Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Syok
Suasana di dalam koridor kostan sempit itu mendadak kacau balau bagaikan benang kusut yang tak bersimpul. Sorak-sorai bisikan dan pandangan penuh penghakiman melayang dari setiap sudut lorong. Wajah Pak Yono yang semula hanya memerah kini bertambah gelap oleh murka, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meletup-letup.
"Bangsat kamu, Galih!" bentak Pak Yono dengan suara bass-nya yang menggelegar, menunjuk muka Galih dengan telunjuknya yang gemetar. "Baru sehari kamu tinggal di kostan ini, sudah bikin kelakuan bejat begini! Kamu hamili anak orang, terus kamu mau lepas tangan dan pura-pura lugu di depan saya?!"
"Nggak, Pak Yono! Demi Tuhan, saya baru ketemu Mbak Indri kemarin!" teriak Galih panik, suaranya parau menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Saya baru saja mengenal Mbak Indri! Bagaimana mungkin saya yang menghamilinya?! Pak Yono tolong pakai logika!"
"Logika apa?!" potong Ifan memanasi suasana, cengirannya makin menjadi-jadi saat ponsel di tangannya terus mengarah ke wajah Galih. "Jelas-jelas tadi kalian lagi bermesraan! Kalau bukan kamu bapaknya, kenapa si Indri ngaku hamil pas dipergoki sama kamu? Halah, ngaku aja kamu, sok polos tapi ternyata kelakuan bejat!"
Beberapa penghuni kosan lain mulai kasak-kusuk, bahkan ada yang ikut menyalakan kamera ponsel untuk merekam kejadian menghebohkan tersebut. Fika menatap Galih dengan pandangan prihatin namun tak berani bersuara, sementara Adit hanya menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin dari balik kamarnya, seolah mendengus puas karena tuduhannya semalam terbukti tepat.
"Mbak Indri! Tolong bicara yang jujur!" jerit Galih seraya berlutut dan mencengkeram bahu Indri dengan lemas. "Kasih tahu mereka kalau anak itu bukan anakku! Kenapa Mbak tega menjebakku kayak gini?! Aku yang menyelamatkan nyawamu semalam, Mbak!"
Namun Indri tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya berguncang oleh isakan tangis yang sengaja dibikin-bikin. Ia sama sekali tak menyahut, enggan menatap mata Galih, dan membiarkan keheningannya menjadi pembenaran atas tuduhan kejam tersebut.
Pak Yono menghentakkan kakinya ke lantai kayu hingga bergetar. "Cukup! Saya nggak mau tahu, Galih! Aturan di kostan saya jelas! Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab nikahi Indri dan menyelesaikan masalah ini, detik ini juga kamu dan Indri saya usir dari kostan ini! Saya nggak mau kosan saya dicap jadi sarang perzinahan!"
Ancaman itu menghantam Galih bagai hantaman godam. Diusir dari kostan? Dengan uang yang hanya tersisa beberapa puluh ribu di kantongnya, ia tak punya tempat bernapas lagi di kota ini.
Setelah memberi tenggat waktu, Pak Yono membalikkan badan dengan gusar, membubarkan kerumunan penghuni kos yang masih sibuk berbisik-bisik dan merekam. Satu per satu orang meninggalkan lorong depan kamar Galih.
Saat koridor kembali lengang, Indri perlahan berdiri dari lantai. Ia menyapu air matanya, menatap Galih dengan raut wajah dingin yang sangat asing, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah atas pengkhianatan kejamnya.
"Maafkan aku, Galih..." bisik Indri pelan, suaranya datar tanpa emosi. "Aku nggak punya pilihan lain. Aku bakal tunggu persetujuan kamu buat bertanggung jawab."
Tanpa memedulikan amarah dan tatapan murka dari Galih, Indri balik badan, melangkah santai menuju kamarnya di ujung lorong, lalu menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat.
