Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - WANITA DI BALIK SHEN CAPITAL
Pagi itu, Celine Wang datang ke kantor Shen Capital dengan sebuah pertanyaan yang terus menghantui pikirannya sejak malam sebelumnya.
Apa yang diketahui Alexander Wu tentang kematian ayahnya?
Pesan anonim yang diterimanya terlalu spesifik untuk dianggap sebagai ancaman biasa. Seseorang mengetahui bahwa ia sedang menyelidiki transaksi 0917, mengetahui hubungannya dengan keluarga Wu, dan tampaknya ingin mengarahkannya kembali kepada Alexander.
Celine tidak ingin terjebak dalam permainan orang lain. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Alexander memang menyimpan rahasia.
Ketika memasuki ruang kerja, ia mendapati Adrian Shen sedang berbicara dengan seorang perempuan yang belum pernah dilihatnya.
Perempuan itu mengenakan setelan putih gading dengan potongan sederhana, tetapi jam tangan berlian di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Rambut hitamnya disanggul rapi, sementara tatapan matanya tajam dan penuh perhitungan.
“Celine, tepat waktu seperti biasa,” ujar Adrian.
Ia kemudian menoleh kepada perempuan di sampingnya.
“Perkenalkan, ini Shen Yuxin, direktur strategi dan anggota keluarga yang mengawasi beberapa investasi utama Shen Capital.”
Yuxin mengulurkan tangan.
“Aku sudah mendengar tentangmu.”
Celine menjabat tangannya. “Semoga yang kau dengar adalah tentang pekerjaanku.”
Senyum Yuxin tampak tipis.
“Justru itu yang ingin kupastikan.”
Kalimat tersebut terdengar sopan, tetapi Celine menangkap nada pengujian di baliknya.
Adrian mempersilakan mereka duduk. Di atas meja terdapat beberapa berkas yang berkaitan dengan evaluasi perusahaan pemasok Wu Group, proyek yang selama beberapa minggu terakhir dikerjakan Celine.
Yuxin membuka salah satu berkas.
“Laporanmu cukup menarik. Kau menemukan transaksi yang tidak tercatat dengan jelas dan menghubungkannya dengan Shengyuan Holdings.”
“Bukan menghubungkannya tanpa alasan,” jawab Celine. “Nama perusahaan itu tercantum dalam catatan pembayaran. Saya hanya melaporkan apa yang ditemukan.”
“Dan kau menyadari bahwa laporan seperti ini bisa merugikan Wu Group?”
“Tentu.”
“Bukankah kau mantan istri Alexander Wu?”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Celine menatap Yuxin tanpa mengubah ekspresinya.
“Status pernikahan saya tidak mengubah angka-angka dalam laporan keuangan.”
Yuxin menutup berkas.
“Jawaban yang bagus. Namun, di dunia investasi, hubungan pribadi sering kali lebih berbahaya daripada kesalahan perhitungan.”
“Kalau begitu, kita seharusnya memastikan semua keputusan didasarkan pada bukti, bukan prasangka.”
Adrian memperhatikan percakapan mereka tanpa menyela. Ia seolah sengaja membiarkan Yuxin menilai sendiri karakter Celine.
Akhirnya, Yuxin berdiri.
“Aku akan membaca laporan lengkapmu. Jangan membuatku menyesal telah memberimu akses ke proyek ini.”
Celine membalas dengan tenang, “Saya juga berharap keputusan perusahaan tetap berdasarkan hasil kerja saya.”
Setelah Yuxin keluar, Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kau tidak mudah dibuat gugup.”
“Aku sudah terlalu sering dinilai berdasarkan siapa yang menikahiku, bukan siapa diriku sebenarnya.”
Senyum Adrian menghilang. Ia memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar sindiran kepada Yuxin, melainkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
“Shen Yuxin bukan orang jahat,” katanya. “Tetapi dia sangat protektif terhadap perusahaan dan keluarganya. Dia tidak mudah mempercayai orang baru.”
“Terutama orang yang menyelidiki masa lalu keluarganya?”
Adrian terdiam.
Reaksi kecil itu cukup membuat Celine semakin curiga.
Siang harinya, Celine menerima undangan rapat tertutup dari Yuxin.
Rapat itu diadakan di ruang arsip lantai tiga puluh satu, bagian gedung yang jarang dikunjungi pegawai biasa. Di dalam ruangan terdapat lemari besi, rak-rak dokumen lama, dan sebuah meja panjang yang dipenuhi map berwarna abu-abu.
