NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Hendry tidak bergeming. Ia bagaikan batu karang di tengah arus ketidakpastian, tatapannya menancap pada Lisa dengan intensitas yang sanggup melubangi baja. Koridor rumah sakit yang sunyi seolah ikut menahan napas, memeluk kesunyiannya sendiri kecuali dengungan monoton mesin pendingin yang seperti napas panjang bangunan ini. Cahaya neon yang kejam menerangi setiap pori wajah Lisa, membuatnya merasa terbuka dan rentan.

"Ruang farmasi terbatas." Ulang Hendry, setiap katanya jatuh seperti palu di atas meja interogasi. Suaranya, berat oleh tahunan asap rokok dan kekecewaan, sarat dengan kecurigaan yang bukan lagi profesional, melainkan pribadi. "Dan kau berdiri di sini, di jam seperti ini, bicara pada ponsel yang bahkan tak menyala, tepat di depan pintu yang membutuhkan otorisasi dua tingkat. Ceritakan padaku, Detektif Ahn, apakah ambisimu sudah membawamu sejauh ini? Menjadi pencopet obat-obatan di kegelapan malam?"

Lisa menelan ludah. Rasanya seperti menelan batu kerikil. Tenggorokannya kering. Ia harus memberikan jawaban yang masuk akal bagi dunia Hendry, dunia yang hanya berputar pada fakta, dokumen, dan logika yang kasatmata. Bukan pada bisikan arwah dan petunjuk dari dimensi yang tak terjangkau.

"Saya… saya tersesat, Senior." Kalimat itu meluncur dengan paksa. Ia memaksakan sebuah tawa kecil, suaranya pecah dan sumbang, terdengar palsu bahkan di telinganya sendiri. "Saya sedang mencari toilet. Lorong-lorong di rumah sakit ini seperti labirin setelah lampu dimatikan. Saya pikir pintu ini adalah akses ke toilet staf. Dan ponsel saya." Ia mengangkat ponsel itu, seperti barang bukti. "Mati. Jadi saya tak bisa melihat denah."

Hendry tidak mengalihkan pandangan. Matanya memindai Lisa seperti mesin sinar-X. Ia menoleh sebentar ke pintu baja di belakang Lisa, membaca tulisan 'FARMASI TERBATAS — AKSES DILARANG' dalam huruf kapital merah yang tak mungkin salah dibaca, lalu kembali ke wajah Lisa. Ekspresinya datar, tapi di baliknya ada gelombang kekecewaan yang hampir bisa diraba.

"Tersesat..." Ia mengulang, datar. "Di rumah sakit yang sama yang telah kau kunjungi setidaknya selusin kali untuk urusan visum korban? Dan kau keliru mengira pintu baja dengan panel keamanan ini sebagai pintu toilet?" Ia menghela napas panjang, sebuah suara letih yang lebih mengutuk daripada bentakan. "Kau detektif yang pintar, Lisa. Itu yang membuatku kesal. Tapi kau adalah pembohong yang sangat, sangat buruk. Sekarang, katakan yang sebenarnya. Apa yang kau cari di dalam sana?"

Dia melangkah lagi, mendekat. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Lisa bisa melihat butiran keringat di pelipis Hendry yang sebenarnya dingin, bisa mencium campuran aroma kopi murahan dan kain wol tua dari jasnya. Aura otoritasnya menekan, fisik dan psikis. Ini adalah Hendry yang berbeda dari yang suka menggoda di kantin; ini adalah Hendry sang penyidik senior yang telah menggerebek sarang penjahat kelas kakap.

Di samping Hendry, Sam berdiri dengan raut wajah gusar. Matanya yang biasanya hangat kini memancarkan kefrustrasian. Ia melihat Lisa, terpojok seperti tikus di sudut, lalu melihat Hendry, sosok batu yang tak tergoyahkan. Dalam benak Sam yang tak lagi berdetak, sebuah kalkulasi cepat berjalan. Jika tekanan ini terus berlanjut, Lisa akan pecah. Dia akan mengatakan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali, atau justru melakukan tindakan nekat. Kariernya, yang sudah di ujung tanduk, akan hancur malam ini juga.

𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘭𝘬𝘢𝘯. Batin Sam, sebuah pikiran yang dipenuhi rasa pelik. Bukan kebencian, tapi kejengkelan mendalam pada ketidakmampuannya untuk berinteraksi secara normal.

