NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Apakah kamu ingin kita liburan?"

Pertanyaan Pras membuat Mikha yang sedang berbaring memiringkan tubuhnya. Ia menatap layar ponsel dengan sedikit kebingungan.

"Liburan?"

"Iya. Kita pergi beberapa hari. Sudah lama kita nggak menghabiskan waktu berdua."

Mikha terdiam.

Ada sesuatu yang terasa aneh dari ajakan itu. Selama beberapa bulan terakhir, Pras justru lebih sering sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, ketika mereka berada di rumah yang sama, lelaki itu terkadang lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel daripada berbicara dengannya.

Namun, sekarang tiba-tiba mengajaknya berlibur.

"Memangnya Mas nggak sibuk?"

"Untuk kali ini aku bisa meluangkan waktu."

"Ke mana?"

"Bagaimana kalau ke pantai? Ada tempat bagus yang ingin aku tunjukkan. Kita bisa menginap di villa dekat pantai. Suasananya tenang, jauh dari pekerjaan."

Mikha kembali terdiam.

Dahulu, tawaran seperti itu mungkin akan membuatnya begitu bersemangat. Ia pasti langsung mencari pakaian yang cocok, membayangkan pemandangan pantai, lalu sibuk merencanakan kegiatan yang akan mereka lakukan bersama.

Namun, sekarang perasaannya tidak lagi sama.

"Kalau Mas memang ingin, terserah," jawabnya akhirnya.

Pras tersenyum kecil meskipun istrinya tidak bisa melihat.

"Berarti besok kita berangkat, ya?"

"Besok?"

"Iya. Aku sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa."

Mikha mengembuskan napas pelan.

"Baiklah."

"Terima kasih, Sayang."

Panggilan itu berakhir beberapa saat kemudian.

Mikha meletakkan ponselnya di atas nakas. Tatapannya kembali kosong.

Entah mengapa, ajakan liburan itu justru membuat hatinya terasa semakin berat.

Ia tahu Pras sedang berusaha bersikap manis kepadanya. Belakangan ini, suaminya memang lebih mudah mengabulkan permintaan, bahkan tanpa banyak bertanya.

Namun, Mikha juga tahu bahwa semua itu tidak menghapus kenyataan bahwa Pras sedang mempersiapkan kehidupan bersama perempuan lain.

Mungkin, lelaki itu hanya sedang berusaha memastikan dirinya tetap berada dalam genggaman.

Agar ketika tiba waktunya meminta izin menikah lagi, Mikha tidak akan terlalu sulit menerima keputusan tersebut.

Keesokan harinya, Pras benar-benar menepati janjinya.

Sejak pagi, ia sudah memastikan semua keperluan perjalanan mereka tersedia. Bahkan, ia meminta sopir mengantarkan mobilnya ke depan rumah sebelum akhirnya memutuskan menyetir sendiri.

Mikha duduk di kursi penumpang dengan pakaian sederhana. Sesekali ia memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Pras beberapa kali meliriknya.

"Kamu senang kita pergi?" tanya Pras.

Mikha menoleh sekilas.

"Senang."

"Hanya begitu?"

"Mau jawab apa lagi?"

Pras tertawa kecil.

"Biasanya kamu paling semangat kalau diajak jalan-jalan."

"Memangnya sekarang aku nggak semangat?"

"Kamu kelihatan biasa saja."

Mikha tersenyum tipis.

"Mungkin karena sudah sering."

Jawaban itu membuat Pras terdiam.

Dahulu, Mikha memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan perjalanan singkat ke luar kota bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi perempuan itu.

Sekarang, seolah-olah semua hal yang dahulu membuatnya bahagia sudah kehilangan daya tarik.

Pras mengulurkan tangan, menggenggam jemari istrinya.

"Nanti kita bersenang-senang, ya. Aku ingin kamu benar-benar menikmati liburan ini."

Mikha menunduk melihat tangan mereka yang bertaut.

"Iya, Mas."

Ia membiarkan Pras menggenggam tangannya.

Namun, di dalam hati, ia bertanya-tanya sampai kapan lelaki itu akan terus berpura-pura menjadi suami yang baik.

Perjalanan mereka berakhir di sebuah kawasan wisata pantai yang cukup eksklusif.

Di sana terdapat beberapa villa pribadi yang dibangun berdekatan, tetapi tetap memiliki pagar dan halaman masing-masing. Bangunannya menghadap laut, dengan kolam renang pribadi dan akses langsung menuju hamparan pasir putih.

