Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Senja,Cahaya Lilin Dan Perjanjian Baru
Matahari Mediterania perlahan tenggelam di garis horisontal laut, memancarkan gradasi warna jingga dan keunguan yang memukau di atas langit malam. Angin pantai yang tadinya hangat kini berubah menjadi hembusan sejuk yang menenangkan.
Setelah membersihkan sisa-sisa pasir dari tubuh mereka, Aira melangkah keluar menuju balkon utama villa. Langkah kakinya terhenti seketika. Matanya berbinar menatap kejutan luar biasa yang telah disiapkan di sana.
Sebuah meja makan bundar kecil bernuansa serba putih telah tertata rapi di tengah balkon yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Puluhan lilin-lilin aromaterapi berjejer rapi di sepanjang pagar kaca, menciptakan pencahayaan remang yang sangat romantis. Taburan mahkota bunga mawar merah melapisi lantai kayu balkon, dan alunan musik instrumental biola terdengar lembut melayang di udara.
"Kamu suka?"
Suara bariton yang hangat memecah keheningan. Aira menoleh dan mendapati Gabriel sedang berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu tampak sangat tampan dan menawan—kini mengenakan kemeja putih kasual yang kancing atasnya dibiarkan terbuka sedikit, dipadukan dengan celana santai berwarna krem. Hilang sudah kesan konyol sang pembuat istana pasir, menggantikannya dengan pesona seorang pria matang yang penuh wibawa.
"Gabriel... kapan kamu menyiapkan semua ini?" bisik Aira takjub, melangkah mendekati suaminya.
"Saat kamu sedang mandi tadi," ujar Gabriel seraya tersenyum manis. Ia meraih jemari Aira, menuntun sang istri menuju meja makan, lalu dengan sopan menarikkan kursi untuk Aira layaknya seorang gentleman sejati.
"Terima kasih," ucap Aira tulus, menatap piring-piring hidangan laut segar edisi khusus kelas atas yang sudah tersaji indah di meja.
Gabriel duduk di hadapannya, menuangkan sparkling juice buah ke dalam gelas kristal Aira, lalu mengangkat gelasnya sendiri. "Untuk kita. Dan untuk ketenangan yang akhirnya bisa kita nikmati bersama."
Gelas mereka berdenting pelan. Aira menyesap minumannya sambil menatap wajah tampan suaminya yang diterpa cahaya lilin yang hangat.
"Tahu tidak, Gabriel?" ujar Aira pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka. "Dulu... aku selalu berpikir hidup di dekatmu akan selalu dipenuhi rasa takut, bahaya, dan kejutan yang menegangkan setiap hari."
Gabriel menghentikan gerak jemarinya yang memegang pisau makan, menatap Aira dengan penuh perhatian. "Dan sekarang?"
Aira tersenyum sangat manis hingga matanya menyempit indah. "Sekarang aku sadar... kejutan yang paling sering kamu berikan justru hal-hal konyol dan kehangatan yang bikin hatiku selalu meleleh. Kamu bisa jadi sosok paling berbahaya untuk musuhmu, tapi buatku... kamu cuma Gabriel-ku yang selalu berusaha bikin aku tertawa."
Dada Gabriel berdesir hangat mendengar pengakuan jujur dari bibir istrinya. Tatapan matanya meredup hangat, dipenuhi pendar kasih sayang yang mendalam. Pria itu mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Aira dan mengusap punggung tangannya lembut.
"Karena senyummu itu satu-satunya hal di dunia ini yang pantas aku lindungi mati-matian, Aira," bisik Gabriel tulus. "Di dunia bawah tanah, aku ditakuti karena aku tidak punya rasa takut. Tapi bersama kamu... aku baru tahu rasanya takut kehilangan seseorang."
Aira menggenggam balik jemari Gabriel erat-erat, menyerap setiap kata yang diucapkan suaminya langsung ke dalam lubuk hatinya.
Namun, romansa hangat itu kembali sedikit terusik ketika Gabriel tiba-tiba berdeham, mengubah raut wajahnya menjadi agak serius, lalu merogoh saku kemejanya. Pria itu mengeluarkan sebuah lipatan kertas kecil bermotif bunga-bunga yang sangat kontras dengan pembawaannya.
Aira menaikkan sebelah alisnya heran. "Apa itu?"
"Ini... Perjanjian Baru Liburan Mediterania!" ujar Gabriel penuh percaya diri sambil membuka lipatan kertas tersebut.
Aira hampir menepuk jidatnya sendiri. "Perjanjian baru lagi? Gabriel, kita baru saja menikmati suasana romantis!"
"Eits! Ini demi kebaikan bersama!" potong Gabriel serius. Ia membaca isi kertas itu dengan intonasi bagaikan seorang hakim. "Pasal satu: Selama di pulau ini, Aira dilarang keras menolak ciuman Gabriel lebih dari tiga kali sehari."
Aira menyipitkan matanya. "Lalu pasal dua?"
"Pasal dua: Gabriel berhak memeluk Aira kapan pun dan di mana pun, termasuk saat membuat istana pasir atau saat Aira sedang memasak," lanjut Gabriel dengan cengiran konyolnya yang mulai kembali muncul. "Dan pasal tiga yang paling penting..."
Gabriel melipat kembali kertas itu, lalu memajukan tubuhnya mendekati Aira. Matanya mengunci pandangan Aira rapat-rapat dengan pendar yang tiba-tiba berubah sangat intens.
"...Aira dilarang ingat hal lain selain aku selama kita di sini."
Aira tertawa kecil, melingkarkan lengannya ke leher Gabriel yang makin mendekat. "Dan kalau aku melanggar pasal-pasal itu?"
"Hukumannya..." Gabriel mengecup ujung hidung Aira gemas, "...kamu harus siap dikurung di kamar ini bersamaku sampai liburan selesai."
Bisikan bariton Gabriel yang begitu dekat di depan bibirnya membuat napas Aira tertahan. Di bawah naungan cahaya lilin dan hembusan angin laut Mediterania, kedua bibir mereka akhirnya menyatu dalam kecupan hangat dan penuh kelembutan—sebuah awal dari malam yang begitu panjang di pulau pribadi mereka.