"Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia!. Dia menginginkan hubungan kita hancur sayang, tolong percaya sama aku" ucap Anne mencoba menjelaskan semua pada Jovi.
Dalam hubungan tidak ada kepercayaan di antara mereka berdua. Setiap ada masalah, maka Anne lah yang selalu jadi sasaran dalam percintaan mereka berdua.
Setiap penyesalan itu datang di akhir. Sebuah pernikahan yang terjadi antara Anne dan Brian, mereka tidak saling mencintai. Brian membenci wanita karena wanita itu pembawa sial dalam hidupnya.
Menikah dengan wanita yang tidak di cintai adalah hal yang terburuk dalam hidup Brian.
Membenci wanita tapi menginginkan wanita malam setiap saat.
Apakah suatu saat nanti, hati Anne akan memaafkan semua kesalahan Brian? dan ternyata Brian adalah seorang mafia yang sengaja di sembunyikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesyufa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergilah kamu
Flashback on
Di taman ada seorang anak kecil perempuan yang sedang di ganggu oleh mereka anak lainnya, Anne berusaha melawan mereka tersebut tapi mereka banyak sekali lebih dari tiga orang. Salah satu dari mereka menarik rambut Anne, membawanya masuk ke dalam gudang.
"Apa yang kita lakukan selanjutnya?" tanya Sania.
Dia adalah Sania, salah satu wanita yang menyukai Brian. Melihat Anne yang sangat lemah jadi mudah di atasi dan menjauhi Anne dari Brian.
"Biarkan dia terkurung di dalam sini, itu adalah hukuman yang bagus untuknya yang sudah memperebutkan Brian dariku!" jawab Sania.
"Apa dia tidak apa-apa, kalau terjadi sesuatu dengannya bagaimana?".
"Biarkan saja, aku tidak peduli. Ayo kita pulang" ajak Sania pulang pada mereka.
"Ayo!".
Mereka pun pulang ke rumah karena hari sudah sore, Sania pulang dengan hati yang bahagia. Tanpa di sadari bahwa sebenarnya Brian sudah tahu kalau rencana Sania untuk menyakiti Anne, Brian menyuruh pamannya untuk membantu menyelamatkan Anne yang masih terkurung di dalam gedung sana.
"Jangan sampai om Danial tahu kalau Cia terkurung disana, nanti om Danial tidak mengizinkan dia keluar rumah lagi" kata Brian dengan khawatir.
"Lalu apa yang harus paman lakukan, kamu tahu kan Danial itu seperti apa kalau saat marah" ujar Roy.
"Biar aku sendiri saja kalau paman tidak mau!" ucap Brian penuh emosi.
"Brian... di luar sangat bahaya bagi seorang anak kecil seperti kamu".
"Aku tidak peduli, aku pergi dulu".
Brian memanggil sang sopir untuk mengantarkan ia ke tempat gedung dimana Anne di kurung, dengan kecepatan tinggi sopir membawa mobil hingga mereka sampai di depan gedung.
"Kita sudah sampai Tuan" ucap sang sopir.
"Kamu disini saja, akan aku kabari jika terjadi sesuatu".
"Baik Tuan".
Dirinya masuk ke dalam gudang dimana gudang itu sangat gelap, tidak ada orang sama sekali. Dengan beranikan diri masuk ke dalam melihat sekitar lalu memanggil Anne.
"Cia.... kamu dimana?. Anne....".
Tidak ada jawaban, ternyata Anne sudah tidur di dalam karena ia sangat takut gelap. Tak lama kemudian sebuah hewan kecil datang di depan Brian membuat Brian mati kutu, ia takut dengan hewan yang kecil itu.
"Aaaaaa".
Suara teriakan Brian membuat Anne bangun dari tidurnya, Anne bangun lalu menggendor pintu meneriakkan minta tolong.
"Tolong aku, tolong bukakan pintunya" ucap Anne.
Itu suara Anne, ternyata benar dia ada disini. Aku harua cepat menolongnya, hewan ini membuat aku terkejut setengah mati. Lebih baik aku kesana sebelum Sania melakukan yang lebih dari itu.
