Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Nadia Menolak Pulang Ke Padang Panjang
Jam delapan pagi, mobil SUV putih Rizki sudah menyala di depan mess putri. Mesinnya halus, tidak seperti suara truk sawit yang kasar.
Rizki berdiri di samping mobil, pakai kemeja batik modern yang rapi, celana chino krem, dan sepatu kulit yang semalam sudah ia lap sampai mengkilap lagi. Di tangannya ada dua kopi kekinian dari kafe di Sungai Rumbai.
Nadia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan. Ia sudah mandi, pakai seragam kerja navy yang bersih, helm safety kuning ditenteng di tangan. Bukan pakai baju jalan-jalan.
Rizki kaget lihat penampilan Nadia.
"Nad, kamu pakai seragam? Kita kan mau pulang ke Padang Panjang. Ibu sudah tunggu kita makan siang," kata Rizki.
Nadia berhenti di depan Rizki. Ia tarik napas panjang.
"Riz, aku tidak jadi pulang," kata Nadia pelan, tapi jelas.
Rizki mengernyit. "Maksudnya?"
"Aku tidak jadi pulang ke Padang Panjang hari ini. Laporan rugi laba harus selesai hari ini. Pak Arif butuh saya di pabrik. Kalau saya tinggalkan, pabrik bisa kena denda dari Jakarta," jawab Nadia. Alasan kerja, padahal alasan sebenarnya bukan itu.
Wajah Rizki berubah. Senyumnya hilang.
"Nad, kemarin kamu janji. Kamu janji pulang. Ibu sudah masak rendang, Papa sudah siapkan kamar. Vendor pelaminan nunggu kita jam dua siang," kata Rizki, suaranya mulai naik sedikit.
"Aku tahu aku janji, Riz. Tapi ini kerjaanku. Aku tidak bisa tinggalkan begitu saja," jawab Nadia.
Rizki menatap Nadia lama. Tatapannya bukan marah besar, tapi kecewa. Kecewa yang dibuat-buat.
"Nad, kamu pilih pabrik ini daripada keluarga kita? Daripada pernikahan kita?" tanya Rizki.
Pertanyaan itu menusuk.
Nadia menelan ludah. Ia ingin bilang iya. Ia ingin bilang ia lebih bahagia di antara bau oli dan debu daripada di antara wangi parfum dan pelaminan Ivory Cream. Tapi ia tidak berani.
"Aku pilih tanggung jawabku, Riz. Aku sudah tanda tangan kontrak. Aku tidak bisa seenaknya pulang," kata Nadia akhirnya.
Rizki diam beberapa detik. Ia buka tutup kopi yang ia bawa, lalu tutup lagi. Ia terlihat menahan emosi.
"Ya sudah. Kalau itu maumu," kata Rizki akhirnya. Dingin. "Aku pulang sendiri. Nanti aku bilang ke Ibu kalau kamu sibuk. Sibuk sekali sampai tidak bisa pulang untuk urus pernikahan sendiri."
Rizki masuk ke mobil, banting pintu agak keras. Mesin mobil meraung halus, lalu mobil itu mundur dan pergi meninggalkan jejak debu di halaman mess.
Nadia berdiri mematung di depan mess, memeluk helm safety-nya. Matanya panas, tapi ia tahan. Ia tidak mau nangis di depan semua orang.
Dari kejauhan, beberapa ibu-ibu pekerja pabrik yang sedang jemur baju melirik ke arahnya. Bisik-bisik.
"Mbak Nadia berantem sama tunangannya ya?"
"Kasihan, cantik-cantik kerja di pabrik begini."
Nadia masuk kembali ke kamarnya, tutup pintu. Baru di dalam kamar, air matanya jatuh.
Ia duduk di tepi kasur, menatap cincin di jarinya. Tadi malam ia lepas, pagi ini ia pakai lagi karena Rizki datang. Sekarang cincin itu terasa berat sekali.
Ponselnya bergetar. Bukan dari Arif. Dari Mama.
Mama - Video Call.
Nadia hapus air matanya cepat-cepat, lalu angkat.
Di layar, wajah Mama terlihat merah, menahan marah. Di belakang Mama, ada Papa yang duduk diam.
"Nadia! Apa-apaan kamu! Rizki baru saja telepon mama! Katanya kamu tidak mau pulang! Kamu permalukan keluarga kita!" suara Mama langsung meledak, keras, tanpa salam.
"Ma, bukan begitu. Kerjaan di pabrik lagi banyak, Ma. Laporan harus selesai hari ini," jawab Nadia pelan.
