Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Luka yang terasa
Terlihat seulas senyum di bibir Jihan dikala mendengar jawaban Rey, setidaknya masih ada harapan untuk mereka selamat. Matahari mulai lengser, menggeser posisinya menandakan kalau senja akan segera tiba. Rey dan Jihan yang tadinya berharap kalau tim penyelamat dan teman-temannya akan segera menemukan mereka pun merasa jika harapan mereka sia sia. Mereka sudah duduk disana lama menunggu, tapi sepertinya kini mereka harus berusaha keluar dari sana sendiri.
"Sepertinya tidak akan ada yang akan datang. Senja pun mulai tiba, kita tidak bisa terus disini hingga malam," ungkap Rey seraya berdiri kemudian menatap cemas pada Jihan yang terlihat kebingungan.
Matahari mulai menyingsing, senja mulai menyapa. Jason dan tim sudah sampai di bawah air terjun, mereka mengedarkan pandangan, menilisik setiap sisi sungai berharap bisa menemukan dua teman mereka yang hanyut.
"REY!! JE!!" teriak Jason keras.
Jason memutar pandangannya ke setiap sudut alam bebas itu, berharap segera melihat penampakan kekasih dan sahabatnya.
"Jas, kita coba cari ke sisi lain," ucap Gio menepuk pundak Jason.
Terlihat jelas guratan kekecewaan di wajah Jason ketika ia tidak bisa segera menjumpai kedua orang itu. Akhirnya Jason dan yang lainnya melanjutkan langkah menyusuri tepian sungai. Gio yang memimpin tim pun terus berkomunikasi dengan tim penyelamat yang berada di hilir sungai. Ternyata mereka sama-sama belum menemukan kedua anggotanya.
Rey dan Jihan berjalan mencari jalan setapak yang bisa mereka lewati untuk kembali ke Camp. Jihan berjalan sedikit terseok, napasnya terasa berat, sesekali dia berhenti kemudian sedikit membungkuk untuk sekedar meraup napas.
Entah kenapa Jihan tiba-tiba merasa tubuhnya lemah, keringat dingin bercucuran di seluruh kening dan pelipisnya, di tambah rasa lapar yang membuat lambungnya terus berteriak karena tidak ada asupan yang masuk sejak pagi.
"Rey," panggil Jihan lemah, gadis itu berdiri sempoyongan, ia berpegangan pada pohon yang ada di sisi kanannya agar tidak jatuh.
Rey yang sedari tadi memimpin jalan untuk membuka jalan yang aman bagi Jihan melangkah pun terhenti kemudian menengok Jihan yang ada di belakangnya. Tanpa Rey sadari ternyata Jihan sedikit tertinggal jauh, ia bisa melihat Jihan yang sedikit membungkung dan tertunduk berpegangan pada pohon besar. Rey pun berbalik menghampiri Jihan yang terlihat ngos-ngosan.
"Ada apa, Je?" tanya Rey memperhatikan Jihan.
Jihan menggelengkan kepala seraya mengatur napasnya, kemudian tangan kirinya tampak memegangi pahanya, Jihan sedikit meringis kesakitan. Rey yang melihat hal itupun merasa curiga.
"Gue merasa lelah, Rey!" jawab Jihan kemudian dengan napas sedikit tersengal. "Kaki gue juga terasa sakit," imbuh Jihan.
"Duduklah dulu," ucap Rey.
Jihan berangsur kebawah, mendudukan dirinya di atas rerumputan liar, kemudian menyadarkan punggungnya di pohon yang berdiri kokoh serta meluruskan kedua kakinya.
Rey berjongkok disisi Jihan, ia mengamati wajah gadis itu yang sedikit terlihat pucat. Rey mendekatkan tangannya kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Jihan yang terlihat sedikit memejamkan matanya menahan sakit yang tidak di ketahui oleh Rey. Pemuda itu terkejut merasakan dahi Jihan yang panas, ia menyimpulkan kalau Jihan demam setelah mengalami Hipotermia.
"Mana yang sakit?" tanya Rey lembut.
Jihan yang meringis dengan mata terpejam tidak menjawab pertanyaan Rey, tapi tangan kirinya terus memegangi sisi paha kirinya. Rey melirik kemana tangan Jihan menyentuh, ia pun kemudian bergeser keposisi kiri Jihan. Dengan rasa ragu, Rey mengulurkan tangannya ke paha yang sedari di pegang oleh gadis itu.
"Maaf, Je," lirih Rey sedikit memegang paha gadis itu.
"AW!!" pekik Jihan kesakitan.
"Apa ini sakit?" tanya Rey yang terkejut ketika Jihan kesakitan.
