NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sementara di dalam yang tadinya adalah ruang dekan kini menjadi aula megah yang diselimuti cahaya biru kemerahan, Arjuna tidak memedulikan keributan kecil di luar. Perhatiannya kini terkunci sepenuhnya pada Jelita yang sudah berada dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh energi mistisnya.

​Arjuna menarik tubuh Jelita lebih rapat hingga tak ada celah di antara kulit mereka. Ia merunduk, menempelkan keningnya pada kening Jelita, membiarkan mata hazel gadis itu tenggelam dalam pendar biru matanya yang memabukkan.

​Tangan Arjuna yang pucat dan kekar merayap masuk ke balik rambut Jelita, mencengkeramnya dengan lembut namun dominan untuk menahan posisi kepala gadis itu. "Jangan dengarkan mereka, Sayang. Mereka hanyalah suara-suara dari masa lalu yang tidak lagi penting bagimu."

​Jelita merintih pelan. Rasa panas dari gelang hitamnya kini menjalar ke seluruh nadinya, membuat rasa dingin dari tubuh Arjuna terasa seperti candu yang sangat ia butuhkan. "Arjuna... kepalaku sakit..."

​Arjuna tersenyum miring, sebuah seringai yang sangat tampan namun penuh dengan aura penaklukan. Ia tidak akan membiarkan Jelita lepas sedetik pun dari pengaruhnya. Arjuna memposisikan Jelita agar duduk menghadapnya di atas singgasana kayu itu. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jelita, sementara kakinya mengunci pergerakan gadis itu.

​Asap biru di sekeliling mereka kini berubah menjadi keunguan pekat, menciptakan keheningan mutlak yang hanya diisi oleh suara napas Jelita yang memburu dan detak jantung mistis Arjuna yang mulai beresonansi.

​"Ini bukan rasa sakit, Ratu Kecilku. Ini adalah jiwamu yang sedang beradaptasi dengan kekuatanku," bisik Arjuna tepat di depan bibir Jelita. "Mulai saat ini, setiap helai rambutmu, setiap tetes keringatmu, dan setiap desahanmu adalah milikku mutlak!"

​Kini di luar gedung, Ira dan Dinda mulai melangkah mendekati pintu utama yang tadi membanting tertutup. Ira memegang sebuah senter kecil yang cahayanya mulai meredup, sementara Dinda mencengkeram ujung jaket Ira dengan sangat erat.

​Suara tawa rendah Arjuna kembali bergema, namun kali ini terdengar seperti sambutan bagi mereka. Pintu gedung tua itu tiba-tiba terbuka perlahan dengan sendirinya, mengeluarkan hembusan angin sedingin es yang membawa aroma cendana dan bunga melati yang sangat menyengat.

​"Ira... pintunya terbuka sendiri. Ini jebakan! Aku yakin ini jebakan!"

​"Jebakan atau bukan, kita harus masuk!" tegas Ira sambil melangkah melewati ambang pintu.

​Begitu mereka masuk, pintu itu kembali tertutup dengan suara Brak! yang lebih keras dari sebelumnya, mengunci mereka di dalam kegelapan bersama sang Pangeran Kegelapan yang sedang menikmati waktunya bersama Jelita. Kini Ira dan Dinda berada di sebuah aula yang diselimuti kabut milik Arjuna, hingga pandangan mereka tertuju pada Jelita.

​Ira dan Dinda mematung di ambang pintu aula. Senter di tangan Ira terjatuh, cahayanya menyinari lantai yang kini tertutup kabut ungu pekat. Di ujung aula, di atas singgasana yang megah, mereka melihat sahabat mereka—Jelita—dalam keadaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

​Jelita duduk di pangkuan seorang pria bertubuh tinggi besar dan gagah yang tidak mengenakan baju. Kulit pria itu bercahaya biru pucat, sangat kontras dengan gaun Jelita yang sedikit berantakan. Arjuna melingkarkan lengannya yang berotot di pinggang Jelita, sementara tangan satunya lagi masuk ke sela rambut Jelita, menahan kepala gadis itu agar tetap menempel padanya.

​Mata Jelita sayu, menatap Arjuna dengan kepasrahan yang dalam. Ia tampak terengah-engah, tangannya melingkar erat di leher Arjuna seolah-olah makhluk itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di ruangan tersebut.

