NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kepindahan Alana dan si kembar ke Mansion Adhitama malam itu berlangsung tanpa banyak drama. Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh perangkat server milik Alana telah terpasang di sayap timur mansion, dikelilingi oleh perimeter keamanan lapis baja tak kasatmata yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kepercayaan Elvano.

*

*

​Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri raksasa, menyoroti tiga bocah kecil yang sedang bermain di ruang keluarga untama. Lea, Kael, dan Kai yang duduk melingkar di atas karpet Persia. Ketiga anak itu sedang fokus menyusun balok lego raksasa menjadi sebuah benteng pertahanan.

​Di sofa chesterfield berlapis kulit hitam legam, Alana duduk bersila. Penampilan wanita itu sungguh jauh dari citra sang hacker berbahaya yang mengacak-acak sistem kota.

Ia mengenakan celana tidur panjang dan sweter rajut abu-abu kebesaran yang kerahnya sedikit melorot di salah satu bahu. Kacamata anti-radiasi bertengger di hidungnya, sementara jemarinya menari ritmis di atas keyboard laptop.

​Di seberang ruangan. Elvano berdiri menyandar pada pilar pualam, mengawasi pemandangan itu dalam diam. Kemeja putihnya digulung hingga siku, menguarkan aura maskulin yang santai namun tetap mematikan. Asap tipis mengepul dari cangkir espresso di tangannya.

​Bos mafia itu tidak mau mengakuinya secara terang-terangan, namun melihat wanita keras kepala itu duduk santai di sofanya, menjaga anak-anak di ruang keluarganya, diam-diam memantik sebuah sensasi hangat yang sangat asing di rongga dadanya.

​Namun, kedamaian itu hanya bertahan hingga pintu ganda ruang keluarga menjeblak terbuka.

​Seorang pria jangkung dengan rambut kecokelatan yang sedikit berantakan melangkah masuk.

Ia mengenakan mantel panjang khas Eropa dan menenteng sebuah koper kulit antik. Wajahnya tampan, dihiasi senyum ramah yang sangat bertolak belakang dengan aura kaku khas pria klan Adhitama.

​Itu adalah Bastian Adhitama. Sepupu Elvano yang selama lima tahun terakhir menjadi pemegang kendali jaringan intelijen dan logistik klan di daratan Eropa.

​"Paman Bas!" Lea berseru riang, langsung membuang legonya dan berlari menabrak kaki pria itu.

​Bastian tertawa renyah. Ia melepaskan kopernya begitu saja, lalu mengangkat tubuh Lea, dan memutarnya di udara.

"Hei, Putri Kecil! Paman bawakan banyak cokelat Swiss kesukaanmu!"

"Benarkah? Horee! Paman Bas yang terbaik!" seru Lea mengacungkan dua jempolnya ke udara dengan tersenyum lebar.

Bastian terkekeh geli melihat tingkah keponakan kecilnya. Namun saat ia menoleh pada Elvano untuk menyapa, tatapannya tanpa sengaja bersirobok dengan sosok wanita cantik di atas sofa.

​Tawa di bibir Bastian mendadak pudar. Ia menurunkan Lea perlahan. Matanya menyipit, menatap wajah di balik kacamata anti-radiasi itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Tunggu dulu..." gumam Bastian, langkahnya ragu mendekat. "Nggak mungkin. Lana, kan? Alana, si Ice Queen!"

​Mendengar nama samarannya di masa lalu disebut, jemari Alana di atas keyboard terhenti total. Ia mendongak. Sesaat, keterkejutan melintas di matanya, sebelum sebuah senyum lebar yang sangat tulus merekah indah di wajahnya. Senyuman yang belum pernah sekalipun ia tunjukkan pada Elvano.

​"Kak Bas?" seru Alana menutup laptopnya dan langsung berdiri. Keangkuhan dan dinding es yang selalu ia bangun menguap tak berbekas.

​"Astaga! Jadi ini beneran kau, Bocah Nakal!"

​Bastian melangkah lebar, mengabaikan hawa dingin yang tiba-tiba menguar dari arah pilar, dan langsung menarik Alana ke dalam pelukannya. Ia menepuk punggung wanita itu dan mengacak-acak rambut rapinya layaknya kakak laki-laki yang baru ketemu adik perempuannya.

​"Ngapain kau di markas singa ini? Terakhir kali kudengar, kau membobol server intelijen pusat sebagai tugas akhir kelulusanmu di akademi!"

​Alana tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar begitu merdu. "Dan kau masih berisik seperti waktu jadi senior pembimbingku dua tahun lalu, Kak."