Sam melirik ke arah pintu farmasi. Botol kecil berisi keadilan itu tertinggal di dalam, menunggu untuk diselamatkan sebelum perawat tersangka kembali dan menyapu bersih jejaknya. Mereka butuh gangguan. Sesuatu yang bisa mematahkan konsentrasi singa tua yang sedang mengendus ini.

Dengan tekad yang lahir dari keputusasaan, Sam bergerak. Ia mendekati punggung Hendry yang lebar. Dari dekat, ia bisa melihat serat-serat halus di jaket wool pria itu, garis leher yang tegang. Sam mengumpulkan sensasi dirinya—segala kenangan dingin, kesepian, dan kehampaan yang menjadi esensi keberadaannya. Bukan napas, karena ia tak punya paru-paru, tapi sebuah aliran energi yang mengambil bentuk dari niatnya. Ia membayangkan sebuah embusan angin dari kubur yang paling dalam.

Lalu, dengan konsentrasi penuh, ia ‘menghembuskannya’ tepat ke tengkuk Hendry.

𝘍𝘶𝘶𝘶𝘶...

Hendry tersentak begitu hebat hingga seluruh tubuhnya bergetar. Bahunya naik mendadak sampai hampir menyentuh telinga. Ia berputar dengan gerakan reflek yang cepat dan terlatih, menghadap ke koridor kosong di belakangnya, mata membelalak mencari sumber ancaman yang tak terlihat.

“Siapa?!” Serunya, suaranya meninggi satu oktaf, memecah kesunyian koridor.

Tangannya dengan reflek menepuk tengkuknya sendiri, mengusap kulit yang tiba-tiba terasa seperti ditusuki ratusan jarum es. Wajahnya yang tadi merah karena emosi berubah pucat dengan cepat. Bibirnya bergetar karena kejutan mendasar dari sebuah sensasi yang tak bisa dijelaskan: dingin yang menusuk tulang, diikuti oleh sensasi geli yang merayap dari tulang belakang hingga ke ujung saraf kakinya. Itu seperti sentuhan jari-jari mayat.

“Senior? Ada apa?” Tanya Lisa, berusaha keras membuat suaranya terdengar khawatir dan bingung, meski jantungnya berdebar kencang mengetuk-ngetuk sangkar rusuknya. Ia tahu persis apa yang baru terjadi. Ia pernah merasakan dingin serupa.

“Kau… kau tidak merasakannya?” Hendry balik bertanya, suaranya masih bergetar, matanya masih liar menyisir setiap sudut koridor yang kosong. Ia bahkan mengintip ke balik troli linen yang terparkir. “Baru saja seperti ada yang… meniup leherku. Rasanya sangat dingin. Dan rasanya bukan angin AC.” Ia mengusap tengkuknya lagi, seolah mencoba menghapus sisa rasa itu.

“Mungkin itu hanya aliran udara dari ventilasi, Senior.” Lisa menimpali secepat mungkin, memanfaatkan peluang. “Kadang sistem sirkulasi di gedung tua seperti ini menciptakan draft yang aneh.” Ia melihat wajah Hendry yang masih pucat. “Senior terlihat tidak enak badan. Mungkin kelelahan. Bagaimana kalau Senior istirahat dulu di kantin lantai dasar? Saya akan segera pergi, janji.”

Hendry berdiri di tempat, dikoyak oleh dua kenyataan. Insting detektifnya, yang terasah puluhan tahun, berteriak bahwa ada yang sangat salah di sini. Tapi logika manusiawinya, yang dibesarkan di dunia nyata dengan hukum fisika dan bukti empiris, menolak mentah-mentah kemungkinan di luar itu. Konflik itu terpampang jelas di wajahnya: kerutan di dahi, mata yang menyipit penuh pertanyaan, dan mulut yang mengeras.

“Sialan.” Sumpahnya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri dengan suara lirih. “Tempat ini… sepertinya memang berhantu.” Ia menggeleng, lalu menatap Lisa sekali lagi. Tatapannya kini berbeda—masih penuh kecurigaan, tapi juga ada keraguan yang baru, semacam kelemahan yang tersembul. “Pergilah, cepat. Sebelum aku berubah pikiran dan membawamu ke ruang interogasi untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi malam ini.”

