Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Tanah Air
Jalan yang berliku-liku
Takdir yang tak pernah menentu
Selalu mengantarkan mu
Pada apa yang tak dapat kamu tahu
...*****...
Meninggalkan Jepang adalah suatu hal yang terasa berat bagi Riri. Mengingat, bahwa kini dia telah memiliki orang-orang yang sayang dan peduli padanya.
Tak banyak kata yang dapat di sampaikan oleh Riri pada mereka yang ditinggalkannya. Hari ini, ia harus kembali ke tanah air tercinta.
Bosnya memberikan pelukan hangat sebagai kenang-kenangan darinya. Minami juga tak lupa memberikan buah tangan pada Riri. Sebagai oleh-oleh untuk ibunya Riri.
Karina dan Riko tak bisa mengantarkan Riri ke bandara. Mereka harus melaksanakan tugas mereka masing-masing. Jika Karina pergi kuliah, maka lain halnya dengan Riko. Riko harus pergi ke sanggar beladiri karena dia seorang guru silat di sana.
Selain menjadi karyawan di toko roti, Minami memberikan ijin pada Karina dan Riko agar mereka bisa berkembang sesuai keinginan dan kemampuan mereka. Sungguh, bos yang luar bisa baik hatinya.
"Semuanya, aku pergi dulu, ya! Jangan pernah lupakan aku, ya! Aku juga akan selalu merindukan kalian. Aku berharap, kalian juga begitu!" ucap Riri penuh haru.
"Tentu, kami juga akan selalu merindukan kamu, Riri," kata Minami pada Riri.
Riri berpamitan, lalu pergi meninggalkan mereka. Taksi yang telah menunggunya, kini siap untuk mengantarkannya ke bandara.
***
Beberapa jam kemudian ...
Setelah penerbangannya, Riri kini telah tiba di tanah air tercinta. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah pergi mencari taksi untuk mengantarkannya pulang.
Ia sengaja tak mengabari ibunya maupun Puri tentang kepulangannya. Setelah mendapat taksi, ia pun pergi dari tempatnya berada saat ini.
Saat tiba di rumah, ia tak melihat ibunya berada di sana.
"Mungkin, ibu masih jualan. Sebaiknya, aku tunggu saja di luar. Tapi, seingat ku ibu tidak pernah membawa kunci rumah. Dia pasti menyembunyikan nya di balik pot bunga itu."
Lalu, dia berjalan ke dekat pot bunga itu dan benar saja. Ia menemukan ada kunci di sana.
"Benar 'kan, ibu memang tidak pernah berubah." ucapnya, ketika ia membalikkan badannya. Dia mendapati ibunya berada di belakangnya.
"Riri, kapan kamu sampai, Nak?" kata ibunya sambil berjalan ke arahnya.
"Ibu, aku baru saja sampai, Bu." ucapnya, lalu dia pun memeluk ibunya.
"Ibu sangat merindukanmu, Nak!" katanya sambil menitikkan air matanya.
"Aku juga, Bu." Mereka saling melepaskan rindu dengan berpelukan begitu eratnya.
Riri membawa barang-barangnya masuk ke dalam rumah. Ibunya juga ikut membantunya.
"Biar aku saja, Bu!" katanya tak ingin merepotkan ibunya yang telah lelah itu.
"Tidak apa-apa, Nak! Ayo, kita masuk! Kamu pasti sangat lelah kan?"
"Ya, lumayan, Bu."
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya. Riri segera memberikan sesuatu pada ibunya. Dia berjalan menuju dapur, ternyata dia mendapati ibunya sedang memasak di sana.
Dia melihat ibunya tengah memasak makanan kesukaannya.
"Ibu, kenapa repot-repot masakin makanan kesukaan aku? Memangnya, Ibu tidak lelah setelah pulang dari jualan?" ungkapnya pada ibunya.
"Kamu 'kan baru pulang. Jadi, wajar kalau Ibu ingin memasakkan makanan yang kamu suka 'kan? Lagi pula, kamu sudah lama tidak makan masakan Ibu 'kan?"
"Ya, Bu. Tapi, 'kan ...," Ibunya langsung memotong ucapannya Riri.
