Sekuel dari Supir untuk Sang Nyonya.
Ervino Prayoga, anak dari Malik dan Elisa yang mulai beranjak dewasa. Tanpa sengaja Ervin bertemu dengan Clara Adeline disebuah tempat wisata. Seorang gadis cantik nan manis itu membuat Ervin jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia mulai mencari tahu identitas lengkap gadis yang telah mencuri hatinya.
Nasib baik berpihak padanya. Ia mengirimkan lamaran kerja pada keluarga Clara untuk menjadi supir pribadi Clara. Dan akhirnya dengan cara curang ia menyuap orang yang menerima surat lamaran kerja dari orang lain sehingga hanya dialah satu-satunya yang mengirimkan berkas itu. Setelah mulai bekerja, ia sangat tak menyangka bahwa kepribadian dan watak Clara tak seperti yang ia kira.
Clara sangat jutek, keras kepala, pemarah dan tak segan mengutuknya. Masihkah Ervin menggapai cintanya dan menerima kepribadian Clara dengan lapang dada ataukah ia akan mencari cinta yang lain??
Simak terus kisah anak-anak dari novel pertama yang berjudul Supir untuk Sang Nyonya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black_queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 Mulai Bertindak
"Aku harus mengubah identitasku, gak mungkin kan aku ini jadi supir?" Ervin berdecak.
Mobilnya masih melaju di jalanan, tak berapa lama tibalah dia di Apotek tadi.
"Jeffrey!! kemari kamu!" pekiknya kencang.
Orang yang di panggil tergopoh-gopoh mendekatinya.
"Ada apa Bos memanggil saya?" sahutnya sembari menundukkan kepala.
"Buatkan aku KTP palsu tapi harus asli, jangan sampai orang-orang tahu siapa aku sebenarnya," jelasnya.
Mereka berdua berdiri di sudut ruangan di dalam kantor Apotek.
Jeffrey kebingungan dengan ucapan bos-nya.
"KTP palsu tapi asli?" dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Raut wajah Jeffrey berubah kebingungan.
"Pokoknya kamu buat id sesuai KTP asliku, tapi informasi di dalamnya kamu rubah," jelas Ervin lagi.
Jeffrey mulai mengerti apa yang dimaksud bos-nya, dirinya memang ahli di bidang IT dan bisa memanipulasi data. Oleh karenanya dia menjadi kepercayaan Ervin untuk mengurus data-data obat yang keluar masuk agar tidak ada karyawan lain yang bisa mencuranginya.
"Baiklah Bos, tapi kenapa Bos ingin berganti identitas? sebenarnya Bos merencanakan apa?" pria tadi bertanya-tanya.
"Pokoknya lakukan saja perintahku! aku butuh dalam dua jam, kalau sampai dua jam belum siap juga aku potong gajimu!" ancamnya serius.
"Tapi... tapi Bos," Jefrey tak bisa berkata-kata lagi.
Ervin sudah pergi menjauh, meninggalkan dirinya.
Ervin masuk kembali ke dalam mobil, kini dia harus pulang untuk mengambil sesuatu.
***
Sore hari di kediaman Tuan D
Clara sudah pulang dari perusahaan, setelah memarkir mobilnya wanita itu langsung keluar dan menghampiri pos sekuriti yang ada di pagar depan.
"Pak, gimana? udah dapet pengganti supir aku gak? aku males banget nyetir sendiri," tanyanya.
"Maaf Non, bapak sudah ngasih info sama orang di kampung, mungkin besok atau lusa ada yang ngirimin lamaran kerja," sahut sekuriti tersebut.
"Hari gini pake lamaran kerja? kenapa gak ngirim CV ke email aku aja Pak?" keluhnya.
"Maaf Non, mau tahun 2100 kalau namanya orang kampung tetap aja jauh dari jangkauan tekhnologi Non, apalagi orang seperti bapak yang berumur diatas 40 tahun, sudah dapat pekerjaan seperti ini juga Alhamdulillah Non," jelas sekuriti.
"Gak usah ceramah panjang lebar Pak, pokoknya kalau sudah ada yang mengirim lamaran kerja bapak harus memberikannya padaku!" Clara meninggalkannya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sekuriti tadi masih memandangnya dari jauh.
"Maaf Non, aku harus menyembunyikan ini dari Anda, aku masih menunggu pemuda itu mengirimkan berkasnya," sekuriti tadi menoleh ke bawah kursi.
Ada beberapa amplop coklat besar yang menumpuk.
Clara sudah masuk ke dalam rumah dan memanggil orang dapur untuk membuatkan dirinya minuman dingin.
"Tunggu sebentar ya Non," bibi bergegas kembali ke dapur untuk melaksanakan tugas majikannya.
"Kamu sudah pulang? mukamu keliatan capek banget," tuan D turun dari kamarnya.
