Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Aku mau yang itu, Yang!”
“Ekhem! Tolong suruh kecilkan suara pacarmu itu, Jon!”
“Diem lo, Dan. Ganggu aja. Ayo lanjut lagi, Sayang. Kamu pilih yang mana. Sekalian pilihkan untuk Dinda juga.”
“Jon, Dinda belum boleh minum itu!”
“Poor Kim Dinda...”
Aku sedikit terusik dengan suara-suara bass yang menggema di telingaku, namun mataku terbuka sempurna kala mendengar suara sahabatku. “Aira?”
Tapi yang pertama kali Aku lihat adalah wajah Kim Taehyung kw. Aku mencari keberadaan Aira semampuku.
“Sudah bangun?” tanya lelaki itu.
“Dinda sudah bangun?” Aira akhirnya bersuara, ternyata mas dokter menghalangi Kak Jonie dan Aira dariku.
Ish!
Aku tersenyum lebar ketika Aira sudah di dekatku. Aku merentangkan kedua tangan.
“Tolong hati-hati.” tegur mas dokter.
“Aydan, jangan halangi pacarku berpelukan dengan sahabatnya ya!” protes kak Jonie.
Aku terkejut dengan ucapan lelaki itu, Aku menatap Aira menuntut penjelasan.
Dia tersenyum malu, Aku sontak mengernyitkan dahiku. “Kalian?”
Aira mengangguk pelan.
“Mas Agustd?”
Aira menutup mulutku.
“Jonie, pacarmu bisa menyakiti—”
Kak Jonie pun menutup mulut mas dokter, dan membawa lelaki itu duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. “Tolong jangan ganggu, mereka sudah bersahabat belasan tahun. Pacarku nggak mungkin menyakiti pacarmu.”
Aku lihat Kim Taehyung kw mendengus kesal, matanya tidak lepas memperhatikan kami dari sana.
Atensiku kembali pada Aira yang menggenggam tanganku, “Din, gue mewakili keluarga besar minta maaf sebesar-besarnya, tante Ajeng memang beban keluarga dan suka membuat masalah. Dia memang pantas di penjara biar jera.” kata Aira menggebu.
Ha? Aku tidak menyangka respon keluarga Aira seperti itu, Aku kira keluarga Aira malah benci denganku karena mamanya Bagas masuk penjara hanya karena mencekikku. Sebab Aku menunggu kedatangan Aira dari kemarin, tapi dia tak kunjung datang.
“Din, tadi Papi sama Mami gue juga kemari, tapi kamu tidur. Jadi ortu gue minta sampaikan permintaan maafnya ke lo—”
Aira menunduk, dia meneteskan air mata?
Sontak Aku mengangkat wajahnya, Aira menangis. “Maaf—” katanya lagi. Aku peluk Aira, kuusap punggungnya sampai dia tenang.
“Ra, gue juga minta maaf.” ucapku pelan, tenggorokanku masih terasa perih jika berbicara terlalu panjang.
Dia menggeleng, “Lo nggak perlu minta maaf, lo korban di sini, lo nggak perlu minta maaf, Dinda.” Aira seperti mengingat sesuatu, “Oh iya, gue bawa oleh-oleh dari Korea punya lo, Din!”
Seketika mataku berbinar, Aira meminta kak Jonie mengambilkannya. Aku bertepuk tangan kecil. Tanpa sengaja Aku melihat mas dokter menatapku sinis.
Kenapa dia?
Aku pun mendengus.
Kak Jonie meletakkan godie bag berukuran jumbo di ranjangku. Sedangkan Aira membantu memperlihatkan isinya.
“Wah... Terima kasih, Ra. Kamu terbaik!” ucapku riang, Aku memeluk Aira dan mencium pipinya.
“Dinda, suara lo sembuh?” tanya Aira yang tengah terkejut.
Aku tersentak, lah iya?
Aku sudah pernah katakan bukan? Kim Taehyung adalah obatku dikala sakit!
“Tuh, lihat Aydan. Pacarmu langsung sembuh ketemu pacarku!”