"Alasan! Alasan terus! Kerja apa yang lebih penting dari pernikahanmu sendiri! Kamu itu perempuan, Nad! Tugasmu di rumah, bukan di pabrik bau itu! Rizki itu anak baik, sudah mau ambil cuti jauh-jauh ke Dharmasraya, kamu malah usir dia!"
Mama batuk-batuk karena emosi. Papa di belakang cuma menggeleng pelan.
"Nadia, kamu dengar Mama. Kalau kamu tidak pulang minggu ini, uang yang Mama kirim tiap bulan Mama hentikan. Kamu urus sendiri hidupmu di sana. Biar kamu tahu rasa hidup tanpa keluarga!" ancam Mama.
Sambungan dimatikan. Tut. Tut.
Nadia menatap layar ponsel yang sudah gelap. Tangannya gemetar.
Uang bulanan tidak di transfer. Artinya ia harus hidup dari gaji pabrik yang pas-pasan. Gaji admin baru di pabrik sawit tidak besar. Cukup untuk makan, tapi tidak untuk kirim pulang atau untuk tabungan nikah.
Nadia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit triplek yang ada bekas bocor.
Apakah aku salah, batinnya. Apakah aku salah karena ingin kerja? Apakah aku salah karena tidak mau pulang?
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Nadia?"
Suara itu. Arif.
Nadia bangkit, buka pintu sedikit.
Arif berdiri di depan pintu, masih pakai seragam lapangan, helm di tangan. Wajahnya datar, tapi matanya menatap Nadia dengan khawatir.
"Saya lihat mobil putih itu sudah pergi," kata Arif pelan.
Nadia mengangguk. Tidak mampu bicara.
Arif melirik ke dalam kamar, melihat mata Nadia yang merah.
"Masuk angin lagi?" tanya Arif, pura-pura tidak tahu.
Nadia menggeleng. "Tidak. Cuma... Mama marah."
Arif diam sejenak. Lalu ia masukkan tangan ke saku celananya, keluarkan sebuah amplop coklat kecil.
"Ini lemburan minggu lalu. Saya sudah cairkan. Harusnya cair minggu depan, tapi saya minta dipercepat ke KTU. Ambil," kata Arif, sodorkan amplop itu.
Nadia terbelalak. "Pak... Arif, tidak usah. Saya masih punya uang."
"Ambil saja. Anggap bonus karena kamu berhasil selamatkan tekanan sterilizer kemarin. Kamu berhak dapat itu," kata Arif, suaranya tegas, tidak mau dibantah. Ia letakkan amplop itu di atas meja kecil di kamar Nadia.
Nadia menatap amplop itu. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini karena terharu.
"Terima kasih," bisik Nadia.
Arif mengangguk. Ia berbalik hendak pergi, tapi berhenti di ambang pintu.
"Nad," panggil Arif tanpa menoleh. "Kalau kamu butuh tempat tinggal baru karena diusir dari mess putri, bilang saja. Mess laki-laki yang di ujung itu kosong. Saya bisa bersihkan. Tidak ada yang pakai."
Nadia kaget. "Bagaimana kamu tahu aku diusir?"
Arif tersenyum tipis, masih tidak menoleh.
"Dinding di sini tipis, Neng. Saya dengar Mama kamu teriak dari mess sebelah."
Arif pergi, meninggalkan Nadia berdiri di pintu dengan amplop lemburan di tangan.
Di luar, suara mesin pabrik kembali berdengung. Truk-truk sawit mulai masuk lagi. Hari Senin dimulai.
Nadia masuk ke kamar, buka amplop itu. Di dalamnya ada uang lima ratus ribu dan secarik kertas kecil.
Tulisannya tangan Arif, jelek tapi jelas: "Jangan nangis di kamar sendirian. Tidak bagus untuk laporan."
Nadia tersenyum di tengah air matanya. Senyum pertama hari itu.
Ia pakai helm safety-nya, ambil papan tulis, dan jalan menuju pabrik dengan langkah tegap.
Hari ini ia tidak pulang ke Padang Panjang. Hari ini ia memilih tinggal di Dharmasraya.
Hari ini ia memilih debu CPO daripada pelaminan Ivory Cream.
Dan untuk pertama kalinya, pilihan itu terasa benar, meski menyakitkan.
Di kejauhan, dari jendela ruang administrasi lantai dua, Arif melihat Nadia berjalan menuju stasiun sterilisasi dengan helm yang kebesaran. Arif tersenyum miring, lalu menyeruput kopi hitamnya yang pahit.
"Anak keras kepala," gumam Arif pelan.
Bersambung