NovelToon NovelToon
Happy & Sad

Happy & Sad

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa-Teen school / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:108.6k
Nilai: 5
Nama Author: Haridwan _

Fajar adalah seorang anak brokenhome yang sangat membenci ayahnya. ia merupakan anak kelas 3 SMA. Di semester awal sekolah, ia bertemu dengan Andini yang merupakan seorang siswi baru disekolahnya. Fajar mecintainya pada pandangan pertama. Tapi saat berusaha mendekatinya, Fajar selalu diacuhkan. Sikap Andini yang dingin membuat Fajar harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hatinya. apakah ia berhasil? apakah Andini akan menerimanya? baca terus ceritanya😄

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haridwan _, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembuh

"Ref, Fajar katanya udah dipindahin ke rumah sakit lain. Yang lebih deket dari sini!."

"Ya udah. Kita jenguk lah ya?."

"Iya. Kita ajak Bang Ipan atau jangan?."

“Enggak usah deh. Tapi izin aja sama dia!."

"Iya."

Mereka berangkat untuk menjenguk Fajar. Di dalam mobil mereka memperdebatkan apakah mereka harus mengatakan keadaan Fajar pada Andini atau tidak.

"Bilang aja lah ren ya?."

"Jangan ref. Kamu enggak denger kata

Fajar?."

"Tapi kan aku sebagai cewek. Kalau cowok aku enggak hubungin aku. Aku khawatir tahu."

"Dan aku sebagai cowok enggak mau bikin cewek aku khawatir dengan bilang keadaan buruk aku kayak gimana."

"Oke. Kita bilang aja kalau udah

waktunya."

"Nah iya aja deh kalau gitu."

***

"Fajar. Gimana kabarnya. Gue kangen tahu. Kangen kita main bareng lagi sama Rendy sama Andini. Padahal Lo baru beberapa hari di rumah sakit. Tapi Gue kangen banget." Ucap Refina pada Fajar yang tubuhnya hanya terbaring kaku dengan mata terpejam tak sadarkan diri.

"Iya jar. Bangun dong. Sembuh!. Nanti kita main game atau ngapain gitu. He he." Tutur Rendy dengan mata berkaca kaca.

***

"Jam besuk sudah berakhir."

"Iya sus tunggu sebentar lagi. Jar Gue sama Rendy pulang dulu. Lo baik-baik ya. Cepet bangun."

"Udah ref. Kita pulang."

Diperjalanan pulang, Refina teringat bahwa HP-nya tertinggal dikamar Fajar.

"Kebiasaan. Kalau abis foto-foto suka lupa dibawa lagi." Keluh Rendy

"Iya maaf."

"Gimana?. Mau puter balik?."

“Enggak usahlah. Besok aja."

"Nanti kalau dibuka sama orang lain gimana?."

“Enggak akan. Soalnya dipassword. Dan yang tahu passwordnya cuma kamu sama Fajar."

"Oh ya udah besok aja. Eh sekarang mampir ke kafe Bang Ipan dulu ya?. Laper." "Iya deh iya."

***

Mereka makan sambil mengobrol bersama Bang Ipan. Bang Ipan menanyakan kabar Fajar. Yang hanya Refina jawab dengan mengucapkan bawa Fajar belum juga sadar. Bang Ipan mencoba menyabarkan mereka berdua. Dan berharap semoga Fajar lekas sembuh. Meskipun dihatinya, Bang Ipan menyimpan rasa sedih yang mungkin lebih daripada Rendy dan Refina. Menurutnya, Fajar sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Dari awal Fajar datang ke kafenya dan mencari pekerjaan. Hingga ia tinggal di kafenya. Semuanya selalu teringat oleh Bang Ipan.

Saat Refina sedang memesan minum, Rendy berteriak memanggilnya.

"Ref.. Refina.."

"Iya apa?."

"Kamu yakin HP kamu ketinggalan?."

"Iya. Enggak ada ditasku juga."

"Terus ini. Kenapa ada pesan baru ke

kirim?."

"Pesan terakhir aku ke kamu cuma pas ngajak ketemu doang!."

"Ini voice note."

"Berarti itu bukan aku!."

