Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 24
PASRAH DI TANGAN KILLIAN
Di ruang makan yang luas dan terang, Sandra dan Zoey duduk berhadapan di meja panjang yang hanya diisi oleh mereka berdua. Piring-piring porselen berkilau di bawah cahaya lampu gantung, namun suasana di antara mereka terasa hampa dan dingin. Sandra mengaduk teh di cangkirnya pelan, lalu menatap wanita di hadapannya.
"Di mana Muchus? Sejak tadi pagi aku tidak melihatnya."
Zoey mengangkat bahu, menyesap tehnya tanpa menatap mata ibu mertuanya. "Aku tidak tahu. Sejak semalam dia pergi dan belum kembali sampai sekarang."
Sandra mendengus kasar, meletakkan sendoknya hingga berbunyi nyaring. "Entah ke mana dia pergi. Selalu saja menghilang saat dibutuhkan."
“Mungkin karena kejadian semalam.”
Sandra mencoba tak kesal.
Belum lama ia berkata begitu, seorang pelayan berjalan keluar dari arah dapur membawa nampan besar berisi makanan lengkap — roti segar, buah, susu hangat, dan hidangan yang disusun rapi. Sandra segera memanggilnya dengan suara tegas dan bangkit dari kursinya, mendekat.
"Kau mau pergi ke mana? untuk siapa makanan itu?
Pelayan itu berhenti sejenak, menunduk hormat. "Perintah dari Tuan Killian, Nyonya. Makanan ini untuk nyonya Laura."
Wajah Sandra mengeras. Ia mengangkat dagu sedikit, menatap pelayan itu dengan pandangan yang tak disukai siapa pun, namun tak mampu berkomentar apa pun.
"Pergilah," ucapnya singkat, melambaikan tangan membuang kehadiran gadis itu.
Saat pelayan itu melangkah pergi, Zoey menyeringai sinis, menatap punggung pelayan yang menghilang di lorong.
"Mungkin Killian benar-benar menyukai wanita jalang itu," ucapnya pelan namun terdengar jelas.
Sandra tersenyum tipis, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Kenapa? Kau cemburu?"
Zoey mendengus, memutar bola matanya malas, lalu berdiri. "Aku tak punya waktu untuk hal konyol seperti itu." Ia melenggang pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan Sandra sendirian.
“Konyol.” Senyum di bibir Sandra perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan licik yang dalam.
Ia tak tinggal diam, segera bergegas menuju ruangan pribadi Vincenzo. Namun sesampainya di sana, ruangan itu hening dan kosong. Pria tua itu tak ada di tempatnya.
“Ke mana dia pergi?”
Ia menggerutu pelan, melangkah menuju kamar yang menyatu dengan ruangan kerja itu — tetap kosong. Dengan langkah cepat ia keluar kembali, memanggil pelayan setianya.
"MELLY!"
Wanita itu bergegas datang dengan napas tertahan. "I-iya, nyonya. Ada perintah apa?"
"Cari ke mana pergi Vincenzo. Segera."
"Baik, Nyonya." Melly segera berbalik melaksanakannya.
Di lantai atas, di kamar yang hening, Killian dan Laura duduk berhadapan di meja kecil yang diletakkan dekat jendela. Makanan yang dibawa tadi kini tersusun rapi di antara mereka — uap hangat masih mengepul dari cangkir susu, roti terlihat empuk dan mengundang, namun Laura hanya menatapnya diam, tak menyentuh sedikit pun.
Killian menatapnya lekat, badannya bersandar dan kedua tangannya bertengger di kedua lengan sofa.
"Kenapa? Tidak ada racun di sana." suaranya datar.
Laura mengangkat wajah perlahan. "Aku tidak terbiasa makan sambil ditatap oleh seseorang."
Killian tidak beralih pandang sedikit pun.
"Kalau begitu, kau harus terbiasa."
Jawaban itu begitu tenang, namun tak terbantahkan. Laura menelan ludah, meraih garpu perlahan. Ia mulai menyantap makanan itu dengan gerakan yang tertahan, namun tetap sopan dan rapi, seakan berusaha membuktikan bahwa ia bukan orang yang tak tahu tata krama.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga suara berat pria itu terdengar lagi.
"Kau mengenal Santiago Vattel?"
Laura berhenti mengunyah sejenak, terdiam lalu mendongak menatapnya bingung dan menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu orang yang kau maksud."
Killian diam kembali, menatapnya seakan ingin memastikan apakah gadis itu berkata jujur. Ia tak menambahkan apa pun, perlahan berdiri dari kursinya, hendak melangkah pergi.
Laura segera bangkit sedikit dari duduknya. "Tunggu... bagaimana dengan adikku, Lily?"
Killian berhenti di ambang pintu, namun tak menoleh ke belakang.
"Masih dicari."
"Apakah... apakah ada kabar sedikit pun?" suaranya terdengar cemas, tak kuasa menahan harapan yang tipis.
Tak menjawabnya, Killian melangkah keluar, menutup pintu perlahan. Laura duduk kembali di kursinya, menatap pintu yang tertutup itu, hatinya terasa sesak namun tak berdaya melakukan apa pun selain menunggu.
Sementara itu, di lorong yang agak jauh, Killian berpapasan dengan Nico yang baru saja kembali. Langkah pria kanannya itu tergesa, wajahnya tak menampakkan kabar yang diharapkan.
"Bagaimana?" tanya Killian singkat.
Nico menggeleng pelan, suaranya rendah. "Kami memeriksa tiga rumah sakit jiwa dan bangunan serupa di daerah sekitar, Tuan. Tidak ada gadis bernama Lily Sharon di sana. Sepertinya tempat itu disembunyikan lebih rapat daripada yang kami duga."
Killian mengatupkan rahangnya kuat, menatap lurus ke depan.
"Lanjutkan pencarian. Perluas jangkauan ke kota-kota tetangga. Jangan hentikan sebelum menemukannya."
"Akan kulakukan," jawab Nico mantap. "Namun ada hal lain... Muchus tak terlihat sejak kemarin. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi."
Tatapan Killian mengeras. "Dia mungkin bergerak sendiri. Pantau setiap gerak-geriknya. Jika dia mencoba mendahului kita..."
"Aku mengerti, Tuan."
Nico berbalik kembali bergegas pergi.
Killian berdiri sejenak sendirian di lorong yang sepi, lalu menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit yang mulai berubah warna. Pikirannya kembali pada pertanyaan yang ia ajukan kepada Laura — Santiago Vattel.
Nama itu bukan sekadar nama orang. Itu adalah kunci yang lama ia cari, dan kini ia mulai ragu apakah gadis yang ia lindungi benar-benar tidak tahu apa-apa, atau justru menyembunyikannya dengan sangat baik.