![Unlock High Returns: Your Guide to Sumba Property Investment in 2025](https://images.openai.com/static-rsc-4/PSdW-pBAJi8QOcuLS3zJqZaSRu73KJY120NwGT3AFVDW6xpcRV7mG6O9QWgza6tDqHemnaH5CW3Y1UmokHc3HINmxuk\_RS4uiAmoGqr\_MV-QWsRvhqn8WfOCgDgqcFDiRdGwC5Hyhjhy1zE\_N-HbTU5tZ1hgE3uIjPQkoItKGKoVuDVdqCz9XRdpzNYEr-VX?purpose\=fullsize)

![Wakatobi : Luxury Dive Resort](https://images.openai.com/static-rsc-4/KOB08S1534EFj\_30F42IoY1DRoUJ3U41LQM1RE8Lx5nYb6\_R3sxyN54BcX492RrLwYMx\_M-4dbobKoS8AZNAykP81xX40f-0yRgP3TkV69DOAKNyt2kATrDLkX-kuI972aL\_prVzrBYGGQlQx9d3qo7NuTAuolifmZz-zgtZWzjwhnB5QZxzDzTIR3cwe53O?purpose\=fullsize)

![Your Family will love the Exclusive Balinese Service at Your Private Villa in Nusa Lembongan (Lembongan Island, IDN): Reviews & Deals | Wotif](https://images.openai.com/static-rsc-4/nzS-rUM5bQGjm3D6pEYT4PX\_LNDVEVMnkvxbDodlmJgmsFaJK3sN4k1m9cuNiGIQC3lNRr3xZht2bk172VwULpzHURWGamHJ0wpIRLfCa0O3uZz44CGcByZFz1h\_skU94dD1rZwyK4223UmzFb0OuFo37JNksaRGkkZw0fIpQ6eCXYm3ZM0FcdZ3dllr\_WMv?purpose\=fullsize)

Begitu mobil berhenti di depan salah satu villa, Mikha turun dan memandang bangunan bernuansa tropis di hadapannya.

"Bagus sekali tempatnya," gumamnya.

Pras menghampiri sambil membawa dua koper.

"Kamu suka?"

Mikha mengangguk.

"Suka."

"Kalau begitu, kita masuk. Aku sudah pesan villa ini untuk beberapa hari."

Mikha mengikuti langkah suaminya.

Villa itu memang cukup mewah. Ruang tengahnya luas, jendela-jendela kaca menghadap langsung ke laut, sementara kolam renang pribadi berada tepat di halaman belakang.

Pras memperlihatkan kamar mereka.

"Kita bisa menikmati matahari terbenam dari sini. Nanti malam aku ajak kamu makan malam di tepi pantai."

Mikha menoleh kepadanya.

"Mas sudah merencanakan semuanya?"

"Tentu. Aku ingin membuat liburan ini berkesan."

Mikha hanya tersenyum.

Ia tidak tega mengatakan bahwa yang diinginkannya sekarang bukanlah villa mewah atau makan malam romantis.

Ia hanya ingin kembali memiliki suami yang setia.

Seseorang yang tidak membuatnya harus bersaing dengan perempuan lain untuk mempertahankan rumah tangganya sendiri.

Namun, keinginan itu sepertinya sudah terlalu jauh dari kenyataan.

Hampir satu jam setelah mereka tiba, Pras sedang berada di kamar mandi ketika ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Alena.

Awalnya, Pras tidak menyadarinya.

Namun, ketika ia keluar dari kamar mandi, pesan tersebut muncul kembali di layar.

Pras mengambil ponselnya.

Sebuah foto langsung memenuhi layar.

![Ziva - Sculpted Waist Dress

– DIONE NOIRE](https://images.openai.com/static-rsc-4/LLzlw\_XshTXqMvMVeRaPgrlrSlmO\_XuyTwsenSu7oo-iuWH1Xa-MArPolyBo5XDgkPW-Aqb90TX0vQvQTFsDvsYgdWFofue0Ts40LB17GVLOJX5T-qE0kJQWhLDzCllEa58i1SZcwt5fREdmht1YGZqKuzZqxmRGytxxuNNgs77DViOsxeaoHxDwzl\_g-0hE?purpose\=fullsize)

Alena.

Perempuan itu mengenakan gaun merah yang membentuk lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara bibirnya dipoles dengan warna senada.

Di belakangnya terlihat sebuah villa dengan desain yang sangat mirip dengan tempat Pras dan Mikha menginap.