"Jadi siapa?."

"Fajar!!." Teriak mereka berdua kaget. Dengan gegas mereka menyimpan uang di meja dan berlari menuju mobil. Rendy menjalankan mobilnya ke rumah sakit dengan sangat kencang.

Mereka tidak memedulikan pesan voice note tadi karena panik. Di rumah sakit Rendy berusaha memanggil dokter. Ia berteriak di rumah sakit. Membuat semua orang memperhatikannya.

"Dokter... dokter!!. Dokter yang kemarin meriksa orang di ruangan mawar mana?!."

"Iya mas ada apa."

"Dok tolong periksa temen saya!!. Dia

sadar!."

"Loh dari mana mas tahu?."

"Dia kirim pesan sama saya lewat HP pacar saya!!. Cepet dok!!."

"Baik saya periksa."

Mereka semua masih panik, Rendy dan Refina menunggu di luar ruangan Fajar sambil memperhatikan ke dalam ruangan tempat Fajar dirawat. Mereka berdua berdoa semoga Fajar sadar sembuh.

***

"Hai Fajar. Aku sekarang pulang nih ke Bandung. Maaf ya aku baru hubungin kamu lagi." Ucap Andini di kolom chat.

"Iya An. Wah bagus dong!."

"Jar aku punya kabar yang paling baik banget!."

"Apa?."

"Aku dihubungin sama dokter spesialis aku. Katanya ada yang mau donor ginjalnya buat aku!."

"Wah. Alhamdulillah. Siapa orangnya?. Aku mau bilang makasih sama dia. Soalnya dia udah jadi malaikat."

"Iya. Katanya yang donornya itu cewek. Jadi udahlah kamu enggak usah ketemu dia!."

"Cemburu?."

"Eh enggak. Cemburu apaan?."

"He he. Iya, iya. Andini cantik."

"Gombal terus!!."

"Ha ha."

"Eh iya. Makasih ya. Berkat kamu bela belain berdiri dipinggir jalan. Sampe ada yang mau donorin ginjalnya ke aku."

"Ih bukan. Semua itu karena netizen. Ha ha. Kan mereka bikin aku jadi selebriti sebentar!."

"Iya. Makasih matahari terbit!." "Iya."

***

Andini pulang ke Bandung dengan perasaan senang. Ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya. Semua ini karena Fajar yang rela berkorban untuknya. Fajar yang rela panas-panasan berdiri dipinggir jalan hanya untuk mencari donor untuk Andini.

Pengorbanan Fajar benar-benar besar untuknya. Mungkin, kali ini ia akan menerima cinta Fajar. Menerima Fajar untuk menjadikannya seseorang yang berharga dihidupnya, jadi pasangannya lebih tepatnya.

Esoknya Andini diperiksa oleh dokter terlebih dahulu tentang kesiapan tubuhnya dalam menjalani operasi dan kecocokannya dengan pendonor.

"Jar hari ini aku diperiksa dan udah mau operasi. Doain aku ya." Ucap Andini masih di kolom chat whatssapp.

"Iya. Maaf ya aku enggak bisa jenguk, aku lagi liburan sama Rendy dan Refina."

"Iya enggak apa-apa. Yang penting doain. Eh iya. Kalau aku udah agak membaik setelah operasi, nanti aku mau kita jalan-jalan berdua, aku mau bicara sama kamu!."

"Iya Andini. Semangat!!."

"Makasih!."

Usai diperiksa, Andini mulai berbaring dan operasi pun dimulai. Ibu dan ayah Andini terlihat sangat takut dan berharap Andini akan baik-baik saja. Bagi Andini, kini semua penantiannya, semua harapannya untuk sembuh meski hanya untuk beberapa tahun, telah terwujud. Semuanya terasa ringan sekarang. Tak ada lagi beban, tak ada lagi rasa takut akan meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.

Semuanya sudah hilang dalam pikirannya.

Transplantasi ginjal akhirnya berhasil. Dokter mengabarkannya pada Ibu dan ayah Andini. Keduanya bernafas lega, semuanya berjalan lancar. Andini masih terbaring lemas di tempat tidur pasca operasi. Kedua orang tuanya hanya menatapnya sambil tersenyum. Beberapa hari kemudian, Rendy dan Refina menjenguk Andini.

