Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.
Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.
Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.
Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.
Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Yaa.. setelah lama dia tidak ke restaurant karena dilarang oleh Tante Ilaa, hari ini Nisa pergi ke sana lagi.
Hari ini Tante Ilaa tidak bisa pergi menyusul Nisa karena pekerjaannya yang masih menumpuk. Semalam Nisa melihat Tante Ilaa di ruang kerjanya sampai pukul dua dini hari, menatap setumpuk laporan yang ada di meja.
"Hallo Kak Nana, apa nih yang bisa Nisa bantu," ucapku pada salah satu pegawai yang sudah dekat denganku.
"Mbk Nisa bantu di kasir aja ya, gausah bantu di belakang," jawab Kak Nana berjalan masuk ke arah dapur.
Nisa tersenyum "Oke deh," kemudian mengganti pakaiannya agar terlihat sama dengan lainnya.
Entah sudah berapa kali Nisa mondar-manding mengantarkan pesanan para pelanggannya. Gadis itu memang susah dikasih tahu kalau menyangkut restaurantnya. Dia bahkan kucing-kucingan dengan Kak Nana, kalau ketahuan pasti nanti diaduin oleh Tante Ilaa.
Bukannya Nisa tak sayang dengan keadaannya atau membuat khawatir orang-orang di sekitarnya. Dia berusaha menjalani aktivitas hari ini dengan gembira.
Badan Nisa berbunyi kretek-kretek saat dia gerakkan, badannya pegal. "Ehh Kak Faiz, mau pesan apa kak?" tanya Nisa ketika Faiz ada di depannya.
"Nasi goreng yang waktu itu ya Nis, bungkus 2 porsi," Jari Faiz menunjukkan sebuah angka sesuai apa yang dikatakan.
"Oke Kak.
Kak Nana, nasi goreng dua yaa dibungkus" teriak Nisa agar suaranya sampai di dapur.
Terdengar suara gesekan wajan dan penggorengan di dapur, baunya menjalar ke seluruh ruangan, dua porsi terakhir untuk hari ini sebelum ditutup.
"Mau tutup ya Nis?" tanya Faiz yang melihat beberapa orang yang memakai baju yang sama dengan Nisa sibuk membersihkan ruangan dengan alat kebersihan mereka masing-masing.
"Iya nih kak. Kak Faiz pelanggan yang terakhir," Nisa terlihat merapikan yang di depannya.
Setelah pesanan Faiz jadi, dia melambaikan tangan ke arah Nisa yang dijawab dengan sebuah lambaian juga oleh Nisa.
Saat akan menyalakan motornya, Faiz melihat Ergi dari kaca spionnya. Gerak-gerik dan tatapan Ergi yang mengarah ke restaurant Nisa membuatnya curiga.
"Ngapain lo kesini?" Faiz memegang pundak Ergi dari belakang, nada bicaranya begitu sinis.
"Gausah kepo. Bukan urusan lo," jawab Ergi galak.
"Terus ngapain lo lihat-lihat ke arah Nisa?" Faiz menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Gue ada urusan sama Nisa, bukan sama lo. Jadi lo gausah ikut campur!"
"Punya urusan apa lo sama Nisa?" tanya Faiz menekan.
"Kenapa? Lo gasuka gue bicara sama cewek lo itu?" Ergi memiringkan bibirnya, tersenyum sinis ke arah Faiz.
"Gue gaakan pernah biarin Nisa terluka, apalagi sama lo" Faiz mengarahkan telunjuknya pada bahu Ergi.
"Gue heran. Sebenarnya gadis seperti apa yang sedang kalian suka, kalian perebutkan." Tangan Ergi melepaskan telunjuk Faiz darinya, menatap tajam ke mata Faiz.
"Lo inget, gue ga pernah memperebutkan Nisa." Faiz mulai menaikkan nada suaranya.
"Terus apa? berbagi dengan sahabat?" Ergi tidak mempedulikan Faiz dan memilih pergi meninggalkan Faiz geram dibuatnya.
"Loh. Kak Faiz kok masih disini," tanya Nisa saat melihat Faiz yang masih berdiri di depan restaurannya.
"Hmhm nggapapa kok. Kamu mau pulang kan? aku anter ya."
"Gausah kak, nanti malah ngerepotin lagi."
"Udah nggapapa, anak hadis gal boleh pulang sendirian malam-malam gini."
"Kan ini belum larut kak. Nggapapa Nisa sendiri aja."
"Engga. Lo gaboleh nolak!"
Sebenarnya Faiz tak berniat untuk mengantarkan Nisa pulang karena dia harus cepat-cepat pulang memakan nasi goreng bersama dengan mamahnya. Namun dia urungkan gara-gara kehadiran Ergi tadi.
Selama perjalanan mengantar Nisa, Faiz mengendarai tepat di belakang motor Nisa. Dia tak mau kecolongan kalau Ergi tiba-tibs memotong ataupun menghadangnya agar bisa jauh dari pandangannya.
Ternyata hal yang dipikirkan Faiz selama perjalanan tidak terjadi, bahkan tidak ada tanda-tanda Ergi ataupun teman-temannya. Aman-aman saja.
Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Ergi? Apa yang ingin dia ketahui tentang Nisa?
Nisa mematikan motornya tepat di depan gerbang rumah, diikuti Faiz yang juga berhenti lalu mematikan mesin motornya juga.
