Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Keputusan Tersulit Zahra
Seminggu setelah pemakaman ayahnya, Zahra kembali bekerja, ia datang dengan mata sembab, tubuh lelah, tapi tetap berusaha profesional..
Ia tidak tahu bahwa sejak hari itu, setiap langkahnya sudah diawasi, Rena mulai bergerak lebih dulu.
Hari itu Zahra mendapatkan undangan tanpa nama pengirim yang jelas..!!
Sebuah forum bisnis keluarga besar, acara silaturahmi sekaligus pertemuan relasi lama, nama Zahra tercantum sebagai salah satu pembicara pendamping, atas rekomendasi klien UMKM yang kini bekerja sama dengannya dan tim Fadhil..!
Zahra tahu, ini bukan sebuah kebetulan, ia pun memutuskan untuk hadir di acara tersebut
***
Sore harinya suasana aula hotel begitu ramai, orang-orang dengan wajah penuh senyum formal saling berjabat tangan, bertukar kartu nama, dan menyimpan agenda tersembunyi di balik keramahan..
Zahra datang dengan langkah tenang, ia mengenakan pakaian sederhana, membawa map berisi dokumen tidak ada Genta di sisinya, itu pilihannya sendiri.
Di sudut ruangan, Bu Ratna dan Rena berdiri bersama beberapa relasi lama, tatapannya tajam saat melihat Zahra
"Dia berani juga datang,” gumamnya.
“Ini acara terbuka, dan namanya disebut sebagai konsultan bersih.” jawab salah satu relasi singkat
Kata bersih membuat rahang Bu Ratna mengeras.
Saat sesi diskusi dimulai, Zahra memaparkan analisis keuangan dengan runtut...
Suaranya stabil, tidak tergesa, beberapa peserta mengangguk, mencatat.
Lalu sesi tanya jawab dibuka, Bu Ratna berdiri.
"Saya ingin bertanya,” katanya dengan suara lantang yang langsung menyita perhatian..
“Apakah etis seorang konsultan yang masih stabil secara mental yang masih dalam kondisi berduka, juga sedang bermasalah dalam rumah tangganya, diserahkan untuk mengelola keuangan pihak lain?"
Ruangan mendadak hening seketika..!
Beberapa orang saling pandang, pertanyaan itu tidak profesional dan semua orang tahu itu..
Zahra mengangkat kepala, jantungnya berdetak kencang tapi wajahnya tetap tenang.
Sebelum ia menjawab, satu suara lain menyela.
“Maaf,” ucap Fadhil, yang duduk di barisan depan..
“Sebagai auditor independen yang memeriksa langsung pekerjaan Bu Zahra izinkan saya menjawab.” lanjut Fadhil
Semua mata beralih padanya.
“Etika profesional diukur dari transparansi dan kepatuhan pada standar, bukan dari status rumah tangga, dan saya lihat Bu Zahra dan suami nya masih bersama, dan disini juga saya nyatakan secara terbuka, tidak ada satu pun pelanggaran dalam pekerjaan Bu Zahra" ucap Fadhil tegas
Bu Ratna menegang.
“Anda siapa berani..."
"Saya bukan pihak keluarga, dan justru karena itu, saya objektif.” potong Fadhil tenang
Suasana berubah, beberapa relasi mulai berbisik dan Rena hanya terdiam dan menatap tajam kearah Fadhil dan Zahra secara bergantian..
Bu Ratna, yang selama ini terbiasa memegang kendali, kehilangan pijakan, emosinya naik dan itulah kesalahan fatalnya.
“Perempuan seperti dia, dari dulu memang pandai memikat! Jangan terkecoh citra suci!” ucap Bu Ratna dengan nada tinggi
Kalimat itu meluncur terlalu jauh.
Ketua forum berdiri.
“Bu Ratna, kami mohon jaga forum ini, ini bukan tempat menyerang pribadi.”
Zahra akhirnya bicara..
"Saya tidak akan membela diri dari hinaan, karena pekerjaan saya sudah berbicara dan selebihnya, biarlah Allah yang menilai.” ucapnya pelan tapi jelas
Hening kembali menyelimuti ruangan..!
Bu Ratna memandang sekeliling dan untuk pertama kalinya, tidak menemukan dukungan, tatapan yang ia dapat justru dingin, menjauh, bahkan kecewa..!
Ia duduk kembali dengan wajah pucat, acara berakhir dengan suasana canggung, beberapa relasi mendatangi Zahra, menyampaikan dukungan secara pribadi, ada yang meminta kerja sama lanjutan..
Di luar aula, Genta berdiri menunggu, wajahnya campur aduk antara malu dan sedih..!
"Aku dengar semuanya,” katanya lirih.
Zahra menatapnya lama.
"Dan sekarang kamu tahu sendiri Mas, Mak Ratna seperti apa dan disana pun ada Rena yang mendampingi Mak Ratna" ucapnya sambil menghela nafas berat
"Ya Zahra, sekarang aku tahu… Mak tidak akan berhenti selama aku masih berdiri di pihak mu” jawab Genta lirih
Zahra mengangguk pelan.
“Dan aku tidak bisa terus hidup dalam bayangan itu, walaupun sebenarnya aku tidak mau melakukan hal ini"
Mereka diam cukup lama.
"Zahra, kalau kamu memilih pergi… aku akan terima.” ucap Genta akhirnya sambil menahan sebak di dalam dadanya
Kalimat itu bukan pembelaan, bukan pula permintaan tapi itu penerimaan..
Zahra menutup mata sejenak, saat ia membukanya, ada keteguhan di sana.
“Aku tidak memilih pergi karena marah dan aku memilih berhenti karena ingin selamat dan butuh ketenangan, aku sudah lelah dan pusing dengan semua ini mas" katanya tenang walaupun hatinya terasa sakit..
Genta mengangguk, air mata jatuh tanpa suara..
Malam nya, Zahra pulang dengan langkah ringan tapi hati penuh makna, ia tahu: keputusan besar telah ia ambil..!
Ia bersujud lama di kamar barunya..!!
“Bismillah, jika berpisah adalah caraku menjaga iman dan akal, maka kuatkan aku menjalani konsekuensinya.” ucapnya mantap
Di rumah Bu Ratna, kabar tentang insiden itu menyebar cepat, relasi menjauh, nama baik yang ia bangun bertahun-tahun retak oleh satu momen yang tak terkendali..!
Dan akhirnya ia sadar yang menjatuhkannya bukan Zahra melainkan emosinya sendiri..!!
"Bodoh sekali aku kenapa aku melakukan itu semua!" Teriaknya sambil membuang barang yang ada di dekatnya
"Aku harus menemui Genta besok, ya Genta" senyum Bu Ratna mulai mengembang kembali dan ia pun mengirim pesan ke Rena untuk datang besok malam kerumahnya..!!
Tanpa menunggu waktu lama Rena pun menjawab bersedia ikut..!
__Bersambung_'