Yuxin sudah menunggunya.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu,” katanya.
Ia membuka sebuah map dan mengeluarkan foto lama yang warnanya mulai memudar.
Celine langsung mengenali tiga pria di dalamnya.
William Wang, ayahnya.
Victor Wu, ayah Alexander.
Dan Shen Guowei, pendiri Shengyuan Financial Group.
Namun, di sisi kanan foto berdiri seorang perempuan muda yang belum pernah dilihat Celine secara langsung. Perempuan itu mengenakan gaun sederhana dan tersenyum tipis ke arah kamera.
Di bagian belakang foto tertulis sebuah nama: Shen Yiran.
“Siapa yang memberikan foto ini kepadamu?” tanya Celine.
“Foto ini berasal dari arsip keluarga kami,” jawab Yuxin. “Shen Yiran adalah putri Shen Guowei. Setelah kematian ayahnya dan runtuhnya Shengyuan, namanya menghilang dari catatan publik.”
“Aku sudah mengetahui hal itu.”
“Kalau begitu, kau juga harus mengetahui bahwa ada banyak orang yang lebih memilih agar namanya tetap terkubur.”
Yuxin mengamati wajah Celine dengan saksama.
“Kenapa kau begitu tertarik pada Shen Yiran?”
Celine tidak langsung menjawab. Ia belum yakin apakah perempuan di hadapannya bisa dipercaya.
“Ada transaksi keuangan yang menghubungkan perusahaan itu dengan keluargaku. Ayahku meninggal tidak lama setelah terjadi perselisihan mengenai aset. Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
Yuxin menghela napas.
“Kau mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak ingin kau ketahui.”
“Lebih baik mengetahui kebenaran yang menyakitkan daripada hidup dengan kebohongan.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Yuxin berubah. Ada sesuatu di matanya yang menyerupai kesedihan, meskipun hanya sesaat.
“Kalimat itu pernah diucapkan seseorang kepadaku bertahun-tahun lalu.”
“Siapa?”
Yuxin segera menutup map.
“Bukan itu yang penting. Yang perlu kau pahami adalah Shen Capital tidak sesederhana yang terlihat dari luar. Ada keputusan-keputusan lama yang masih memengaruhi perusahaan sampai sekarang.”
“Apakah Adrian mengetahui semuanya?”
Pertanyaan itu membuat Yuxin terdiam lebih lama.
“Adrian mengetahui sebagian. Tetapi tidak semua rahasia keluarga diwariskan dengan cara yang sama.”
Celine mulai memahami bahwa perempuan ini bukan sekadar direktur yang ingin menguji pegawai baru. Yuxin sedang berusaha menentukan apakah Celine merupakan ancaman bagi keluarganya atau seseorang yang bisa membantunya mengungkap sesuatu.
Sebelum meninggalkan ruangan, Yuxin memberikan salinan foto tersebut kepada Celine.
“Jangan tunjukkan foto ini kepada sembarang orang. Terutama kepada seseorang yang mengaku bisa membawamu menemui Shen Yiran.”
“Mengapa?”
“Karena jika Shen Yiran masih hidup, keberadaannya mungkin menjadi kunci bagi banyak orang. Dan orang yang memegang kunci itu belum tentu ingin membuka pintunya.”
Sore harinya, Celine kembali ke ruang kerja Adrian.
Ia meletakkan foto tersebut di atas meja.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Shen Yuxin?”
Adrian memeriksa foto itu, kemudian menatap Celine.
“Aku tidak tahu dia akan menunjukkan arsip keluarga kepadamu.”
“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”
Adrian menghela napas.
“Yuxin adalah sepupu jauhku. Dia tumbuh di lingkungan keluarga Shen dan mengetahui banyak hal tentang masa lalu Shengyuan. Namun, setelah perusahaan lama runtuh, keluarga kami terpecah. Sebagian orang ingin mengungkap apa yang terjadi, sebagian lainnya ingin melupakan semuanya.”
“Dan kau berada di pihak yang mana?”
“Aku ingin mengetahui kebenaran.”
“Bahkan jika kebenaran itu menghancurkan Shen Capital?”
Adrian tidak langsung menjawab.
“Perusahaan yang dibangun di atas kebohongan pada akhirnya akan runtuh karena kebohongannya sendiri.”
Celine menatapnya beberapa saat. Ia ingin mempercayai jawaban itu, tetapi pengalaman masa lalunya mengajarkan bahwa kata-kata yang terdengar benar belum tentu berasal dari niat yang jujur.
