NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Ada sesuatu yang ganjil dari sebuah ruangan yang menyimpan terlalu banyak masa lalu.

Bukan karena debu yang menempel di map-map tua atau bau kertas yang menguar setiap kali lemari dibuka. Melainkan karena setiap dokumen menyimpan kemungkinan bahwa seseorang pernah membuat keputusan yang mengubah hidup orang lain—lalu melupakannya begitu saja.

Nadira memikirkan hal itu ketika memasuki kantor Yayasan Adhitama Peduli dua hari kemudian.

Di tangannya terdapat sebuah map cokelat berisi surat AP-17 milik ibunya, salinan foto lama, dan catatan yang ia kumpulkan selama beberapa minggu terakhir.

Ia datang bukan sebagai seseorang yang ingin menuduh keluarga Adhitama melakukan kesalahan. Ia datang sebagai anak yang ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya lima tahun lalu.

Meski begitu, ia tidak bisa menyangkal bahwa nama Adhitama kini memiliki arti yang berbeda baginya.

Terutama setelah ia mulai mengenal Raka.

“Selamat pagi, Mbak Nadira.”

Ratna Wibisono menyambutnya di lobi dengan senyum profesional. Direktur program yayasan itu mengenakan blus krem dan membawa sebuah tablet.

“Terima kasih sudah datang. Kami sudah menyiapkan beberapa dokumen yang bisa diperiksa berdasarkan persetujuan Ibu Ratih.”

“Apakah arsipnya sudah lengkap?”

“Belum seluruhnya. Kami menemukan beberapa dokumen pendukung, tetapi ada bagian yang perlu dicocokkan dengan catatan administrasi lama.”

Nadira mengangguk.

“Baik. Saya ingin memastikan setiap informasi yang saya dapatkan bisa diverifikasi.”

“Itu juga yang kami harapkan.”

Ratna mengajaknya menuju ruang rapat kecil di lantai dua.

Di atas meja sudah tersedia tiga map, sebuah kotak arsip, dan beberapa lembar dokumen yang baru dicetak.

Nadira duduk, mengeluarkan surat AP-17, lalu menyerahkannya kepada Ratna.

Perempuan itu memeriksa nomor referensi dan tanggal yang tertera di bagian atas surat.

“Ini sesuai dengan format dokumen yang kami temukan,” katanya. “Namun, kami perlu membandingkan tanda administrasi dan nomor pencatatannya sebelum memastikan bahwa surat ini merupakan bagian dari berkas yang sama.”

“Apakah saya boleh melihat dokumen yang berkaitan dengan surat ini?”

“Boleh, sepanjang informasi yang diberikan sesuai dengan persetujuan keluarga dan ketentuan kerahasiaan data.”

Ratna membuka map pertama.

Di dalamnya terdapat ringkasan program bantuan medis dari lima tahun sebelumnya. Nama rumah sakit tempat Ratih menjalani operasi tercantum pada salah satu halaman.

Jantung Nadira berdegup lebih cepat.

Ia mengenali nama itu.

Rumah sakit yang sama. Tahun yang sama. Program yang sama.

Namun, belum ada nama ibunya.

“Ini baru ringkasan program,” jelas Ratna. “Kami belum bisa menyimpulkan bahwa bantuan yang tercatat di sini adalah bantuan untuk Ibu Ratih.”

Nadira menahan keinginannya untuk langsung menyimpulkan sesuatu.

“Apakah ada dokumen yang menunjukkan bagaimana dana disalurkan?”

“Ada catatan transaksi program, tetapi tidak semua informasi dapat dibuka dalam pertemuan ini. Kami harus memastikan bahwa setiap data yang diberikan memang relevan dengan permohonan keluarga Anda.”

Nadira mengangguk lagi.

Ia tidak menyukai proses yang lambat, tetapi ia memahami alasannya. Jika yayasan menyerahkan dokumen medis atau keuangan seseorang tanpa pemeriksaan yang layak, ia sendiri akan mempertanyakan prosedur tersebut.

Maka, ia melanjutkan membaca.

Pada halaman berikutnya, ia menemukan kode AP-17.

Di sampingnya tercantum tanggal yang sama dengan tanggal pada surat lama milik ibunya.

Nadira segera menunjuk bagian tersebut.

“Ini kode yang saya cari.”

Ratna mendekat untuk melihatnya.

“Benar. Kode itu tercatat dalam indeks korespondensi program.”

“Lalu, apa arti catatan di sebelahnya?”

Ratna membaca baris kecil di bawah kode tersebut.