"Banyak kerjaan Dad, ini aja aku males lembur, aku serahkan pada mereka," keluh Clara.
"Kamu itu calon pemimpin perusahaan, jadi harus kuat dan tahan banting!" tuan D duduk di samping anaknya.
"Iya Dad aku tahu, tapi kan aku baru beberapa bulan bekerja, jadi aku harus menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang harus aku selesaikan," Clara berucap panjang lebar.
"Daddy percaya sama kamu. Oh iya, kamu belum dapat supir baru?" tanyanya lagi.
"Belum Dad, capek nih ke sana kemari nyetir sendiri," keluhnya.
"Lagian punya supir malah dikibulin terus, jadi mereka pada gak betah," tuan D bersedekap.
Raut wajahnya tajam menatap manik mata anaknya.
"Janji deh Dad, mungkin ini supir terakhir selama beberapa tahun ke depan, males juga gonta-ganti supir," gadis itu menghela nafas panjang.
"Kamu udah gede Ra, makanya nurut ucapan Daddy," tuan D beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan anaknya seorang diri.
"Nurut? Daddy aja ingkar janji sama Mommy, janji gak nikah lagi eh malah nikah sama nenek gayung itu," gerutunya kesal.
Si bibi yang membawa nampan merasa heran dengan mimik wajah Nona mudanya.
"Cepetan Bik! jangan kayak siput!" perintahnya.
"Eeh, iya Non," si bibi langsung menyuguhkan minuman di meja.
Tok... tok... tok
"Buka pintu Bik!" Clara menoleh pada wanita paruh baya tersebut.
Di depan pintu bapak sekuriti berdiri mematung, di tangannya ada sebuah amplop putih.
"Ada apa Pak?" kerut si bibi.
"Berkas lamaran kerja Bik, ini aku titip buat Non Clara," ucapnya enggan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa gak masuk saja Pak?" tanya si bibi.
"Kuatir ada tamu yang datang Bik, aku hanya sendirian hari ini," pria tersebut langsung pamit untuk berjaga kembali di tempatnya.
Pria tadi melangkah degan cepat, ada seseorang yang sedang menunggunya di depan pagar. Orang tersebut duduk di dalam mobil dengan pintu yang terbuka.
"Sudah aku kasih ke Nona Clara mas, jadi tugasku selesai kan? apa ada yang perlu aku bantu lagi?" tanya pak sekuriti.
"Tidak perlu Pak! ini upahnya! senang bekerjasama dengan Bapak," orang itu menyodorkan sebuah amplop coklat.
Mata sekuriti berbinar-binar sambil menerima uluran tangan orang tadi.
"Terimakasih banyak mas, semoga ada kabar secepatnya dari Nona," ia menundukkan kepalanya dan pamit masuk kembali dengan mengantongi amplop tersebut. Senyumannya tercetak jelas.
Sementara di dalam rumah, si bibi sudah memberikan amplop coklat itu pada Clara.
"Aku pikir apaan Bik, eh ternyata berkas lamaran kerja," Clara berdiri dari tempat duduknya.
"Suruh Pak Darto panggil saja orang itu untuk bekerja besok Bik! aku malas mau melihat ini!" Clara melempar amplop coklat besar tadi ke atas meja.
"Baiklah Non, nanti saya sampaikan," sahut bibi.
Clara melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dirinya melakukan ritual sorenya di kamar mandi.
***
Ervin yang sudah berada di kamarnya, berjalan mondar-mandir seperti setrika yang kurang panas. Dia selalu memandang ponselnya yang tergeletak di ranjang.
Sesekali dirinya menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Tak berapa lama ada panggilan masuk. Raut wajahnya berbinar-binar, tapi binar itu langsung hilang ketika melihat nama yang ada di layar ponsel.
"Ngapain kau Raf?" tanyanya ketus.
"Eh buset, baru aja nelpon udah jutek gitu," gerutu Rafael.
"Males nerima telpon ajah," sahut Ervin.
"Gak jadi deh Vin, kayaknya kamu ada masalah deh, besok aja deh aku nanyanya," Rafael langsung menutup telepon.
"Kurang kerjaan nih orang," kesal Ervin sambil melempar ponselnya di kasur.
Dari luar kamarnya terdengar ada suara yang memanggil.
"VINN! MAKAN DULU!" teriak suara di balik pintu.
"Ervin gak budeg Mam, nanti aku keluar," sahutnya dari balik pintu.
Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya, dirinya langsung meraih ponsel itu dan tersenyum lebar.
"Kenapa Pak? ada kabar baik gak?" tanyanya bersemangat.
"Maaf ya mas, sebenarnya tadi itu saya...
Suara di seberang masih ragu untuk bercerita.
Bersambung
👍 so cool! 👍
💋😏😏😏😏😏💋
👌🚀🚀🚀🚀🚀👌
🚗📷📷📷📷📷🚗
😈😈😈😈😈😈😈