"Hey..." Refina datang dengan wajah tersenyum dan langsung memeluk Andini erat.

"Kangen..." tutur Andini pada Refina.

"Hai Andini."

"Hai ren. Kalian berduaan aja. Mana

Fajar?."

"E... itu. Fajar lagi sibuk. Dia cuma nitip pesen aja katanya cepet sembuh."

"Yah... ya udah deh. Kalian gimana?."

"Gimana apanya?."

"Kabarnya!!."

"Oh baik. Kita baik banget. Hubungan kita juga baik. He he."

"Eh Gue itu belum sempet ketemu kalian dari awal pulang ke Bandung. Gue itu bawa oleh oleh."

"Apaan? Ondel-ondel ya?. Wah bagus tuh. Gue bisa pake keliling kampung!."

"Bukan. Gila kali Gue bawa ondel-ondel!. Gue cuma bawa kaos, miniatur sama topeng ondel-ondel doang sih. Oh iya sama dodol

Jakarta."

"Mana? Sekarang dibawa enggak?."

"Iya. Bentar lagi ada yang nganterin. Soalnya Gue bilang kalau kalian bakalan jenguk jadi Gue suruh mama bawa oleh olehnya kesini."

Mereka bertiga terus saling melemparkan obrolan. Rendy dan Refina terus mencari topik lain agar Andini tidak melulu menanyakan Fajar. Hingga Ibu Andini datang dan membawakan oleh-oleh.

Huh. Akhirnya Gue bisa nyari topik lain. Ujar Rendy dalam hati.

"Nih oleh olehnya. Jangan lupa kasih

Fajar!."

Rendy dan Refina saling menatap.

"Eh liat." Rendy mengenakan topeng ondel-ondel dan menari-nari.

"Kayak topeng monyet!!. Bukan ondelondel!." Tukas Refina.

"Udah ya An. Kita pulang dulu!. Tante, kita pulang."

"Iya. Hati-hati di jalan!."

"Itu temen-temen kamu An?."

"Iya Ma."

"Baik-baik banget ya. Kamu kok bisa mau temenan sama mereka?."

"Karena Fajar." Ucap Andini sambil tersenyum.

***

"Aduh ref... gimana ini?. Masa kita enggak ngasih tahu tentang si Fajar."

"Iya. Tunggu dia sembuh dulu. Kamu mau nanti dia tiba-tiba gimana-gimana. Dia kan baru selesai operasi."

"Aduh. Jadi pengen nangis!."

"Jangan cengeng!." Tukas Refina sambil menitikkan air mata.

"Kamu juga." Mereka berdua saling memeluk dan melepaskan kesedihan mereka.

"Jar. Kamu ke mana?. Kok enggak

nengokin aku?."

"Aku sibuk."

"Kok kamu jadi gitu. Balas pesan jadi berbeda semenjak aku pulang dari Jakarta."

“Enggak. Aku gini-gini aja."

"Kamu kenapa?. Jawab yang jujur!."

Pesan itu berakhir. Tak ada balasan lagi. Beberapa minggu berlalu. Rendy dan Refina memutuskan untuk menjenguk Andini untuk terakhir kalinya sebelum Andini pulang.

"Hai ref. Ren. Fajar enggak kesini lagi?." Rendy dan Refina menggelengkan kepala.

"Dia itu kenapa sih sama Gue?. Ada salah apa Gue sama dia."

“Enggak. enggak ada apa-apa kok. Lo enggak salah." Jelas Refina untuk menenangkan.

Andini mencoba mengirim pesan pada

Fajar.

"Eh An. Nyokap Gue nyuruh Gue pulang buat Anterin dia katanya. Gue pulang dulu ya?." Elak Rendy saat ada pesan muncul di HP-nya entah pesan dari siapa karena Rendy tidak ingin memberitahu keadaan Fajar.

"Eh kok cepet banget sih?."

"Ren aku ikut ya?."

"Eh ref. Kok Lo juga ikut sih. Temenin Gue dong!."