Pemberitahuan penerima: pengiriman ulang diperlukan. Verifikasi alamat korespondensi.

Nadira merasakan tengkuknya menegang.

“Apakah artinya keluarga saya tidak pernah menerima pemberitahuan?”

“Belum tentu,” jawab Ratna hati-hati. “Catatan ini menunjukkan bahwa pengiriman ulang diperlukan. Kami masih harus memeriksa apakah pengiriman kedua benar-benar dilakukan dan apakah ada bukti penerimaannya.”

“Siapa yang biasanya mengirim pemberitahuan seperti ini?”

“Tim administrasi program. Untuk dokumen lama, kami perlu melihat pembagian tugas pada periode tersebut.”

Nadira mencatat jawabannya.

Satu hal kini semakin jelas: ada proses administrasi yang belum bisa ia pahami sepenuhnya, dan surat milik ibunya bukan satu-satunya dokumen yang mencatatnya.

Namun, ia masih belum tahu apakah kesalahan itu disengaja.

Atau apakah ada seseorang yang sengaja memastikan surat tersebut tidak pernah sampai.

Di lantai lain gedung yang sama, Raka Adhitama sedang duduk di ruang rapat bersama ayahnya.

Ia datang atas permintaan Adrian untuk mempelajari evaluasi program sosial lama. Awalnya, Raka mengira pertemuan itu hanya akan membahas anggaran dan laporan kegiatan.

Namun, ketika seorang staf yayasan meletakkan daftar arsip medis di hadapannya, ia melihat nama rumah sakit yang terasa familier.

Rumah sakit tempat Ratih Prameswari menjalani operasi lima tahun lalu.

Raka menatap dokumen itu sedikit lebih lama daripada yang seharusnya.

“Kenapa?” tanya Adrian.

Raka mengangkat kepala.

“Tidak apa-apa. Saya hanya mengenali nama rumah sakitnya.”

Adrian memperhatikan halaman yang sedang dibaca putranya.

“Rumah sakit itu pernah menjadi mitra program bantuan medis yayasan.”

“Untuk berapa banyak pasien?”

“Cukup banyak. Program tersebut membantu beberapa keluarga yang memenuhi kriteria.”

Raka mengangguk, tetapi pikirannya mulai bergerak ke arah lain.

Ia teringat percakapannya dengan Nadira tentang ibunya, tentang operasi lima tahun lalu, dan tentang surat AP-17 yang sedang dicari perempuan itu.

Sampai saat ini, ia belum menemukan bukti yang menghubungkan nama Ratih dengan dokumen yang sedang diperiksanya.

Ia juga tidak ingin mengarang hubungan hanya karena dua informasi tampak berdekatan.

“Apakah ada catatan mengenai penerima bantuan?” tanyanya.

“Ada, tetapi aksesnya terbatas.”

“Apakah kita bisa meminta pemeriksaan resmi untuk satu berkas tertentu?”

Adrian menutup mapnya.

“Untuk apa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia tahu ayahnya akan bertanya lebih jauh jika ia mengungkapkan bahwa Nadira sedang menyelidiki program yang sama. Ia juga tahu bahwa menyembunyikan informasi itu bisa membuat semuanya semakin rumit.

“Ada seseorang yang sedang mencoba memahami proses bantuan medis pada periode tersebut,” jawabnya akhirnya. “Saya ingin memastikan yayasan bisa memberikan informasi yang memang berhak diakses oleh orang itu.”

Adrian menatapnya cukup lama.

“Seseorang?”

“Ya.”

“Apakah orang itu berhubungan denganmu?”

Raka mengembuskan napas.

“Dia seseorang yang saya kenal.”

Adrian tidak terlihat puas dengan jawaban tersebut.

Namun, ia tidak memaksa.

“Kalau begitu, pastikan kamu tidak menggunakan kedudukanmu untuk memengaruhi hasil pemeriksaan. Biarkan tim yang berwenang bekerja sesuai prosedur.”

“Itu memang yang saya inginkan.”

Raka kembali melihat dokumen di hadapannya.

Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari keadaan ini: ia sedang berusaha memahami dokumen yang mungkin berkaitan dengan keluarga perempuan yang mulai ia sayangi, tetapi ia bahkan belum tahu apakah dirinya memiliki peran dalam cerita tersebut.

Untuk pertama kalinya, ia berharap ayahnya akan menjelaskan lebih banyak tentang program lama itu.

Namun, Adrian sudah beralih ke agenda rapat berikutnya.