"Sudahlah, duduklah saja, ya!" titah Sekar pada anaknya itu.
"Sebentar lagi masakannya mateng. Kamu sabar, ya!" serunya pada Riri, Riri hanya menuruti saja ucapan ibunya yang sangat antusias itu.
Mereka menyantap makanan yang telah tersaji di atas meja makan itu. Begitu lahapnya, Riri menyantap semua makanan yang di masak oleh ibunya.
"Bagaimana, apa rasanya enak?" tanya ibunya.
"Hem, ini enak banget, Bu!" serunya.
"Aku sangat merindukan semua ini. Aku akan habiskan semuanya, ya Bu?" katanya lagi dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Pelan-pelan saja, nanti kamu tersedak, lho! Habiskan saja semuanya, Sayang!"
"Ibu juga harus makan, jangan cuma ngeliatin aku aja, Bu!" Dia lalu mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauknya yang lengkap.
"Ini, spesial untuk, Ibu!" katanya sambil memberikan piring itu pada ibunya.
"Terima kasih, kamu nggak perlu repot-repot, Nak!"
"Nggak, repot kok, Bu."
***
Saat mereka berada di ruang tamu, di kala mereka tengah duduk-duduk dan berbincang-bincang. Riri, baru saja mengingat tentang sesuatu.
"Ya, ampun! Aku lupa, tadi 'kan aku ingin memberikan sesuatu pada ibu." ucapnya sambil memegang keningnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya ibunya.
"Tunggu, sebentar, ya Bu! Aku akan ambilkan sesuatu yang tertinggal di dapur." ucapnya, lalu bergegas ke dapur mengambilkan titipan dari Minami untuk ibunya.
"Nah, ini dia. Hampir saja aku melupakanmu." ucapnya pada barang itu.
"Bu, ini hadiah dari bu bos ku yang baik hati itu. Katanya, ini untuk ibu. Semoga, Ibu suka, ya." Dia lalu memberikannya pada ibunya.
"Apa ini, Sayang?" tanya Sekar heran.
"Buka saja!"
Betapa terkejutnya Sekar mendapatkan hadiah yang begitu luar biasa dari Minami.
"Wah, perhiasan? Kenapa dia begitu baik sekali memberikan ini pada Ibu, Nak? Padahal dia tidak pernah mengenal, Ibu." katanya haru berbalut bahagia.
"Entahlah, Bu. Aku juga tidak tahu, mengapa dia bisa sebaik itu. Dia memang sangat baik, Bu. Aku merasa bersyukur sekali, karena Allah telah memberikan ku banyak kebahagian di sana." Ungkapnya pada ibunya.
"Ya, Nak. Alhamdulilah, Allah begitu baiknya pada kita. Hutang-hutang yang dulu juga sudah hampir lunas, Sayang. Ibu bersyukur, sekarang kamu juga sudah kembali."
"Wah, benarkah, Bu? Itu artinya, hidup kita sebentar lagi akan terbebas dari rentenir itu."
katanya sangat senang.
"Ya, Nak. Semenjak, kamu pergi ibu selalu berusaha dengan sekuat tenaga ibu. Akhirnya, semua itu membuah kan hasil."
Sejenak, Sekar terdiam dan mulai berpikir akan sekolahnya Riri.
"Riri, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kamu tidak bisa untuk ikut ujian? Kamu 'kan baru pergi beberapa bulan saja. Ibu rasa kamu masih bisa ikut ujian, Nak. Bagaimana mana menurutmu?"
Ditatap nya Riri dalam-dalam, seolah ingin meminta persetujuan agar ia mau untuk ikut ujian tersebut.
Riri tidak langsung menjawabnya, dia malah mengalihkan pembicaraan.
"Ah, itu. Maaf, Bu aku sudah mengantuk. Aku mau ke kamar dulu, ya. Selamat malam, Ibu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ibunya tanpa jawaban.
***
Saat di kamar, dia berpikir tentang apa yang baru saja di sampaikan oleh ibunya.
"Kalau di pikir-pikir, apa yang ibu katakan itu benar juga. Sepertinya, aku masih bisa mengikuti ujian itu 'kan?" katanya dalam hati.
