NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Yang Kukunci

Di Balik Pintu Yang Kukunci

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.

Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.

Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.

"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."

Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.

Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pintu unit 402 tertutup rapat dengan suara debuman berat yang menggema di sepanjang lorong berkarpet tebal lantai empat belas Grand Tower.

Namun, gema suara itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekacauan yang mendadak meledak di dalam ruangan mewah tersebut.

Hendi Sasmita berdiri mematung di tengah ruang tamu, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan raut wajah yang memerah.

Urat-urat di pelipis dan leher pria paruh baya itu menonjol keluar, berdenyut menahan amarah yang mendidih hingga mencapai ubun-ubun. Napasnya memburu, menghirup udara kamar yang mendadak terasa begitu panas dan menyesakkan.

"Berani sekali..." desis Hendi tertahan, suaranya bergetar hebat karena amarahnya yang melampaui batas wajar. "Berani sekali perempuan sialan itu membentakku dan pergi begitu saja!"

Selama belasan tahun, tidak ada satu pun korban yang berani menatap matanya dengan tatapan menantang, apalagi berbalik meninggalkan ruangannya di tengah-tengah ritual yang ia tetapkan. Hendi merasa posisinya sebagai penguasa telah diinjak-injak.

Tanpa berpikir panjang, ia melangkah lebar-lebar menuju pintu ruang kerjanya. Hendi berniat mengambil ponselnya untuk memberikan ancaman telak yang akan membuat wanita itu bertekuk lutut memohon ampun malam ini juga.

Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang kerjanya dan hendak meraih laptop hitam yang terhubung ke kabel pengisi daya di atas meja mahoni, tiba-tiba sebuah kejanggalan aneh tertangkap oleh indranya.

Hendi menghentikan tangannya di udara. Alisnya berkerut dalam.

Lampu indikator aktivitas jaringan pada sistem operasi laptopnya berkedip sangat cepat, tidak seperti biasanya yang berada dalam mode standby tenang.

Lebih dari itu, pada sudut kanan bawah layar monitor, sebuah jendela kecil pemberitahuan sistem menunjukkan aktivitas transfer data berkapasitas besar yang baru saja selesai dilakukan beberapa detik yang lalu.

Jantung Hendi mendadak berdegup kencang. Naluri bisnis dan kewaspadaan yang membawanya bertahan di puncak kekuasaan bertahun-tahun langsung berteriak keras.

Ia dengan kasar menyambar laptop tersebut, mengetik kata sandi utamanya dengan jemari yang mendadak dingin, lalu membuka log riwayat jaringan serta folder arsip rahasia tempat ia menyimpan seluruh dokumen pemerasan, video lama, dan salinan foto digital para korbannya.

Seketika itu juga, darah Hendi terasa tersedot turun dari kepalanya.

Folder tersebut kosong. Bersih tak tersisa. Tidak ada lagi file cadangan, tidak ada lagi kartu as yang selama ini menjadi rantai besi untuk mengendalikan Erlyn dan mangsa-mangsanya yang lain. Seseorang telah menyedot seluruh isi perut digital kerajaannya secara sempurna.

"SI*L*N!" teriak Hendi histeris, melemparkan sebuah bingkai foto mahal di atas mejanya hingga pecah berkeping-keping menghantam dinding.

Kesadaran pahit itu menghantam kepalanya bagaikan palu godam. Perilaku Erlyn yang tidak biasanya, keberanian wanita itu menatap matanya, alasan bodoh vas bunga pecah yang mengalihkan perhatiannya ke dapur, semuanya bukanlah kebetulan. Itu adalah sebuah pengalihan terencana.

Jauh dari gedung megah tersebut, di dalam kabin mobil sedan hitam yang terparkir di bawah bayang-bayang rindangnya pohon peneduh di seberang jalan, suasana berbanding terbalik.

Udara di dalam kabin dipenuhi oleh kelegaan yang begitu luar biasa hingga rasanya bisa disentuh.

Iqbal menyandarkan punggungnya lemas di kursi pengemudi, memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang yang bergetar. Tangannya masih memegang erat lingkar kemudi, namun ketegangannya telah mencair, digantikan oleh air mata kelegaan yang mengalir hangat di pipinya.

Di sebelah kursi kemudi, Doni bersandar puas sambil menutup layar laptopnya yang kini telah mengamankan seluruh salinan data penting milik Hendi ke dalam hard drive eksternal terenkripsi ganda.

