama Langgeng Darmo, dia merupakan tokoh partai Es Abadi yang berada di lingkaran Ring delapan.
"Pemuda sialan...!!, jangan menghalangi kami jika sayang nyawamu..!!," teriak salah satu tokoh dari kelompok Api Suci bernama Topo Rubedo , yang juga sudah melesat maju.
"Cuiih...kalian hanya bisanya main keroyok, jika sendiri sendiri sudah aku tebas lehermu..!," balas Jaya Sanjaya geram memandang dua anggota kelompok dari dua element yang berbeda tersebut.
"Jangan banyak bacot...!!," teriak Topo Rubedo langsung menghantamkan pukulannya.
Dengan waktu yang bersamaan juga Langgeng Darmo meloncat menghantam kan pukulannya.
Dua pukulan yang berbeda hawa kekuatan itu menerjang ke arah Jaya Sanjaya yang melindungi Pelangi.
BLEGAAAART....!!
Jaya Sanjaya menyambut hantaman dari dua tokoh partai Es Abadi dan Api Suci tersebut, akibat nya terdengar ledakan cukup kuat.
_____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya.....
jgn naif dunk thor..
lha ini ktmu kok g kembali ke Jaya thor..
yg bnr mn thor?