"Haruskah, aku tanyakan ini pada Puri? Aku ingin tahu kapan ujian itu berlangsung." Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menghubungi Puri.
Tut ... tut ... tut ....
Telpon pun tersambung.
"Assalamualaikum, halo Puri! Apa kabar?" Tak ada jawaban dari Puri, dia hanya diam saja.
"Pu, apa kamu di sana? Kenapa kamu diam saja? Tolong jawab aku, aku mohon!" Riri mulai cemas, tidak biasanya Puri bersikap seperti itu padanya.
"Halo, Puri! Kamu dengar aku? Pu ..., " tanyanya lagi, tetap tak ada jawaban. Tiba-tiba, telpon pun terputus.
Riri mulai gelisah dan semakin khawatir sekarang. Dia langsung bergegas ingin menemui sahabatnya itu.
Saat ia bertemu sang ibu yang masih tetap berada di ruang tamu, karena ibunya sedang sibuk menghitung hasil pendapatannya hari ini. Dia tak sempat untuk berpamitan padanya.
"Riri ..., kamu mau kemana?" teriak Sekar saat melihat putrinya terburu-buru begitu.
"Maaf, Bu! Aku buru-buru banget, nanti aja aku jelasinnya ke Ibu! Dah, Ibu. Assalamualaikum!" ucapnya l, lalu pergi.
"Waalaikumsalam!"
***
Puri merasa sedikit bersalah pada sahabatnya Riri. Namun, hatinya begitu terluka karena sikap sahabatnya itu. Pasalnya karena Riri tak sering menghubungi nya.
Hal itu, membuat Puri merasa sangat sedih. Ia merasa sudah tak di hargai lagi oleh sahabatnya itu.
Ingin rasanya dia menghubungi sahabatnya itu. Namun, egonya jauh lebih tinggi. Ibarat gunung yang menjulang tinggi. Bahkan, sampai ingin menyentuh langit. Sangking kan tingginya. Seperti itulah rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
***
Riri telah sampai di rumah Puri, namun ia tak langsung mengetuk pintu rumah Puri. Ia takut Puri terkejut melihatnya nanti.
Kemudian, dia berinisiatif untuk menelpon Puri lagi. Tapi, tidak pernah di angkat oleh Puri. Satu-satunya cara, ya harus mengetuk pintu rumahnya.
Tok ... tok ... tok ....
Betapa terkejutnya Puri, melihat sahabatnya yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Rasa tak percaya, bahwa kini ia bisa lagi melihat sahabatnya itu.
"Riri ... apa benar ini kamu?" tanyanya dengan kebingungan. Lalu, Riri berusaha mengatasi kebingungan sahabatnya itu.
"Benar, ini aku, Puri! Maaf, selama ini aku sangat keterlaluan padamu!" ucapnya sambil menjewer telinganya sendiri, dengan linangan air mata ia mengatakannya. Lalu, dia juga bersimpuh di hadapan Puri.
"Berdirilah! Jangan seperti ini, Riri!"
Akan tetapi, Riri tidak mau dia menggelengkan kepalanya.
"Aku bilang berdiri!" teriak Puri, lalu dia mengajak Riri untuk berdiri dan memintanya untuk masuk.
"Ayo, masuk kedalam!" ajaknya masih dengan sikapnya yang dingin.
Walau pun demikian, Riri tetap merasa bahagia kini. Dia tersenyum bahagia dan menghapus air matanya.
Betapa senangnya ia, sampai-sampai dia tak mendengar apa yang di ucapkan Puri padanya.
"Riri ... kamu dengar aku nggak, sih?" kesal Puri sambil sedikit berteriak.
"Maaf, tadi kamu bilang apa tadi?"
"Kamu, mau ngapain ke rumahku?"
"Aku mau jelasin semuanya ke kamu, Pu. Aku benar-benar nggak ada maksud untuk mengabaikan kamu. Sama sekali nggak seperti itu, Pu." jelas Riri pada Puri.
"Cukup! Kamu nggak perlu jelasin apa- apa lagi, Ri. Aku percaya, kok sama kamu."
"Apa itu artinya kamu maafin aku?"
Puri mengangguk dan Riri langsung memeluk sahabatnya itu. Akhirnya, mereka kembali bersama seperti dulu lagi.