Pembicaraan mereka pun berakhir tanpa jawaban tambahan.

Ketika Nadira keluar dari ruang rapat, ia membawa salinan indeks yang telah diizinkan yayasan untuk diberikan kepadanya.

Ia tidak mendapatkan nama orang yang membayar operasi ibunya.

Ia juga tidak mendapatkan penjelasan mengapa surat pemberitahuan harus dikirim ulang.

Namun, ia mendapatkan sesuatu yang lebih konkret daripada dugaan-dugaan sebelumnya: bukti bahwa kode AP-17 memang tercatat dalam sistem administrasi yayasan.

“Apakah saya bisa mendapatkan salinan catatan pengiriman berikutnya?” tanyanya sebelum meninggalkan ruangan.

Ratna mengangguk.

“Kami sedang memeriksa arsip korespondensi. Jika ada bukti pengiriman ulang atau catatan pengembalian surat, kami akan menghubungi Anda. Kami juga akan memeriksa apakah ada dokumen yang menjelaskan perubahan alamat penerima.”

“Berapa lama kira-kira?”

“Saya belum bisa memberikan tanggal pasti. Beberapa berkas harus dicari secara manual.”

Nadira mengerti.

Ia berterima kasih, lalu menyimpan dokumen ke dalam mapnya.

Sebelum berjalan menuju lift, ia berhenti sejenak.

“Bu Ratna, boleh saya bertanya satu hal lagi?”

“Tentu.”

“Apakah ada kemungkinan bantuan itu dibayarkan langsung kepada rumah sakit tanpa pemberitahuan kepada keluarga?”

Ratna tidak segera menjawab.

“Kemungkinan mekanisme pembayaran langsung memang ada dalam program bantuan medis,” katanya akhirnya. “Tetapi untuk kasus tertentu, kami harus melihat dokumen pendukungnya. Saya tidak ingin memberikan jawaban yang membuat Anda menyimpulkan sesuatu sebelum bukti tersedia.”

Nadira mengangguk pelan.

Jawaban itu masuk akal.

Jika biaya operasi dibayarkan langsung kepada rumah sakit, ibunya mungkin mengetahui bahwa ia menerima bantuan tanpa mengetahui siapa yang menyediakan dana.

Namun, itu baru kemungkinan.

Ia tidak akan mengubah kemungkinan menjadi kesimpulan hanya karena jawaban tersebut terasa cocok dengan cerita yang selama ini ia dengar.

Ponselnya bergetar ketika ia keluar dari gedung.

Pesan dari Raka muncul di layar.

Raka: Bagaimana pertemuannya?

Nadira memandang pesan itu selama beberapa detik sebelum menjawab.

Nadira: Aku menemukan catatan AP-17 di indeks arsip. Tapi belum ada jawaban tentang siapa yang membayar operasi Ibu.

Balasan Raka datang beberapa saat kemudian.

Raka: Setidaknya sekarang kamu punya sesuatu yang bisa diverifikasi.

Nadira tersenyum tipis.

Nadira: Kamu terdengar seperti editorku.

Raka: Haruskah aku tersinggung?

Nadira: Sedikit.

Raka: Kalau begitu, aku akan mencoba terdengar lebih romantis. Apakah kamu sudah makan siang?

Nadira tertawa kecil di tengah lobi.

Nadira: Itu romantis menurut standar siapa?

Raka: Standarku masih dalam tahap pengembangan.

Nadira: Teruslah berlatih, Kapten.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Untuk sesaat, ia ingin menceritakan bahwa nama rumah sakit tersebut juga muncul dalam dokumen yang sedang diperiksa Raka. Namun, ia belum mengetahui sejauh mana keterlibatan Raka dalam peninjauan arsip itu.

Ia tidak ingin membuat asumsi, dan ia tidak ingin menjadikan kedekatan mereka alasan untuk mengabaikan batas profesional.

Jika Raka memiliki informasi yang relevan, ia berharap laki-laki itu akan memberitahunya ketika waktunya tepat.

Sementara itu, ia akan terus mencari jawabannya sendiri.

Sore menjelang ketika Ratna kembali ke ruang arsip.

Seorang staf administrasi bernama Sari telah menyiapkan kotak dokumen tambahan yang ditemukan di ruang penyimpanan lama.

“Bu, ini berkas korespondensi yang tadi diminta,” kata Sari. “Ada beberapa dokumen yang tidak tercantum dalam indeks digital.”