Pras mengernyit.

Ia segera membuka pesan berikutnya.

Alena:

Mas, coba lihat siapa yang datang.

Belum sempat Pras membalas, sebuah pesan kembali masuk.

Sepertinya kita akan menghabiskan waktu bersama di tempat yang sama.

Wajah Pras langsung berubah.

Ia memperbesar foto tersebut, memastikan bahwa perempuan itu benar-benar berada di kawasan yang sama.

Benar saja.

Bahkan, dari sudut pengambilan gambar, ia bisa mengenali deretan villa yang berada di sekitar tempatnya menginap.

Pras segera menghubungi Alena.

Panggilan itu diangkat hampir seketika.

"Mas?"

"Kamu di mana?"

Alena terkekeh kecil.

"Memangnya kamu nggak bisa lihat dari fotonya?"

"Alena, jangan bercanda. Kamu benar-benar di sini?"

"Iya."

Pras langsung berdiri.

"Kamu kenapa ikut ke sini? Siapa yang kasih tahu?"

Suaranya terdengar sedikit meninggi. Namun, ia segera menurunkan volume suaranya karena teringat Mikha masih berada di dalam villa.

"Kecilkan suaramu, Mas. Aku bisa dengar."

"Jawab pertanyaanku."

"Siapa lagi kalau bukan Mama mertua kamu."

Pras terdiam.

"Mama?"

"Iya. Tadi aku menghubungi beliau. Aku pura-pura bertanya ke mana perginya Mikha karena beberapa hari ini sulit menghubunginya. Aku bilang ingin mengajak Mikha bertemu."

Alena tertawa kecil.

"Beliau malah bercerita kalau kamu mengajak istrimu liburan ke pantai. Katanya, kalian akan menginap beberapa hari di sebuah villa."

Pras mengusap wajahnya.

"Kenapa kamu harus datang?"

"Memangnya kenapa? Aku cuma ingin melihat tempat liburan kalian."

"Alena, ini bukan waktunya bermain-main."

"Aku nggak bermain-main, Mas. Aku cuma ingin bertemu kamu."

"Bagaimana kalau Mikha tahu?"

"Ya, jangan sampai dia tahu."

Pras memejamkan mata.

"Kamu pikir semuanya semudah itu?"

Alena tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lebih manja.

"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini, Mas. Masa kamu tega membiarkan aku sendirian?"

Pras menghela napas kasar.

"Villa kamu di mana?"

"Coba keluar sebentar. Aku ada di depan."

Pras langsung mengakhiri panggilan.

Ia melirik ke arah kamar mandi, lalu ke ruang tengah. Mikha tidak terlihat di sana.

Tanpa berpikir panjang, ia segera melangkah keluar.

Begitu pintu villa terbuka, Pras langsung menoleh ke arah halaman depan.

Dan benar saja.

Alena berdiri tidak jauh dari pagar villa sebelah.

Perempuan itu melambaikan tangan dengan senyum lebar, seolah-olah mereka sedang bertemu di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.

"Mas!"

Pras berjalan cepat menghampirinya.

"Alena!"

Alena justru tertawa kecil melihat ekspresi lelaki itu.

"Kenapa wajahmu begitu? Seperti melihat hantu saja."

"Jangan keras-keras!"

Pras menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.

Alena semakin mendekat.

"Aku cantik, kan?"

Ia memutar tubuhnya sedikit, memperlihatkan gaun merah yang dikenakannya.

Pras sama sekali tidak menanggapi.

"Mas, aku bertanya."

"Kamu sengaja membuat masalah?"

Alena mengerucutkan bibir.

"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."

"Kita sudah membicarakan ini. Kamu tahu aku sedang bersama Mikha."

"Memangnya kenapa? Dia istrimu, bukan penjagamu."

"Alena!"

Perempuan itu akhirnya berhenti tersenyum.

Namun, hanya beberapa detik. Setelah itu, ia kembali menatap Pras dengan wajah yang sulit diartikan.

"Mas, aku sudah cukup lama menunggu. Kamu selalu bilang akan segera menyelesaikan semuanya dengan Mikha. Tapi sampai sekarang, aku masih harus bersembunyi seperti ini."

Pras menghela napas.

"Aku sedang mengusahakannya."

"Makanya aku datang."

"Kamu justru membuat semuanya semakin sulit."

Alena menatapnya lekat-lekat.

"Atau sebenarnya kamu memang tidak ingin aku ada di sini karena takut Mikha melihat kita?"