Mas dokter hanya mampu menghela.
“Alhamdulillah...” Aira kembali memelukku.
Awh...Aku meringis, sebab pelukan Aira terlalu kuat dan menyentuh leherku.
Mas dokter langsung berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri tapi dihalangi oleh kak Jonie.
“Dinda aman, Dan!”
Tapi Aku lihat mas dokter tetap tidak tenang.
“Maaf, Din. Gue bener-bener nggak sengaja.” ucap Aira khawatir.
Aku tersenyum tipis, “Aman kok, Ra. Aku nggak papa. Mana ARMY bomb-nya, Ra.” karena tadi Aku sudah melihatnya.
Aira mengambilkan lighstick terbaru BTS didalam godie bag. Aku pun menyentuh dan menatap benda itu setelah Aira memberikan kepadaku. Sudah lama Aku ingin membelinya, tapi terkalahkan oleh semangkok bakso. Ah, Aku harus cepat sembuh. Konser BTS tinggal beberapa minggu lagi.
Kupeluk lighstick BTS, ARMY bomb. Ternyata perjuanganku yang tidak seberapa itu membuahkan hasil.
“Kim Dinda!” Aira menunjukkanku foto terbaru Kim Taehyung.
“Ini fotonya waktu jadi brand ambassador Celine ‘kan? Gue udah lihat di sosmed. MasyaAllah... Terima kasih banyak, Ra?” ucapku, Aku sangat terharu. “Gantengnya suamiku... ” kucium foto suami pertamaku.
“Lo harus lihat belakangnya, Kim.” ucap Aira.
Aku langsung membalik foto Kim Taehyung, sontak Aku menutup mulut. “Tanda tangannya, Ra?”
Aira mengangguk cepat. “Itu waktu gue foto sama mas Agustd,” dia mengecilkan suara ketika menyebutkan nama Suga, “Kim Taehyung ada di sana, kebetulan Aku habis beli oleh-oleh buat lo, jadi sekalian gue minta tanda tangannya.”
Aku merentangkan kedua tangan, “Aaa... Gue cinta banget sama lo, Ra.” kucium berkali-kali pipinya.
“Gue juga udah beliin frame-nya loh, Din!”
“Oh ya?”
Aira mengangguk, dan langsung mengambil frame lucu dalam godie bag. Dia pun memasang foto Kim Taehyung dalam frame baru itu.
“Gue mau pajang di sini, biar tambah cepet sembuh.” Aku meletakkan foto Kim Taehyung berukuran sedang di atas nakas samping ranjang.
Suara gelak tawa kak Jonie mengalihkan atensiku. Kenapa dia?
“Din, didalam godie bag ini masih banyak perintilan Kim Taehyung yang lain. Nanti aja lo lihatnya. Lo istirahat dulu sekarang ya.” ujar Aira, matanya melirik takut mas dokter.
Aku melihat ketiga orang yang ada dalam ruang kamarku. Raut wajah mereka berbeda-beda.
“Dinda, gue pulang dulu ya. Nanti kita ketemu lagi pas lo udah di rumah. Oke?”
“Tapi, Ra—”
“Terima kasih atas kunjungannya, sampai jumpa lagi.” kata mas dokter tak ramah seraya membuka pintu kamar.
Sedangkan kak Jonie tidak berhenti tertawa. Aira pun mencebik ke arah lelaki itu.
“Oh iya, Din. Tadi kakak pesan es kopi. Nanti kamu habiskan ya, sepertinya kita nggak bisa menunggu sampai kurirnya datang.” kata kak Jonie.
Aku pun mengangguk senang.
“Jonie!” tegur mas dokter.
Lelaki itu pun keluar kamar dengan tertawa yang semakin membahana.
“Jangan harap!” ucap mas dokter padaku.
Aku berdecak, manusia aneh.
Tapi Aku tidak perduli, tidak minum es kopi tak apa. Yang penting ARMY bob sudah di tangan.
Kalau tidak memikirkan tenggorokanku, Aku pasti sudah berteriak kencang sekarang.
BTS... I'm coming...
\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