"Makasih kak. Kak Faiz hati-hati di jalan."
Nisa melambaikan tangannya ke arah Faiz, namun Faiz tak kunjung pergi.
"Cepet masuk dan kunci gerbangnya!" pinta Faiz tiba-tiba. Membuat senyum Nisa jadi luntur.
"Kak Faiz kenapa tiba-tiba jadi bersikap seperti itu?" Nisa menggelengkan kepalanya sembari memasukkan motornya.
"Jangan lupa nanti nasi gorengnya diangetin lagi kak, pasti sudah dingin," pesan Nisa yang kemudian menutup dan mengunci gerbangnya.
Faiz mengangguk.
"Mamah... Faiz pulang."
"Ya ampun Faiz. Kamu itu beli nasi goreng di mana sih? arab saudi?"
"Kayaknya seru tuh ya mah kalau beli nasi goreng di arab saudi, sekalian umroh bisa tuh."
"Udah gausah becanda sekarang, mamah lapar, nunggu kamu keburu pingsan lagi."
"Faiz. panasin dulu ya mah, mamah tunggu aja sambil nonton tv bentar. Bentar aja.
Tadi Faiz beli masi gorengnya di Australia, karena sekarang musim dingin jadinya udah ngga panas di perjalanan. Hehehe"
"Udah cepat sana! Alasan saja kamu itu ya. Pinter banget kalau becanda."
"Siap nyonya!"
Setelah menyelesaikan makan malam dengan mamahnya, Faiz kembali ke kamar.
"Hallo Den. " Ucap Faiz pada Deni.
"Apaan. Tumben amat lo telfon gue, pasti ini ada maunya nih."
"Yaelah Den, gitu amat lo jadi temen."
"Yaudah yaudah. Apaan, cepet ngomong!"
"Tadi waktu gue beli nasi goreng di restaurannya Nisa, ada Ergi."
"Ya kan tempat umum Iz, bisa aja kan dia mau beli juga di sana."
"Nah itu masalahnya. Dia ngga beli makan di sana," jeda Faiz. "Dia nyari Nisa, Den. Katanya mau ngomong sesuatu sama Nisa."
"Lo kenapa ngga nanya langsung sama dia, kan gue bukan Ergi. Kalau ngga lo nanya Aldi aja, siapa tahu dia tahu."
"Lo gila ya, gue waktu itu dihajar sama Ergi dan temennya yang kembar, waktu gue sama Nisa."
"Serius lo? Kapan itu? Ngapain lo sama Nisa?" cecer Deni dengan banyak pertanyaan untuk Faiz.
"Panjang Den, kalo gue cerita, yang ada kuota gue abis nih ah."
"Tapi lo ngga ada niatan buat deketin Nisa kan Iz?"
"Ya ampun Den. Gue harus bilang berapa kali sih sama lo, gue bener-bener gaada niatan sampe kesitu."
"Lo jangan ngomong sama Aldi dulu. Lo tahu kan gimana hubungannya dengan Ergi. Yang ada nanti malah semakin rumit."
"Terus gimana dong?"
"Kita selidiki dulu maksud Ergi apa, dia mau ngomong apa sama Nisa."
"Oke oke. Lo bantuin gue ya, gue nggamau ada salah paham lagi sama Aldi."
"Iya iya. Kenapa sih lo sama Aldi selalu bermasalah dalam hal cewek."
"Maksud lo?"
"Dasar nih ya bocah. Emang bege kadang-kadang.
Maksud gue, dulu lo bermasalah sama Aldi gara-gara Adel, sekarang gara-gara Nisa."
"Udah lo gausah ungkit-ungkit lagi."
"Ya kan emang gitu kenyataane."
Faiz memutuskan sambungan telpon secara sepihak, malas meladeni Deni yang membawa nama Adel.
Di sisi lain, Nisa mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal. "Jangan pernah main-main sama Aldi!" isi pesan itu.
"Ini pasti ulah Kak Linda. Apa gue jauh aja ya sama Kak Aldi? Tapi Kak Aldi udah baik banget lagi sama gue." Nisa mengacak-acak rambutnya kasar. "Oke, gue akan coba dulu. Tapi kalo ngga berhasil mampus gue kalo harus berurusan sama Kak Linda terus." Kali ini dia mondar mandir di kamarnya, menggigit salah jari telunjuknya dan mulai memikirkan cara yang tepat.
Nisa mencari nama Aldi di ponselnya, "Hallo kak."
"Hai Nisa. Tumben telfon aku."
"Emmm gini kak..." perkataan Nisa menggantung.
"Kenapa Nisa.. udah ngomong aja."
"Besok kakak gausah jemput aku ya."
"Kenapa?"
"Emmm besok Nisa mau coba berangkat pake motor sendiri."
"Kalo gitu besok aku ikutin."
"Ehh.. gausah kak. Ini.. besok rencananya mau bareng-bareng sama Lana." Untung ada Lana yang bisa menjadi alasannya. "Maafin gue Na, gue terpaksa," batin Nisa.
"Oh... Yaudah," jawab Aldi yang masih tidak rela.
"Makasih ya kak."
"Iya. Good night ya."
"Heem"
Setelah menutup telfonnya, Nisa mengirim pesan ke Lana. Dia tidak ingin kalau sampai Aldi tahu bahwa itu hanya alasannya saja untuk mencoba menjauh darinya.