Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Husen yang baru saja tiba dari arena debat bersama Bara dan Rico langsung menyilangkan lengannya di dada menatap Reno dari jauh.
"Anak ini benar-benar tidak tahu diri dan terus mencari gara-gara demi menyelamatkan egonya yang sudah hancur lebur."
"Nisa, hancurkan kesombongannya di depan semua mata yang melihat sekarang juga."
Suara Husen kembali mengalir dengan sangat halus melalui koneksi pikiran masuk langsung ke dalam benak siswi genius tersebut.
Nisa mengukir senyum yang sangat tipis dan menggeser posisinya sedikit ke samping membiarkan alatnya bisa diakses dengan mudah.
"Kalau kamu merasa ada baterai tersembunyi di sini, silakan periksa sendiri alat ini menggunakan tangan kosongmu, Reno."
"Aku menantangmu untuk membongkar alas besinya di depan para juri sekarang juga agar semua keraguanmu terjawab tuntas."
Reno mendecih pelan dan langsung melangkah maju mendekati meja dengan penuh rasa percaya diri yang kelewat batas.
"Tentu saja gue bakal bongkar kebohongan lu ini sekarang juga anak aneh."
Reno mengambil sebuah obeng kecil dari meja panitia terdekat dan mulai mencongkel paksa sekrup di bagian bawah generator tersebut.
Srek srek srek.
Dia membuka pelat penutup besi bawahnya dengan sangat kasar berharap menemukan baterai raksasa yang dia tuduhkan barusan.
Namun, begitu penutup besi itu terbuka lebar, rongga di bawahnya benar-benar kosong melompong tanpa ada setitik pun ruang untuk kabel.
Hanya ada susunan cermin kecil mengkilap yang sengaja ditaruh untuk memantulkan cahaya lampu.
Mata Reno langsung membelalak sangat lebar dan kulit wajahnya seketika memucat seputih kertas melihat kenyataan pahit tersebut.
"I-ini tidak mungkin terjadi, dari mana kumparan ini terus mendapatkan daya dorong tanpa henti?!"
Nisa melangkah maju selangkah dan mengambil paksa obeng itu dari tangan Reno dengan gerakan yang merendahkan.
"Kamu mungkin bisa membeli panggung ini Reno, tapi otakmu terlalu sempit untuk memahami pergeseran kutub magnet asimetris tingkat lanjut."
"Alat ini tidak melanggar hukum termodinamika sama sekali, alat ini hanya menunda titik henti gesekan menggunakan gaya tolak menolak yang diposisikan miring."
Nisa menjelaskan teori fisika terapan itu dengan intonasi yang sangat fasih dan jelas layaknya seorang dosen ahli.
Para juri langsung menganggukkan kepala mereka dengan cepat seolah baru saja mendapat pencerahan ilmu baru.
"Itu benar-benar penerapan teori asimetris yang sangat brilian dan sulit dipikirkan oleh siswa seumurannya!"
"Karya ini seratus persen murni inovasi jenius tanpa ada unsur kecurangan sama sekali di dalamnya!"
Ketua juri langsung memberikan ketukan palu pengesahan tiga kali beruntun di atas meja presentasi.
Tak tak tak!
"Nisa Larasati resmi masuk ke babak Final melawan perwakilan terbaik dari SMA Taruna Bangsa sore nanti."
Reno masih berdiri kaku mematung di depan meja Nisa dengan kedua tangan yang sedikit bergetar hebat.
Rasa malu yang teramat sangat langsung menampar wajahnya secara telak di depan puluhan pasang mata juri dan penonton.
Orang-orang yang tadinya ragu kini berbalik menatap sinis dan mencemooh tindakan Reno yang dianggap sembarangan memfitnah peserta.
"Nisa, tolong panggil panitia kebersihan untuk mengelap meja saya ini."
Nisa berkata dengan nada suara datar tanpa menatap Reno sama sekali seakan murid kaya raya itu hanyalah debu kotoran.
"Bekas sentuhan orang bodoh yang tidak mengerti sains bisa merusak estetika alat generatorku."
Reno menggertakkan rahangnya sangat kuat sampai otot pipinya terlihat jelas menonjol keluar menahan amarah akut.
Dia membanting pelat besi itu kembali ke atas meja lalu berbalik pergi menyeret langkah kakinya menjauhi kerumunan.
Husen tersenyum lebar melihat dua kemenangan mutlak yang diraih murid-muridnya pada babak krusial ini.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem]
[Babak Semifinal Debat Sosial dan Sains Terapan berhasil dimenangkan dengan reputasi sempurna]
[Status sosial SMA Garuda Kelam meningkat drastis menghancurkan stigma negatif publik]
[Hadiah ekstra: 500 Poin Pengalaman didapatkan]
[Host naik ke Level 4 secara instan!]
Husen menarik napas panjang merasakan energi hangat yang menjalar cepat menyapu bersih seluruh rasa lelah di ototnya.
Level up ini secara permanen mempertajam kemampuan fokus dan memperkuat jangkauan aura yang dia pancarkan.
Bara dan Rico berlari mendekati Husen dan Nisa dengan raut wajah yang berseri-seri penuh kemenangan.
"Kita berdua beneran berhasil masuk final, Nisa!"
"Ini serasa mimpi siang bolong, kita dari sekolah rongsokan tapi bisa nembus panggung paling tinggi di kota ini!"
Rico melompat kegirangan sampai tidak sengaja menabrak lengan berotot ketua kelasnya itu.
Bara tidak marah sedikit pun dan justru merangkul bahu Rico sambil tertawa sangat lepas tanpa beban.
Nisa membetulkan kacamatanya dan mengukir sebuah senyum tipis yang tulus melihat tingkah polos teman-temannya.
Husen menepuk tangannya dua kali untuk mengembalikan fokus ketiga murid andalannya agar tidak terlena.
Plok plok!
"Jangan merayakan kemenangan terlalu cepat dulu, anak-anak."
"Lawan kalian di babak final besok pagi adalah tim inti dari Akademi Cakrawala yang sudah disiapkan Reno sejak lama."
"Reno pasti akan maju sendiri sebagai pembicara utama di babak final debat nanti karena ego dan harga dirinya sudah terluka."
Bara menyeringai sangat miring dan memukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya dengan antusias.
"Gue justru nunggu-nunggu momen itu dari awal lomba ini dimulai, Pak Husen."
"Gue bakal bikin si anak konglomerat sombong itu nangis mengemis di depan mikrofon besok pagi."