"Aduh gimana ya?. Gue harus pulang!." Jelas Rendy.

"Oh gini aja deh. Gue mau kalian panggilin dokter ya?."

"Iya."

Saat dokter datang. Andini berniay menanyakan perihal keadaannya dan apakah ia boleh pulang. Belum sempat andini bertanya, Ibu dan ayah Andini lalu datang.

"Pa. Aku mau pulang!."

"Iya. Hari ini tapi enggak sekarang."

"Eh. An. Kita pulang ya?." Tanya Rendy.

"Bentar!."

Aduh ada apaan sih? Tolong jangan pulang sekarang dan nanyain si Fajar ada di mana.. pinta Rendy dalam hati.

"Dok. Saya mau ketemu sama yang

donorin ginjalnya ke saya boleh enggak?." Dokter diam sejenak sebelum menjelaskan.

"Mba bisa tanya sama temennya. Karena pendonornya kesini melalui temen mbak."

"Oh. Gitu. Ren. Anterin Gue ketemu sama dia dong!."

"Mmmm. O...ke... . Tapi enggak di sini. Pendonornya rumahnya di luar. Agak jauh!."

“Enggak apa-apa."

"Hmmm ya udah ayo." Ucap Rendy.

"Ayo ren. Kita naik mobil." Ucap Refina.

"Eh om sama tante juga ikut deh!."

"Iya. Ma. Pa. Ayo kita berangkat!."

Andini menaiki mobil ayahnya. Rendy dan Refina menaiki mobil Rendy. Rendy di depan dan menunjukkan jalan yang akan mereka tuju. diperjalanan, Andini mengirim pesan Pada Fajar.

"Fajar, Terima kasih. Karena kamu aku bisa bertemu dengan seorang pendonor yang baik hati. Sekarang aku mau ketemu sama dia. Kuharap kamu juga ada disana, Aku mau ketemu sama kamu juga."

"baik An, Aku tunggu disana." Usai pedan itu, Andini sangat bersemangat.

Mereka pun sampai dan memarkirkan mobilnya. Rendy turun sementara Andini hanya menatap heran karena yang ia lihat adalah pemakaman.

"Kok kesini sih?." Tanya Andini sambil mengeluarkan kepalanya ke jendela mobil.

"Iya emang di sini orang yang donornya."

"Ayo kita beli bunga dulu!."

"Oh jadi dia tukang bunga di pemakaman ya?. Bilang dong!."

Rendy menggelengkan kepalanya.

"Udah ayo beli dulu." Andini turun dan menggunakan kursi rodanya mengikuti Rendy.

Setelah itu Rendy lalu mengajak mereka masuk ke pemakaman. Andini masih menatap heran. Kenapa Rendy mengajaknya kesini.

Aku kembali, dan aku akan mulai memperbaiki hatimu yang pernah aku lukai. Mengubah kata tidak menjadi kata terima. - Andini.

1
Anugrah
mantap
fanilia
nasibnya sama bangett
Kipi
Kek nya seru
Mugiya
👍👍👍👍👍👍👍
nyyy
pasangan terbengek uhuhuuu😢😭
nyyy
buset😭
nyyy
huhuuu😢
nyyy
niat dia baik lo
nyyy
galak amat mba
nyyy
huhuuuu
nyyy
sinis amat parah, nanya nama doang d bilang kepo ckck
Ahmad Haidir
tidaaakkkk,,,
Ahmad Haidir
nahhh sering terjadi
yang donorin ginjal kamu si fajar andini...duh kak mataku kena bawang ini
witing tresna jalaran saka kulina....
adanya cinta karena terbiasa..
* terbiasa bertemu
*terbiasa berantem
* terbiasa jalan bareng
* terbiasa ngobrol
* dan terbiasa2 lainnya
suka dengan karyamu thor.
a cup of coffe for you ,Jar
Putri
ihh mewweeek jd nya...
hiks..hiks...
Usagi
sedih endingnya
Why_Wan
dari sekian banyak novel yg aku baca, hampir rata2 happy ending,, tapi ini bikin nyesek..!! auto mewek jadinya😭😭😭😭
Putri Kheisya
Kaka lanjut episodes nya dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!