Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impoten
Tasya menatap Radit dengan lekat. Di dalam memorinya tidak ada nama Radit Kusumadewa sama sekali namun entah mengapa ia merasa seperti pernah bertemu dengan Radit sebelumnya.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Aku... lupa. Mungkin hanya perasaanku saja tapi aku merasa kalau aku pernah bertemu Pak Radit sebelumnya."
"Kalau orang ganteng, memang banyak cewek yang bilang begitu sih." Radit mengibaskan rambutnya.
Tasya tertawa dengan ulah Radit. "Ganteng, kaya dan baik hati ya, Pak?"
"Oh iya dong, Radit gitu loh!" Radit tertawa lepas. "Sudah, ayo siap-siap. Kita ada meeting di luar!"
.
.
.
Pukul 8 malam, Tasya sampai di rumah. Suasana rumah nampak agak ramai. Terdengar tawa Ibu Welas dan suara perempuan asing yang baru Tasya dengar.
Setelah mengucapkan salam, Tasya menghampiri semua orang yang sedang berada di ruang keluarga. Kedatangan Tasya membuat suasana ceria berubah menjadi sunyi.
"Tuh, dia sudah pulang." Ibu Welas berbicara dengan seorang perempuan cantik dan nampak modis. Perempuan tersebut menatap Tasya dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu tersenyum tipis. "Malam sekali, bukan? Kapan mengurus suaminya kalau pulang malam terus!"
"Sudah pulang, Sya?" Setyo nampak lebih sehat.
"Iya, Mas." Tasya salim pada suaminya.
"Sya, kenalin, ini Sisca, keponakan Ibu. Dia akan tinggal di rumah ini mulai sekarang." Setyo memperkenalkan Tasya pada Sisca. Keduanya lalu berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Jangan terlalu akrab sama dia, Sis. Dia itu pembawa sial." Ibu Welas berkata dengan pedas.
"Bu!" tegur Setyo.
"Tante, tak boleh begitu. Mbak Tasya pasti lelah sehabis bekerja." Sisca tersenyum ramah.
"Kerja cuma punya gaji kecil, apa hebatnya? Itu pun harus bayar hutang biaya rumah sakit, mana pernah memberi kebahagiaan buat Tante? Beda dengan kamu, Sis, kerja bisa dari laptop, gaji dollar, nyaman deh pokoknya yang jadi mertuamu itu." Ibu Welas menatap Tasya dengan sebal.
"Sya, tolong bawa aku ke kamar. Aku mau istirahat." Setyo tak mau berdebat lagi dengan Ibu Welas yang sudah seharian mengurusnya. Lebih baik ia membawa Tasya agar perdebatan tak lagi terjadi.
"Iya, Mas."
Tasya membawa Setyo ke dalam kamar. Suaminya kini tak perlu lagi memakai popok. Ia bisa ke kamar mandi sendiri meski belum bisa berjalan jauh.
"Sya, kamu mandi dulu sana lalu malam ini tidur di kamar ini. Mas mau kamu melayani Mas malam ini. Mas kangen, Sya." Setyo tersenyum penuh maksud.
"Mas yakin?"
"Keadaan Mas sudah lebih baik sekarang. Sudah lama kita tidak melakukannya. Kamu mau bukan, Sya?"
Tasya tak mungkin menolak Setyo. Sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya. "Iya, Mas. Aku mandi dulu ya."
Tasya kembali ke kamar miliknya. Ia masih mendengar suara Ibu Welas yang tertawa lepas saat mengobrol dengan Sisca. Dalam hari Tasya timbul rasa iri. Andai ia bisa menjadi menantu yang bisa mengobrol akrab dengan sang mertua, pasti ia punya teman curhat terbaik.
Tasya sudah membersihkan tubuhnya, memakai parfum dan baju tidur satin kesukaan Setyo. Ia lakukan semua hal yang Setyo sukai sebagai wujud baktinya.
Setyo menyambut Tasya dengan senyum lebar di wajahnya. "Kamu cantik sekali malam ini, Sya. Sini!"
Tasya mendekat, harum parfum wangi buah miliknya menusuk indra penciuman Setyo. Ia menarik tangan Tasya mendekat seraya menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan.
Setyo menghujani Tasya dengan ciuman. Tasya membalasnya dengan sepenuh hati, seakan membayar semua dosa penghianatan yang ia lakukan. Tasya mencoba menikmati setiap sentuhan Setyo pada kulit lembutnya, menyingkirkan bayangan Radit yang mulai masuk ke dalam pikirannya.