"Cia... apa kamu di dalam?" tanya Brian.
"Brian tolong aku, disini gelap sekali. Tolong keluarkan aku dari sini, hiks".
"Sebentar!, aku akan membuka pintunya".
Bagaimana bisa buka sedangkan pintu ini tidak ada kunci, apa aku harus mencungkirnya seperti seorang pencuri. Itu bukan teknik aku, sepertinya aku panggil paman saja.
Mengambil ponsel di dalam saku.
"Paman. Kesini sebentar, aku perlu bantuan".
Ternyata pamannya ikut bersama Brian, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Brian jadi lebih baik mengalah saja. Roy paman Brian turun dari mobil membawa alat obeng juga lainnya, alat itu akan di gunakan untuk membuka pintu. ia sudah berdiri di belakang Brian lalu mengeluarkan alat yang tadi di bawa.
"Brian, dibelakang kamu..." langsung menutup mulut Brian.
Brian ingin berteriak tapi... suara langkah kaki membuat Brian dan Roy terkejut. Mereka mencari tempat sembunyi agar tidak ada yang tahu dengan keberadaan mereka berdua, langkah kaki semakin mendekat dengan pintu.
"Bakar gedung ini, aku ingin melihat dia mati agar Brian bisa jadi milikku seutuhnya".
"Baik Nona".
Brian keluar dari tempat persembunyian membuat Sania terkejut dengan kehadiran tuan pewaris yang sangat kejam. Sania menutup mulutnya karena Brian sudah tahu rencana busuknya ingin menghancurkan Anne.
"Brian?. Sejak kapan kamu disini?" tanya Sania.
"Kamu ingin tahu, paman. Cepat buka pintunya".
"Kamu sengaja menyakiti Cia, dia adalah calon istri aku kelak. Kalau kamu berani menyakitinya atau menganggunya lagi, maka tidak ada ampun bagi kamu Sania dan juga keluarga kamu" ancam Brian pada Sania.
"Tapi Brian?".
"Cia pingsan, lebih baik kita pulang saja dulu. Permasalahan ini nanti dibicarakan lagi" ujar Roy.
Brian memilih untuk pulang karena keadaan Anne sudah semakin parah, apalagi Anne belum makan dari siang tadi membuat dia pingsan. Sania sangat kesal karena akhirnya ia ketahuan oleh Brian, ia tidak tinggal diam dan kali ini ia akan membuat rencana lain untuk memisahkan mereka berdua.
**
Di rumah sakit Vino sudah di izinkan pulang setelah beberapa hari di rawat, Zeline sangat bahagia akhirnya Vino sudah sembuh. Jovi membereskan semua barang Vino lalu memasukkan ke dalam tas, mereka pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia.
"Kak Vino, ayo sini aku bantu bangun" ucap Zeline membantu Vino berdiri.
"Terima kasih sayang" ujar Vino tersenyum ke arah Zeline.
"Jangan mesra di depanku, awas saja nanti. Akan aku belas kemesraan kalian berdua".
"Hehehe... kamu bisa saja Jovi, kami tidak mesra di depan kamu" jawab Vino.
"Sudahlah, ayo kita pulang".
Dalam perjalanan pulang, Jovi membawa koper yang sudah ada baju Vino di dalamnya. Tiba-tiba....
"Zeline!" panggil Kenzo.
Itu Kenzo, ia sudah pulang dari luar negeri lalu berjumpa dengan Zeline. Hatinya sangat terkejut melihat kedatangan Kenzo yang sudah memeluk Zeline dari belakang, Vino yang melihat itu sangat cemburu. Rasanya ingin sekali memukul Kenzo, tanpa turun tangan darinya sudah duluan Jovi mendorong Kenzo menjahui adiknya dari Kenzo.
"Apa yang kamu lakukan Jovi, aku datang untuk Zeline bukan untuk kamu!" ucap Kenzo dengan nada emosi.
"Zel, aku merindukan kamu. Bagaimana kabar kamu di saat aku tidak ada disini" tanya Kenzo.