Jihan mengangguk menahan rasa sakit, hingga tanpa sadar kristal bening sedikit menetes dari ujung kelopak matanya.
"Bagaimana rasa sakitnya?" tanya Rey lagi.
Rey tidak tahu apakah Jihan terluka atau bagaimana karena gadis itu memakai celana jeans panjang.
"Ini sakit sekali," tangis Jihan pecah, sedari tadi ia menahan sakit itu.
Rey merogoh kantong jaketnya, ia bernapas lega karena pisau lipatnya masih berada di dalam kantong.
"Je, gue bakal ngerobek celana loe dikit," izin rey yang sudah siap dengan pisaunya.
Mendengar kata robek, Jihan langsung membuka matanya lebar-lebar. "Kenapa di robek?" protes Jihan menutupi bagian pahanya yang sakit.
"Kalau gue nggak robek, gimana tahu kaki loe kenapa!" jelas Rey.
Jihan menggigit bibir bawahnya, ia ragu karena malu. Rey menghela napas melihat sikap Jihan, bagaimanapun ia harus melihat luka yang di alami Jihan.
"Loe malu gue lihat paha loe? Ngapain malu sih, Je! Gue juga udah pernah lihat," ujar Rey dengan nada pelan di akhir kata, ia kemudian mengulum bibirnya, matanya ia alihkan ke arah lain, rona merah terbit di wajah pemuda itu.
Jihan melotot mendengar kata yang keluar dari mulut Rey, kemudian ia terlihat tersipu malu dengan rona memerah yang sama di wajahnya. Ya bagaimana tidak melihat, waktu Jihan tertidur di kamar Rey, gadis itu memakai celana denim setinggi setengah paha, tentu sudah jelas memperlihatkan sebagian pahanya.
"Udah, loe nggak usah protes! Yang terpenting sekarang tuh, bisa lihat luka loe kek gimana," paksa Rey kemudian.
Jihan hanya bisa terdiam. Dengan hati-hati Rey sedikit membuat sayatan di celana Jihan, kemudian merobek paksa kain yang sudah tersayat. Kini terpampang jelas kulit mulus Jihan dengan sebuah luka sayatan dan memar berwarna merah kebiruan, atau malah bisa di bilang seperti luka yang hampir terinfeksi.
"Kok udah kayak gini, Je?! Memangnya dari tadi loe nggak ngrasain?" tanya Rey bertubi.
"Ya kerasa, tapi gue pikir cuman memar biasa," jelas Jihan menahan rasa sakit. "Sepertinya ini karena terbentur batu waktu gue terjatuh," imbuh Jihan.
Rey berdiri dengan memegangi kepalanya, kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari-cari tanaman yang bisa mengobati luka Jihan sementara, biasanya tumbuh liar di hutan.
"Loe tunggu sini sebentar," pinta Rey.
"Loe mau kemana?" Jihan panik karena takut.
"Nyari tanaman buat mbalut luka loe, kalau nggak nanti lukanya tambah parah," jelas Rey.
"Tapi gue 'kan takut, Rey!" ucap Jihan memelas.
Rey berjongkok lagi, ia meraih tangan Jihan kemudian memberikan pisau lipatnya ke tangan gadis itu. "Bawa ini buat jaga-jaga," ucapnya.
"Loe nggak punya niat ninggalin gue sendiri disini, 'kan?" tanya Jihan dengan nada penuh rasa takut.
Rey menahan tawanya mendengar pertanyaan Jihan, ia kemudian mengusap lembut ujung kepala Jihan. "Nggak mungkin gue ninggalin loe. 'Kan loe masih punya hutang ma gue, rugi dong gue kalau loe gue tinggal terus di makan singa disini," seloroh Rey.
"Rey!" seru Jihan antara ingin menangis dan tertawa karena tidak menyangka pemuda itu masih bisa bercanda di saat yang genting seperti itu.
"Gue nggak akan lama," ucap Rey lagi.
Rey bergegas mencari tanaman yang ia maksud. Sedangkan Jihan terus menatap ke arah punggung Rey yang lama-lama tidak terlihat, tangannya menggenggam erat pisau yang Rey berikan. Namun lama kelamaan Jihan merasa matanya sungguh berat, lelah, sakit dan lapar bercampur menjadi satu. Suara hembusan angin yang bergesekan dengan dedaunan seakan menjadi simfoni lagu pengantar tidur, kelopak mata Jihan begitu berat hingga tanpa ia sadari Jihan tertidur disana.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
...Tanpa kalian aku bukanlah apa apa...
...Jadi mohon bantuannya ya...
...Like koment meski sekedar up ya ......
...Like koment kalian berarti bagiku...
...Thank you😘😘...