“Aku tidak akan menjadi alat untuk menyelesaikan perselisihan keluargamu,” katanya.
“Aku tidak pernah memintamu menjadi alat.”
“Bagus. Karena jika suatu hari aku menemukan bukti bahwa seseorang dari keluarga Shen terlibat dalam kematian ayahku, aku akan menyerahkannya kepada pihak berwenang.”
Adrian mengangguk pelan.
“Kalau bukti itu benar-benar ada, aku tidak akan menghalangimu.”
Percakapan mereka berakhir ketika sekretaris Adrian masuk membawa sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim.
“Amplop ini ditemukan di meja resepsionis. Pengirimnya tidak meninggalkan identitas.”
Celine membuka amplop tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat selembar kertas berisi alamat sebuah rumah tua di pinggiran Shanghai. Di bawah alamat itu tertulis satu kalimat:
Jika ingin mengetahui apa yang terjadi pada William Wang, datanglah sebelum Jumat malam. Jangan membawa Adrian Shen.
Celine merasakan tengkuknya menegang.
Adrian membaca tulisan tersebut dari balik bahunya.
“Ini bisa jadi jebakan.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, jangan pergi sendirian.”
Celine melipat kertas itu.
“Aku belum memutuskan untuk pergi.”
Namun, dalam hati, ia tahu bahwa alamat itu mungkin merupakan petunjuk pertama yang benar-benar mengarah kepada seseorang yang mengetahui masa lalu ayahnya.
Malam itu, di sebuah rumah besar milik keluarga Wu, Evelyn Zhao duduk berhadapan dengan Victor Wu.
Di atas meja terdapat foto Celine yang sedang berbicara dengan Shen Yuxin di ruang arsip Shen Capital.
“Dia mulai mendekati orang-orang yang seharusnya tidak disentuhnya,” ujar Evelyn.
Victor memandang foto tersebut dengan wajah muram.
“Siapa yang memberitahumu tentang pertemuan ini?”
“Aku masih memiliki kenalan di berbagai perusahaan. Tidak semua orang loyal kepada Adrian.”
Victor meletakkan foto itu.
“Celine harus dihentikan sebelum dia menemukan dokumen asli transaksi 0917.”
Evelyn menatapnya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Jadi, dokumen itu memang ada?”
Victor mengangkat pandangan. Ia menyadari kesalahannya sesaat setelah kalimat itu terucap.
“Jangan bertanya tentang sesuatu yang tidak perlu kau ketahui.”
Evelyn tersenyum samar, tetapi pikirannya bergerak cepat. Selama ini ia mengira Victor hanya ingin melindungi reputasi Wu Group. Kini ia mulai memahami bahwa ada rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar bisnis.
Sebelum Evelyn pergi, Victor memperingatkannya sekali lagi.
“Jauhkan Alexander dari penyelidikan ini. Jika dia mengetahui apa yang terjadi pada malam William Wang meninggal, semuanya bisa berakhir buruk.”
Evelyn berhenti di ambang pintu.
“Bagaimana jika Alexander sudah mulai curiga?”
Victor tidak menjawab.
Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling menakutkan.
Di apartemennya, Celine kembali membaca pesan dan dokumen yang terkumpul. Foto Shen Yiran, laporan transaksi 0917, dan alamat rumah tua kini tergeletak di hadapannya.
Ia belum tahu siapa yang mengirimkan alamat tersebut. Ia juga belum tahu apakah Shen Yuxin benar-benar ingin membantunya atau sedang menguji seberapa jauh ia berani melangkah.
Satu hal menjadi semakin jelas: Shen Capital menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam daripada yang pernah dibayangkannya.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan baru muncul dari nomor tak dikenal.
“Jangan percaya Shen Yuxin. Tanyakan kepadanya mengapa nama ibunya tidak pernah muncul dalam arsip keluarga.”
Celine menatap layar, lalu mengangkat pandangan ke arah jendela yang gelap.
Siapa sebenarnya Shen Yuxin?
Dan mengapa masa lalu keluarganya tampak terhubung dengan hilangnya Shen Yiran?
Celine menyimpan ponselnya, kemudian menutup buku catatan hitam milik ibunya.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Wu, ia merasa bahwa musuhnya mungkin bukan hanya orang-orang yang telah menyakitinya.
Bisa jadi, orang yang akan membantunya menemukan kebenaran justru menyimpan rahasia paling berbahaya.
Dan ketika Jumat malam tiba, Celine harus memutuskan apakah ia berani mengikuti petunjuk yang bisa mengubah seluruh hidupnya.