🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Mereka menghabiskan menit-menit pertama tanpa basa-basi. Adrian membariskan halaman empat, lampiran vendor, dan satu lembar kerja di belakangnya yang berisi jejak revisi. Alina hanya boleh menunjuk. Setiap kali jarinya melewati garis khayal di tengah meja, Adrian menggeser kertas setengah senti lebih dekat ke dirinya. Bukan main-main. Batas itu ia jaga seperti orang menjaga laci yang tidak boleh tertukar.
Revisi terakhir pada ringkasan bertanggal 2 Oktober. Namanya hanya inisial. Lampiran tidak punya tanggal revisi. Ada cap waktu cetak di kaki kertas, 3 Oktober, pukul 22.14. Alina mengetuk udara di atas cap itu.
“Ringkasan yang disebut selesai dicetak lebih dulu daripada lampiran yang menunjukkan pekerjaan belum selesai,” katanya. “Orang yang merapikan halaman depan tidak menunggu halaman belakang.”
“Atau orang yang mencetak lampiran lupa bahwa ringkasan sudah dikunci untuk rapat.” Adrian membalik lembar revisi. “Di perusahaan sebesar ini, dua tim bisa tidak saling menegur sampai ada yang malu.”
“Enam koma lima miliar adalah jumlah yang aneh untuk sebuah rasa malu.”
“Dan untuk sebuah penyusupan, jumlah itu terlalu enak. Mudah dijumlah. Mudah diucapkan. Mudah dijual kepada orang yang sudah ingin marah.”
Alina menegakkan punggung. “Kau pikir aku membawa angka ini dari luar.”
“Saya pikir Anda tidak masuk ke ruangan acak dan tidak membuka map acak.” Adrian menatapnya. “Anda langsung ke lampiran. Itu bukan keberuntungan orang yang tersesat di antara dua sesi.”
“Pintunya terbuka. Map abu-abu ada di atas. Aku membuka yang abu-abu karena orang menyimpan angka di warna yang membosankan.”
“Anda juga memotret yang lain.”
“Untuk tahu yang mana yang membosankan.”
Adrian tidak tersenyum. “Kalau saya serahkan Anda ke keamanan, cerita Anda tentang pintu terbuka akan bertemu dengan buku tamu. A. Pramesthi. Nama yang terlalu rapi untuk sebuah kecelakaan.”
“Nama yang cukup untuk masuk lobi. Tidak cukup untuk masuk data room. Yang cukup untuk data room adalah pegawai kalian yang tidak menutup pintu.”
“Itu kelalaian. Kelalaian tidak memberi Anda hak milik atas kertas ini.”
“Dan jabatan tidak membuat dua angka menjadi satu.”
Mereka berhenti karena langkah di lorong melambat di depan pintu, lalu berlanjut. Alina baru sadar ia menahan napas. Adrian tidak. Ia membalik halaman lain, sebuah catatan uji tuntas yang menyebut bahwa seluruh kewajiban terkait pihak lama pada target telah direkonsiliasi. Kata telah duduk di sana tanpa lampiran yang menyertainya.
“Ini kalimat yang sama,” kata Alina. “Selesai, telah, dibersihkan. Kalian sangat suka kata kerja yang mengubur pertanyaan.”
“Anda berbicara seperti orang yang sudah punya musuh sebelum masuk.”
“Aku berbicara seperti orang yang bisa membaca.”
Adrian meletakkan pena. Untuk pertama kali suaranya tidak hanya pelan, tetapi juga lebih pendek dari sebelumnya. “Anda sedang memakai selisih ini untuk menekan saya. Itu tidak sama dengan menyelamatkan sebuah angka. Siapa yang diuntungkan jika akuisisi Pesisir Garuda terlihat kotor hari ini?”
“Banyak orang. Aku tidak termasuk.”
“Sebentar lagi ada orang dari Kusuma di lantai ini. Mereka diuntungkan jika kami terlihat tidak becus menjaga berkas sendiri. Anda duduk di ruang kami, dengan nama samaran, tepat sebelum mereka naik. Kebetulan yang itu lebih buruk daripada selisih Anda.”
Alina menunjuk cap waktu di kaki lampiran, masih tanpa menyentuhnya. “Tiga Oktober, pukul sepuluh lewat empat belas malam. Siapa yang mencetak berkas uji tuntas selarut itu, lalu tetap memakai ringkasan yang lebih dulu?”
“Orang yang lembur.”
“Orang yang lembur biasanya menitipkan catatan, bukan menelan enam koma lima miliar ke dalam kata selesai.”
Adrian membalik lembar distribusi yang terjepit di belakang halaman empat. Daftar nama penerima ringkasan sudah dicetak: direksi yang akan duduk pagi ini, ditambah satu salinan untuk ruang baca investor. Lampiran tidak ada di daftar itu. Alina membaca nama-nama jabatan dari jaraknya dan berhenti pada baris terakhir. Bukan nama orang. Hanya “pengamat undangan, jika hadir”.
“Lampiran ini tidak ikut terkirim,” katanya.
“Belum tentu disembunyikan. Banyak lampiran tidak ikut ke undangan karena ruangan baca yang sah ada di sini, bukan di kotak masuk.”