Ratna mengenakan sarung tangan tipis sebelum membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sejumlah amplop, daftar pengiriman, dan lembar pencatatan yang warnanya mulai menguning.

Mereka memeriksa dokumen satu per satu.

Beberapa hanya berisi surat undangan kegiatan. Yang lain merupakan pemberitahuan administratif yang sudah tidak relevan.

Kemudian, Sari berhenti pada sebuah lembar pencatatan.

“Bu, saya menemukan nomor AP-17.”

Ratna segera mendekat.

Nomor itu tercetak di sudut kanan atas, disertai tanggal dan kode petugas administrasi.

Di bagian bawah terdapat dua kolom.

Pengiriman pertama: status tidak terkonfirmasi.

Pengiriman ulang: instruksi diterima, bukti pelaksanaan belum ditemukan.

Ratna membaca kedua baris tersebut dengan cermat.

Jadi, bukan hanya ada catatan bahwa surat perlu dikirim ulang. Arsip yang tersisa juga belum membuktikan bahwa instruksi itu pernah dilaksanakan.

Namun, sebelum mereka dapat memeriksa dokumen lain, Sari menemukan sebuah amplop tipis di antara lembar pencatatan.

Tidak ada nama penerima di bagian depan.

Hanya sebuah catatan tulisan tangan:

Untuk disimpan bersama berkas AP-17. Jangan dimasukkan ke salinan umum.

Ratna terdiam.

Ia membalik amplop tersebut, tetapi tidak menemukan tanda tangan yang jelas.

“Apakah ini pernah tercatat dalam daftar arsip?” tanyanya.

Sari menggeleng.

“Tidak, Bu. Sepertinya amplop ini terselip di antara dokumen lama.”

Ratna tidak langsung membukanya.

Ia meminta Sari mencatat lokasi penemuan dan mengambil foto kondisi awal dokumen sesuai prosedur. Setelah itu, ia menyiapkan berkas tersebut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ia tidak tahu apakah amplop itu akan menjelaskan apa yang terjadi pada AP-17.

Namun, ia tahu satu hal: dokumen yang seharusnya menyertai catatan tersebut tidak ditemukan dalam arsip umum.

Dan itu berarti pemeriksaan mereka belum selesai.

Malamnya, Nadira sedang menyusun catatan hasil pertemuan ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Kamu sudah melihat kode AP-17.

Nadira menegakkan punggung.

Pesan berikutnya muncul.

Tapi kamu belum melihat dokumen yang sengaja dipisahkan dari arsip umum.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia mengambil tangkapan layar sebelum membalas.

Nadira: Dokumen apa?

Tidak ada jawaban.

Beberapa menit berlalu.

Kemudian, sebuah pesan baru muncul.

Jangan hanya mencari siapa yang membayar operasi ibumu. Cari tahu siapa yang memastikan keluargamu tidak pernah menerima pemberitahuan.

Nadira membaca kalimat itu berulang kali.

Pesan tersebut bisa jadi berasal dari seseorang yang mengetahui isi arsip. Bisa juga merupakan upaya untuk mengarahkannya pada kesimpulan tertentu.

Ia tidak akan menganggapnya sebagai bukti.

Namun, informasi tentang dokumen yang dipisahkan dari arsip umum terlalu spesifik untuk diabaikan begitu saja.

Nadira mengirimkan pesan kepada Ratna, menanyakan apakah ada perkembangan terbaru dalam pemeriksaan korespondensi AP-17.

Ia tidak menyebutkan pesan anonim tersebut.

Belum.

Sebelum tidur, Nadira membuka kembali catatan yang ia kumpulkan.

Kini ada tiga pertanyaan yang harus dijawab.

Siapa yang membiayai operasi ibunya?

Mengapa pemberitahuan kepada keluarga tidak terkonfirmasi?

Dan siapa yang mengetahui begitu banyak tentang arsip yang bahkan belum selesai diperiksa oleh yayasan?

Di tempat lain, Raka sedang membaca dokumen program lama yang diberikan ayahnya.

Ia belum mengetahui bahwa Nadira menerima pesan baru. Ia juga belum mengetahui bahwa di ruang arsip yayasan, sebuah amplop tanpa nama baru saja ditemukan.

Namun, ketika ia melihat kembali nama rumah sakit dalam dokumen di tangannya, ia merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Lima tahun lalu, sebuah keputusan administratif mungkin telah mengubah kehidupan seseorang.

Sekarang, keputusan itu mulai meninggalkan jejak.

Dan tidak semua orang tampaknya ingin jejak tersebut ditemukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!