"Eh, ada, Nak Riri. Kapan kamu datang Riri?" tegur Mamahnya Puri yaitu Dewi.
"Eh, Tante. Baru, aja, Tante. Tante, apa kabar?"
"Ya, Alhamdulillah, baik. Kamu kapan pulang dari Jepangnya?"
"Hari ini dan aku lupa bawakan Tante oleh-oleh. Itu semua karena Puri bikin aku khawatir, Tante." adunya pada Dewi.
"Eh, kok malah aku yang di salahi, sih?" protes Puri tak terima jika dirinya yang di salahkan.
"Ya, iyalah kamu. 'Kan kamu yang bikin aku panik tadi. Kalau kamu mau jawab telpon dari aku, pastinya nggak mungkin malam ini aku kesini." keluh Riri tak terima juga bila dia di salahkan.
"Sudah-sudah! Jangan pada berantem, dong! Ya, udah Tante buatin minum untuk kamu dulu, ya?" ucap Dewi.
"Makasih, Tante! Nggak usah repot-repot, aku cuma sebentar, kok disini." tolaknya.
"Oh, ya sudah. Kalau gitu, Tante ke kamar, ya. Awas, jangan berantem lagi, lho!" pesannya sebelum pergi.
"Ya, Tante." balas Riri.
"Ya, Mah." jawab Puri.
Kebahagiaan itu hampir saja membuat Riri lupa. Dia ingin bertanya pada Puri perihal tentang ujian itu. Ketika dia mengingatnya dia langsung bertanya pada Puri.
"Oh, ya Pu. Kapan ujiannya di mulai? Kira-kira aku bisa ikut, nggak?"
"Saat ini masih ujian-ujian biasa, sih. Gimana kalau kamu besok datang aja ke sekolah?" saran Puri.
"Oke, deh. Besok aku akan datang lagi ke sekolah."
Saat mereka asyik mengobrol, telpon Riri berdering.
"Bentar-bentar, ponselku bunyi, deh. Aku angkat dulu, ya!" Dia lalu berdiri dari duduknya.
"Oh, ya udah. Angkat aja!" ucap Puri.
Riri mencari tempat yang nyaman untuk mengangkat telponnya. Ketika dia melihat siapa yang menelponnya. Dia sedikit gugup karenanya.
"Riko, ada apa dia telpon?" katanya lalu menjawab telpon dari Riko.
"Assalamualaikum, ya, Ko. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Ri. Kamu uda sampai di rumah 'kan? Kamu baik-baik aja 'kan? Kamu ..., " Riri menghentikan Riko yang terus bertanya padanya.
"Ko, satu-satu dong nanya nya! Jangan di borong gitu, kali!" pinta Riri.
"Riri ... kamu dimana, sih?" teriak Puri yang mencari Riri.
"Ya, Pu. Aku ada di sini. Di depan rumahmu." jawab Riri.
"Nih, aku bawain kamu minuman," kata Puri sambil menyodorkan minuman itu pada Riri.
"Makasih, ya! Jadi, ngerepotin."
"Nggak, kok. Santai aja!"
"Kamu sedang bicara dengan siapa, Ri?" tanya Riko dari balik telpon.
"Oh, itu sahabatku. Namanya Puri," jawabnya.
"Siapa?" tanya Puri.
"Temanku," bisik Riri pada Puri. Puri mengangguk tanda mengerti.
"Oh, gitu!" kata Riko.
"Ko, udah dulu, ya! Nanti, kita sambung lagi, aku nggak enak sama dia. Bye Riko! Assalamualaikum!"
"Tapi, Ri ...? Waalaikumsalam!" telpon pun terputus.
"Riri, kenapa, ya?" Riko merasa bingung dengan perubahan sikap Riri padanya.
***
"Tadi itu siapa, Ri?" tanya Puri masih penasaran.
"Oh, dia itu temanku yang ada di Jepang. Namanya Riko, dia sangat baik padaku saat aku di sana. Nggak penting juga ngebahas dia. Ya, udah karena ini sudah malam banget. Aku pulang, ya." katanya pada Puri.
"Oke, hati-hati di jalan!" pesan Puri pada Riri. Riri tersenyum dan mengangguk.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya