“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Keretakan di Bawah Dinginnya Malam Seoul
Dua hari pertama riset lapangan di Seoul berjalan dengan sangat lancar dan menguras energi. Tim Garuda berhasil mengumpulkan puluhan data kuisioner dari warga lokal di kawasan Myeongdong serta menyelesaikan Focus Group Discussion singkat di salah satu kafe di Hongdae.
Di tengah kepadatan jadwal kerja yang begitu menyita pikiran, Dimas tiba-tiba menghampiriku di lobi hotel usai rapat evaluasi malam. Pria itu menyandarkan tubuh tegapnya di sudut meja resepsionis, menatapku dengan pendar mata yang hangat namun memancarkan sebuah keinginan yang jelas.
"Mei, besok jadwal riset lapangan diserahkan penuh ke Vino dan Sonya untuk area Gangnam," ujar Dimas dengan suara beratnya yang menenangkan. "Malam ini dan besok... aku mau mengajak kamu kencan ketiga kita. Hanya kita berdua."
Aku tersenyum manis, mengangguk tanpa rasa curiga sedikit pun. "Kencan ketiga? Boleh, Mas. Lagipula draf laporan untuk bagianku sudah selesai aku rekap."
Bagiku, bayangan tentang kencan adalah momen manis sederhana yang mendekatkan dua jiwa. Berjalan menyusuri trotoar malam yang romantis, menikmati secangkir kopi hangat di kafe kecil, menonton pertunjukan musik jalanan, atau sekadar duduk berdampingan saling menukar cerita hidup. Pikiranku melayang pada kehangatan kencan kedua kami di rooftop Jakarta yang begitu syahdu dan penuh penghormatan.
Sebelum kami berjalan menuju area pertokoan di dekat hotel, Dimas membawaku singgah sebentar ke sebuah minimarket (convenience store) yang terang benderang di sudut jalan Hongdae.
"Tunggu sebentar ya, Mei. Ada barang kebutuhan pribadi yang harus aku beli," kata Dimas pelan sambil mengelus bahuku.
Aku mengangguk dan berdiri di dekat rak minuman dingin, memerhatikan interior minimarket yang rapi. Namun, pandanganku refleks mengikuti langkah tegap Dimas yang berjalan menuju rak khusus di dekat kasir.
Mata beningku terbelalak lebar, napasku seketika tertahan di tenggorokan saat melihat jemari tegap Dimas tanpa ragu mengambil dua kotak kecil berdesain khusus dari rak tersebut.
Pengaman. Kondom.
Darahku mendadak berdesir dingin seperti tersiram es Incheon. Seluruh otot tubuhku menegang kaku di tempat. Aku berjalan mendekat dengan langkah gemetar, menatap kotak kecil di atas meja kasir itu dengan tatapan tidak percaya.
Begitu kami keluar dari minimarket dan berdiri di area trotoar yang agak sepi di samping gedung hotel, aku langsung menghentikan langkahku. Aku menatap Dimas dengan raut wajah yang pucat dan pandangan penuh kecemasan.
"Mas Dimas..." panggilku, suaranya terdengar bergetar hebat. "Itu... untuk apa Mas membeli barang itu?"
Dimas menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya santai menghadapku. Raut wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak memperlihatkan rasa canggung atau bersalah. Pria itu merogoh kantong plastik kecil di tangannya, menatapku lurus dengan pandangan yang mendadak terasa begitu asing dan pekat.
Jawaban yang keluar dari bibirnya seketika membuatku merasa tercekik.
"Kencan ketiga kita... tidur bersama," ucap Dimas dengan nada santai, seolah-olah kalimat itu adalah hal paling wajar di dunia.
Deg.
Dada dan tenggorokanku serasa dihantam batu besar yang amat berat. Suara desis angin malam Seoul mendadak beralih menjadi berdengung tajam di telingaku. Aku menatap pria di hadapanku ini dengan mataku yang membelalak lebar, memegang dadaku yang mendadak sesak luar biasa.
Ucapannya yang santai itu seolah menandakan dia benar-benar lupa atau bahkan sengaja mengabaikan prinsip utamaku. Dia lupa bahwa aku sama sekali tidak mau melakukan hal itu sebelum adanya ikatan suci pernikahan!
Kemarahan, rasa kecewa, dan trauma masa lalu yang dulu pernah ditancapkan oleh Juan mendadak bangkit dan menghantam kesadaranku tanpa ampun.
"Mas Dimas... kamu bercanda, kan?" bisikku parau, mataku mulai berkaca-kaca. "Kamu tahu persis batasanku! Aku tidak pernah dan tidak akan pernah mau melakukan hal seperti itu sebelum kita resmi menikah!"
Dimas melangkah satu tapak maju, mencoba mendekatiku, namun aku refleks mundur dua langkah menjauh darinya.
"Mei, kita ini sudah bertunangan," potong Dimas, alis tebalnya bertaut tipis, suaranya berubah menjadi lebih dingin dan dominan. "Keluarga kita sudah merestui. Pernikahan kita tinggal menghitung bulan. Apa bedanya sekarang atau nanti?"
"Beda, Mas! Beda sangat jauh!" pekikku pelan, menahan agar suaraku tidak memancing perhatian orang-orang yang melintas di kejauhan. Airmata kecewa menetes membasahi pipiku yang dingin. "Bagi seorang wanita seperti aku... menjaga kehormatan sampai akad nikah adalah harga diri tertinggi! Dulu aku meninggalkan Juan karena dia menuntut hal yang sama, dan sekarang... kamu mau melakukan hal yang sama padaku?!"
Dada Dimas naik turun menahan emosi. Pria jangkung itu memasukkan kantong plastik itu ke dalam saku mantel tebalnya, menatapku dengan pandangan tajam yang tak mau dibantah.
"Jangan samakan aku dengan mantanmu yang tidak berguna itu, Maizara!" gertak Dimas dengan suara rendah yang menekan. "Aku pria yang akan menikahimu! Saya yang bertanggung jawab atas hidupmu!"
"Tapi bukan dengan cara memaksa kehendak seperti ini!" balasku tegas, menyapu air mata di pipiku dengan kasar. "Bagi aku... kencan itu adalah jalan-jalan berdua, makan bersama, menonton, mengobrol hangat, dan..."
"Bagi aku kencan adalah ini!"
Ucapan Dimas yang memotong pembicaraanku dengan keras dan tajam seketika membekukan bibirku.
Kalimatnya yang arogan itu terngiang-ngiang liar di dalam kepalaku, meruntuhkan seluruh gambaran tentang sosok pria lembut, pengertian, dan pelindung yang selama beberapa minggu ini kubanggakan di dalam hati.
Di bawah pendar redup lampu trotoar Hongdae yang dingin, pria di hadapanku ini mendadak kembali menjadi sosok CEO Arjowibowo yang dingin, dominan, dan merasa bisa mengendalikan segala hal sesuai dengan keinginannya sendiri.
"Kamu pikir..." bisikku dengan suara bergetar, menatap tepat ke dalam manik mata hitamnya yang kini terasa begitu asing, "...karena kamu sudah memberi aku posisi di perusahaanmu, karena kamu sudah melindungiku dari Juan, dan karena kamu berkuasa, kamu bisa membeli kehormatanku sebelum waktunya?"
Raut wajah Dimas seketika berubah agak pucat mendengar kalimat penuhan yang keluar dari bibirku. Ada pendar kaget yang melintas sekilas di matanya, namun egonya yang tinggi menahannya untuk langsung meminta maaf.
"Aku tidak pernah berpikiran serendah itu, Mei," tegur Dimas dengan rahang yang mengerasa.
"Tapi tindakanmu menunjukkan hal itu, Mas!" tegas bersuaraku. Aku merapikan mantelku, melangkah mundur perlahan menjauhinya. "Aku menghargai kamu sebagai calon suamiku, tapi jika kamu tidak bisa menghargai prinsip hidup dan kehormatanku sebagai seorang wanita... maka pernikahan atau kencan ini tidak ada artinya sama sekali."
Tanpa menunggu balasan atau penjelasan lanjutan darinya, aku memutar tubuhku dan berlari cepat meninggalkan Dimas sendirian di tepi trotoar jalan.
Airmata deras mengalir tanpa sanggup kutahan lagi, membakar pipiku yang kedinginan. Di tengah riuh dan indahnya lampu kota Seoul malam itu, hatiku terasa hancur berkeping-keping. Rasa percaya yang telah kubangun dengan susah payah kini tertutup oleh awan kelam keraguan yang amat pekat.