​Di sudut ruangan, suhu mendadak anjlok ke titik beku.

​Elvano meletakkan cangkir espresso-nya ke atas meja. Bunyi klak porselen beradu dengan kaca itu terdengar terlampau tajam.

Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat di lehernya menonjol ganas. Mata elangnya menatap lurus ke arah lengan Bastian yang masih melingkar nyaman di bahu Alana.

​Sebuah emosi pekat yang tidak ia pahami—panas, membakar, dan sangat menjengkelkan—meledak tanpa ampun di dadanya.

​"Sejak kapan kalian saling kenal?"

​Suara bariton Elvano menggelegar rendah, memotong reuni hangat itu dengan intonasi mematikan yang sanggup menghentikan detak jantung.

​Bastian menoleh, melepaskan rangkulannya namun masih berdiri sangat dekat dengan Alana. Pria itu justru tersenyum jahil, sangat paham dengan tabiat sepupunya.

​"Ayolah, El. Jangan pasang muka malaikat maut di hari pertamaku pulang. Alana ini juniorku saat pelatihan intelijen di Eropa. Kami satu unit siber. Dia ini jenius kesayanganku."

​Kesayanganku.

​Satu kata itu berdenging di telinga Elvano layaknya alarm provokasi.

​Tanpa ragu, Elvano melangkah maju. Ia memangkas jarak dalam tiga langkah lebar, hingga berdiri menjulang tepat membelah jarak antara Bastian dan Alana. Tatapannya menyorotkan ancaman mutlak.

​"Dia bukan jenius kesayanganmu lagi, Bastian," desis Elvano.

Matanya berkilat menatap Alana, lalu beralih ke sepupunya.

"Dia buronanku. Dan sekarang, dia berada di bawah perlindungan mutlakku. Jadi... jaga jarak amanmu."

​Bastian perlahan menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik wajah Elvano yang kaku, lalu menunduk melirik Alana yang mengenakan sweter rajut abu-abu. Seringai penuh arti terbit di bibir Bastian.

​"Perlindungan mutlak, ya?" goda Bastian santai. Ia melipat tangan di dada.

"Kau yakin ini soal keamanan, El? Seingatku, kau nggak pernah repot-repot memindahkan target buronan ke ruang keluarga dan membiarkan mereka memakai sweter pribadimu."

​Alana terkesiap pelan. Matanya melebar menatap lengan sweter kebesaran yang ia pakai. Pantas saja sejak semalam ia mencium aroma musk dan pinus yang sangat familier dari rajutan wol ini.

Wajah Alana seketika merona panas, namun insting bertahannya membuat gadis itu lekas menutupi kegugupannya dengan dehaman angkuh.

​"Jangan berasumsi macam-macam, Kak Bas," potong Alana cepat. Ia menegakkan dagu menantang punggung tegap Elvano di depannya.

"Tuan Muda Adhitama di sini cuma sedang memastikan inventaris tawanannya nggak kabur. Aku di sini murni demi keselamatan si kembar."

​"Oh, tentu saja," sahut Elvano sinis, sedikit memutar tubuh untuk menatap rona merah di pipi Alana yang gagal disembunyikan.

​Elvano mencondongkan tubuhnya, memaksakan dominasinya.

"Sebagai tuan rumah yang baik, kusarankan kau segera mandi, Bastian. Kau bau pesawat. Jauhkan kuman perjalananmu dari keponakanku."

​"Paman El bohong."

​Sebuah suara datar dan tanpa intonasi tiba-tiba memecah ketegangan orang dewasa tersebut.

​Kai, yang masih duduk di atas karpet, memutar sebuah blok lego di tangannya.

Bocah enam tahun itu menatap lurus ke arah Elvano dengan tatapan elang yang sama persis dengan Elvano.

​"Paman Bas tidak bau. Napas Paman El saja yang mendadak lebih pendek, dan pupil matanya membesar saat Paman Bas memeluk Bunda tadi." Kai merakit blok legonya dengan tenang.

"Berdasarkan buku psikologi manusia yang pernah Bunda baca, itu tanda-tanda kecemburuan teritorial."

​Kael yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangan dari benteng legonya.

"Suhu tubuh Paman El juga pasti naik. Sejak tadi Paman menatap tangan Paman Bas dengan persentase niat mematahkan lengan sebesar 98 persen."

​Hening. Sunyi senyap menguasai ruang keluarga itu.

​Satu detik... dua detik...

​Bastian meledak dalam tawa yang menggelegar hingga memegangi perutnya.

Di belakang Elvano, Alana memalingkan wajah, mati-matian menggigit bibir bawahnya rapat-rapat untuk menahan tawa yang nyaris menyembur keluar.

