DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14- KALUNG DARI KAIN.
Namun baru tidur beberapa menit, tiba tiba terbangun.
mata yang tadi sudah sangat berat, kini terasa sangat segar.
Perasaannya menuju ke satu tempat. Tempat yang sudah ia masuki sebelumnya, namun entah mengapa ia sangat ingin pergi kembali ke sana.
Saat masuk, tentu ia hanya melihat apa yang ia lihat sebelumnya.
Bunga bunga yang berjejer dengan rapi.
"buat apa aku masuk ke sini." gumamnya bingung.
Ia sama sekali tak tau kenapa, tapi perasaannya entah mengapa terus mengarahkan untuk maju.
Hal ini membuatnya bimbang, ada rasa tak enak menjelajah rumah orang lain tanpa izin, tapi ada rasa penasaran yang membara.
Namun pada akhirnya Raka tetap mengikuti perasaannya.
Entah bagaimana, Raka mulai menggeser salah satu fas bunga.
di sana ia menemukan kotak kecil yang tampak tua, namun bersih.
Dengan hati hati Raka mengambil dan membukanya.
Sebuah kalung dengan tali kain yang di bentuk cantik terlihat.
Di bawah kalung ada sebuah liontin kecil seukuran jempol tangan anak anak.
"apa ini."
Raka memperhatikan ukiran samar, di kalung itu yang tampak samar.
Saat itu, tengkuk Raka merasakan udara dingin yang cukup menyengat.
Seakan ada yang menghembuskan napas es di tengkuknya.
"gunakan ini untuk menjaganya, suatu saat ini pasti berguna. Tolong lindungi dia"
suara ini seakan terdengar berbisik, namun jelas di telinga Raka.
Seketika Raka langsung bergidik, buru buru ia merapikan vas bunga dan berlari keluar dari tempat itu.
"ada apa ka." tanya Kirana yang melihat Raka berlari.
Raka yang masih ketakutan, langsung terlonjak mendengar ucapan Kirana.
ia menghela napas lega, setelah melihat Kirana yang menyapanya. namun walau begitu, wajahnya masih pucat.
"ada apa denganmu ka, kenapa kamu tampak pucat."
Raka buru buru menggeleng.
"tidak ada. Apa kamu sudah selesai"
Kirana mengangguk.
"sudah, semuanya sudah bersih."
"kalok begitu, kita pergi sekarang saja. Takut keburu malem lagi" ajak Raka buru buru.
Kirana bingung dengan Raka, namun dia hanya menurut.
Mereka bergegas naik kembali ke kereta, dan Kirana yang membawa kereta karena wajah Raka masih pucat.
Di dalam kereta kuda, Raka hanya melamun.
Entah mengapa ia tiba tiba terpikir ke tempat tujuannya.
Dari dalam kereta, Raka mengaitkan tirai pembatas antar kereta dan tempat kusir kuda.
"Rana, apa yakin mau ke lembah hantu."
Kirana yang sedang mengendalikan kita sedikit tersenyum.
"kenapa, apa kamu takut...?"
"bukan begitu, tapi gimana kalau di sana benar benar ada hantu. Gimana kalok kita di serang hantu"
Kirana sedikit menoleh, ia yang ingin tertawa akhirnya mengurungkan niatnya saat melihat wajah Raka yang benar benar pucat.
Akhirnya ia hanya menggeleng.
"sudahlah ka, dari dulu kau selalu penakut. tenang saja, memang apa yang kau takutkan dari mereka. Bukankah mereka hanya seseorang yang kehilangan raga, bahkan kamu sangat berani menghadapi iblis yang jelas tingkatannya di atas mereka, lalu kenapa dengan hantu takut."
Raka buru buru menggeleng.
"mana bisa di bandingkan, para iblis jelas memiliki bentuk fisik jadi kita bisa menyerang sedangkan hantu tidak"
Kirana menghentikan keretanya tiba tiba, bahkan hal ini hampir membuat Raka terjengkang.
"Rana, apa apaan kamu"
Kirana tak menjawab, ia berbalik menghadap Raka.
"sebenarnya ada apa, kenapa kamu tiba tiba menanyakan ini. Bukankah sebelumnya tak masalah"
"tidak ada, hanya kepikiran saja" ungkap Raka sambil memegang hidung.
"udahlah ka, kau tak pandai berbohong. Aku tau kau pasti memegang hidung saat berbohong"
Raka langsung menatap tangannya, yang masih ada di hidung.
Buru buru ia menurunkan tangan itu.
"sudah, katekan. Tak mungkin kau berubah pikiran tanpa penyebab."
Raka terdiam beberapa saat, namun akhirnya ia menceritakan semuanya dengan detail.
Bahkan ia mengeluarkan dan memberikan kalung yang tak sengaja terbawa karena panik.
Kirana mengambil kalung itu.
"kalung ibu" gumamnya.
"maaf, aku menjelajah rumahmu tanpa izin. Tapi sungguh aku tak berbohong, tadi memang ada dorongan aneh yang seakan mengarahkanku ke kalung itu."
Kirana mengembalikan kalung itu ke Raka, bahkan ia memakaikannya.
"Rana...." bingung Raka.
"pakailah, ibuku sudah memberikannya kepadamu"
"tapi, ini bukan milikku" Raka ingin melepaskan kaling itu.
Namun dengan cepat Kirana mentahannya.
"tak ada tapi tapian, pakai saja."
"apa kau marah karena aku semena mena di rumahmu..?"
Kirana menggeleng.
"aku tak marah tentang itu, tapi aku akan marah jika kau melepaskan kalung ini. Walau aku tak tau kenapa ibuku memberikan kalung kesayangannya kepadamu, tapi karena dia sendiri yang memberikannya tentu aku akan setuju"
"tapi na..."
Raka masih ragu, pasalnya kalung ini bukan sembarang kalung.
Tadi Kirana sempat mengatakan kalau kalung ini telah ibunya miliki sejak masih remaja, dan kalung ini adalah kalung yang paling ibunya sayangi. Bahkan ayahnya dan dia sekalipun tak berani mengambilnya
"tidurlah, kau tadi terbangun karena dorongan ibuku. Pasti kau masih mengantuk, jangan sampai nanti saat aku sudah lelah dan jatah mu yang membawa kereta kau masih mengantuk. Aku tak ingin memaksakan diri membawa kereta saat lelah" ucap Kirana sambil menutup kembali tirai.
Raka tak dapat menolak lagi, apa lagi saat merasakan ketera sudah mulai goyang tanda kereta kembali berjalan.
Raka berbaring, sambil menatap ke arah kalung yang sudah ada di lehernya.
Rasa kantuk yang sebelumnya menghilang tiba tiba menyerang kembali.
Tanpa sadar Raka sudah tertidur lelap. saat itu tirai tiba tiba bergeser sedikit, memperlihatkan Kirana yang mengintip ke dalam.
ia sedikit menghirup napas lebih dalam dari biasanya.
"ma, aku tak tau kenapa kau mempercayakan barang yang paling kau suka ke orang yang tak kau kenal. Tapi karena kau mempercayainya aku akan melakukan hal yang sama sepertimu." gumam Kirana.