ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Adam maupun Calvin tak pernah lagi saling menyapa, hanya bicara sebatas soal pekerjaan saja. hanya karena Reva, yang tak tahu apakah gadis itu menyukai mereka atau tidak.
Yang nyatanya gadis itu memang mudah dekat dengan siapa saja, bukan karena dia wanita murahan yang selalu berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangannya. tapi karena sikapnya yang ramah dan simple. Reva itu easy going, murah senyum dan ceria. harinya selalu di penuhi banyak kebahagiaan setelah berpisah dengan Adam.
Tapi, mulai Minggu lalu dan minggu-minggu kedepannya kebahagiaan itu pasti akan terganti lagi oleh awan hitam yang mengeluarkan banyak petir. semenjak Adam kembali mengejar cintanya dan Calvin yang selalu over setiap melihat Reva di dekati mantan suaminya itu.
Malam ini pun, Reva memilih menemui Lexy karena rasa kesalnya pada Adam dan Calvin yang terus saja beradu argumentasi di depan rumahnya.
"hhhaaah... tak bisa kah kau membantuku, Lex?" tanya Reva penuh harap. dia sudah lelah menghadapi kedua sikap pria dewasa itu.
"tidak." jawab Lexy singkat.
"kau mengenal mereka, buatlah mereka menjauh dari ku."
Lexy tertawa remeh. "aku hanyalah karyawan bos besar itu, apa yang bisa aku lakukan. yang ada juga nanti aku yang di pecat." merogoh kantong nya mengambil rokok juga pemantiknya.
"apa kau tahu Adam sudah menikah?" tanya Lexy sambil menyalakan rokok. kemudian di hisapnya benda kecil itu, menghembuskan asapnya dengan perlahan.
"aku tahu. bahkan istrinya sedang hamil sekarang." jawab Reva. matanya melihat ke arah lain, tak mungkin dia mengatakan kalau Adam adalah ex husband nya kan.
Namun Lexy hanya tersenyum sinis. ada sesuatu yang mengganjal hatinya akhir-akhir ini. Reva dan Adam terlihat memiliki hubungan yang buruk sebelumnya, dapat di lihat dari cara reva setiap kali berhadapan dengan Adam yang terlihat jelas kalau gadis itu begitu tak menyambut nya.
"katakan sejujurnya, kenapa kau tak menerima nya. bukannya wanita itu lebih suka pria yang kaya dan punya kekuasaan." ucapnya datar. dia ingat saat Jessy mengatakan kalau Adam lebih segalanya dari Lexy, jadi wanita itu memilih mengabaikan nya dan menikahi bos besarnya.
Reva meremas jemarinya. apa dia harus mengatakan semuanya.
"sebenarnya.. aku..." suara itu terdengar dalam dan rendah. Lexy memicingkan matanya menunggu kalimat selanjutnya.
"mantan istrinya."
Lexy hampir saja menelan asap rokok yang di hisapnya karena terkejut. dia melempar rokok nya kebawah lalu menginjakan kakinya di atas rokok itu.
"jadi.. sekarang dia ingin kembali padamu?"
"ya.. dia menyesal karena..."
"menikahi gadis itu."
Hening sesaat, Reva dapat merasakan aura hitam dari sekitar tubuh Lexy. matanya terpejam lalu menghela napasnya panjang. Lexy seperti ingin marah tapi tertahan, entah kenapa dan apa alasannya Reva sendiri tak tahu.
"b*j*Ngan... beraninya dia berbuat seperti itu." Lexy mengumpat dengan sangat jelas. kemudian dia melihat Reva lalu tersenyum kecut.
"apa?"
"kau tahu... gadis itu.. pacarku."
Deg..
Kali ini Reva yang terkejut. jadi pacar yang selama ini disebut Lexy adalah Jessy. Reva menelan ludah nya. kenapa hidupnya semakin rumit saja, orang-orang yang di kenal nya kenapa harus selalu berkaitan dengan pria itu.
"mau bertaruh?" tanya Lexy seraya menaikkan alisnya, menggerakkan seolah menggoda Reva.
"bertaruh?" Reva mengeryit bingung.
"ya.. kau balas dia.. dan aku.." sahut Lexy.