Kali ini, Hendry tidak menunggu balasan. Ia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya masih tegap, tapi ada ketergesaan di dalamnya. Sesekali, ia masih menoleh ke belakang, memandang koridor yang kosong dengan pandangan waspada yang baru, seolah-olah kegelapan di antara pintu-pintu lain kini menyimpan mata-mata yang tak terlihat.

Setelah sosoknya benar-benar hilang, ditelan oleh belokan koridor, Lisa bersandar pada dinding, kakinya benar-benar lemas. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemuruh di telinganya.

Sam muncul di hadapannya, menyeringai dengan ekspresi jenaka yang dibuat-buat. “Nah, lihat itu. Si detektif sangar ternyata punya titik lemah.” Namun, di balik candanya, matanya menunjukkan kelegaan.

“Sam, itu tadi terlalu berisiko!” Bisik Lisa, suaranya masih bergetar. “Bagaimana jika dia justru semakin penasaran? Bagaimana jika dia merasa dihantui dan malah menyelidikiku lebih dalam?”

“Tapi dia pergi, kan?” Sam membalas, bahunya sedikit naik. “Dan bukankah kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan?”

Lisa mengangguk, mengumpulkan kembali sisa-sisa keberaniannya. Waktu berjalan. Hendry mungkin saja berubah pikiran, atau si perawat bisa kembali kapan saja. Ia bergerak cepat, merogoh saku celananya dan mengeluarkan seperangkat alat pembuka kunci kecil yang ia selalu bawa—peninggalan dari masa pelatihan di unit forensik digital, tapi berguna untuk situasi seperti ini.

Di depan pintu loker kecil yang ditunjukkan Sam, ia berlutut. Dingin dari lantai merambat melalui celana jinsnya. Dengan tangan yang stabil meski jantungnya masih berdebar, ia menyelipkan dua kait logam tipis ke dalam gembok sederhana. Hanya butuh tiga detik bunyi ‘klik’ yang nyaris tak terdengar, dan gembok itu terbuka.

Ia menarik pintu loker. Di dalamnya, di balik tumpukan kasa steril yang putih, tersembunyi seperti ular di sarangnya, botol vial kaca kecil itu berdiri. Tidak ada label, tidak ada cap. Hanya cairan bening yang tampak tak bersalah. Di sebelahnya, sebuah jarum suntik sekali pakai, tutup oranye pelindung jarumnya masih tergantung di ujungnya, pada jarumnya terdapat noda kristal kecil yang mengering.

“Dapat.” Bisik Lisa, kali ini dengan kepuasan yang dalam.

Dengan gerakan terampil, ia mengambil vial dan jarum suntik menggunakan ujung kantong plastik bukti yang ia bawa, mengamankannya dengan segel. Barang itu terasa berat di tangannya secara moral. Ini adalah senjata, bukti, dan kunci keadilan sekaligus.

“Ayo pergi dari sini, Lisa.” Desis Sam, yang tiba-tiba tampak lebih waspada. Ia menoleh ke arah ujung koridor lain, seolah mendengar sesuatu. “Aku punya firasat. Perawat itu… energinya mendekat. Aku tidak ingin kau harus berurusan dengan dia, atau dengan tiupan hantu bagian dua untuk mengalihkan perhatiannya.”

Lisa memasukkan kantong bukti itu ke dalam saku dalam jaketnya, merasakan beban dinginnya menempel di dadanya. Ia berdiri, melirik sekali lagi ke arah koridor dimana Hendry menghilang, lalu ke arah lain yang masih sunyi. Dua ancaman, satu dari dunianya, satu dari dunia lain, namun sama nyatanya.

Dengan langkah cepat namun tak terburu-buru, ia berjalan meninggalkan koridor rumah sakit. Di belakangnya, Sam melayang mengikutinya, sesekali menengok ke belakang, penjaga tak terlihat yang kini telah melampaui perannya sebagai sekadar sumber informasi. Mereka keluar ke malam Seoul yang lembap, membawa serta rahasia yang akan mengguncang sebuah kasus, dan hubungan kerjasama mereka yang kini telah diperkuat oleh ketegangan dan sebuah tiupan dari dunia sunyi.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!