Setiap sentuhan Setyo mengingatkan tubuh Tasya akan sentuhan dari Radit. Seakan diingatkan saja tidak cukup, tubuh Tasya kini bahkan mulai membandingkan keduanya.
Ciuman Setyo terasa menuntut namun ciuman Radit justru memabukkan bagi Tasya. Sentuhan Setyo seakan hanya memenuhi kepuasannya sendiri, berbeda dengan sentuhan Radit yang seolah menganggap kalau tubuh Tasya amat berharga.
Tasya memejamkan matanya. Ia berusaha fokus mengenyahkan wajah Radit dari pikirannya dan membayangkan kalau yang menyentuhnya adalah Setyo, suaminya. Sayangnya setiap kali dienyahkan, bayangan Radit justru tak mau pergi, terus datang dan membayangi.
"Bersiaplah, Sya." Suara Setyo membuat Tasya membuka matanya. Ia harus sadar kalau yang ia layani adalah Setyo, bukan Radit.
Tasya bersiap dengan penyatuan ketika wajah bersemangat Setyo berubah menjadi tegang lalu pucat pasi. Setyo mencoba kembali. Ia menarik nafas dalam, berusaha mengendalikan dirinya namun bagian bawah dirinya tak bereaksi.
"Ada apa, Mas?" Tasya melihat Setyo yang berusaha membangunkan aset miliknya yang nampak loyo dan lemas.
"Kenapa tidak bisa sih?" Setyo nampak panik.
Meski kecewa karena tak penyatuan mereka gagal, namun Tasya berusaha menghibur Setyo. "Tidak apa-apa, Mas," bisik Tasya dengan lembut. "Mungkin Mas masih lelah dan dalam pengaruh obat-obatan-"
"Mas tidak lelah, Sya. Kita coba lagi, tunggu sebentar, Mas akan membangunkannya." Setyo mencoba lagi namun miliknya tetap tidak bereaksi. "Argh! Kenapa jadi begini sih?" Setyo memukul kasur dengan kesal.
"Mas, jangan dipaksakan. Kita bisa mencoba lagi besok," kata Tasya dengan sabar.
"Seharusnya tidak seperti ini, Sya. Mas saja sudah bisa jalan meski hanya beberapa langkah." Setyo menatap kakinya lalu gantian menatap Tasya. "Dokter bilang, ada efek dari kerusakan di saraf tulang belakang Mas namun Mas tidak menyangka kalau akan seperti ini."
"Mas." Tasya kembali menenangkan Setyo. Ia mengangkup wajah Setyo dengan kedua tangannya yang lembut. "Tak perlu terburu-buru. Mas masih dalam proses penyembuhan, masih butuh waktu. Tak apa jika tidak bisa sekarang. Kita bisa mencobanya lagi lain waktu, oke?"
Setyo menggelengkan kepalanya. "Kalau Mas sampai impoten bagaimana, Sya? Kita bahkan belum punya anak. Bagaimana nasib keluarga kita kelak?"
"Mas jangan bilang begitu. Nanti kita konsultasi lagi ke dokter ya. Semua bisa disembuhkan, Mas, tenang saja," hibur Tasya.
Setyo menurunkan tangan Tasya. Ia memalingkan wajahnya, menutupi air mata yang mulai menetes membasahi wajahnya. "Kakiku sudah lumpuh, sekarang aku bahkan tak bisa melayanimu, Sya. Apalagi yang akan diambil dari diriku selanjutnya?"
"Mas-"
"Kembalilah ke kamarmu, Sya. Tinggalkan aku sendiri!" Setyo menutupi tubuhnya dengan selimut, menyembunyikan air mata kesedihan dan kegagalannya dari Tasya.
Tasya menuruti keinginan Setyo. Ia kembali ke kamar kecilnya.
Tasya menghela nafas dalam. Ia juga kecewa karena mereka gagal melakukannya. Sudah lama mereka tak melakukannya dan entah kapan mereka akan melakukannya lagi.
Di tengah kekecewaannya, memori Tasya malah memutar adegan intim dirinya dengan Radit. Setiap kecupan dan sentuhan Radit seolah menghujani tubuhnya. Tubuh Tasya merindukan setiap sentuhan Radit. "Gila. Gila kamu, Sya. Tidak boleh. Kamu tidak boleh kecanduan sentuhan Radit. Sadar, perempuan gila!"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