"akan membantumu karena dia sudah menghina ku." Reva tahu maksud dengan kata dia..
"lalu..." tanya Reva kemudian. Lexy mendekatkan tubuhnya lalu berbisik pelan.
"kita pura-pura pacaran."
"why..?.. are you stupid..Lexy.."
Lexy tertawa keras. "kau memintaku untuk membantumu kan? ya.. ini yang bisa ku lakukan." tangan Lexy meraih tangan Reva dengan maksud menggodanya.
Reva menautkan alisnya, kemudian menepis tangan Lexy dengan cepat.
"kau gila. aku hanya meminta mu untuk membuat nya menjauhi ku bukan..."
"oh.. ayolah.. hanya dengan cara itu aku bisa membantu mu." potong Lexy.
"jika kau keberatan ya sudah. lagi pula aku juga tak serius, kau bukan tipe ku."
Reva terdiam. mencoba mencerna semuanya. Lexy memang tak mungkin menyukainya karena Amel pernah bilang, semenjak di khianati pacarnya Lexy menjaga jarak dengan lawan jenis dan lebih memilih dekat dengan teman sesamanya.
"eummm.. kau gay, Lexy?" dengan bodohnya Reva menanyakan hal itu. Lexy berjengit, matanya melotot seperti akan keluar dari tempat nya saja.
"hais.. kau ini." Lexy mengacak rambutnya, gemas dengan Reva yang terlihat bodoh bagi nya.
"kenapa? kau meragukan kejantananku? aku mengatakan itu bukan karena aku tak tertarik pada wanita. hanya saja..." Lexy melihat Reva dengan seksama.
"kau sudah seperti adikku." lanjutnya membuat Reva meringis. dia tak menyangka jika pria arogan ini menyimpan dirinya dihatinya seperti Amel.
Reva tersenyum, senang tentu saja. di lihat dari arah mana pun raut wajah Lexy tak menunjukkan kebohongan. dia begitu serius dengan ucapannya.
"kau tahu Reva, orang br*ngs*k harus di balas lebih br*ngs*k lagi."
Reva terkesiap. Lexy terlalu gila dengan idenya. tapi, hati kecil nya menyetujui setiap ucapan itu. Lexy menepuk pelan kepala Reva seperti yang dia sering lakukan pada Amel adik kecil nya.
"jangan khawatir aku akan membalas semua rasa sakitmu. kau dan Amel memiliki posisi yang sama sekarang."
Reva ingin menangis rasanya. Lexy adalah orang kedua setelah venty yang menganggap nya berharga. dia tak pernah menduga jika Lexy akan membuatnya seterharu ini.
"bagaimana Reva?"
Reva menarik napas lalu mengangguk dengan cepat. "baiklah. mulai besok kau harus menunjukan pada Adam..kalau kita.."
"oke Deal."
Hari pun semakin gelap. Lexy dan Reva memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. saling melempar senyum setelahnya lalu perberpisah tepat di ujung gang.
Adam meregangkan otot tubuhnya lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang berselonjor ke atas meja.
Hari ini begitu penat, lagi-lagi Reva menghindari nya. Adam kesal tentu saja, dia ingin sekali kembali kemasa dia dan Reva di jodohkan. jika itu terjadi maka dia akan mencintai reva dengan tulus menjaga hubungan nya dengan baik. tapi sayang nya itu hanyalah hayalan semata. mana mungkin dia bisa kembali ke masa itu.
"Adam, apa kau tak ingin menjelaskan padaku. seharian ini kau pergi kemana? aku ke kantor membawakan makan siang.. tapi sekretaris mu bilang kau tak masuk kerja."
Jessy mendudukkan dirinya di samping Adam.
Adam hanya diam, melirik perut Jessy yang semakin besar saja. hatinya terasa sesak setiap melihat itu, dia benci dan muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jessy.
Adam mendengus pelan. "pergilah. aku letih."
Jessy hanya menelan ludahnya, lalu beranjak dari duduknya. dia malas berdebat sekarang. tak ingin lagi mendapatkan bentakan keras dari Adam kali ini. memilih mengalah demi si buah hatinya, dokternya sudah sering memperingati nya untuk tidak terlalu stres.