"Kita berhasil, Iqbal," bisik Doni dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia menepuk pelan pundak sahabatnya. "Semua file ancaman, dokumen pemerasan, dan rekam jejak digital Hendi sudah berada di tangan kita. Pria itu sekarang lumpuh total. Dia tidak punya peluru lagi untuk menembak."

Iqbal membuka matanya, menatap lurus ke arah pintu lobi Grand Tower di seberang jalan. Tidak lama kemudian, bayangan sosok wanita berbalut mantel gelap melangkah keluar dari balik pintu kaca otomatis gedung tersebut.

Erlyn berjalan cepat namun dengan kepala tegak, menyeberang jalan menuju arah mobil mereka diparkir.

Tanpa buang waktu, Iqbal langsung membuka pintu mobil dan keluar menyambut istrinya.

Begitu Erlyn mendekat, Iqbal tidak lagi peduli pada lingkungan sekitar. Ia langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa wanita yang sangat dicintainya itu benar-benar kembali dalam keadaan utuh dan selamat dari sarang monster.

Erlyn membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Isak tangis tertahan lolos dari bibirnya, bukan lagi tangis ketakutan atau keputusasaan, melainkan tangis kebebasan.

Beban berat berupa rantai masa lalu yang selama belasan tahun menghimpit dada dan merenggut jiwanya kini telah resmi terangkat dari pundaknya.

"Kamu hebat, Lyn... kamu benar-benar wanita paling hebat yang pernah ada," bisik Iqbal bergetar, mengecup puncak kepala istrinya berulang-ulang di tengah guyuran angin sore kota.

Erlyn mendongak, menatap mata suaminya dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Kita berhasil, Mas... semuanya sudah selesai."

"Belum selesai sepenuhnya, teman," sela Doni dari balik pintu mobil yang terbuka, mengangkat hard drive kecil di tangannya dengan seringai penuh percaya diri.

"Ini baru babak penutup dari penderitaan kalian. Sekarang, mari kita bawa bukti ini ke meja penegak hukum dan pastikan monster itu membusuk di balik jeruji besi."

***

Kurang dari dua jam setelah kejadian di apartemen tersebut, suasana di ruang kerja sebuah kantor penegak hukum tingkat atas di pusat kota tampak sangat serius.

Doni menggunakan seluruh jaringan relasi lamanya di kepolisian untuk langsung menghadap kepada perwira tinggi yang memiliki wewenang penuh atas kasus-kasus kejahatan dan pelecehan terstruktur. Di atas meja kerja besar berbalut kayu jati itu, hard drive dan cetakan dokumen digital pemerasan Hendi Sasmita terbentang rapi.

Seorang perwira menengah kepolisian bernama Komisaris Polisi (Kombes) Aris meneliti bukti digital tersebut dengan dahi berkerut dalam. Semakin lama ia membaca rincian transaksi keuangan, catatan rekam jejak, dan bukti ancaman terstruktur yang dilakukan Hendi, semakin mengeras pula rahang perwira tersebut.

"Ini bukti yang sangat telak," suara Kombes Aris terdengar berat dan tegas, mendongak menatap Iqbal dan Doni yang duduk di hadapannya.

"Bukan sekadar kasus ancaman personal biasa, ini adalah pola eksploitasi dan pemerasan beruntun yang dilakukan oleh figur publik berpengaruh menggunakan kekuasaan finansialnya. Kami memiliki dasar hukum yang lebih dari cukup untuk menerbitkan surat perintah penangkapan dan penggeledahan malam ini juga."

Iqbal mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuannya, merasakan aliran darah penegasan mengalir di dalam nadinya. "Lakukan secepatnya, Komandan. Pria itu tidak boleh diberi waktu sedetik pun untuk menghilangkan barang bukti fisik atau melarikan diri."

Kombes Aris mengangguk mantap. Ia meraih gagang telepon di atas mejanya, memberikan instruksi tegas kepada satuan unit buru sergap khusus untuk segera bergerak menuju kawasan Grand Tower.

"Unit Delta, siapkan pasukan. Kita bergerak ke Grand Tower unit 402 sekarang. Target adalah Hendi Sasmita atas dugaan tindak pidana pemerasan, eksploitasi, dan pelecehan beruntun. Laksanakan operasi senyap tanpa kompromi."

Perintah telah turun. Roda keadilan yang selama belasan tahun macet di bawah bayang-bayang kekuasaan sang taipan kini mulai berputar kencang, siap melibas apa saja yang menghalangi jalurnya.

***

Kembali ke unit 402 Grand Tower, malam mulai merangkak turun, membungkus kota dengan cahaya lampu-lampu gemerlap dari gedung-gedung di sekitarnya.

