NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 4

Ketiga gadis itu seketika menegang. Wajah Merlyn, Sherly, dan Natasha mendadak pias, kehilangan seluruh rona merah di pipi mereka. Suasana ruang keluarga yang tadinya dipenuhi suara tawa sinis kini berubah senyap mencekam, seolah oksigen di ruangan itu tersedot habis.

"Ulangi ucapan kalian barusan!" suara Reyden meluncur rendah, dingin, namun sarat akan tekanan mutlak yang membuat bulu kuduk merinding.

Merlyn menelan ludahnya susah payah. Bibirnya bergetar hebat saat mencoba membuka mulut.

"Mas Rey... kami cuma..."

"Cuma apa?" potong Reyden tajam, memotong pembelaan tak berguna itu tanpa ampun.

"Cuma asyik menghakimi istri saya? Cuma asyik merendahkan dan merasa paling tahu standar hidup rumah tangga saya?"

"Reyden benar, Merlyn!" suara Bunda Amelia menyela dengan nada tinggi, menunjukkan kemarahan yang tertahan. Selama ini Bunda Amelia dikenal sebagai sosok penyayang, tapi melihat menantu kesayangannya diinjak-injak di rumahnya sendiri membuat batas kesabarannya habis.

"Bunda dengar semuanya dari lorong tadi! Beraninya kalian merendahkan Misya, mengatakan dia beban, dan berbicara seenaknya di depan istri sahnya?!"

"Bunda... sumpah, kita cuma bercanda..." kilah Sherly panik, mencoba bersembunyi di balik alasan basi sambil menatap Bunda Amelia penuh permohonan.

"Bercanda?" Reyden mendengus sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek yang mengerikan.

"Kalian menyebut tindakan merendahkan, membully, dan membuat istri saya merasa kecil di hadapan keluarga sendiri sebagai lelucon? Mulai kapan penghinaan menjadi bahan tertawaan di keluarga ini? Apa sekarang keluarga kita menjadi serendah ini, Bun?"

Misya mendongak menatap suaminya. Ia bisa melihat urat-urat di leher Reyden menegang, menandakan betapa marahnya pria itu saat ini. Jemari Misya terulur, menyentuh pelan lengan kemeja suaminya.

"Mas... sudah, jangan diteruskan..." bisik Misya lembut, mencoba meredam emosi suaminya agar tidak semakin memperkeruh suasana keluarga besar.

Reyden menunduk sejenak, menatap manik mata istrinya. Sorot mata yang tadinya tajam itu seketika melunak saat beradu pandang dengan Misya. Tangannya yang bebas terulur, mengusap puncak kepala Misya penuh kelembutan sebelum kembali menatap tajam ketiga sepupunya.

"Tidak, Misya. Kamu diam saja di sini," ucap Reyden tegas. Ia kembali menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Merlyn, Sherly, dan Natasha yang kini sudah tertunduk lesu, bahkan Natasha sudah tampak hampir menangis karena ketakutan luar biasa.

"Dengar baik-baik," lanjut Reyden dengan intonasi penuh penekanan di setiap suku kata.

"Misya bukan beban. Keputusannya berada di rumah, merawat rumah tangga kami, melayani saya dengan tulus setiap hari, adalah hal paling mulia yang tidak akan pernah bisa kalian tandingi dengan ijazah tinggi atau karier gemilang kalian! Dan kalian lupa siapa Misya sebelum menikah dengan saya? Bahkan dia memiliki karir yang sangat bagus yang bahkan kalian belum tentu bisa mencapainya!"

Reyden menarik napas sejenak, sorot matanya semakin menajam.

"Pernikahan kami adalah urusan kami berdua. Tidak ada satu pun dari kalian yang berhak menghakimi atau mempertanyakannya."

Ucapan telak itu sukses membuat Merlyn, Sherly, dan Natasha tertegun dalam kebisuan total. Tidak ada lagi kalimat pembelaan yang keluar dari bibir mereka. Mereka baru sadar betapa fatal kesalahan yang telah mereka perbuat malam ini.

Bunda Amelia melangkah mendekat, berdiri di samping anak dan menantunya.

"Karena kalian tidak tahu bagaimana cara menghargai anggota keluarga dengan baik, maka malam ini Bunda pastikan kalian bertiga minta maaf secara tulus pada Misya. Dan setelah itu... kalian tidak perlu datang ke acara keluarga manapun selama beberapa bulan ke depan sampai kalian belajar adab! Dan Bunda akan pastikan kelakuan kalian ini di ketahui oleh kedua orang tua kalian masing-masing!"

"Bunda, jangan..." pekik Merlyn histeris. Hukuman dikucilkan dari acara keluarga adalah pukulan telak bagi gengsi mereka di hadapan saudara-saudara yang lain.

"Keputusan Bunda sudah bulat," sahut Ayah Baskara yang tiba-tiba muncul dari arah teras depan, menyusul setelah mendengar keributan di ruang keluarga. Ayah Baskara menatap anak-anak muda itu dengan tatapan kecewa yang mendalam.