Pras tidak menjawab.

Alena tersenyum tipis.

"Tenang saja. Aku tidak akan menghampiri villa kalian. Aku sudah menyewa villa tepat di sebelah sini. Kita hanya terpisah beberapa langkah."

Pras menatapnya tidak percaya.

"Kamu menyewa villa di sebelah?"

"Iya. Aku sengaja memilih yang paling dekat."

"Alena, kamu benar-benar—"

"Mas!"

Alena memotong ucapannya.

"Jangan marah terus. Aku datang jauh-jauh karena merindukanmu."

Ia meraih tangan Pras, tetapi lelaki itu segera menariknya.

"Jangan seperti ini."

Alena menatap tangan yang baru saja dilepaskan itu.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Baiklah. Aku mengerti."

Ia mundur selangkah.

"Tapi, Mas, jangan lupa. Aku juga perempuan yang kamu janjikan masa depan. Jangan sampai kamu terlalu sibuk membahagiakan istrimu sampai melupakan perempuan yang akan kamu nikahi."

Kalimat itu membuat rahang Pras mengeras.

"Jangan bicara seperti itu di sini."

"Kenapa? Takut ada yang mendengar?"

Pras mengedarkan pandangan.

"Sudah. Aku kembali dulu. Jangan menghubungiku selama aku bersama Mikha."

Alena tersenyum hambar.

"Baik, Mas."

Namun, sebelum Pras berbalik, Alena kembali memanggilnya.

"Mas."

Pras menoleh.

"Aku harap kamu tidak lupa bahwa aku sudah menunggu janji itu terlalu lama."

Pras tidak menjawab.

Ia segera kembali menuju villa, sementara Alena hanya berdiri memandangi punggung lelaki tersebut.

Senyum tipis kembali terbit di bibirnya.

Setidaknya, sekarang ia tahu satu hal.

Pras masih datang menghampirinya begitu menerima pesan darinya.

Lelaki itu mungkin sedang berusaha menjadi suami yang baik bagi Mikha, tetapi Alena tahu dirinya masih memiliki tempat yang tidak kecil dalam kehidupan Pras.

Ketika Pras kembali masuk ke dalam villa, Mikha sedang duduk di sofa ruang tengah.

Perempuan itu mengenakan pakaian santai dengan rambut yang diikat seadanya. Di atas meja terdapat dua gelas minuman dingin yang tadi dipesannya melalui layanan villa.

Mikha menoleh.

"Mas dari mana?"

Pras sedikit terkejut.

Namun, ia segera menguasai ekspresinya.

"Keluar sebentar. Ada telepon dari kantor."

Mikha mengangguk.

"Oh."

Pras memperhatikan dua gelas di atas meja.

"Kamu pesan minuman?"

"Iya. Aku pikir Mas mungkin haus."

Pras menatap istrinya beberapa saat.

Ada sesuatu yang terasa menyesakkan ketika melihat perhatian kecil itu.

Mikha masih memikirkan dirinya.

Bahkan setelah semua yang ia lakukan, perempuan itu masih sempat memesan minuman untuknya.

Pras duduk di sampingnya.

"Terima kasih, Sayang."

Mikha menyerahkan salah satu gelas.

"Sama-sama."

Pras meneguk minumannya, kemudian meraih tangan Mikha.

"Nanti sore kita jalan-jalan ke pantai, ya?"

"Boleh."

"Kita makan malam di sana."

"Iya, Mas."

Pras mengusap punggung tangan istrinya.

"Kamu bahagia, kan, liburan sama aku?"

Mikha menoleh.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam cukup lama.

"Kenapa Mas bertanya begitu?"

"Ya, ingin tahu saja."

Mikha menunduk menatap jemari mereka.

"Kalau aku bilang bahagia, apa itu akan membuat Mas senang?"

"Tentu."

Mikha tersenyum kecil.

"Kalau begitu, aku bahagia."

Pras ikut tersenyum.

Namun, ia tidak tahu bahwa jawaban itu justru menjadi salah satu kebohongan paling menyedihkan yang pernah didengarnya.

Sebab, di hadapannya, Mikha sedang berusaha menjadi istri yang baik.

Sementara beberapa menit sebelumnya, ia baru saja meninggalkan perempuan yang ingin dijadikannya istri kedua.

Dan yang lebih menyakitkan, Mikha belum mengetahui bahwa perempuan itu berada hanya beberapa langkah dari tempat mereka duduk.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!