Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Terdengar suara Denting sendok dan garpu beradu dengan piring.
Ardio duduk memandangi putri tunggalnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Tapi malam ini Adel tampak terlalu diam, sibuk mengaduk-aduk sup krim di mangkuknya.
"Adel, Sayang? Kenapa makanannya cuma diacak-acak begitu? Supnya tidak enak, hm? Mau Papa suruh koki ganti menu lain?" tanya Ardio lembut.
Adel tersentak pelan dari lamunannya. "Eh? Tidak kok, Pa! Supnya enak banget. Adel cuma... masih agak kenyang saja," jawabnya sambil tersenyum.
"Beneran cuma kenyang? Atau ada masalah di sekolah baru? Coba cerita sama Papa," kata Ardio memiringkan kepalanya, menatap Adel.
"Nggak ada apa-apa, Papa sayang. Hari pertama dan minggu pertama sekolah lancar banget kok! Teman-teman Adel seru, gurunya juga baik-baik," sahut Adel cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ia meraih gelas kristal berisi air putih di samping piringnya.
Namun, saat lengan bajunya yang agak longgar tersingkap ketika Adel mengangkat gelas, pandangan tajam Ardio mendadak menatap pada satu titik di pergelangan tangan kiri putrinya.
Di kulit putih Adel terlihat jelas bekas luka memar kebiruan berbentuk cengkraman jari.
Seketika itu juga, tangan Ardio terhenti saat memotong daging steak tersebut dengan tatapan membunuh.
"Adel. Tanganmu kenapa?" tanya Ardio penuh dengan kemarahan.
Jantung Adel berdetak kencang. Ia buru-buru menarik lengannya kembali ke bawah meja dan menutupinya dengan baju lengannya.
"Duh, bekas cengkramannya Sheila tadi siang waktu nahan aku di koridor ternyata berbekas!" batin Adel panik.
"I-ini? Oh, tidak apa-apa kok, Pa! Tadi pas pelajaran olahraga... Adel kurang fokus, terus kepleset dan jatuh pas main bola basket. Tangan Adel sempat nahan badan di lantai, makanya agak lebam sedikit. Beneran cuma kepleset, Pa!" jawab Adel berusaha tertawa wajar, walau terdengar agak terbata-bata.
Ardio menatap lurus ke dalam mata Adel. Ardio tahu betul bahwa rasa panik di mata Adel bukan sekadar panik karena terjatuh.
Tapi Ardio juga melihat ketakutan lain di mata putrinya, takut jika ia akan mengamuk dan tidak memperbolehkan lagi Adel untuk menjadi murid biasa.
Ardio menarik napas panjang.
"Begitu? Lain kali kalau olahraga harus lebih hati-hati, ya. Papa tidak suka lihat ada goresan sedikit pun di tubuh putri Papa. Nanti selesai makan, suruh Bibi obati memarnya pakai salep khusus," sahut Ardio mengulas senyum tipis yang dipaksakan, mengusap lembut kepala Adel.
"Iya, Papa! Adel janji bakal lebih hati-hati," sahut Adel lega.
"Pintar. Sekarang habiskannya supnya, biar memarmu cepat sembuh," bisik Ardio hangat.
Saat Adel pamit ke kamarnya untuk beristirahat.
Ardio melangkah keluar menuju balkon lantai dua. Di belakangnya, Reno melangkah mendekat dengan kepala tertunduk penuh rasa bersalah.
"Bos..." panggil Reno pelan.
"Reno. Sejak kapan memar akibat cengkraman jari manusia berubah bentuk jadi luka jatuh karena bola basket?" tanya Ardio datar.
"Maafkan saya, Bos Ardio. Tim lapangan sebenarnya sudah mencatat kejadian tadi siang. Non Adel ditahan secara fisik oleh pengikut siswi bernama Sisca saat berada di area tanpa CCTV..."
Ardio berbalik pelan, menatap Reno dengan mata yang berkilat penuh amarah yang siap meledak.
"Siapa yang memberi mereka izin untuk menyentuh kulit putriku?" tanya Ardio, suaranya pelan namun penuh dengan ancaman kematian.
"Non Adel secara tegas meminta Pak Doni dan tim pengawal untuk tidak melapor pada Anda, Bos. Non Adel ingin menyelesaikan masalah ini sendiri karena tidak ingin membuat Anda cemas atau mengacaukan penyamarannya sebagai murid biasa," jelas Reno cepat.
Ardio memejamkan matanya sejenak, menahan rasa sesak dan perih di dadanya.
Rasa sayangnya pada Adel yang begitu besar. Putrinya terlalu baik dan rela menahan penderitaan demi menjaga kedamaiannya.
"Putriku menutupi lukanya demi menyayangiku, Reno... Dia membiarkan dirinya disakiti hanya agar Papa-nya tidak menjadi iblis lagi," gumam Ardio dengan nada suara yang menyayat hati.
Ardio membuka matanya kembali.
"Biarkan Adel bermain dengan caranya sedikit lagi. Tapi kumpulkan seluruh bukti tindakan Sisca dan keluarganya. Saat batas kesabaran putriku habis... pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa untuk memohon ampun!" perintah Ardio dingin.