Namun, di dalam unit mewah tersebut, suasana sama sekali tidak tenang.

Hendi Sasmita mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah kaki yang berat dan gelisah. Ponselnya terus-menerus menghubungi jaringan pengacaranya dan orang-orang kepercayaannya di luar, namun tidak ada satu pun yang memberikan jawaban memuaskan.

Ia merasa terkurung di dalam benteng mewahnya sendiri, menyadari bahwa seluruh fondasi kekuasaan yang ia bangun di atas ketakutan orang lain kini telah runtuh berkeping-keping tanpa sisa.

Pikiran Hendi kalut. Ia tahu, jika data itu jatuh ke tangan penegak hukum, karier, kekayaan, dan kebebasannya akan lenyap dalam sekejap. Ia harus segera pergi. Ia harus membereskan paspor dan dana cadangan darurat di brankas tersembunyi kamarnya malam ini juga.

Hendi berbalik badan, bernapas memburu, dan melangkah cepat menuju pintu kamar tidur utamanya.

Namun, sebelum jari-jarinya sempat menyentuh kenop pintu kamar tersebut, sebuah suara benturan keras yang memecah kesunyian lorong tiba-tiba bergemuruh dari arah luar pintu apartemennya.

Brak!

Suara hantaman pertama yang disusul oleh hantaman kedua yang jauh lebih kuat mengguncang daun pintu besi unit 402.

Hendi terkesiap kencang, langkahnya terhenti seketika. Wajahnya memerah pucat pasi.

Brak!

Hantaman ketiga menjebol paksa kunci pengaman utama pintu tersebut. Daun pintu itu terbuka lebar dengan paksa, menampilkan barisan aparat kepolisian berseragam lengkap dengan senjata laras pendek siap siaga, melangkah masuk memenuhi ruangan dengan langkah tegap dan terorganisir.

Di barisan depan, seorang perwira polisi menatap tajam ke arah Hendi, mengangkat selembar surat perintah resmi di tangan kirinya.

"Hendi Sasmita! Anda kami tahan atas dugaan tindak pidana pemerasan, eksploitasi, dan pelecehan beruntun! Jangan melawan, letakkan tangan Anda di belakang!" suara tegas perwira itu menggema di seluruh sudut apartemen mewah tersebut.

Hendi berdiri terpaku, lidahnya kelu, matanya terbelalak menatap borgol besi yang kini berkilau di bawah lampu ruangan, bersiap mengunci pergelangan tangannya untuk selamanya. Sang predator malam itu akhirnya telah tertangkap di dalam perangkapnya sendiri.

1
Fall.
obsesi Hendi benar² pengen memiliki erlyn semata kah? bukan yang lain?

kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
Fall.
om Hendi membrutal erlyn
Fall.
aww ihhh merinding banget
Reno A.H
Erlynnnn, maksud menguasai hidup mu dulu itu apa?? Moga Iqbal menerima yah, soalnya sudah kepalang kadung. Sudah nyaman.
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Dari awal Iqbal setulus ini. Kayaknya kamu jujur aja deh, Erlyn. Lebih baik mengatakannya sendiri daripada Iqbal mengetahuinya dari orang lain
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tentu saja, luka dan trauma itu tidak semudah itu untuk menghilangkannya, apalagi memendam semuanya sendirian.
aefpe fp
erlyn ini tipe orang yang suka menyiksa batinya ya adik adik, memang berat si tapi baik dia berpikir yang akan terjadi maka terjadilah👀
Mingyu gf😘
akhirnya terungkap juga😭😭
Mingyu gf😘
Aduhb kalian harus hati hati ya
Mingyu gf😘
semuanya udah kebkngkar kan, gak usah kesana lagi gak usah goblok
Mingyu gf😘
Nikmati hasil dari kebodohanmu
naws
duh. semoga kamu gak ngancurin hidupmu sendiri ya bal. gaboleh sampe jadi kriminal. kamu kriminalkan aja tuh si hendi.
naws
wajar marah dan sedih.
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
naws
iqbal gak akan nelantarin rara.
paling dia gugat kamu lyn 🫠
naws
dari awal emang salah langkah 😖
Pencari Cerita
kalau kata aku mah mending cerita lyn, biar kamu bisa ngadepin nya gak sendirian, kayanya iqbal suami yang baik
Hamzah [Hiatus]
simpan aja itu telpon 😠
Hamzah [Hiatus]
waduh.. apakah akan ancur? please jangan dong 😿
Hamzah [Hiatus]
kalau aku disitu sih, kasih dia pelukan sih biar enakan😌
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hu hu lega akhirnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!