Galih membatu di ambang pintu. Dadanya berombak cepat, napasnya memburu oleh rasa frustrasi, kecewa, dan tidak percaya yang bercampur aduk. Niat baiknya menyelamatkan nyawa seseorang justru dibalas dengan perangkap keji yang siap menghancurkan masa depannya.
Dengan langkah menyeret dan lunglai, Galih masuk ke kamarnya lalu terduduk lemas di atas kasur lantai yang keras. Ia memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Masalah dari ayahnya belum usai, kini di kota ia harus menanggung fitnah seberat ini.
Srett...
Di tengah keheningan kamarnya yang mencekam, mendadak tengkuk Galih kembali meremang hebat. Perasaan aneh yang familiar itu datang lagi, sensasi seperti ada sepasang mata misterius yang sedang mengawasinya dari suatu sudut ruangan dengan sangat lekat.
Galih sontak menoleh cepat ke sekeliling kamar berukuran dua kali tiga meter itu. Ia menatap ke arah ventilasi, celah papan kayu, hingga ke bawah lemari plastik. Namun, tidak ada siapapun di sana. Hanya ada bayangan kayu tua dan kesunyian yang tebal.
"Arghhh!" dengus Galih frustrasi.
Ia bergegas berdiri, mendorong pintu kayu kamarnya rapat-rapat, memutar kunci ganda, lalu menyelotnya dari dalam. Galih enggan memikirkan gangguan gaib atau bisikan aneh lagi. Kepalanya sudah terlalu penuh oleh masalah Indri dan Pak Yono.
Galih melemparkan tubuhnya secara terlentang di atas kasur lantai. Matanya menatap kosong pada langit-langit kayu yang kusam. Tenggorokannya terasa amat kering dan haus akibat emosi yang terkuras sejak pagi. Dengan lemas, ia meraih gelas berisi air putih yang terletak di atas meja plastik dekat kasurnya, lalu meminumnya hingga kandas tanpa curiga sedikit pun.
Efek lelah fisik yang luar biasa, ditambah beban emosional yang berat, perlahan-lahan membuat kesadaran Galih mengabur. Pandangannya berubah remang, matanya terasa amat berat bagaikan tertindih batu, hingga akhirnya pemuda itu tertidur sangat lelap di atas kasurnya.
Entah berapa lama waktu berlalu. Kesadaran Galih perlahan-lahan kembali saat hawa panas yang menyengat mulai membakar kulitnya. Cahaya matahari yang amat terik menembus celah jendela kayu, jatuh tepat di atas wajahnya.
Galih mengernyitkan dahi, mengusap matanya yang terasa amat berat dan lengket. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun merasakan helaan angin dingin menerpa seluruh permukaan kulit tubuhnya secara tak biasa.
Saat Galih mendudukkan tubuhnya dan menyapu pandangannya ke bawah, jantungnya seketika berhenti berdetak. Matanya membelalak sempurna, dan darahnya serasa membeku di dalam pembuluh.
Ia telanjang bulat!
Tidak ada selembar benang pun yang melekat di tubuhnya. Kaos oblong dan celana pendek yang ia kenakan sebelum tidur tadi telah tanggal sepenuhnya dan tergeletak berantakan di lantai dekat kasur.
Galih panik luar biasa. Ia dengan cepat menyambar celananya dan memakai pakaiannya kembali dengan tangan yang gemetar hebat. Ia melirik ke arah jendela, sinar matahari sudah tinggi dan tegak lurus di atas kepala. Hari sudah siang bolong. Ia pasti telah tertidur lelap selama berjam-jam dari pagi hingga siang.
Galih terduduk bersandar di dinding kayu dengan napas terengah-engah dan pikiran yang kacau balau. Seingatnya, tadi pagi ia tertidur masih mengenakan pakaian lengkap setelah meminum segelas air putih. Bagaimana bisa ia terbangun dalam keadaan bertelanjang bulat di dalam kamar yang terkunci dari dalam? Apa yang sebenarnya terjadi padanya saat dia tertidur lelap?