“Jadi orang yang hanya membaca undangan akan mengira kewajibannya dua belas koma empat, dan orang yang sempat membuka map akan melihat delapan belas koma sembilan. Anda nyaman dengan dua macam pembaca?”
“Saya nyaman dengan pembaca yang berhak. Anda bukan salah satunya.” Adrian melipat daftar itu kembali. “Jangan berbicara seolah Anda baru saja menyelamatkan perusahaan. Anda menerobos. Selebihnya masih dugaan.”
“Dan dugaan Anda tentang aku juga belum menjadi fakta. Anda memanggilnya Kusuma karena itu musuh yang paling mudah hari ini.”
“Musuh yang mudah tetap harus diperiksa.”
Alina menelan kalimat tentang ayahnya untuk kedua kali. Kalau ia mengucapkannya, Adrian akan berhenti mendengar angka. Pria itu akan mendengar anak dari direktur yang, dalam cerita resmi gedung ini, sudah mencuri. Alina belum mau kalah dengan cara itu.
“Kalau aku datang untuk Kusuma,” katanya, “aku akan memberi halaman ini kepada mereka, bukan duduk di sini menunggu Anda selesai curiga. Aku di ruangan ini karena aku tidak ingin halaman ini hanya hidup di saku orang lain.”
“Ponsel Anda ada di saku saya.”
“Itu sebabnya aku masih duduk.”
Adrian memandang map merah di ujung meja, yang belum mereka sentuh. Ia tidak membukanya. “Saya tidak akan berbagi berkas dengan orang yang tidak mau disebut namanya. Saya juga tidak akan memanggil polisi dalam enam puluh menit ke depan, karena berita acara hari ini akan memakan akuisisi lebih cepat daripada tim keuangan memakan selisih. Itu bukan kepercayaan. Itu urutan kerusakan.”
“Aku tidak meminta kepercayaan.”
“Bagus. Saya tidak menjualnya.”
“Aku meminta halaman ini tidak diganti sebelum ada yang menjelaskan enam koma lima miliar.”
“Anda tidak memberi instruksi pada rapat saya.”
“Kalau begitu jangan pura-pura kata selesai di halaman empat adalah instruksi yang sudah selesai.”
Adrian menutup mata sejenak, sangat singkat, seperti orang yang menghapus kalimat yang tidak akan ia ucapkan. Ketika ia membuka mata, keputusannya sudah jadi dan tidak menguntungkan Alina.
“Anda ikut duduk di rapat. Bukan di meja. Di kursi samping. Anda tidak berbicara, tidak memperkenalkan diri, tidak menyentuh kertas. Setelah rapat Anda kembali ke ruangan ini. Ponsel tetap saya yang memegang. Tidak ada kesepakatan selain itu.”
“Itu tahanan yang dipindah ruangan.”
“Itu cara agar saya tidak kehilangan Anda dan tidak kehilangan kendali atas cerita di depan tamu.” Adrian berdiri. “Anda boleh menolak. Tolakannya berupa ketukan keamanan. Mereka bisa naik dalam empat menit.”
Alina melihat pintu, lalu kedua kertas yang masih terbuka. Empat menit tidak cukup untuk menyalin apa pun. Satu jam yang dijanjikan tadi menyusut menjadi sisa waktu sebelum lift Kusuma berbunyi. Ia tidak berjabat tangan. Ia tidak mengangguk seperti orang yang menerima pekerjaan.
“Aku tidak setuju,” katanya. “Aku hanya belum memilih polisi.”
“Itu cukup untuk hari ini.”
Ketukan datang dua kali, sopan, tidak tergesa. Adrian tidak langsung membuka. Ia menutup map abu-abu, memasukkan halaman empat dan lampiran ke dalamnya, lalu baru memutar kunci.
Perempuan di luar berdandan sederhana, rambutnya dijepit rapi, tablet menempel di lengan kiri. Matanya menyapu Alina sekali, tanpa komentar, lalu kembali ke Adrian.
“Tidak bisa ditahan lagi, Pak,” katanya. “Ibu Vanya sudah di lantai ini. Pak Oscar dan Pak Dimas masuk lewat ruang Nusantara. Saya sudah mematikan pembahasan di luar. Belum ada yang saya kirim ke atas.”
“Biarkan begitu,” kata Adrian. “Dia duduk di kursi dinding. Tidak perlu nama di layar.”
“Baik, Pak.” Perempuan itu menyingkir setengah langkah agar lorong terbuka. Tidak ada senyum tambahan untuk Alina, juga tidak ada tatapan yang mencari gosip. “Rapatnya dimulai begitu Bapak masuk.”
Alina mengangkat tasnya. Kamera saku tetap di dasar, di antara pena dan lipatan undangan. Adrian memegang map abu-abu sendiri. Mereka keluar dari data room tanpa kontrak, tanpa saling percaya, dan tanpa satu pun dari mereka merasa baru saja menemukan sekutu. Di ujung lorong, pintu ruang rapat Nusantara terbuka. Suara orang yang sudah duduk menyelinap keluar, rendah dan tertib, seperti rapat yang tidak tahu bahwa angkanya baru saja bertengkar.