​Elvano berdiri sangat kaku bak patung es. Ujung telinganya memerah samar, dan rahangnya berkedut menahan malu sekaligus gengsi selangit yang baru saja diruntuhkan oleh dua balita. Bagaimana bisa dua bocah ini menganalisisnya layaknya mesin poligraf berjalan?!

​"Aku. Tidak. Cemburu," geram Elvano serat akan penekanan, menatap Kai dan Kael dengan sorot mata memperingatkan yang sayangnya sama sekali tidak mempan pada anak-anak itu.

​"Terserah apa katamu, El," Bastian menepuk bahu Elvano sambil menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. Ia lalu mengerling jenaka pada Alana.

"Nanti malam kita ngobrol lagi, Lana. Aku punya banyak cerita soal enkripsi Rusia. Tinggalkan saja singa posesif ini sendirian mendinginkan kepalanya."

​Bastian berlalu menuju sayap barat menuju kamarnya, meninggalkan Elvano yang kini berbalik pelan supaya bisa berhadapan dengan Alana.

​Alana melipat kedua lengannya di dada. Senyum mengejek yang sangat dibenci sekaligus meresahkan kewarasan Elvano kembali menghiasi bibirnya yang memerah.

​"Kecemburuan teritorial, Tuan Adhitama?" goda Alana. Suaranya diturunkan menjadi bisikan yang sangat pelan agar si kembar tidak mendengar, namun nadanya mengalun penuh kemenangan.

​Elvano tidak mundur. Ia justru menundukkan kepalanya, menipiskan jarak di antara wajah mereka hingga napasnya menerpa anak rambut Alana. Aroma vanila milik wanita itu bercampur dengan aroma musk dari sweter yang ia kenakan, menciptakan ilusi memabukkan.

​"Sebut sesukamu, Nona Hacker," bisik Elvano dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Alana seketika meremang.

​Sorot mata pria itu menyala oleh intensitas predator yang tak lagi mau menahan diri. "Tapi Bastian, atau pria mana pun di bumi ini, harus belajar satu hukum mutlak klan Adhitama. Apa pun yang sudah melangkah masuk ke dalam mansionku..."

​Elvano menatap bibir Alana sedetik, sebelum kembali menatap matanya. "...adalah milikku."

​Elvano memundurkan wajahnya, berbalik dengan gerakan anggun yang sangat maskulin, lalu melangkah pergi. Meninggalkan Alana yang kini berdiri mematung di sisi sofa. Jantung gadis jenius itu mendadak memompa darah terlalu cepat, meruntuhkan dinding logika dan algoritma di kepalanya.

​Permainan tarik-ulur ini, perlahan tapi pasti, mulai menyeret mereka berdua terperosok ke dalam jurang yang jauh lebih berbahaya dari sekadar peluru Sindikat Bayangan.

Bersambung...

​

1
Munas Tuti
peranf lagiii niii...
Munas Tuti
huuuuh ikutab capek mbak...sampe megap2 tegang banget, hebat banget siiiih bikin ceritanya 👍👍👍
Erna Wati
keren abis raja dan ratu Aditama..👍
Munas Tuti
lanjuuut..
Munas Tuti
duuuuh pagi2 ambyar dehhh, kek judul acara tv 😄😄😄
Munas Tuti
hi..hi..hi...Al dan El digoreng klgnya, apa fak panas tuuuh..
Lucyana H
aku doakan semoga author selalu sehat biar bisa update tiap hari,bsk episode yg paling menegangkan.....💪😘😍👍🏼
Lucyana H
wih..bakal .seru nih......🥰😍👍😘😁
PengGeng EN SifHa
Baru di awal sudah merinding disco bulu romaku thooorrr
PengGeng EN SifHa: kebawa arus cerita e thooorrr
total 2 replies
Munas Tuti
aduduuu El dah manggil sayang uuuy 😄😄
Munas Tuti
brangkaaat El...
Munas Tuti
weidiiih El segitu pd nya diaa 😄
Munas Tuti
akhirnya El akan sll mekindungi c kembar
Munas Tuti
horeee akhirnya bisa ketemu...
Munas Tuti
waaah rame nihh 💪💪💪
Munas Tuti
kasian banget c kembar yg dah kecapean
Munas Tuti
semoga ajha mereka beberan berjodoh 🤣🤣
Munas Tuti
keknya Elvano mulai tertarik ni sama Al...
Munas Tuti
wuiiiih makin seruu ni mbak...💪💪
Munas Tuti
ternyata Al jg wanita terlatih yaa..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!