Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jesika berulah
Di depan pintu kediaman keluarga Pramudia, Ana menghentikan langkahnya dan menatap Adrian.
"Foto itu dari mana?" tanyanya.
Adrian tersenyum sambil menatapnya. "Hal yang ingin kucari cukup dengan satu jentikan jari."
Ana mengerutkan kening. "Kenapa kamu mengecekku?"
"Tentu saja karena aku tertarik padamu Ana."
Adrian menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar. "Seseorang yang dulu penurut dan tidak bisa melakukan apa-apa, tiba-tiba berubah menjadi pembalap hebat yang tidak kenal takut. Sebenarnya, rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan?"
Mereka saling bertatapan, Ana menatap Adrian dengan tatapan serius.
"Itu bukan urusanmu," jawab Ana dingin.
Adrian kembali berdiri tegak dan tersenyum miring. "Bukan urusanku? Perjalanan kita masih panjang. Siapa tahu suatu hari nanti kamu mau terbuka padaku."
Ia melirik pakaian Ana yang penuh noda darah. "Oh, satu lagi. Barang yang kuberikan padamu jangan sampai kamu kotori."
Adrian menyentuh lengan baju Ana yang bernoda darah. Ana langsung menghempaskan tangannya.
"Kalau ada pilihan, menurutmu aku mau memakai kain jelek ini?" katanya ketus.
“Tapi kamu sangat cocok memakai pakaian itu.”
Ana menatap Adrian dengan penasaran.
“Apa maumu,” tanya Ana yang mendekat ke arah Adrian.
“Yang kumau akan segera kudapatkan.”
“Maksudnya?”
Adrian hanya tersenyum. "Ana, kita akan bertemu lagi."
Ia pergi sambil melambaikan tangan tanpa berbalik.
Malam tiba. Ana duduk di tepi tempat tidurnya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
“Keluar sekarang. Aku menunggumu di lorong sebelah kiri.” Pesan itu dari Jesika.
Ana tersenyum tipis. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju lorong tersebut. Namun, ketika ia sampai di sana, semua lampu tiba-tiba padam.
Dari belakang, Jesika muncul sambil mengangkat tongkat bisbol. Ia mencoba memukul Ana, tetapi Ana berhasil menghindar dan bersembunyi di balik pilar.
"Ana! Keluar kalau kau berani! Jangan bersembunyi!" teriak Jesika.
Ana melangkah keluar. Dalam sekejap, tangannya menampar pipi Jesika hingga gadis itu terjatuh.
Ana menjentikkan jarinya. Lampu lorong kembali menyala.
Ia maju dan menatap Jesika dengan dingin. "Kau tidak diajari sopan santun?"
"Kalau Papa tahu, dia akan membunuhmu!" ancam Jesika sambil memegangi pipinya.
"Kalau Papa tahu kau menyewa pembunuh untuk membunuhku, menurutmu dia akan membunuh siapa?"
Jesika terdiam.
"Aku paling benci pembohong."
Ana kembali menamparnya.
"Jangan tampar aku!" bentak Jesika.
Namun Ana menamparnya sekali lagi.
"Tidak punya ibu!" teriak Jesika dengan penuh kebencian.
Mata Ana mengeras. Ia menggunakan kekuatannya untuk mengangkat tongkat bisbol yang terjatuh. Tongkat itu melayang ke tangannya.
Ana mengarahkannya kepada Jesika. "Tidak becus, tetapi ingin membunuh orang? Mulai sekarang, lebih baik kau diam. Kalau tidak, aku tidak menjamin keselamatanmu. Aku tidak akan terus membiarkanmu hidup dengan bebas."
Adit datang dan mendekati mereka.
Ana menoleh. "Kau mau membantunya?"
"Kak... tentu saja bukan," jawab Adit cepat.
“Terus apa yang kau lakukan disini?”
“Aku hanya kebetulan lewat saja kemudian, aku mendengar suara kalian jadi aku menghampiri kalian.” Jawab Adit yang melihat Jesika ketakutan
Ana tersenyum tipis. "Baguslah."
Ia melemparkan tongkat itu ke lantai, lalu berbalik dan pergi. Jesika hanya bisa memandanginya dengan tubuh gemetar, sementara Adit berdiri diam di sampingnya.
“Cepat bantu aku,” ucap Jesika yang menyodorkan tangannya kepada Adit, Adit segera membantu Jesika untuk berdiri dan mengambil tongkat kasti itu.
“Apa yang terjadi,” tanya Adit penasaran.
Jesika tidak menjawab apa-apa dia meninggalkan Adit yang masih berdiri di lorong, sementara Adit tidak mengerti apa yang sedang terjadi.