​"Je-Jelita?" bisik Dinda dengan suara gemetar. Ia ingin berlari mendekat, namun tekanan udara dari aura Arjuna membuatnya merasa seperti sedang memikul beban berton-ton yang melumpuhkan kakinya.

​"Sebenarnya dia hantu atau manusia cabul, Ira?" bisik Dinda dengan suara nyaris tidak terdengar.

​Ira berusaha melangkah maju untuk menarik Jelita, namun kabut ungu di sekitarnya mulai berubah bentuk. Bayangan-bayangan hitam bermunculan dari sudut aula, berbisik-bisik dengan suara parau yang menyakitkan telinga.

​"Aaakkhhh!" teriak Ira yang kesakitan. "Dasar hantu sialan! Kenapa kau mencoba mengurung sahabat kami, hah?!" teriak Ira dengan marah.

​"Hantu? Atau manusia cabul?" Arjuna mengulang bisikan Dinda dengan nada mengejek yang berat. Ia tertawa dingin, suaranya menggetarkan udara di aula hingga membuat lampu gantung di atas mereka bergoyang hebat.

​Arjuna berdiri dari singgasananya perlahan tanpa melepaskan Jelita. Ia menggendong gadis itu dalam posisi posesif, membiarkan kaki Jelita melingkar di pinggangnya yang kokoh. Kulit dada bidang Arjuna yang telanjang bersentuhan langsung dengan kulit Jelita, menciptakan pemandangan yang sangat intim di mata kedua sahabatnya.

​Arjuna menekan punggung Jelita agar semakin merapat ke tubuhnya, sementara ia menatap Ira dengan mata yang kini berpendar merah tajam. Asap ungu di bawah kaki mereka berputar liar, membentuk tangan-tangan bayangan yang merayap menuju Ira dan Dinda.

​Arjuna sengaja merunduk dan mengecup leher Jelita dengan suara yang jelas terdengar, seolah sedang menandai wilayahnya di depan penonton. "Aku bukan hantu, juga bukan manusia rendahan seperti kalian. Aku adalah pemilik masa depan sahabatmu ini!"

​"Lepas... le-lepaskan mereka, Arjuna..." rintih Jelita pelan. Ia mencoba mendorong dada Arjuna, namun tenaganya justru terasa luruh saat jari-jari Arjuna mengelus punggungnya dengan cara yang menggoda.

​Ira yang sudah dikuasai kemarahan mencoba menerjang kabut itu, namun setiap langkahnya terasa berat seolah ia berjalan di dalam lumpur hisap. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu! Jelita, sadar! Dia bukan manusia!" teriak Ira lagi, wajahnya memerah menahan sakit karena tekanan mistis di ruangan itu.

​Melihat keberanian Ira, Arjuna menyeringai tipis. Ia tidak suka ada yang mencoba mengambil mainan kesayangannya. Dengan satu lambaian tangan bebasnya, kabut di sekitar Ira dan Dinda memadat dan berubah menjadi rantai bayangan yang dingin.

​Rantai itu melilit kaki Dinda dan Ira, memaksa mereka berlutut di lantai aula yang sedingin es. "Lalat-lalat ini sangat berisik, Jelita. Apakah kau ingin aku menjahit mulut mereka agar malam kita tetap tenang?" tanya Arjuna sambil menatap Jelita dengan tatapan lapar.

​Dinda menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat. " hiks! hiks! Ira, kita akan mati... dia akan membunuh kita!"

​Arjuna tertawa rendah melihat kepanikan mereka. Ia kembali duduk di singgasananya dengan Jelita yang masih berada dalam pangkuannya. Ia membelai bibir Jelita yang gemetar menggunakan ibu jarinya. "Kalian tidak akan mati hari ini. Aku butuh saksi untuk menceritakan pada kakek tua itu... bahwa bunganya sudah dipetik oleh pangerannya."

​"Arjuna, cukup! Jangan sakiti mereka lagi!" jerit Jelita yang akhirnya berhasil mengumpulkan suaranya. Ia mencengkeram rahang tegas Arjuna, memaksa makhluk itu menatapnya. "Kau bilang kau menginginkanku, kan? Biarkan mereka pergi, dan aku akan berhenti melawannya!"

1
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
Greta Ela🦋🌺
Ini hantu ada dimana-mana perasaan🤣
Greta Ela🦋🌺
Iya lho Jelita, logika aja deh. Teman mana yang mau keluar malam2 hujan juga ke rumah kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!