"Aku baik kak, sekarang aku sedang bahagia juga".
"Bahagia karena aku sudah pulang ya, Zel.. aku sangat merindukan kamu" ujar Kenzo lagi.
Kenzo menganggap dirinya adalah pria yang selalu di rindukan oleh pujaan hatinya, bahkan ia tidak tahu kalau yang di ucapkan Zeline bukan itu melainkan ia sudah mengikhlaskan Kenzo pergi dari hidupnya lalu menjalani hidup yang baru bersama Vino.
"Lepaskan aku kak, ada calon suami aku di samping aku".
"Calon suami?" sebuah tamparan keras yang di rasakan dalam hatinya.
"Maksud kamu apa Zel, aku tidak mengerti!".
"Aku akan menikah kak, tolong hargai keberadaan suami aku" ucap Zeline dengan tegas.
Jovi dan Vino sangat bingung dengan sikap Zeline yang sudah tegas dan tidak lembek lagi. Hati Vino bahagia sekali, Zeline sudah mulai membuka hati untuk dirinya sendiri.
"Sayang... dia siapa?" tanya Vino memancing emosi Kenzo.
"Dia teman aku kak Vin, kakak jangan marah ya" jawab Zeline.
"Iya, aku percaya sama kamu sayang".
Kemesraan mereka berdua membuat Kenzo naik amarah, ia pada akhirnya meninggalkan mereka bertiga karena sudah tidak tahan lagi. Kenzo lebih memilih pergi dari situ, Jovi yang melihat itu tidak perlu repot mengusir Kenzo dari kehidupan Zeline adiknya sendiri.
RUMAH ROMEO
Di kolam renang Vanka sedang merendam diri karena ingin memikirkan rencana apalagi yang harus di lakukan besok, ia tidak mau tinggal diam saja reputasi perusahaan Brian semakin tinggi. Nanti malam ia akan menghadiri acara syukuran perusahaannya, ia menjalankan sebuah rencana dimana Brian akan malu nanti.
tiba saja Clarinta sudah berdiri di depannya membuat Vanka hampir emosi karena sudah mengganggu kenyamanan dirinya.
"Untuk apa kamu datang kesini?".
"Ada hal yang aku bicarakan, acara malam ini aku akan membuat Brian emosi pada Anne" kata Clarinta dengan percaya diri.
"Apa ide kamu?".
"Nanti malam juga kamu akan tahu sendiri, aku pulang dulu sebab Jovi sudah pulang dari rumah sakit".
"Siapa di rumah sakit!".
"Teman kekasihku yaitu Vino, sekarang ia adalah calon suami adiknya Zeline".
"Jadi Vino menerima Zeline kalau dia sudah tidak perawan lagi".
"Hahaha... Cinta yang membuat orang buta, cinta dan cinta".
Clarinta keluar dari ruangan kolam menuju ke tempat parkiran mobil, ia menghidupkan lalu melajukan mobil.
**
Brian tiba datang di butik dimana Anne sedang membeli baju untuk acara nanti malam, wajah Brian yang seperti singa yang sudah kelaparan mencari mangsa. Anne melihat perlakuan Brian mengingatkan saat dimana mereka waktu kecil dulu, Brian memarahi mereka pelayan butik baju.
"Sepertinya kalian sudah tidak ingin hidup lagi rupanya!" ujar Brian.
"Ampun kami tuan, kami tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Tolong jangan pecat kami tuan" kata mereka menuduk kepala.
"Kamu tidak apa?. Jangan merasa sombong dengan sikap saya seperti ini, kamu pikir aku akan menjadi budak cinta kamu Anne!" ucapnya sembari berbisik di telinga Anne.
"Aku tahu" jawab Anne.
Anne memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Brian tidak enak hati dengan apa yang di ucap barusan. Dulu pernah Anne mengalami seperti ini, di bully oleh temannya yang lain. Saat itu Brian yang selalu ada di sisanya, malam itu juga Brian menolong Anne dari Sania.
Bersambung
nanti d lanjutin 🤭