"Ayah sangat malu punya keponakan yang suka merendahkan orang lain. Minta maaflah pada Misya sekarang!"

Dengan terpaksa, disaksikan oleh Ayah Baskara dan Bunda Amelia yang berdiri mengawasi, Merlyn, Sherly, dan Natasha bergantian mendekati Misya. Dengan suara bergetar dan rasa malu yang membakar muka, ketiganya mengucapkan kata maaf.

"Mbak Misya maafkan kami..."

Misya, dengan kelapangan dada yang luar biasa, mengangguk pelan.

"Iya, aku maafkan. Jangan diulangi lagi ya..." ucap Misya.

Reyden tidak membuang waktu lagi. Ia meraih tangan Misya, menggenggamnya erat-erat dalam genggaman hangatnya.

"Ayah, Bunda... Kami pamit pulang sekarang. Terima kasih untuk jamuan makannya," pamit Reyden tegas.

"Hati-hati di jalan ya, Sayang... Maafkan kelakuan sepupu-sepupumu tadi ya, Misya," ucap Bunda Amelia sambil memeluk Misya sejenak penuh kasih sayang.

"Iya, Bunda. Tidak apa-apa. Kami duluan ya, Yah, Bunda..." balas Misya tersenyum manis.

Di bawah temaram lampu malam, Reyden membawa Misya keluar dari rumah besar itu menuju mobil mereka. Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menyala, Reyden langsung menoleh, menatap istrinya dalam-dalam.

"Kenapa kamu tidak melawan mereka?" tanya Reyden.

"Sudah. Tapi aku tidak bisa membuat mereka diam karena aku menjawab pertanyaan mereka. Karena bagi orang yang tidak suka kepada kita, apapun yang kita katakan dan yang kita lakukan semuanya tetap salah, Mas. Tapi memang mungkin ucapan mereka ada benarnya juga. Selama dua tahun ini aku malah membuang waktu dan menghabiskan banyak uang kamu,"

"Cuma aku juga sedikit bingung dengan pembicaraan terakhir mereka. Apa mungkinkah mereka sedang membicarakan seseorang di masa lalu kamu dan membandingkannya denganku?" tanya Misya.

"Tidak usah di dengarkan ucapan mereka! Mereka memang dari dulu sok tahu dengan kehidupan orang lain!" Reyden memalingkan wajahnya dan mulai menstater mobil.

Reyden fokus mengemudi, namun rahangnya masih tampak mengeras. Kemarahan atas perlakuan sepupu-sepupunya tadi belum sepenuhnya surut dari benaknya. Sementara itu, Misya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, masih memikirkan kalimat terakhir yang sempat dilontarkan oleh Merlyn dan kawan-kawan sebelum mereka terciduk tadi.

"Mas..." panggil Misya pelan, memecah keheningan di antara mereka.

Reyden melirik sekilas ke arah istrinya, lalu kembali fokus ke jalan raya.

"Ada apa, Misya? Masih memikirkan ucapan mereka?" tanya Reyden dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding saat ia berbicara di rumah keluarganya tadi.

Misya menggeleng pelan. "Bukan soal itu... Tapi soal ucapan mereka tentang... wanita di masa lalu kamu." Misya menelan ludahnya sebentar, memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.

"Mereka sempat bilang kalau wanita itu punya kelas, keren segala-galanya, dan jauh berbeda sama aku. Apa... apa itu benar, Mas?"

Mendengar pertanyaan itu, injakan kaki Reyden pada pedal gas sedikit mengendur. Pria itu menghela napas panjang, lalu menepikan mobilnya di bahu jalan yang cukup sepi sebelum mematikan mesin kendaraannya.

"Masa lalu biar menjadi urusan saya, Misya. Karena saya juga tak pernah bertanya atau mempermasalahkan masa lalu kamu!" jawab Reyden.

"Kalau mas bertanya aku pasti akan menjawabnya, kalau Mas ingin tahu aku pasti akan menjelaskannya agar kita tidak salah paham. Karena di sembunyikan pun pada akhirnya akan ketahuan juga kan?"

"Sudahlah, kita jangan bicarakan ini lagi..." Rey menghindari pembicaraan itu.

Misya hanya bisa diam dan menatap ke arah jendela. Sejujurnya Misya juga penasaran dengan masa lalu Rey yang di bicarakan begitu sempurna oleh para sepupu Rey tadi. Apa mungkin karena masa lalu itu Rey belum bisa menerima dia sepenuhnya sebagai istri?

1
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
falea sezi
lemah amay sya🤣🤣 kayak elu gk ada harga diri aja suami gt buang mending dpet cowok biasa tp di cintai wong suami mu aja dr awal. liat aurelia. ketara bgt dia g move on🤣
Susan Paulina: Lanjut lagi Thor hari ini, ceritanya seru banget
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!